Cinta Lama Saingan Tetap

Cinta Lama Saingan Tetap
Keràs Kepala


__ADS_3

"Bibirku masih sedikit bengkak," keluh Wina sambil terus mengompres bibirnya dengan es yang di lapisi saputangan.


Aduh, gimana ni kalo papa tau aku abis ciuman, batin Wina resah dalam hati.


"Udah ngga kelihatan bengkak kok, yang," kata Ardan menenangkan.


"Kamu, sih," kesal Wina menyalahkan.


"Lho, kok aku," kekeh Ardan sambil membelai puncak kepala Wina gemas.


"Ini kan gara gara kamu," kesal Wina masih sewot dan cemas takut ketahuan papanya.


"Kamu, kan, yang mulai," ledek Ardan lanjut terkekeh.


BLUSHH


Wajah Wina langsung terasa panas.


Iya sih, tapi kamu yang bikin bengkak, kesal Wina membatin karena melihat Ardan yang ngga ngerasa salah. Malah terus saja tertawa.


"Makanya aku jangan dipancing, yang," tawa Ardan lagi membuat wajah Wina tambah terasa panas.


Wina menggelengkan krpala sambil terus mengompres bibirnya. Kesal banget rasanya melihat Ardan yang tertawa senang.


"Lho kok berhenti?" tanya Wina kaget melihat Ardan menghentikan mobilnya.


"Kan udah sampai di rumah kamu," kata Ardan sambil menunjuk dengan dagunya.


Wina baru tersadar kalo udah nyampe di rumahnya. Wina lalu menatap kaca kecilmya.


Semoga ngga ketahuan papa, batinnya ngga tenang.


"Aku minta maaf ya," ucap Ardan lembut karena menyadari kecemasan Wina.


"Ngga gitu kelihatan banget, kok. Besok besok aku janji ngga gini lagi," kata Ardan dengan mata menggodanya.


Ngga ada besok besok, batin Wina dengan sorot mata mengancam.


Ardan tertawa lagi. Kemudian keluar dari mobil untuk membukakan pintu mobil Wina.


Kemarahannya sirna mendapat perlakuan istimewa dari Ardan. Selalu begitu. Ardan selalu bisa membuat hatinya lumer. Ini yang Wina ngga suka, soalnya Wina jadi orang yang plin plan.


"Aku mampir ketemu orang tua kamu, ya. Kelihatannya mereka di rumah," ucap Ardan menawarkan.


"Emm.... aku kemaren telanjur bilang ke papa kalo kita lagi bteak," kata Wina sambil menggigit bibirnya.


"Ya udah, aku jelasin aja ke papa kamu kalo kita udah ngga break lagi," tukas Ardan enteng.


"Jangan," cegah Wina cepat.


"Lho kenapa? Kita kan udah ngga break," sergah Ardan sambil menatap Wina lekat


"Tapi mama kamu, kan, belum setuju," kata Wina mengingatkan. Wajah Wina langsung sedih.


Ardan terdiam. Dia langsung merasa bersalah.


"Maaf," kata Ardan pelan.


"Tapi aku harus ketemu papa kamu. Aku ngga mau papa kamu nganggap aku ngga serius sama kamu," kata Ardan tegas.


Wina terdiam. Dia bingung. Wina ngga mau Ardan melukai hati mamanya. Apalagi Ardan anak satu satunya.


"Wina, kamu percaya sama aku, kan," kata Ardan sambil menatap Wina dalam dalam.


Wina menatap Ardan dengan mata berkaca kaca.


Wina hanya takut memberikan harapan palsu pada orang tuanya.

__ADS_1


"Ar, sebelum ada restu mama kamu, aku ngga berani berharap," kata Wina sedih.


Ardan terdiam. Hatinya terasa sakit melihat kesedihan Wina.


"Baiklah. Aku akan berusaha untuk itu," kata Ardan sambil membelai wajah Dina.


"Jangan menangis," kata Ardan sambil mengusap mata yang mulai basah.


Wina tersenyum.


"Aku pulang dulu, ya. Semoga mama kamu cepat sembuh," kata Wina pamit kemudian melangkahkan kakinya memasuki halaman rumahnya.


Setelah Wina tidak terlihat, Ardan memacu mobilnya ke rumah sakit.


Ardan membuka hpnya yang dia silent sejak pagi.


Banyak sekali telpon yang masuk. Papanya, juga Dina dan Tiara.


Ketika membaca pesan dari papanya, Ardan tersenyum lega


Syukurlah.


Mamanya sudah dibawa ke ruang perawatan. Mamanya sudah sadar.


Ardan men skip pesan pesan dari Dina dan Tiara, ngga penting juga.


Dia mulai membaca pesan dari sekretarisnya, Meti dan asistennya.


Bibirnya kembali mengulas senyum lega. Pekerjaannya sudah di handle dengan baik sampai dua hari ke depan.


Keduanya tau kalo mama si bos masuk ke rumah sakit dan si bos juga lagi ngga sehat.


Ardan akan menghadiahkan keduanya untuk liburan ke luar negeri.


"Akhirnya kamu datang. Mama nyariin kamu," kta papa sambil menepuk bahu Ardan.


"Kelihatan lebih segar," pancing papa dengan tatapan curiga tapi bibirnya tetap tersenyum.


"Papa udah mandi juga ya?" tanya sambil masuk ke dalam. Ada Dina di samping tempat tidur mamanya.


"Iya, papa juga baru pulang setelah mama sadar. Dina yang menunggu mama," jelas papa.


Ardan hanya manggut manggut.


"Kamu... kemana... aja?" tanya mama dengan suara lemah. Ada kekesalan dalam suaranya.


"Tidur ma. Syukurlah mama sudah sadar," kata Ardan sambil menggenggam lembut tangan mamanya.


."Kalo... ada... Dina....... Mama... akan... cepat... sembuh," ucap mama perlaham. Beliau tersenyum pada Dina yang juga membalasnya.


"Makasih ya," kata Ardan pada Dina.


"Iya. Sama sama," balas Dina senang.


Rasanya seakan mendapat hadiah termewah yang ada di dunia ketika Ardan memberikannya perhatiannya. Walau ngga sebanyak yang dia inginkan.


"Kalian... cocok... sekali," kata masih terpatah patah.


Mulai, kan, batin Ardan ngga senang.


"Tadi Tiara juga di sini. Tapi sudah pulang. Apa dia ke apartemen kamu?" tanya papa sambil ikut melangkah masuk.


Dina yang mendengarnya berusaha menahan kesalnya.


"Iya," jawab Ardan jujur.


"Ooo," kata papa sambil melirik istrinya yang menatap cemas Dina yang pura pura sibuk dengan hpnya.

__ADS_1


Situasi mulai terasa ngga mengenakkan.


"Om, tante, saya pamit dulu ya, lagi ada banyak pasien," pamit Dina yang sudah merasa gerah.


"Oh... iya... Dina... jangan... marah... ya..... Tiara... mungikin... hanya... mengantar... makanan... buat... Ardan," kata mama Ardan berusaha menjelaskan.


"Iya, tante," jawab Dina dengan memaksakan senyumnya.


"Makasih ya, Dina," ucap papanya sambil menepuk pundak putri sahabatnya.


Salahnya juga membawa nama Tiara tadi.


Mama mencubit Ardan yang hanya diam sambil melirikkan matanya pada Dina.


"Makasih, Din," kata Ardan dengan senyum di bibirnya.


Dina balas tersenyum. Melihat senyum Ardan, mengurangi cukup banyak kekesalan dalam hatinya.


Lama ngga si genit itu di apartemen kamu, batin Dina bertanya kesal.


Saingannya bertambah lagi. Tiara pun terang terangan menunjukkan rasa sukanya pada Ardan.


*


*


*


"Lama... Tiara... di... apartemen... kamu?" tanya mama penuh selidik.


"Dia datang saat Ardan mau ke rumah sakit."


Separuhnya Ardan ngga berbohong.


"Kamu... sukanya... sama... siapa?" tanya mama mangkel.


"Sama Wina."


Nafas mama kembali tersengal karena amarahnya yang mau meledak.


Papanya menghela nafas panjang melihat betapa keras kepalanya istri dan putranya.


"Mama istirahat ya," kata papanya menenangkan.


Ardan hanya menetap cemas dan kesal mamanya.


Ardan tau, mamanya akan menggunakan penyakitnya untuk memaksanya menuruti keinginannya.


"Mama... tetap... nggak... akan... setuju," kata mama Ardan dengan nafas tersengal.


"Ardan-."


Ucapannya terpotong akibat sentuhan papanya di punggungnya.


Ardan membuang nafasnya kesal.


Di satu sisi, Ardan sangat menyayangi mamanya, tapi di sisi yang lain, Ardan ngga bisa melepaskan Wina.


"Mama... ngga... mau... tau....... Kamu... hanya... punya... dua... pilihan........ Dina... atau... Tiara!" tandas mama memvonis.


Tuh, kan, batin Ardan melirik papanya kesal.


Papa hanya bisa menghela nafas berat.


Ardan bukan anak yang bisa dipaksa. Dia akan memberontak. Seminggu lebih dia udah ngga pulang ke rumah. Tiap malam minum alkohol dan bekerja tanpa mempedulikan kesehatannya.


Istrinya sendiri, jika keinginannya ngga terpenuhi, maka akan mendapatkan serangan jantung. Dokter sudah mem warning dirinya agar tidak memberatkan pikiran istrinya.

__ADS_1


__ADS_2