
Wina menunjuk kembali gelamg berlian dengan inisial WR, setelah tadi meminta pegawai stand menyimpan kalung dengan inisial AK pada kotak perak bernotif kuit kerang, yang berhiaskan sebuah berlin besar yang memancarkan sinar biru terang.
"Siapa itu R?" tanya Oma Rahayu ngga begitu peduli. Hatinya masih diselimuti rasa kesal karena cucunya masih saja memghargai calon mama mertuanya.
Walaupun dia memuji ketulusan cucunya, tapi hati kecilnya masih belum bisa menerima dan memaafkan perrbuatan mama Ardan.
"Oma dong," kata Wina sambil memamerkan senyum jahilnya.
Hati Oma Rahayu langsung senang mendemgarnya.
"Seharusnya kamu jadi adiknya Eri," sungut Oma Rahayu masih pura pura kesal.
Wina terkekeh.
"Oma suka?"
"Hhmmm.... lumayan lah," kata Oma Rahayu masih gengsi. Tapi dalam hati dia mengakui selera Wina bagus.
Heran juga, batin Oma Rahayu. Padahal Wina ngga mungkin punya barang mewah dengan kodisi ekonomi keluarganya yang jauh dari mewah, tapi dia memiliki sense of art yang tinggi. Darah ngga bisa berbohong.
"Oma mau langsung di pake atau mau di simpan di dalam kotak?" tanya Wina saat memperhatikan di kedua tangan Oma Rahayu, ada satu gelang berhiaskan berlian berlian kecil yang mewah.
"Di tangan Oma aja. Pake kan," titah Oma Rahayu sambil mengulurkan tangan kanannya ke depan Wina.
Wina tersenyum sambil memakaikan gelang itu.
"Cantik, Oma," puji Wina dengan wajah penuh senyum melihat Omanya mengangkat tangannya sambil memperhatikan bentik gelamg itu.
"Iya, cantik," ucap Oma Rahayu dengan senyum merekah.
"Sekarang kita pilih perhiasan biuat kamu. Emm..... kalung, cincin, gelang," ucapnya sambil memperhatikan perhiasan yang disebutnya di dalam kotak kaca.
"Mama sudah pilihkan."
Wina dan Oma Rahayu menoleh. Teoatnya ke samping Wina.
Jantung Wina berdebar aneh mendengar wanita yang selalu tidak pernah menyukainya menyebutkan diirnya mama untuknya.
Dengan tersenyum agak kaku, mama Ardan mengambil tangan kanan Wina dan melingkarkan gelang yang berhiaskan berlian berbentuk bola bola kecil di pinggirnya.
"Indah bukan? Kamu suka?" tanya mama Ardan dengan mata yang basah.
Wina seperti terhipnotis.
"Iya, indah sekali." Sebenarnya Wina ingin menyebut kata mama, tapi lidahnya terasa kelu.
Oma Rahayu pun masih tercengang. Beliau masih shock melihat tingkah ajaib mama Ardan yang di luar sangkaannya.
__ADS_1
"Maaf," ucap mama Ardan sambil memeluk Wina erat. Air matanya pun tumpah.
Wina yang kaget ngga menyangka mendapat perlakuan hangat dari mama Ardam, juga jadi terisak.
Dia bersyukur, mama Ardan mau menerimanya. Keduanya berpelukan erat.
Oma Rahayu yang sejatinya akan memaki mama Ardan jika bertemu merasakan kerongkonganmya kering. Bahkan beliau masih berdiri mematung, menatap ngga percaya pada mama Ardan yang menangis sambil memeluk cucunya yang juga ikut menangis.
Bahkan saat ini Oma Rahayu merasa matanya memanas dan air matanya pun bergulir perlahan di kedua belah pipi keriputnya.
Jantungnya berdebar aneh. Rasa marah dan benci yang membara selama ini di hatinya seperti menjauh sedikit demi sedikit.
Papa Ardan yang berdiri ngga jauh di belakang mereka menghapus air matanya.
Sedianya beliau mengajak istrinya untuk membelikan istrinya perhiasan. Karena sudah lama sekali beliau ngga menghadiahkan perhiasan kesukaan istrinya.
Ngga disangka mereka melihat Wina dan Oma Rahayu yang sedang berdebat sambil memilih milih perhiasan.
Keduanya.pun mendengar dengan sangat jelas apa yang dibicarakan oma dan cucunya itu.
Papa Ardan bersyukur, hati keras istrinya bisa mencair. Bahkan tanpa diminta olehnya, mama Ardan memberikan perhiasan yang sudah dipilihnya untuk Wina, calon istri putra tunggal mereka.
*
*
*
Ardan mengangkat wajahnya dari laptop, kaget, mendengar pintu terbuka dengan kasar.
"Maaf Pak," kata Meti sambil menunduk. Takut bosnya marah karena ngga berhasil menahan Dina.
Ardan bangkit dari duduknya, melangkah mendekati Dina yang menatapnya dengan wajah merah menahan tangis.
"Pergilah, Meti," ucap Ardan ketika.sudah berdiri di dekat Dina.
"Baiik, pak," ucap Meti sambil menutup pintu.
"Jangan ditutup pintunya," tahan Ardan ketika melihat Meti akan menutup pintu.
Sebisa mungkin Ardan akan berusaha agar ngga ada lagi kejadian di luar dugaan, yang membuatnya bisa batal menikah dengan Wina.
Pernikahannya dengan Wina hanya menghitung hari. Segala hal buruk bisa saja terjadi.
Meti pun keluar dengan membiarkan pintu ruangan bosnya terbuka.lebar.
"Ayo, kita duduk dulu," kata Ardan sambil memutar tubuhnya menuju sofa yang biasa digunakan untuk menerima tamu.
__ADS_1
"Di sini saja," tolak Dina dengan bibir bergetar.
Ardan kembali membalikkan tubuhnya menghadap Dina.
Dia hanya diam menunggu Dina bicara.
"Ardan, aku ucapkan selamat untuk pernikahanmu," ucap Dina sambil mati matian menahan air matanya.
"Terimakasih, tapi masih beberapa hari lagi," sahit Ardan datar, menyembunyikan perasaan ngga teganya melihat mata Dina yang berkaca kaca.
Dia berusaha ngga terpengaruh dengan sikap Dina..Misalnya seperti dulu, dia akan dengan mudah merangkul gadis gadis yang dia tolak.cintanya karena menangjs.
"Aku tau," ucap.Dina getir.
"Aku.... aku .... akan ..... pindah," jelas Dina dengan suara terbata bata.
Ardan terdiam. Dia menghela nafas. Biar bagaimanapun mereka pernah menjadi teman dan sepasang kekasih. Selama setahun ini, Dina pun masih mendekatinya. Tapi hati Ardan benar benar sudah kering dan mati untuk menyukai gadis lain.
Padahal dulunya Ardan mudah sekali membiarkan gadis gadis cantik dan seksi berada di sampingnya.
Ardan pun heran, hasratnya yang dulu tinggi, lenyap gitu aja.
"Semoga kamu bahagia di tempat yang baru," ucap Ardan tulus.
Ardan juga ingin Dina menemukan kebahagiaannya. Seperti dirinya saat ini.
"Ya. Semoga," kata Wina dengan hatinya yang benar benar patah.
"Ardan... sejak dulu ... kamulah yang aku ... cinta. Sampai sekarang," ucap Dina dengan perasaan hancur.
"Maaf."
Dina memejamkan mata. Sakit sekali kalah dalam detik detik terakhir. Seandainya Wina ngga muncul lagi, pasti dirinyalah yang akan menjadi pendamping Ardan. Dina pun sama seperti Wina, sudah lama menyukai Ardan.
"Apa... apa kelebihan Wina.... dibandingkan aku?" tanya.Dina sudah payah. Antara rasa ingin tau dan malu.
Ardan terdiam. Dia menatap.Dina yang masih terus meneteskan air mata.
"Aku juga ngga tau. Mengalir begitu saja," jawan Ardan terus terang.
Dima menundukkan kepalanya.
Seperti aku yang menyukaimu, batin Dina sedih.
Perasaan ini mengalir begitu saja. Tapi sayangnya tidak disambut. Ditolak.
"Itu saja ... yang mau ... aku bicarakan . Aku... pulang dulu," kata Dina sambil membalikkan badannya. Berjalan cepat dengan air mata yang tumpah dengan deras di pipinya. Pegawai pegawai Ardan menatapnya ngga tega..Dibanding Tiara, mereka lebih menghargai Dina karena lebih sopan dalam berbusana dan lebih ramah.
__ADS_1
Ardan menatap kepergian Dina sebentar sebelum menghela nafas.
Hpnya bergetar. Ternyata papanya mengirimkannya video ketika mamanya sedang memeluk Wina dan menangis.