
"Ardan, aku harus pulang," kata Wina ketika jam tangannya sudah menunjukkan pukul empat sore.
"Oke, aku antar. Aku juga akn menjenguk mama di rumah sakit," kata Ardan sambil mengambil jaketnya.
"Sebentar," tahan Wina membuat Ardan menghentikan langkahnya dan menatapnya bingung
"Ada apa?"
Wina ngga menjawab, tapi malah menyentuhkan tangannya ke kening Ardan.
"Sudah turun. Syukurlah," gumam Wina lega.
Tapi saat tangannya akan diturunkan, Ardan meraihnya dan menggenggam jemarinya dengan lembut.
Wina menatap Ardan lekat tanpa bermaksud melepaskan genggaman Ardan
"Wina, aku akan memperjuangkan kamu. Sampai kapan pun," kata Ardan tegas.
Wina masih terdiam. Dia sudah ngga berharap. Hanya hatinya ngga bisa melihat Ardan mendapat kesusahan bahkan seperti sekarang sampai sakit.
"Aku betul betul cinta sama kamu. Aku memang bukan orang alim. Aku sering berbuat salah. Tapi aku sangat mencintai kamu," kata Ardan sambil menatap Wina lembut.
"Ardan, jangan begitu. Kamu harus nurut sama mama kamu," kata Wina mengingatkan.
Ardan adalah anak satu satunya. Tentu orang tuanya, khususnya mamanya menginginkan calon mantu dengan kriteria yang luar biasa.
Seperti Dina atau gadis kemarin. Mereka berdua terlihat sempurna. Perpaduan cantik, pintar dan kaya raya.
Wina ngga bisa menghilangkan perasaan insecure dari hatinya.
"Aku ngga akan nurut. Aku ngga akan nikah kecuali sama kamu," kata Ardan tetap keras kepala.
Wina tersenyum. Bohong kalo hatinya ngga tersipu mendengar kata kata Ardan. Laki laki tampan, pintar, kaya raya, dan most wanted.
Tapi Wina sudah tidak menginginkannya lagi. Wina hanya ingin laki laki yang bisa membawa kesetiaan, bukan kecurigaan karena selalu was was apabila berjauhan.
"Jangan lupa minum obat tepat waktu. Makan yang teratur," kata Wina mengalihkan pembicaraan.
Ardan yang mata keranjang, restu yang ngga mungkin di dapat, sudah membuat Wina hilang harapan. Dia cuma berharap waktu yang akan menyembuhkan luka di hatinya.
Ardan tau Wina sudah ngga terlalu berharap. Rasanya sakit sekali berjuang untuk orang yang sudah ngga menginginkannya lagi.
Ardan memejamkan mata. Memang apa yang diharapkan Wina dari lelaki brengsek seperti dia?
"Ayo antar aku pulang," kata Wina menyadarkan Ardan yang melamun.
"Ya," sahut Ardan lemah sambil mengambil jaketnya. Genggamannya pun ngga dilepaskannya.
Ardan dan Wina sedikit terkejut melihat Tiara berdiri di depan pintu unitnya.
Tiara sendiri ngga bisa menyembunyikan kekagetannya melihat Ardan keluar bersama seorang gadis.
Pacarnya?
__ADS_1
Tiara mencoba menenangkan perasaannya. Wajahnya masih terlihat shock.
Wina sebal melihat gadis yang berusaha menarik perhatian Ardan. Bahkan berani beraninya mengunjungi Ardan di unitnya.
Gimana kalo tadi dia ngga bersama Ardan. Pasti gadis centil ini yang akan menemaninya.
Ardan bisa merasakan kekesalan Wina. Dia agak khawatir kalo Wina semakin ngga mau dia perjuangkan.
"Ardan, kata papa kamu, kamu lagi sakit," kata Tiara setelah berhasil menenangkan dirinya.
Wina tau gadis di depannya ini tidak menganggap kehadirannya.
Sesekali harus dikasih pelajaran.
Wina menyesali, kemarin kenapa dia yang harus melarikan diri sambil menangis. Gadis ini pasti merasa udah di atas angin.
Dengan nekat Wina mengalungkan tangannya ke leher Ardan. Wina mengecup bibir Ardan dengan mesra.
Ardan sedikit kaget dengan reaksi Wina..Dia kira Wina akan pergi karena Wina menarik kasar tangannya yang digenggam.
Senyum Ardan mengembang melihat Wina yang dilanda cemburu. Ardan pun membalas dengan panas ciuman itu. Bahkan sampai membuat bunyi berdecak.
Tiara hampir jatuh karena terguncang melihat adegan mesra di depannya. Ciuman Ardan terasa beda. Waktu dengannya, Ardan hanya membalas ala kadarnya. Tapi saat ini, Ardan begitu panas dan bergairah mencumbu gadis kekasihnya.
Ardan yang benar benar ngga lagi bisa menahan diri untuk menyalurkan hasratnya, manaikkan Wina dalam gendongannya. Dia lalu menutup pintu dengan kakinya. Mereka meninggalkan Tiiara di luar.
Kaki Tiara tak sanggup lagi menopang tubuhnya. Dirinya jatuh bersana paper bag yang dibawanya.
Sementara dibalik pintu, Ardan terus mencium Wina dengan hasrat yang panas.
Wina yang awalnya marah karena cemburu mengingat ciuman Ardan pada gadis itu, hanya ingin membalas sekedarnya. Tapi Ardan malah menyambutnya dengan gairahnya yang tinggi.
"Ardan, udah," kata Wina lemah. Kesadarannya hampir hilang.
Ardan menatap Wina dengan tatapan berselimutkan kabut gairah yang begitu menggelora di dadanya.
"Sebentar saja, Wina, aku janji," kata Ardan memohon sambil terus menciumi lembut bibir Wina.
Wina hanya pasrah mendapat perlakuan Ardan.
Akhirnya Ardan pun melepaskan ciumannya. Dia mengangkat tubuh lemah Wina ala brydal dan membawanya masuk ke dalam kamar tidurnya.
Ardan pun membaringkanya Winanya yang sudah pasrah dan memejamkan mata.
"Tidurlah bentar. Aku ke kamar mandi dulu," kata Ardan sambil mengecup keningnya.
Wina ngga menyahut.
Ardan menatap wajah yang semakin cantik itu dengan gairah yang sekuat tenaga di tahannya. Apalagi melihat bibir yang bengkak dan kemeja yang sudah lepas dua kancing di atasnya.
Akhirnya Ardan berjalan cepat ke kamar mandinya dan mulai menuntaskan hasratnya di sana.
Rupanya Wina benar benar tertidur pulas. Wajahnya terlihat tenang dan tersenyum. Ardan yang berbaring di sampingnya ngga jemu jemu memandangnya.
__ADS_1
Setengah jam lebih Ardan mengerang di dalam kamar mandi.
Wajahnya terlihat puas melihat Wina tertidur.
Setelah mengenakan setelan yang baru lagi, Ardan memghampiri Wina. Dia mengancingkan kemeja itu dengan tangan sedikit bergetar.
Ardan pun membaringkan tubuhnya di samping Wina dan terus menatapnya dengan cinta.
"Wina, kamu ngga bisa bohong. Kamu juga masih mengharapkan aku. Terima kasih karena selalu mencintaiku," gumam Ardan perlahan.
You are my crush, baby. I love you more and more.
*
*
Setengah jam kemudian Wina terjaga dari tidurnya. Yang membuatnya kaget, Ardan begitu dekat dengannya dan memandangnya dengan senyum.
"Mau nginap di sini?" ledek Ardan menggoda.
Wina ngga menyahut. Jantungnya berdebar ngga menentu.
Apa yang sudah dia lakukan?
Wina reflek terduduk dan menatap pakaiannya yang masih utuh.
Syukurlah, batinnya lega.
Ardan tersenyum lebar melihat reaksi berlebihan Wina.
"Kamu ketiduran, sayang," kata Ardan lembut.
"Kamu... kamu ngga aneh aneh, kan?" tanya Wina panik.
Ardan tertawa sambil bangkit berdiri dan mengulurkan tangannya pada Wina.
Agak ragu Wina menyambutnya.
"Mulai hari ini aku akan mengantar dan menjemput kamu. Jangan protes," titah Ardan.
"Ardan, kamu belum jawab," kata Wina masih panik.
"Kita berciuman dengan panas sayang. Hanya di bibir. Tapi kalo kita sudah menikah, lain lagi ceritanya," kata Ardan menggoda.
Jantung Wina berkejaran dengan cepat. Semburat merah mewarnai pipinya.
Ardan menarik tangan Wina hingga Wina pun jatuh di pelukan Ardan.
"Pulang nggak?" ledek Ardan kembali menggoda.
"Iya," kata Wina sambil menyembunyikan wajah malunya di dada Ardan.
Ardan langsung tergelak.
__ADS_1