Cinta Lama Saingan Tetap

Cinta Lama Saingan Tetap
Menunggu Sadar


__ADS_3

"Keduanya akan sadar beberapa hari lagi. Ardan memang lebih parah dari Wina karena dia melindungi Wina," kata Dokter Eri menjelaskan.


Kini Ardan dan Wina berada di kamar perawatan super mewah dan letaknya bersebelahan.


"Apa mereka ngga pa pa?" tanya Gaga khawatir.


Gaga, Dewi, Sita, Adhi, sedang berkumpul di luar kanar bersama dokter Eri dan dokter Lia.


"Seharusnya ngga apa apa. Kita tunggu sampai mereka sadar," kata dokter Lia menenangkan.


Setelah selesai dengan tugas rutinnya, dokter Lia menemani kekasihnya Gaga.


"Ardan memiliki tubuh yang kuat. Dia mengalami retak tulang punggung dan pergeseran tulamg di kedua kakinya. Wina hanya mengalami lecet lecet saja karena sepertinya mereka sempat terguling guling di aspal. Begitu juga Ardan," jelas dokter Eri lagi.


"Untungnya ngga ada kendaraan di depan mereka," kata dokter Eri lega.


Barulah Gaga dan teman temannya bisa bernafas lega.


"Kenapa truk itu mengerem ya, ketika melihat Ardan? Kenapa ngga pas lihat Wina," sesal Dewi.


"Polisi akan menyelidikinya," kata Adhi cepat. Antara geram dan penasaran akan tingkah aneh supir yang sedang melarikan diri dan sudah menjadi TPO.


"Aku takut ketika melihat Wina berdarah darah, tapi syukurlah kalo Wina sekarang sudah ngga apa apa," kata Dewi dengan wajah yang mulai lega.


"Iya, aku juga takut banget tadi," kata Sita menimpali.


"Wina terkena darah Ardan. Kepala Ardan terbentur dan terluka. Tapi untunglah ngga kena bagian vital," jelas dokter Eri lagi.


"Mereka memang saling cinta ya, bayangin aja, sampai berpelukan gitu," kata Dewi lirih.


Dewi iri. Harusnya dia juga begitu dengan Dimas. Tapi karena keadaan, Dewi terpaksa menolak Dimas. Sekaramg Dewi benar benar merindukan Dimas.


"Ngga nyangka Ardan se cinta itu demgan Wina," kata Sita sambil menatap Wina yang masih terpejam dan ditemani orangtuanya.


Dokter Lia yang sudah mendengar cerita mereka berdua jadi merinding. Wina memilih celaka bersama Ardan. Padahal Ardan akan mendorongnya agar Wina selamat..Ardan rela mengorbankan dirinya untuk Wina.


Gaga menggenggam erat tangan dokter Lia, membuat kekasihnya memandangnya sambil tersenyum.


Aku akan mencintai kamu, Lia, lebih dari Ardan mencintai Wina, janji Gaga dalam hati.


"Sebaiknya kalian aku antar pulang. Baju aku dan kalian kotor," kata Gaga pada teman temannya.


"Oke," sahut Adhi.


"Sayang, tolong pamitkan pada papaku dan keluarga Wina ya. Kita ngga enak masuk, kotor gini," kata Gaga pada dokter Lia.


"Iya, aku sampaikan nanti," kata dokter Lia lembut.


"Titip Wina, Er," ucap Gaga sebelum pergi.


"Siap," kata dokter Eri cepat sambil memperhatikan kepergian Gaga dan teman temannya.


Dokter Eri melirik kamar Ardan dan Wina yang terbuka.

__ADS_1


Wina, kalo ngga ada Ardan, kamu pasti benar benar akan terluka sangat parah.


Sebenarnya apa yang terjadi. Mengapa kalian bisa ditabrak truk?


*


*


*


Di kamar perawatan Wina, mama Wina masih menangis, walaupun sekarang adalah tangisan leganya.


"Cepat sadar ya, Nak. Mama dan papa sangat menyayangi kamu."


Papa Wina yang berdiri mengusap bahu istrinya yang duduk di samping Wina.


"Biarkan Wina istirahat. Kamu istirahat juga," kata papa Wina lembut.


"Aku akan menunggu sampai Wina sadar," kata mama Wina bersikeras.


Putrinya sedang terbaring lemah. Seandainya ambulance bank Gaga terlambat sampai di rumah sakit, keduanya mungkin sudah ngga ada karena kehabisan darah.


Ternyata kata dokter, Wina mengalami pendarahan di dalam organ vitalnya akibat benturan. Masih beruntung karena Ardan sudah benar benar melindungi putrinya.


Papa Wina tersenyum melihat keras hati istrinya.


"Papa aja yang istirahat," kata mama Wina baru teringat kalo suaminya dalam kodisi kurang sehat.


Papa pun membaringkan tubuhnya pada bed yang terdapat di dalam kamar. Beliau ngga boleh sampai drop.


Setelah melihat suaminya memejamkan mata, mama Wina pun menyelimuti suaminya penuh sayang.


Beliau kembali duduk di samping putri tunggalnya. Dengan lembut mama Wina membelai rambut Wina.


"Terimakasih, nak, sudah bertahan," kata mama sedih campur lega.


Sementara di kamar Ardan, papa Ardan ditemani papa Gaga masih menatap Ardan yang masih belum sadar.


"Mungkin untuk sementara Ardan memakai kruk atau duduk.dulu di kursi roda," kata papa Endi sambil menatap Ardan kasian.


Untung hanya retak tulamg tulangnya. Ngga remuk, batin papa Gaga kagum.


"Fisik Ardan sangat kuat," puji papa Gaga lagi.


Walaupun benturannya ngga cukup keras, tapi membuat Atdan terbanting juga, kan di aspal. Apalagi sambil memeluk Wina.


Bibir papa Gaga menyunggingkan senyum.


"Aku bersyukur Ardan masih diberi kesempatan hidup," kata papa Ardan lega.


"Kamu ngga jenguk Karin? Ardan biar aku tungguin," kata papa Gaga sambil menatap wajah sahabatnya yang mengeras tiba tiba.


"Ngga perlu lah. Biar aja dia istirahat sendirian," kata papa Ardan dingin.

__ADS_1


Papa Ardan teringat kata kata istrinya di telpon. Hatinya masih penasaran, dengan siapa istrinya bertelpon. Apakah orang suruhannya? Ini udah ngga benar, batin papa Ardan ilfeel.


Papa Gaga ngga memaksa.


"Endi, apa aku menikahi seorang psycho?" tanya papa Ardan setelah diam beberapa lana.


"Menurutmu?" Papa Endi balik bertanya.


Papa Ardan menghembuskan nafas dengan kesal.


"Aku ngga akan memaafkannya kalo itu perbuatannya," kata papa Ardan kembali suara dingin.


Papa Endi terdiam.


*Apa kamu baru sada*r, batinnya setengah mengejek sahabatnya.


Sahabatnya terlalu tergila gila dengan istrinya yang dipacarinya sejak kuliah. Selama ini apa pun kesalahan Karin, papa Ardan selalu dengan mudah memaafkannya. Karena cintanya yang sangat besar.


"Setelah Ardan dan Wina sembuh aku akan memberikan pengawalan pada mereka. Aku ngga mau kejadian seperti ini terulang lagi."


Papa Gaga menepuk pelan pundak sahabatnya.


"Aku setuju."


"Aku akan mendukung hubungan Ardan dan Wina. Walaupun harus menentang keinginan istriku."


"Melihat Ardan sampai berjibaku menyelamatkan Wina, aku sudah yakin anakku sudah jatuh cinta dengan Wina," lanjut papa Ardan lagi.


"Wina pantas mendapatkan cinta sebesar itu dari Ardan. Sangat pantas," kata papa Gaga yang sudah sangat mengenal Wina. Karena putranya adalah teman dekatnya Wina. Sudah bertahun tahun.


"Kamu benar," ucap papa Ardan sangat setuju


Gaga sangat pemilih dalam berteman. Hanya tiga orang itu saja temannya dari dulu sampai sekarang.


Ngga lama kemudian ponsel papa Ardan bergetar. Begitu melihat siapa yang menelpon, papa Ardan langsung menolaknya. Kemudian dia men off kan hpnya.


Papa Gaga hanya melihat saja tanpa bicara apa pun. Mungkin sekarang sahabatnya baru sadar kalo telah hidup bersama monster selama bertahun tahun.


"Semoga Ardan cepat sadar," kata papa Gaga memberi semangat pada sahabatnya.


"Makasih, Di. Kamu pulanglah sekarang," kata papa Ardan ngga enak hati.


"Ngga apa. Aku ingin menemani mu," kata papa Gaga sambil tersenyum.


"Terimakasih."


Padahal sahabatnya dulu pernah beliau sakiti secara ngga sengaja, tapi tetap saja memaafkannya.


Papa Ardan yang ngga tau ulah istrinya yang menggagalkan beasiswa Endi, menggantikan sahabatnya mendapatkan beasiswa itu.


Ternyata itu perbuatan kotor istrinya.


Tapi papa Ardan begitu mencintai istrinya sampai memaafkannya dengan sangat mudah.

__ADS_1


__ADS_2