Cinta Lama Saingan Tetap

Cinta Lama Saingan Tetap
Perasaan Orang Tua


__ADS_3

"Papa, kok, tambah kurus?" tanya Wina ketika mereka bertemu saat sarapan.


Kemarin malam saat dia pergi bersama Eri, Wina tidak terlalu memperhatikan papanya.


"Mas, sih?" kekeh papa.


Mama Wina hanya diam sambil menyuapkan nasi gorengnya.


"Iya, kan, Ma," ucap Wina minta mamanya menyetujui pendapatnya.


"Maklumlah, kan papa dan mama capek waktu dinas," ucap mama wina tenang.


Maaf sayang, mama belum bisa bilang ke kamu, batin mama sedih.


"Ya, mungkin juga ya ma. Mama juga agak kurusan," kata Wima sambil mengamati kedua wajah orang tuanya.


"Sebaiknya mama dan papa pensiun aja. Gajiku sangat gede. Mama dan papa cukup menikmati hari tua aja," usul Wina serius.


Mama dan papa.salimg pandang kemudian tertawa. Walau dalam hati sangat terharu akan kata kata putri tunggalnya.


"Jangan aneh aneh," kata mama sambil menggelengkan kepalanya.


"Iya, kalo pensiun dini, papa nanti bisa bosan jadi pengangguran," kata papa dengan mimik lucu.


"Ya, tapi papa dan mama jangan kecapean," tukas Wina manja.


Papanya tersenyum, hatinya sedih mengingat kemanjaan Wina. Papa jadi mengingat penyakit yang dia derita.


Andai Wina tau, pasti putrinya akan sedih, batinnya galau.


"Tadi malam kamu pulang di antar sama yang jemput?" tanya papa sambil memegang gelasnya.


"Ngga pa," ucap Wina jujur.


"Siapa yang antar? Kok ngga disuruh masuk?" tanya papa setelah meneguk air putihnya.


"Ardan. Wina ketemu di pesta," ucap Wina terus terang.


Papa dan mama yang sudah tau saling pandang. Tadi malam mereka melihat mobil merah Ardan mengantar putrinya. Bahkan Ardan membukakan pintu mobil buat Wina dan melihat Wina sampai masuk ke dalam rumah.


"Ardan ngga marah kamu bersama pria lain?" pancing mama kepo.


Wina tersenyum .


"Engga ma."


"Kok bisa?" tanya mama lagi.


"Wina sama Ardan mutusin break dulu. Soalnya Ardan lagi sibuk banget," jawab Wina asal.


"Lho?" Kening mama jadi berkerut mendengarnya.


Wina tertawa kecil berusaha menyembunyikan rahasianya.


"Kalian berpisah?" tanya papa setelah dari tadi hanya diam saja.

__ADS_1


"Iya," jawab Wina berusaha menyimpan rasa sakit di hatinya.


"Kenapa?" tanya papa tenang sementara mama terlihat shock.


Bukankah orang tua pemuda itu sudah datang ke rumahnya? Bukan tanda serius kah? batin mama bertanya tanya.


Papa menghela nafas karena Wina ngga menjawab. Menyibukkan diri dengan memakan nasi gorengnya.


Apa karena Wina bukan dari keluarga konglomerat?


Sejak Ardan dan keluarganya datang ke rumah, papa mencari tau siapa Ardan dan keluarganya.


Papa tentu saja terkejut begitu tahu kenyataan yang sebenarnya.


Ardan yang terkenal sebagai mantan pembalap yang punya banyak teman wanita. Dan keluarganya adalah keluarga konglomerat yang menguasai bisnis di bidang konstrukai, retail dan bahan tambang. Ardan adalah putra mereka satu satunya. Tentu ngga sembarangan mereka mencari jodoh buat anaknya.


Mungkin mereka merasa Wina ngga sebanding dengan putranya. Papa Wina masih mengingat sikap agak kurang nyanan dari mama Ardan, walaupun papanya bersikap ramah dan sepertinya tulus.


Itu yang menjadi ganjalan di hati papanya. Wina adalah putri satu satunya yang paling berharga. Kalo keluarga Ardan ngga bisa menghargai putrinya ngga masalah buat papa. Wina bisa berjodoh dengan pemuda yang keluarganya menyayangi Wina.


Papa tentu ngga mau, nasib pernikahannya dengan Wina, akan bernasib sama dengannya.


"Pa," panggil mama sambil menggenggam tangannya membuat papa tersadar.


"Eh, aku melanun ya," kata papa sambil tersenyum lebar.


"Santai aja Ma, putri kita banyak, kok, yang suka," kata papa ringan untuk menenangkan istrinya.


Makasih pa, batin Wina lega.


"Wina berangkat dulu ya, Ma, Pa," kata Wina sambil mengambil tangan papa dan mamanua buat di cium.


"Wina yang minta, Ma. Kan kita break. Ni ojol Wina udah datang," katanya sambil.melihat hpnya.


"Mobil Saras udah dibawa ya?"


"Udah Ma. Wina pamit ya, ma, pa," katanya lagi kemudian bergegas keluar.


Mama dan papa saling pandang.


"Pa, kita beli mobil satu lagi ya, buat Wina," kata mama sambil menatap mata suaminya.


"Boleh. Nanti papa tanya sama teman di kantor."


Mama tersenyum senang. Putrinya terlalu suka naik ojek online. Kadang angkot. Ngga ada salahnya memberikannya jadiah mobil untuk mengurangi kesedihannya.


Bukannya mama ngga tau kalo Wina sedang menyembunyikan kesedihannya.


"Sekarang makan obat, Pa. Wina udah berangkat," kata mama setelah memastikan Wina naik ojek onlinenya.


Papanya pun tertawa.


"Kita kucing kucingan sama Wina."


Mama ngga menjawab, hanya tersenyum tipis. Mengingat penyakit suaminya dan putrinya yang sudah putus, membuat perasaannya ngga tenang.

__ADS_1


"Jangan terlalu berpikir yang berat, sayang. Wina pasti bisa mengatasinya," kata suaminya menenangkan.


Mama menganggukkan kepalanya, berusaha menyembunyikan kegalauannya dari suaminya.


*****


"Kamu tadi ngantar Wina?" tanya mama Ardan dengan sorot matanya yang tajam.


Mama dan papa sengaja menunggunya di depam unit apartemannya.


Yang buat mama Ardan kesal, seenaknya saja putranya itu menghilang setelah berduaan dan bermesraan dengan Wina di depan publik


Saat ini saja sudah banyak pesan yang menanyakan kebenaran hubungan Ardan dengan Wina.


"Iya," jawab Ardan tenang.


"Kamu sengaja melakukannya? Kenapa kamu harus maju dan mengakui Wina sebagai pacarmu?" sentak mama Ardan mulai emosi.


"Wina memang pacar Ardan, Ma," kata Ardan berkeras.


Mama tertawa mengejek.


"Kamu lupa udah diputusin Wina karena nyium gadis lain?"


"Ardan cuma iseng. Gadis itu dulu yang nyium Ardan," jawabnya asal.


"Kalo kamu sudah serius sama satu gadis, ngga mungkin kamu bahkan sampai nyium gadis lain," sindir mama Ardan pedas.


Ardan diam. Dia benar benar tersudut dengan kata kata mamanya.


Melihat Ardan yang yang terdiam membuat mama merasa benar dengan pendapatnya.


"Kamu suka dengan Tiara? Dia memang sangat cantik banget," pancing mama.


Bagi mama, Dina atau Tiara sama saja. Yang penting sama sama dari keluarga kaya raya.


"Suka sebentar aja. Cuma buat dimaenin," jawab Ardan ringan.


"Ardan!" bentak mama sampai kehilangan kata kata untuk mengumpat putranya. Papanya hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum miring.


Tapi senyum papa dan ketenangan Ardan jadi hilang karena melihat mama mulai tersengal dan memegang dadanya.


"Kamu jangan terlalu emosi, sayang," kata papa Ardan panik.


"Ma, tenang," kata Ardan juga panik.


Dan mereka benar benar sangat panik melihat mamanya kali ini pingsan dalam pelukan papanya.


"Ma," teriak Papa cemas bukan kepalang.


"Ardan, bawa mobil papa. Kita ke rumah sakit," seru papa Ardan sambil membopong istrinya yang sudah terkulai ngga sadarkan diri.


"Ya. Pa."


Sambil menyetir Ardan pun menelpon dokter Sinta, dokter pribadi mamanya untuk menyiapkan segalanya di rumah sakit. Mamanya ngga boleh terlambat mendapat pertolongan.

__ADS_1


"Maaf, Pa," kata Ardan sedih karena melihat papanya yang terlihat cemas luar biasa.


"Kamu fokus saja nyetirnya," titah papa sambil mengusap keringat dingin di kening istrinya.


__ADS_2