Cinta Lama Saingan Tetap

Cinta Lama Saingan Tetap
Menunjukkan Diri


__ADS_3

Ardan menatap Wina yang kini menatapnya dengan sorot terkejut.


"Win, ikut aku," ucapnya sambil menggenggam tangan Wina


"Ga pa pa," kata Dewi cepat. Dia shock juga, ternyata si sport merah itu sangat tampan dan keren. Tingginya pun di atas rata rata, Dewi langsung menilai dalam hati.


Tapi sepertinya Dewi pernah melihat laki laki ini. Tapi dimana ya? Dewi memaksa kepalanya mendata pria pria tampan yang pernah tersimpan di memory otaknya.


"Bos, aku ngga ikut bareng ya," pamit Wina sambil mengalihkan tatapannya pada aga.


Gaga tersenyum. " Ok, jangan telat ke kantor. Ayo, pada naik, kutinggal ntar," ancam Gaga sambil membuka pintu mobil saat melihat kebengongan sohib sohibnya.


"Kenalin, aku Sita, teman dekatnya Wina." Sita langsung mengulurkan tangannya. Pantasan diumpetin, cakep soalnya, omel Sita dalam hati.


Sama seperti Dewi, Sita juga memcoba mengingat dimana pernah melihat pra keren ini. Rasanya wajahnya cukup familiar.


Ardan terlihat kaku saat membalas uluran tangan Sita.


"Ardan."


"Aku Dewi, sohib Wina juga," kata Dewi ga mau kalah juga. 

__ADS_1


Kembali Ardan menyambut kaku tangan Dewi dan menyebutkan namanya. Sementar Adhi hanya menatap Ardan sebentar sebelum membuka pintu mobil.


"Aku Adhi. Woi ciwi ciwi, mau ditinggal?" seru Adhi kesel melihat keduanya masih berdiri di samping Wina.


 


"Kita duluan ya. Yuk, Wina, Ardan, " kata Dewi sangat ramah.


"Duluan Wina, Ardan." Sita pun ga mau kalah ramahnya.


"Udah sana, nanti beneran di tinggal," usir Wina agak sebel melihat kecentilan dua sohibnya.


Gila, Adhi lewat banget. Bos Gaga juga bisa dikalahkan ketampanannya. Pria ini seperti memiliki aura ketampanan yang sulit dibantah.


"Kalo Wina ga mau, sama aku boleh." Dewi mengerling genit sambil masuk ke dalam mobil. Benar benar teman lacnat, ga ada akhlak. Pacar temannya pun mau diembat, maki Wina dalam hati kesel. Wina menjadi tambah kesel melihat Ardan yang tersenyum melihatnya.


"Kenapa? Senang punya fans baru lagi," sarkas Wina sebel.


"Engga kok, ada daun di rambut kamu." Ardan mengambil daun kering di poni Wina dan menyerahkannya pada Wina. Sentuhan halus di rambutnya membuat dada Wina berdesir. Nah kan, Wina gampang banget terhanyut oleh Ardan.


Akhirnya mobil yang membawa dua pengganggu itu pergi sambil melambai manja pada Wina, khususnya Ardan. 

__ADS_1


"Win, ayo aku antar." Tanpa menunggu jawaban Wina, Ardan menggandeng tangannya, membukakan pintu mobilnya.


"Jangan ngambek dulu," ucap Ardan sambil mengacak lembut rambutnya setelah menutup pintu mobil, lalu dengan langkah cepat Ardan memutar depan mobil dan membuka pintu mobilnya.


Jantung Wina berdegup kencang saat merasakan lagi sentuhan Ardan di rambutnya. Gaya jalan Ardan yang memutari mobil dan membuka pintu mobilnya bagi Wina sangatlah keren. Dia selalu terpesona dengan cowo ini, tepatnya pria yang mulai dewasa ini.


"Aku minta maaf ya, tadi makan siang sama Dina." Ardan menatap Wina lembut, dia belum menghidupkan mobilnya.


"Kenapa harus minta maaf," tukas Wina judes.


"Buat kamu marah," ucap Ardan masih lembut. Tatapannya membuat jantung Wina berdetak tak menentu.


Susah bagi Wina untuk berlama lama marah dengan Ardan. Sikap dan tatapan dalamnya benar benar membuainya. Perasaan cintanya begitu dalam.


Sejak SMU kelas aatu perasaan itu disimpannya. Berdua dengan Ardan membuatnya ngga tenang. Duh hati, tolong bawa pergi cinta yang sulit ini.


Akhirnya Wina membuang pandangannya ke arah lain.


Tidak, dia harus tetap bisa marah, tekatnya dalam hati.


Lebih baik pisah sekarang dari pada makan hati ngga berenti.

__ADS_1


__ADS_2