
Ardan merasa benar benar kecewa saat melihat hpnya. Wina benar benar tidak membaca peaannya. Pesannya dari kemarin pun baru tercentang satu. Apalagi telponnya. Benar benar ngga terjawab.
Telponnya ngga aktif atau terblokir, batinnya gusar.
Pesan yang baru masuk membuatnya tambah illfeel. Tiara menanyakan keberadaannya. Mereka akan membahas kerja sama mereka lagi pagi ini. Karena setelah kejadian kemarin siang, Ardan mencari Wina dan kembali hanya saat meeting. Setelah dua jam meeting, Ardan kembali menghilang mencari Wina di bank dan menunggu di rumahnya sampai menjelamg magrib.
Tapi tidak tanda tanda gadis itu di rumah. Rumahnya tetap gelap. Akhirnya Ardan memutuskan untuk tidur di apartemennya.
Dia ingin menghindari pertanyaan papa dan mamanya. Ardan juga membutuhkan waktu untuk sendiiri, menyesali tindakan bodohnya.
Pagi ini pun Ardan kembali ke.rumah Wina. Masih seperti semalam.
Apa.dia ngga pulang?
Akhirnya dengan berat hati Ardan melajukan mobilnya ke perusahaannya.
Ardan mengirim pesan pada Meti sekretarisnya untuk menemani Tiara dan juga dirinya nanti. Ardan kapok, dia ngga mau kalo nanti tergoda lagi dengan Tiara.
Dia memang suka bermain main. Tapi tetap saja di hatinya hanya ada Wina. Kenapa dia selalu merasa tertantang dengan gadis gadis yang menggodanya.
Ardan memukul stirnya. Dia harus ke psikolog untuk konsultasi pikiran ngga benernya.
"Ardan," panggil Tiara sambil memdekatinya.
Ardan sempat tertegun melihat pakaian yang dikenakan Tiara. Blouse tipis menerawang berleher rendah menampakkan sebagian dadanya dan rompi blazer yang ngga dikancing.
Ardan membuang nafasnya. Kalo ngga ada Meti mungkin akan langsung diterkamnya.
"Kita langsung mulai. Kamu ngga ada pakaian yang lebih sopan?" komen Ardan sambil melangkah melewati Tiara.
Tiara ngga menjawab, ahak terkejut dengan kalimat datar Ardan.Tapi akhirnya memilih duduk di depan Ardan. Karena saat akan duduk di sampingnya, Ardan seperti ngga mengijinkan. Dengan sengaja menaruh berkas berkas itu di sampingnya.
Meti yang merasa canggung berada di situ ingin berdiri.
"Meti, kamu di sini. Bantu saya meneriksa ulang berkas berkas ini," kata Ardan menahannya.
"Baik, Pak," ucap Meti patuh dan mulai berkonsebtrasi dengan berkas berkas di depannya.
"Ardan, yang kemarin pacar kamu? Maaf ya," ucap Tiara memecahkan keheningan sambil menatap wajah tampan yang begitu serius di depannya.
Seakan godaannya hari ini sungguh ngga berguna. Padahal kemarin dia sudah berhasil membuat Ardan balas menciumnya.
"Iya," jawab Ardan tanpa memgalihkan tatapannya dari berkas berkas yang sudah dicek Meti.
Meti agak terkejut mendengarnya.
Pacar? batinnya kecewa. Padahal Meti pun sangat mengidolakan bosnya.
"Dia masih marah?" tanya Tiara memancing obrolan.
"Hemm," jawab Ardan ngga acuh.
__ADS_1
Tiara ngga melanjutkan ucapannya lagi. Melihat Ardan yang hari ini dingin terhadapnya membuatnya sedikit canggung.
Tiara sebenarnya merasa bosan. Tapi dia mengingat permintaan papanya untuk menggoda Ardan. Kemarin sudah berhasil, tapi hari ini sepertinya akan stuck on zero.
"Meti, pesankan kopi ke ob. Kamu sama Tiara pesan juga sekalian. Pake hp kamu aja," titah Ardan dengan mata tetap fokus dengan berkas berkassnya.
"Baik, Pak. Bu Tiara pesan apa ya?"
"Saya jus alpukad, Bu Meti," ucap Tiara sopan.
Meti pun menelpon ob meminta diantarkan pesanan mereka ke ruangan bosnya.
Tiara benar benar capek berkutat dengan berkas mereka. Dia melirik tiga cangkir kopi yang sudah dihabiskan Ardan. Laki laki tampan di depannya ini tidak menyentuh cake atau buah. Hanya kopi saja.
Harusnya dia berhasil menggoda Ardan lagi.
Meti juga ngapain di sini, batinnya gusar sambil melirik ngga suka sama Meti.
Ardan melirik jam tangannya. Masih satu jam lagi untuk makan siang. Dia segera mengambil dompet dan kunci mobilnya.
"Ardan, kamu mau pergi? Aku ikut ya," kata Tiara segera bangkit dengan perasaan lega.
"Meti, tolong rapikan berkas berkas ini. Sorry, Tiara, gue ada urusan," ucapnya sambil bergegas melangkah keluar ruangan meninggalkan Tiara yang berdiri mematung.
"Kenapa dengan Pak Ardan?" tanya Tiara kecewa karena di acuhkan lagi.
"Mungkin Pak Ardan mau menemui kekasihnya, Bu Tiara," ucap Meti sambil merapikàn barkas berkas di atas meja.
Senyum kemenangan tersungging di bibirnya.
Kalo melihat penampilan gadis itu kemarin, sangat dibawahnya. Apa yang gadis itu lakukan sampai Ardan bisa memilihnya?
Andai saja dirinya dan Ardan lebih awal ketemunya. Mungkin ceritanya akan jadi lain. Pasti Ardan sudah jadi kekasihnya.
Rasanya baru kali ini Tiara antusias akan keinginan papanya untuk menjodohkannya dengan pria yang belum dikenalnya. Biasanya Tiara akan menolak mentah mentah tawaran papanya.
Tapi saat melihat foto Ardan yang diberikan papanya dan Tiara pun melakukan stalking ke akun media sosialnya, membuat Tiara semakin tertarik dan penasaran.
"Apa kekasih Pak Ardan sering ke sini?" tanya Tiara kepo.
Meti menggelengkan kepalanya.
"Belum pernah Bu. Baru kemarin," jelas Meti sambil menyimpan berkas berkas itu di meja kerja Ardan.
Tiara tersenyum sinis.
Kasian sekali. Pasti dia merasa hancur dan ngga percaya diri kemarin.
"Bu, Tiara, saya ingin mengunci ruangan Pak Ardan," usir Meti secara halus.
Sialan, maki Tiara dalam hati tersinggung.
__ADS_1
"Oke," sahutnya sambil memgambil tasnya dan berlalu meninggalkan Meti yang mencibir di belakangnya.
Aku harus cari tau siapa pacarnya Ardan. Dia harus tau saingan dengan siapa.
Sekarang Ardan sudah berada di depan bank tempat kerja Wina. Masih ada waktu setengah jam dari waktu makan siang.
Ketika dia baru memasuki bank yang cukup rame itu, Ardan menoleh saat bahunya ditepuk dari belakang.
"Eh, Om Endi," sapa Ardan sambil mengembangkan senyumnya.
Om Endi yang masih mengenakan jas dan dasi sama seperti dirinya tertawa. Hanya lebih rapi.
"Bajumu dimasukin. Bos kok bajunya ngga rapi gini," gelaknya.
Ardan memperhatikan kemejanya yang dikeluarkan. Style Ardan memang begitu.
Om Endi pun mengakui kegagahan dan kharisma anak temannya.
"Nyari Wina?" ledeknya membuat Ardan kembali tertawa.
"Ayo ke kantor. Tris, suruh Wina ke ruangan saya," titahnya pada sekuriti sambil menarik tangan Ardan untuk ikut ke ruangannya.
"Siap, Pak."
"Sudah lama berhubungan denga Wina?" tanya Pak Endi ketika membuka pintu ruangannya.
"Om kok tau?" tanyanya agak salah tingkah juga.
Om Endi tertawa lagi.
"Om sempat lihat kamu antar jemput Wina beberapa hari kemarin."
Ardan tertawa pelan
"Wina, anaknya baik, pintar. Dia juga berteman dengan anak Om si Gaga."
"Gaga?" Ardan agak bingung.
"Bosnya Wina."
Apa yang ketemu di cafe dulu, batinnya mencoba mengingat.
"Papa dan mama kamu ijinkan?"
Ardan terdiam.
"Mama belum, Om," katanya pelan.
Om Endi tersenyum mengerti.
"Mamamu punya standar tinggi memang," kekeh Om Endi mengingat istri temannya yang agak angkuh
__ADS_1
"Om pernah liat mama kamu nemuin Wina disini," kata Om Endi mengagetkan Ardan.