
Dina menatap undangan yang diterimanya. Ardan ternyata mengundangnya. Hatinya terasa sangat sedih melihat nama yang terukir bukan namanya.
Winalah pemenangnya. Sejauh mana pun Wina pergi, Ardan akan selalu mengejarnya. Selama apapun Wina menghilang, Ardan akan tetap menunggunya.
Dina ingat waktu mereka masih SMA, Wina menjauh ketika Ardan bersamanya.
Wina ngga melakukan apa pun untuk merebut Ardan darinya. Wina seakan ikhlas membiarkan Ardan bersamanya.
Apakah sekarang waktunya untuk ikhlas melepas Ardan?
Air matanya bergulir pelan di pipinya.
"Hai."
Dina cepat menghapus air matanya ketika dokter Eri sudah berada di dekatnya.
"Kamu terima juga?" tanya dokter Eri sambil melirik undangan berwarrna biru laut yang berhiaskan benang emas.
"Iya," ucap Dina pelan. Dia menggeser dudukmya ketika dokter Eri akan duduk di sampingnya.
"Mama Ardan belum kasih restu. Tapi Ardan nekat," jelas dokter Eri.
Oiya, udah lama ngga ketemu tante Karin, batin Dina.
"Katanya mama Ardan udah bagus perkembangan mentalnya," cicit dokter Eri lagi.
"Syukurlah," ucap Dina pelan.
"Mungkin kamu bisa nolomg Ardan, mintakan restu. Kasian juga anak itu sebenarnya," kata dokter Eri pelan sambil menatap Dina yang menoleh sebentar padanya.
Ada sedikit terkejut di matanya mendengar kata kata dokter Eri.
"Katanya mama Ardan sangat menyukai kamu. Mungkin dia akan mendengar suara kamu," tambah dokter Eri lagi.
"Dokter menyukai Wina?" tuduh Dina tanpa menatap wajah sang dokter.
Doktet Eri tertawa pelan.
"Dia itu sepupu saya. Awalnya.saya suka karena dia bisa menaklukan oma saya."
Dina jadi tersenyum. Mengingat Oma Rahayu yang super jutek itu bisa perhatian dengan Wina. Padahal dulunya beliau belum tau siapa Wina sebenarnya.
Dina iri. Wina dengan mudah bisa mendapatkan perhatian dati orang orang yang ngga mungkin dia raih. Terutama Ardan.
"Wina menang banyak ya," gumamnya sangat pelan tapu masih bisa di dengar dokter Eri.
"Iya," sahut dokter Eri membuat Dina menoleh padanya.
"Dulu saya, Wina, dan Ardan satu sekolah waktu SMA," kata Dina memulai cerita. Ada beban di dadanya yang ingin dia lepaskan.
__ADS_1
"Saya tau, Ardan sudah tertarik sama Wina. Begitu juga Wina. Tapi saya berhasil masuk di antara mereka. Berkat mama Ardan," lanjutnya kemmudian memghela nafas panjang.
"Mungkin Ardan terpaksa karena ngga mau berdebat dengan mamanya. Apalagi tante Karin mengidap penyakit jantung."
Dokter Eri menatap Dina yang tersenyum getir padanya.
"Tapi saya tau, Ardan masih memperhatikan Wina walaupun Wina sudah ngga menanggapinya lagi," sambung Dina. Matanya mengerjap. Hatinya terasa sakit saat mengatakannya.
"Akhirnya kami putus saat sedang kuliah. Papa saya kurang suka karena Ardan mgga serius dengan kuliahnya. Saya mencoba menunggu Ardan, mengharapkan keseriusannya dalam menata hidupnya."
Kembali Dina menjeda ucapannya. Dia mengambil nafas dan menghembuskannya berkali kali.
"Setelah bertahun tahun lamanya, ternyata Ardan memilih kembali dan menjadi pacar Wina. Katanya mereka ketemu pas acara reuni. Saya kebetulan ngga bisa hadir."
Dina menghapus air matanya yang mengalir.
"Rasanya sakit dokter hati saya. Ternyata Ardan tetap memilih Wina, walau mamanya ngga pernah merestuinya."
Dokter Eri terdiam melihat Dina yang kini terisak. Untung lorong tempat mereka berada cukup sepi, karena waktu berkunjung sudah abis.
"Maaf, dokter. Saya kebawa perasaan," ucap Dina setelah tangisannya reda.
"Ngga pa pa. Saya mengerti," ucap dokter Eri maklum
"Tapi saya ngga janji dokter, bisa ngomong ke mama Ardan atau ngga," ucap Dina sambil bangkit membuat dokter Eri menatapnya iba.
Dokter Eri teringat waktu Wina menolaknya demi Ardan. Kini ada seorang dokter cantik yang pintar dan selalu terlihat menonjol menjadi lemah ngga berdaya karena patah hati. Lagi lagi Ardan.
Kenapa laki laki itu seakan menjadi magnet bagi para wanita. Dan wanita pun menjadi lemah dan bodoh karena ngga mendapatkannya.
Dokter Eri menghela nafas panjang.
Ini adalah hari hari yang berat. Keluarga besarnya sudah bisa menerima Ardan. Tapi yang membuat mereka jengkel, sikap angkuh mama Ardan yang tetap menolak Wina. Bahkan ngga pernah mengakui kesalahan fatalnya pada Wina.
Tapi karena memikirkan kebahagiaan Wina,mereka sekeluarga berusaha menahannya.
Ardan pun sangat sungguh sungguh terhadap Wina. Demikian juga papanya dan keluarga besar mereka.
Omanya harus dikawal beberapa hari ini agar tidak menemui mama Ardan dan memarahi wanita angkuh itu. Padahal mulutnya sudah gatal untuk memakinya atas sikap ngga tau dirinya mama Ardan.
*****
"Mama ngga akan melarang, mama juga ngga akan memberikan restu," ucap mama Ardan tegas ketika suaminya mengunjunginya dan meminta keikhlasannya untuk menerima pernikahan Ardan dan Wina.
Papa Ardan menghela nafas panjang.
"Terserah mama. Asalkan mama ngga menganggu kelancaran acara mereka," tanda papa Ardan tajam.
Mama Ardan melengos. Beliau tau ada nada ancaman tersirat dari ucapan suaminya.
__ADS_1
"Papa mohon, berhenti. Biarkan Ardan bahagia. Gadis itu ternyata lebih kaya dari kita," tambah papa Ardan setengah memohon. Berusaha tetap sabar.
Mama Ardan mendengus kesal.
Bukannya ketika rahasia itu terbongkar, dirinya langsung setuju. Tapi apa balasan keluarga besar gadis itu?
Memenjarakannya tanpa ampun. Ngga mempedulikan kesehatan jantungnya. Ngga mempedulikan nama baiknya. Dalam pikiran mereka hanya ingin membunuhnya pelan pelan. Tapi ternyata mereka gagal. Dirinya masih bisa berdiri tegak sampai sekarang.
Kini dengan mudahnya meminta restu darinya. Setelah membuatnya tersiksa di lantai dingin penjara.
Dulu mungkin dia sedikit menyesal. Tapi sekarang sudah tidak ada lagi.Kebenciannya sudah terlalu dalam.
"Kita bisa meninggalkan negara ini. Mama bisa memulai hidup baru," bujuk suaminya lagi.
Huh! Dengan **s**eluruh orang di belahan dunia manapun yang tau kisah kelam hidupnya, makinya dalam hati.
Mama Ardan hanya diam mematung dengan wajah mengeras.
Papa Ardan meraih tangannya dan meremasnya lembut. Walaupun rasa kecewa begitu menganga di hatinya, tapi rasa cinta pada istrinya masih sangat besar.
"Kita bisa ke Swiss. Papa sudah membeli sebuah ranch yang cukup luas. Kita bisa berkuda sepanjang hari di sana," bujuk papa Ardan kemudian merengkuh bahu istrinya.
Hati mama Ardan tergetar juga mendapat perlakuan hangat suaminya. Suami yang selalu dirinya cintai.
Air matanya menetes pelan. Setelah sekian banyak kelakuan buruknya yang pasti sudah menorehkan aib di keningnya, tapi suaminya masih saja tetap lembut memperlakukannya.
"Jangan menangis. Maafkan aku yang mengabaikanmu selama kamu di penjara," ucap papa Ardan penuh sesal.
Selama istrinya di penjara, beliau lebih mementingkan menjaga Ardan. Setelah Ardan sembuh, beliau lebih memfokuskan dalam bekerja. Nama baik perusahaannya sudah tercemar karena istrinya di penjara.
Beberapa anak perusahaan bangkrut karena belum mendapatkan suntikam dana. Rekan kerjasamanya banyak yang mengundurkam diri sepihak. Bahkan investasi yang sudah didepan mata, menguap begitu saja.
"Aku kangen dengan masa masa kuliah kita dulu. Kita sering menghabiskan waktu dengan berkuda. Mari kita ulang lagi," tak henti hentinya papa Ardan membujuk istrinya.
"Kamu ingat, dulu kamu yang mengajari aku berkuda," ucap.Papa Ardan lagi. Kali ini bibirnya menyunggingKan senyum tipis.
Mama Ardan belum lupa dengan anak laki laki tampan yang selalu memperhatikannya di saat berkuda.
Ternyata bocah itu takut dengan kuda. Kedua sudut bibirnya tertarik sedikit.
"Kamu seperti putri yang ingin secepatnya aku nikahi," kekeh Papa Ardan membuat wajahnya merona.
Cinta pada pandangan pertama, itulah yang dialami papa Ardan. Dirinya ngga berkedip menatap betapa cantiknya mama Ardan ketika itu.
"Mau mengulang masa itu lagi?" tanya papa Ardan lembut.
"Ya, aku mau," jawab mama Ardan sambil menghapus sisa air mata di pipinya.
Papa Ardan semakin mengeratkam pelukannya. Mama Ardan juga balas memeluk suaminya.
__ADS_1