
Begitu sampai di pos sekuriti, pak satpam langsung menatap Wina curiga karena mobilnya.
"Buka gerbang, Panjul," seru Oma ketika kaca jendelanya dibuka.
Sekuriti yang dipanggil Panjul langsung mengangkat tangannya dan berubah takluk begitu melihat si nenek.
"Ndoro Nyonya. Siap," tegasnya sambil menghormat. Setelah si nenek menganggukkan kepalanya, Pak Sekuriti yang dipanggil Panjul pun membuka palang pintu.
Sepanjang mobil Wina lewat, Pak sekuriti terus saja bersikap tegak dan penuh hormat. Wina tersenyum geli jadinya.
"Itulah kekuasaan uang," sarkas si nenek.
"Iya nek," respon Wina sopan.
Terserah kata si nenek aja, batinnya ngga ambil pusing.
"Rumah nenek yang mana?"
Wina menatap kagum rumah rumah mewah dengan nilai seni tinggi.
Pasti arsiteknya dibayar sangat mahal, batinnya kagum.
Andai dulu jadi arsitek, batinnya ngayal.
"Jangan norak kamu. Itu rumah nenek," kata nenek menyadarkan Wina dari lamunan.
Wina mengikuti arah telunjuk si nenek.
Wow, rumahnya sepertinya paling besar. Mewah banget, Wina memandang terkagum kagum. Padahal dia masih di luar gerbang. Bagaimana kalo udah masuk ke dalam.
"Jangan melongo gitu. Kamu buat malu saya aja," cibir si nenek lagi membuat Wina malah tertawa kecil. Sama sekali ngga tersinggung.
"Nek, mau diantar sampai di sini aja atau gimana?" tanya Wina bingung.
"Pencet klakson dong. Cantik cantik kok ngga pintar," hina si nenek lagi.
Wina hanya tertawa saja walau dalam hati sedikit gondok.Dia pun memencet klakson. Pagar pun langsung terbuka.
"Saya masuk ni nek?" tanya Wina ragu. Rumah ini benar benar mewah. Halamannya pun disulap seperti taman dengan bunga bunga lokal yang sangat indah.
"Ampun," kata si nenek sambil menepuk jidatnya.
"Ya masuk, masa keluar lagi," omel si nenek kesal.
Wina pun menurut. Baru kali ini dia memasuki rumah yang sangat mewah. Bahkan rumah Ardan kalah luas dan mewah dari rumah si nenek.
Begitu mobil sampai di teras, beberapa orang yang sejak mobilnya memasuki halaman sudah berdiri, kini mulai mendekat.
__ADS_1
Wina bingung, dia takut dikira menculik si nenek.
"Ibu," seru seoramg wanita separuh baya yang masih sangat cantik dengan mata bengkak habis menangis.
Si nenek yang dengan tenang mau keluar dari mobil langsung melototinya membuat Wina heran.
"Buka kuncinya, huuuh," omel si nenek sambil menepuk jidatnya.
Oiya, lupa, batin Wina sambil menekan tombol kunci.
Begitu sang nenek keluar, wanita tadi langsung memeluknya dan menangis lagi. Seorang lelaki paruh baya yang masih tampan hanya menepuk bahu istrinya.
Karena merasa tidak sopan kalo di dalam mobil terus, Wina pun keluar dan berdiri di samping mobil sepupunya.
"Ibu dari mana aja. Kita bingung nyari ibu," isak wanita itu.
"Aku jalan jalan nyari angin," jawab si nenek ringan.
Pria setengah baya menahan senyumnya mendengar jawaban mertuanya.
"Kasih kabar bu, kita cemas," katanya lagi dalam isaknya.
"Iyaaa." jawab si nenek terdengar malas.
"Terimakasih sudah mengantar ibu kami sampai ke rumah," kata pria paruh baya itu pada Wina.
"Jangan pulang dulu. Kamu harus ku kenalkan dengan cucuku," kata si nenek sambil meronta minta dilepaskan pelukannya yang akhirnya berhasil lepas juga.
Waduh, bisa lama ni urusan, batin Wina ngga enak.
"Ngga usah, nek," tolaknya buru buru dan akan membuka pintu mobil.
"Hush, cucuku lebih ganteng dan lebih kaya dari pacarmu."
Wina jadi salah tingkah.
Si nenek kenapa aneh gini.
Kedua pasangan suami istri paruh baya itu saling menatap heran akan interaksi akrab keduanya.
"Mana cucuku itu. Apa dia ngga khawatir pada neneknya," seeu si nenek sambil menatap kesal anak dan menantunya.
Seorang pemuda yang dari tadi berdiri di situ tertawa dan menghampiri nenek manjanya.
"Nenek jangan suka ngilang ngilang, nanti ngilang beneran lho," katanya langsung merengkuh bahu neneknya.
Wina seperti mengenal suara itu.
__ADS_1
"Sembarangan kalo ngomong," umpat si nenek sambil mencubit keras lengannya sehingga membuat pemuda itu meringis.
"Aduuuh."
Wina pun fokus menperhatikan penuda tampan yang sedang meringis itu.
"Dokter Eri?" panggilnya agak ragu.
Dokter itu bertambah ketampanannya hanya dengan kaos oblong dan celana jeansnya.
Harusnya Dewi sama Sita lihat, batinnya jahat.
"Hai," sapa dokter Eri sambil melambaikan sebelah tangannya ramah.
"Kalian sudah kenal?" tanya si nenek sambil meperhatikan keduanya bergantian.
"Iya nenekku sayang," sahut dokter Eri sambil mengelus bekas merah matang membiru hasil karya neneknya.
Katanya cucu kesayangan. Tapi nyubitnya ngga kira kira, omel dokter Eri dalam hati.
Si nenek tersenyum.
"Mulai sekarang putuskan pacarmu ya, kamu pacaran sama cucu nenek aja. Nenek ngga bohong, kan. Cucu nenek tampan banget," kata si nenek membuat Wina sangat kaget dengan wajah merona.
Kedua suami istri itu tertawa kecil mendengarnya. Begitu juga dokter Eri.
"Nek, Wina itu udah punya pacar. Jangan diganggu," bujuk dokter Eri sambil mengedipkan sebelah matanya pada Wina, seolah memberi isyarat kalo Wina bisa pulang. Eri kasian juga melihatnya yang terus melirik gelisah pada jam di tangannya.
"Maaf, saya permisi dulu," pamitnya lagi dan cepat cepat akan masuk ke dalam mobil.
"Terimakasih sekali lagi ya, Nak," ucap mama dokter Eri sangat lembut.
Beda banget sama mama Ardan, tanpa sadar Wina membandingkan. Terasa miris.
"Iya tante, sama sama. Saya permisi," kata Wina sambil memundurkan mobilnya.
"Ingat, putusin pacarmu segera," teriak si nenek bikin Wina pengen cepat cepat ngilang dari situ.
Eri tersenyum kecil melihat kegugupan Wina yang sekarang perlahan sudah menjauh mobilnya, keluar dari gerbang rumahnya.
"Nenek bikin Wina ketakutan," tawa Eri membuat kedua orang tuanya tambah ngga henti tertawa.
"Nenek suka dengannya. Coba kamu yang bujuk dia biar putusin pacarnya," ucap nenek dokter Eri penuh harap.
"Ngga bisalah, Nek," tolak dokter Eri masih saja tertawa.
"Harus bisa," tegas neneknya sambil melangkah pelan masuk ke dalam rumah diikuti anak, mantu dan cucunya.
__ADS_1
Ooo namanya Wina, batin nenek dengan senyum senang.