Cinta Lama Saingan Tetap

Cinta Lama Saingan Tetap
Menunggu dengan sabar


__ADS_3

Keluarga Oma Rahayu kini menatap Ardan penuh minat. Wajah tampannya sangat familiar. Bahkan ada sepupu dokter Eri yang merupakan dua orang gadis cantik, mencuri curi pandang pada Ardan. Oma Rahayu sendiri menatap Ardan dengan tajam.


"Papa sama mama kamu datang?" tanya papa dokter Eri ramah.


"Datang Om. Kita bareng tadi," jawabnya tenang.


"Kenapa Wina ngga bilang kalo kamu pacar Wina," kata mama dokter Eri dengan senyum lebar.


"Iya Lho Win. Ini sih seimbamg sama Eri," kekeh tante Firda membuat yang lainnya tergelak.


Wajah Wina tambah merons.


Ardan hanya tersenyum.


"Jangan salah paham ya, Ardan. Wina pernah menolong Oma. Makanya Oma perhatian banget sama Wina," jelas papa dokter Eri tenang.


"Kita semua sangat berterimakasih pada Wina. Untung Wina cepat tanggapnya. Wina gadis yang baik dan pintar," tambah mama dokter Eri.


"Iya, Om,Tante, Oma," kata Ardan sengaja menyebut nama Oma karena dari tadi Oma terus menatapnya tajam.


Ardan sebenarnya ingin tertawa dalam hatinya melihat sikap Oma Rahayu yang begitu protektif pada Wina. Padahal kedua eyangnya ngga begitu begitu amat.


"Kenapa kamu ngga datang bareng Wina ke acara oma?" tanya Oma Rahayu penuh selidik.


"Papa sama mama menjemput saya tanpa memberitau dulu. Saya tadi juga kaget melihat Wina ada di sini, Oma," jawabnya sopan.


"Selamat ya kamu masuk dalam most wanted," ucap Farhan ngga nyangka akan semeja dengan rivalnya.


"Bang Farhan dan Bang Rayhan juga masuk juga, kan," balas Ardan merendah.


Farhan pun tertawa. Rayhan adiknya pun tertawa juga.


"Rupanya Lo ramah juga ya. Di luaran kabarnya Lo dingin dan kaku," kata Farhan kemudian masih melanjutkan tawanya.


"Biasa itu, Bang. Buat stigma, biar karyawan segan sama kita," tawa renyah Ardan juga disambut tawa yang lainnya.


"Om kagum, sama kalian. Masih muda tapi pekerja keras," puji Om Aditya tulus.


"Benar. Kalian pun mandiri," tanbah Om Harland ikut memuji. Om Harland adalah abang papa Eri.


"Stef dan Vano juga pekerja keras," papa dokter Eri juga menambahkan ponakannya.


"Hanya Eri yang betah jadi dokter," kekeh Farhan membuat dokter Eri ikut tertawa juga.


"Kalo semua pengusaha ya ngga seru lah," bela dokter Eri membuat meja mereka makin riuh.


Oma Rahayu pun ikut tersenyum. Perasaan Oma Rahayu sebenarnya ngga tenang begitu tau Wina adalah pacar Ardan. Oma Rahayu pernah mendengar selintingan kabar negatif tentang mama Ardan.


Tapi beliau pun ngga bisa memaksa Wina dan Eri untuk bersama. Beliau juga tau cucunya sudah punya kekasih dan stay di New York. Oma hanya ingin mendapat perhatian kekasih Eri agar memutuskan tinggal satu negara dengan Eri. Oma ngga mau cucu kesayangannya jauh darinya.


Walaupun dalam hati beliau masih berharap agar gadis sebaik Wina jadi pendamping hidup cucu kesayangannya, Eri Alexander.


"Rikha, Fika, carilah calon suami seperti sepupumu atau Ardan ya. Kalo ngga nemu juga, Oma yang akan cariin," kata Oma tiba tiba membuat tawa terhenti dan perhatian fokus pada dua gadis cantik itu.

__ADS_1


Keduanya hanya tersenyum mendengar kata kata Omanya.


"Iya Oma sayang," kata Fika manja sambil melrik Ardan yang kali ini hanya menatap wajah Wina.


Wina, aku kangen, batinnya penuh rindu.


"Kita dansa, yuk, Oma," ajak Eri penuh perhatian membuat oma tersenyum.


"Boleh," sahut oma sambil menyambut uluran tangan Eri.


"Win," panggil Ardan sambil memgulurlan tangannya.


Dengan wajah meroma, Wina menyambut uluran tangan itu.


Bahkan tante dan om Eri juga turun ke lantai dansa.


"Biar mama dan papa yang menjaga anak anak kalian," kata mama pada dua abang Eri.


"Ngga ma. Mama saja sama papa yang dansa ya. Kita nonton aja," kata Vira-istri Farhan.


"Iya ma, pa, ayolah," kata Namira-istri Rayhan ikut mendukung.


"Oke," jawab Papa yang sangat setuju dan memgajak istrinya berdansa.


"Stef, Vano, mau kemana?" tanya Fika heran melihat keduanya berdiri.


"Cari cewe lah," sahut Vano ringan.


"Kalian cari cowo sana. Banyak, kok, yang tampan tampan," kata Stef pada kedua sepupunya.


"Aku juga," sambung Rikha.


"Oke." Stef dan Vano pun pergi.


"Ardan itu dulunya pembalap, kan," ucap Namira.


"Iya, Kak. Aku kaget dia pacaran dengan Wina," tukas Fika sambil mengambil sepotong kecil puding vanila yang dibawakan pelayan hotel.


"Dulu pacarnya banyak," sambung Rikha.


"Jangan jangan kalian naksir," tawa Farhan meledek.


Kedua gadis cantik itu balas tertawa.


"Kalo dia udah bosan sama Wina, aku mau gantiin," kekeh Fika membuat dua iparnya menggelengkan kepala.


Memang tampan, sih, batin keduanya dalam hati


"Makasih, Win, mau dansa sama aku," kata Ardan sambil mendekap erat pinggang Wina. Dia sunguh merindu (mantan?) kekasih yang sering dia sakiti.


Wina yang mengalungkan tangannya di leher Ardan tersenyum manis.


Dia merasa kalo sedari tadi mama Ardan melototinya.

__ADS_1


Biarlah untuk malam ini. Besok mungkin udah ngga bisa sedekat ini dengan Ardan.


"Kamu tambah kurus," kata Wina sedih.


"Tetap ganteng, kan?" balas Ardan nakal.


Wina kembal tersenyum.


"Kamu harus jaga kesehatan. Jangan mabok melulu tiap malam," nasihat Wina dengan tatapan lembutnya.


"Kamu tau dari siapa?"


"Bosku katanya sering lihat kamu di bar."


Ardan langsung teringat pada laki laki yang dia temui di bar.


"Hanya alkohol yang bisa buat aku melupakan kamu," bisik membuat hati Wina teriris.


"Alkohol bahaya buat kesehatan, Ardan," kata Wina masih mencoba melarang.


Ardan tersenyum sedih.


"Kita udah ngga ada harapan?"


Wina ngga menjawab. Jangan tanya sama hatinya. Dia selalu mencintai Ardan. Disakiti berkali kali masih juga cinta.


Apa cinta memang sebodoh ini?


Yang jelas, malam ini Wina hanya ingin menikmati kedekatannya dengan Ardan.


Ardan udah tau jawabannya..Dia semakin mengeratkan pelukannya dan membiarkan Wina bersandar di dadanya.


"Aku tolol karena selalu saja menyakiti kamu. Aku akan menunggu kamu," kata Ardan lembut. Dia ngga akan memaksa.


Wina ngga menjawab.


Restu, Ardan. Sampai kapan pun kita ngga akan mendapatkannya dari mama kamu, batin Wina perih.


*****


"Ardan sepertinya mencintai gadis itu," kata papa Dina dengan ngga pernah hilang fokus dari menatap Ardan yang kini sedang berdansa dengan Wina.


"Ardan itu masih labil," komentar mama Ardan tetap tenang.


"Maksud kamu?" tanya mama Dina penasaran dengan lanjutan kalimat temannya. Mendengar kata kata temannya barusan, harapannya muncul lagi.


"Mereka sebenarnya sudah putus," kata mama Ardan sambil melirik papa Ardan yang terlihat nggak peduli dengan apa yang dikatakannya.


"Mereka sempat jadian?" tanya mama Dina kaget.


Dina merasa hatinya sakit campur lega.


Kalo putus, aku ada harapan.

__ADS_1


"Iya," pungkas mama Ardan dengan tatapan lekat ke suaminya yang kini balas menatap ke dalam manik mata mana Ardan.


__ADS_2