Cinta Lama Saingan Tetap

Cinta Lama Saingan Tetap
Perasaan marah Oma Rahayu


__ADS_3

"Ngga ku sangka, Wina masih cucuku juga," kata Oma.Rahayu dengan mata berkaca kaca.


Mata tuanya menatap sedih pada Wina yang masih juga belum sadar.


"Kalian berdua tau, aku sangat ingin menjodohkannya dengan Eri, anaknya Tasya," kata Oma Rahayu kemudian menghela nafas.


Beliau menghapus setetes air mata yang jatuh di pipinya.


"Tenang, Tante, kata dokter Wina ngga apa apa," kata papa Wina menenangkan.


Pertemuan ngga di duganya ini cukup mengguncangkan perasaannya. Apalagi mendengar kata kata kakak papinya. Ngga disangka, ternyata kakak papinya mengenal cukup baik putri tunggalnya. Tapi dimana mereka bisa kenalnya, benak papa Wina dipenuhi banyak tanda tanya.


Mama Wina pun masih belum bisa menghilangkan ketekejutannya akan pertemuan ini. Hampir dua puluh lima tahun mereka ngga pernah ketemu dengan kerabat mereka.


Di saat keluarga mereka membutuhkan sandaran, dengan mudahnya takdir mempertemukan mereka.


Setelah tadi melepas rindu yang sangat berat, kini mereka mulai terfokus pada keadaan Wina, putrinya, anak satu satunya yang masih saja betah dengan tidur panjangnya.


"Iya, Ma, Wina juga gadis yang kuat. Mama jangan terlalu khawatir. Dia akan membantah mama lagi kalo sudah sadar. Kan Wina paling bisa buat mama kangen," kata Tasya-Mama dokter Eri menggoda mamanya.


Wajah Oma Rahayu yang tadi sedih berubah senang. Tapu nggs lama kemudian manyun dan menatap kesal Wina yang masih tertidur.


"Dia memang anak kurang ajar. Kalo nanti dia tau aku adalah neneknya, dia bisa tambah kurang ajar sama aku," sungut Oma kesal.


Dokter Eri, dan para orang tua itu ngga dapat lagi menahan tawanya. Hanya Oma Rahayu saja yang masih cemberut, tapi kemudian beliau mengembangkan senyumnya sambil membayangkan wajah Wina yang selalu saja membantahnya


Cucunya yang paling tampan dan digilai banyak perempuan cantik dan kaya raya, ditolaknya mentah mentah. Benar benar watak papanya yang pembangkang mengalir utuh dalam darahnya.


"Bagaimana keadaan pacar ngga jelas cucuku ini? Katanya dia juga ikut mengalami kecelakaan," kata Oma Rahayu tersadar telah melupakan laki laki yang sempat menjadi saingan cucunya, dokter Eri. Oma Rahayu memang belum ikhlas kalo cucu kesayangannya dikalahkan dengan telak.


Pacar ngga jelas? Ada ada aja, papa membatin heran.


"Ardan masih belum sadar, Tante," kata papa Wina dengan wajah muram.


"Ardan lebih parah, Oma. Karena dia yang langsung terbentur aspal," jelas dokter Eri.


"Katanya pemuda itu yang menyelamatkan Wina," tambah Tasya-mama dokter Eri kagun.


Seorang Ardan, mantan pembalap terkenal dan masuk dalam most wanted of the year versi majalah Asia, digilai banyak perempuan kaya raya nan seksi, rela mengorbankan nyawa buat Wina, yang Ardan tau hanya seorang karyawan bank biasa.


"Benar, Ma. Setelah Ardan lari mendekati Wina, supir baru tersadar ada orang di tengah jalan. Langsung direm. Jadi benturannya ngga terlalu keras mengenai mereka," jelas dokter Eri.

__ADS_1


"Iya, kata sahabat Wina juga gitu. Cuma saya agak ngerasa aneh aja," kata mama Wina memberikan pendapatnya.


"Jangan berprasangka buruk, sayang. Jatuhnya dosa. Biarkan polisi menemukan supir itu, nanti bisa kita tanyakan kebenarannya," kata papa.Wina bijak.


Mereka terdiam, menyetujui pendapat papa Wina dalam hati.


Tapi Oma Rahayu dan mama dokter Eri sama memandang takjub papa Wina.


Ngga nyangka, bisa berubah gini si bengal, batin mama dokter Eri dengan senyum lebar di bibirnya.


Hening.


Sepi.


Suasana hening dan sepi terpecahkan oleh tawa keras Oma Rahayu membuat semua orang yang ada di situ (kecuali Wina) memandang heran Oma Rahayu yang masih saja tertawa dengan wajah bahagia.


"Ada apa, Tante?" tanya papa Wina heran.


"Iya, Oma ada apa?" tanya dokter Eri yang akhirnya juga bersuara.


Oma memghapus air matamya yang menetes karena tawanya begitu menggetarkan hatinya.


"Seandainya papi mu medengar ucapanmu, Baskoro, dia pasti akan sangat bahagia."


Mama dokter Eri dan mama Wina terkikik geli.


"Bisa berubah gini dia," ucap mama dokter Eri merasa sangat geli hatinya. Sangat di luar dugaannya.


Mereka cukup dekat, dengan keluarganya yang lain.


"Ngga tau gimana tanggapan suamiku, Harland bahkan Aditya, jika mendengar kata katamu tadi," ucap Mama dokter Eri ngga bisa lagi menahan tawanya.


Mama Wina ngga menjawab karena dia tambah terkikik mendengar kata kata sepupu suaminya.


Oma Rahayu pun tetap betah dengan tawanya.


Bener juga, bukan papinya aja yang merasa aneh, semua sepupunya pasti mengira dia sudah dirukyah, hina Oma Rahayu membatin.


"Om Baskoro waktu muda gimana, sih, Oma?" tanya dokter Eri mulai merasa akrab dengan kerabat barunya. Hatinya merasa senang karena Wina masih ada hubungan darah dengannya.


"Rahasia," kata papa Wina kemudian tertawa. Tepatnya mentertawai dirinya.

__ADS_1


"Om pasti bandel banget ya, waktu muda," tuduh dokter Eri kemudian tertawa meledek.


"Super malah," timpal Oma Rahayu dalam tawanya.


"Kamu ngga ada apa apanya. Kalah telak, Er," tambah mama dokter Eri membuat suasana ruangan Wina tambah heboh dengan suara tawa.


Setelah beberapa menit lamanya kemudian.


"Apa keluarga Ardan setuju dengan Wina?" tanya Oma Rosita setelah tawa mereka akhirnya reda juga.


Mama dan papa Wina saling pandang dengan raut sedih. Mengingat curahan hati Wina kemarin yang penuh air mata.


"Mamanya Ardan ngga setuju, Tante. Mungkin karena Wina hanya orang biasa," ucap papa Wina menjelaskan dengan dada sesak.


TUK!


"Aduh, sakit tante," kata papa Wina sambil meringis karena kepalanya lagi lagi diketok pake tongkat sakti sang Tante Rahayu.


"Salahmu yang ngga pernah minta bagianmu pada papimu! Malah hilang ngga tau kemana!" marah Oma Rahayu angker.


"Kamu juga Camila!" tuding Oma Rahayu masih marah.


"Kasian cucuku. Pasti dia sering direndahkan. Apalagi mobil yang dibawanya waktu mengantarku pulang. Mobil tua. Cucu dari Megantara terlihat menyedihkan ketika sangat mengagumi rumah yang ternyata milik Omanya sendiri," sembur Oma Rosita dengan nafas tersengal sengal.


"Maaf, Tante," kata mama dan papa Wina berbarengan, cemas melhat keadaan tantenya.


"Tenang, Ma," kata mama dokter Eri juga cemas. Begitu juga dokter Eri yang kini memijat bahu neneknya.


"Jangan marah marah, Oma" bujuk dokter Eri


"Siapa yang marah?!" Oma Rahayu mendelikkan matanya pada cucu kesayangannya, membuatnya kaget. Begitu juga yang lain.


"Oma ini lagi sedih. Sedih!" kata Oma Rahayu menegaskan dengan melototkan matanya kesal campur marah.


Terserah Oma aja, batin dokter Eri geli melihat tingkah kekanakan dan manja sang Oma.


Mama dokter Eri dan orang tua Wina menahan senyum mereka sebelum Oma Rahayu bertingkah ajaib lagi.


"Dari dulu aku sudah mendengar selintingan negatif tentang istri Putra Pamungkas itu. Berani beraninya dia mengecilkan keberadaan cucuku," kata Oma Rahayu penuh dendam.


Mereka terdiam, membenarkan apa yang dikatakan Oma Rahayu.

__ADS_1


Sejak mendengarkan curhatan putrinya, mama Wina pun jadi geram hatinya pada mama Ardan.


"Rahasiakan ini dari orang luar. Aku akan memberi pelajaran pada wanita materialistis itu," tambah Oma dingin, begitu terasa aura kemarahan berselimutkan dendam dalam kata katanya.


__ADS_2