
Ardan mengangkat telponnya yang bergetar kembali.
Papa, batinnya senang dengan dada penuh debaran.
"Ya Pa," ucap Ardan ngga sabar.
"Gimana? Kamu senangkan?" Terdengar suara tawa bahagia papanya.
"Iya, Pa. Sangat senang," balas Ardan dengan mata mulai berkaca kaca.
"Kamu jangan sakiti hati Wina lagi. Belajarlah untuk setia pada komitmen kamu. Yah, memang udah kamu buktikan selama setahun ini." Kembali terdengar suara tawa papanya. Benar benar lepas tanpa beban.
"Iya, Pa," ucap Ardan sungguh sungguh. Dalam hatinya pun ngga ada niat untuk.menyakiti Wima lagi seperti dulu.
"Oke, papa percaya sama kamu. Udah dulu ya, papa mau antar Oma Rahayu, Wina dan mama mu ke kafe. Banyak yang mau mereka bicarakan."
"Oke, Pa," ucap Ardan pun menyimpan hpnya begitu sambungan telpon terputus.
Hatinya begitu bahagia, senyum senang terukir jelas di bibirnya. Dia akan pergi ke perusahaan Wina. Menemui calon istri yang sangat dicintainya.
Tapi senyum itu memudar ketika Ardan membuka pintu ruangannya.
"Berny?" Setelah sekian lama, Ardan baru bertemu Berny. Keluarga Oma Rahayu membebaskannnya begitu dia menyebutkan dalang yang menyuruhnya menabrak Wina.
Mamanya. Mamanya tetap dibiarkan mendekam di penjara.
"Aku minta maaf," ucap Berny pelan ketika menyadari tatapan mgga suka sepupunya. Dia sadar, kesalahannya sangat fatal.
Ardan terdiam. Dulu, waktu kecil mereka sangat akrab karena selalu bermain bersama. Setelah Berny pindah ke Amerika dan terjerat obat obat terlarang, mereka ngga pernah bertemu lagi.
Faktor perceraian orang tualah yang membuat Berny menjadi pribadi yang menyukai shabu dan ganja.
"Aku mau pamit. Papamu akan mengajakku bersama mamamu mengurus kandang kuda," kata Berny berusaha mencairkan suasana.
Ya, Ardan sudah tau. Hanya keluarganya lah yang memperhatikannya. Dari dulu sampai sekarang.
"Semoga kamu bahagia berteman dengan kuda," kekeh Ardan bercanda.
Berny ikut terkekeh.
"Aku mendo'akan kebahagiaanmu. Sampaikan maafku pada calon istrimu. Aku benar benar menyesal," kata Berny serius.
"Ya, aku sampaikan nanti," kata Ardan tapi ngga yakin akan mengatakan pada Wina. Ardan ngga mau membuka luka lama itu lagi. Banyak yang akan tersakiti jika mendengarnya lagi. Terutama dirinya.
"Aku pergi dulu," pamitnya dengan senyum tipisnya sebelum berbalik pergi.
"Hati hati."
Berny hanya melambaikan tangannya tanpa menoleh. Dia merasa malu berlama lama berada di dekat sepupunya yang hampir kehilangan nyawa karenanya.
Setelah sepupunya pergi, Ardan melanjutkan rencananya menuju ke perusahaan Wina.
*
*
*
"Hai," sapa Ardan begitu Wina membuka pintu ruangannya.
"Udah lama?" tanya Wina dengan wajah senamg melihat Ardan berdiri menyambutnya.
Sekretarisnya sudah mengatakan kalo Ardan menunggu cukup lama di ruangannya. Wina pun tadi mempercepat langkah kakinya untuk segera bertemu Ardan dan sangat bersemangat untuk menceritakan momen indah yang dia alami siang ini.
__ADS_1
Keduanya mendekat dengan tatapan penuh makna. Ardan pun menarik Wina dalam pelukannya.
"Terimakasih, sayang," kata Ardan membuat Wina menduga kalo Ardan sudah tau.
"Kamu tau?" tanya Wina sambil mengangkat wajahnya menatap mata lembut Ardan.
"Iya," ucap Ardan kemudian tersenyum senang.
Wina tersenyum lebar.
"Pernikahan kita akan penuh restu, sayang," ucap Ardan sangat lembut.
"Kok, kamu bisa cepat tau? Padahal kejadiannya baru aja," ucap Wina penasaran.
Ardan tersenyum sambil satu tangannya mengacak poni Wina.
"Tadi papa mengirimkan video kamu lagi pelukan sama mama. Mama sampai nangis gitu. Kamu juga. Dasar cengeng," kekeh Ardan membuat wajahnya semakin tampan.
"Enak aja bilang cengeng," seru Wina ngga terima.
Ardan masih tertawa sambil tangannya mengelus puncak kepala Wina penuh sayang.
"EHEM...."
Ardan memutar tubuh Wina hingga kini berada di sampingnya. Tangannya tetap merengkuh pundak Wina. Keduanya mengembangkan senyum jahil pada wajah Nadhira yang cemberut.
"Kamu ini Wina, kapan kerjanya kalo di ganggu terus," omel Nadhira pura pura kesal.
"Maaf ya," ucap Wina sambil melirik Ardan.
"Dia datang dadakan," tambahnya lagi dengan ekspresi menyesal.
Ardan tertawa lagi sambil membelai puncak kepala Wina penuh sayang.
Ardan memamg sangat tampan, pujinya dalam hati.
"Karena pekerjaan kamu udah beres semua, silakan lanjut," kata Nadhira dengan jantung berdebar keras.
Pesona Ardan memang kuat, pantas banyak wanita yang takluk dengannya. Ah, jantung, kamu harus kuat, batin Nadhira sambil melangkah meninggalkan ruangan Wina. Ngga mau dia lama lama di situ. Nadhira takut tergoda oleh pesona sepupunya.
Ardan menggandeng Wina untuk duduk.
"Bagaimana perasan kamu tadi?" tanya Ardan sambil terus menatap Winanya.
"Rasanya senamg banget. Ini, gelang hadiah dari mama kamu," kata Wina sambil menunjukkan gelang berlian di pergelangan tangan kanannya.
"Mama yang milih?"
"Iya. Sebenarnya aku takut dengan reaksi nenek. Tapi tadi kami semua menangis. Termasuk papa kamu," cerita Wina jujur.
Ardan terkekeh lagi. Hatinya senang bukan main.
Setelah melihat video mamanya dan Wina berpelukan, Ardan pun ngga sabar untuk bertemu Wina dan melajukan mobilnya dengan kencang ke perusahaan Wina.
Hampir setengah jam dia menunggu di ruangan Wina. Tapi Ardan ngga bermaksud menelpon. Ardan ingin Wina dan mamanya menghabiskan banyak waktu bersama. Apalgi setelah banyak kejadian yang sangat ngga enak dialami mereka.
Dari awal Ardan yakin, Wina bisa mengambil hati mamanya suatu saat nanti. Wina sangat baik dan lembut.Walaupun Ardan ngga mengharap seperti kejadian mengerikan kemarin menimpa mereka.
"Tadi kami mampir ke coffee shop. Mama kamu sama nenek ngobrol cukup akrab. Aku sama papa kamu mendengarkan saja," kekeh Wina yang terus ditatap Ardan penuh cinta.
"Aku takut banget kalo nenek marah marah, syukurlah engga."
"Iya ya," ucap Ardan penuh syukur. Ardan ngga bsa membayangkan rentetan omelan yang keluar dari mulut Oma Rahayu. Pedas dan nyelekit.
__ADS_1
Mengingat dulu saat mencari tau keberadaan Wina, tapi Oma Rahayu malah memarahi dan mengomelinya tanpa henti. Kata katanya sangat mengena di hati Ardan saat itu, untung ada dokter Eri yang membantunya menghindari Oma Rahayu lebih lama lagi dengan mengajaknya pergi.
"Kamu permah diomelin nenek ya?" tuduh Wina curiga dengan ekspresi wajah Ardan yang seperti sudah pengalaman dengan Oma Rahayu.
"Ketahuan ya."
Ardan tertawa geli membuat Wina ikut tertawa.
"Nenek itu cuma ngomongnya memang nyakitin, tapi hatinya baiiik banget," puji Wina setelah tawanya reda.
"Iya, beliau sayang banget sama kamu ya. Kok bisa sih?" tanya Ardan ingin tau.
"Apalagi sampai berkeras menjodohkan kamu sama Eri," lanjutnya sedikit kesal.
Wina tersenyum lebar hingga deretan gigi putihnya terlihat.
"Aku bertemu nenek di minimarket. Sakit jantungnya kambuh. Padahal beliau sendiri," kata Wina memulai cerita. Kenudian mengalirlah lanjutan ceritanya sampai mengantar Oma Rahayu ke rumahnya.
"Pantasan Oma Rahayu sangat sayang sama kamu," puji Ardan tulus. Dari dulu Wina selalu menolong temannya yang susah. Walaupun ngga melulu soal uang. Kalo pe er dan contekan jangan ditanya, mereka di kelas adalah langganannya.
Tapi Wina juga ngga segan nunggu teman perempuannya di uks. Membantu temannya yang krisis percaya diri. Dilakukannya tanpa pamrih dan penuh senyum dan tawa.
"Untung Eri juga menolak. Jadi nenek ngga bisa maksa," lanjut Wina terkekeh.
Harus nolak, seru Ardan dalam hati. Waktu pesta itu saja sudah membuat hatinya ketar ketir.
"Wina," ucap Ardan setelah tawa keduanya usai. Ardan menatap Wina dalam seakan ingin menembus ke dasar hatinya yang paling dalam.
"Aku cinta sama kamu. Sangat," ucap Ardan lembut.
Wina merona, wajahnya terasa panas. Jantungnya berdebar ngga menentu. Rasanya bahagia campur malu mendengar kata kata Ardan.
"Iya."
"Jangan pernah ninggalin aku."
"Kamu itu mungkin," kekeh Wina memyindir.
"Ngga akan lagi. Aku janji Wina. Bisa ngga, sih, kamu ngga ungkit ungkit lagi," tukas Ardan denan wajah manyun.
Hilang sudah kesan romantis yang berusaha dia bangun.
Wina tertawa.
"Kamu jelek kalo gitu," canda Wina. Hanya Tuhan dan dirinya yang tau betapa gugupnya dia sekarang.
Ardan tersenyum melihat wajah Wina yang tertawa, terlihat semakin cantik dan manis. Ardan meraih tangan Wina dan menggenggamnya lembut.
"Selalu di sampingku ya, Sayang," ucap Ardan yang diangguki Wina.
Keduanya saling memandang penuh cinta. Beban restu yang selama ini mengikuti perjalanan cinta mereka, hilang sudah. Kini tinggal menapaki hari esok yang akan lebih mudah karena restu yang sudah mereka peroleh.
TAMAT
*
*
*
Terima kasih ya para readers atas like, komen dan poinnya. Makasih sekali.
Kalo berkenan, aku juga punya beberpa cerita yang lain. Pilih profilku aja ya...
__ADS_1
Terimakasih, semoga sehat sehat selalu🥰