Cinta Lama Saingan Tetap

Cinta Lama Saingan Tetap
Tentang Wina


__ADS_3

"Itu Wina, kan?" kata mama Ardan sambil terus memandang ngga percaya.


"Iya, tante. Itu Wina," ucap Dina memastikan.


Dia melirik kesal pada Ardan yang terus saja menatap Wina yang malam ini sangat cantik dan elegant.


"Siapa Wina?" tanya Mama Dina yang mengikuti arah pamdangan mereka.


"Lho, siapa gadis itu. Kok bisa bersama dokter Eri Alexander. Beruntung sekali, ya. Gadis itu juga sangat cantik dan sepertinya dari keluarga kaya," kata mama Dina beruntun dengan kagum


Mama Ardan mencibir.


"Dia itu gadis miskin spesialis lelaki kaya," sarkas mama Ardan sinis.


"Mama,,,,," kata papa Ardan ngga suka akan kata kata istrinya.


Beliau melirik Ardan yang hanya diam tanpa bereaksi apa pun. Tapi matanya tetap saja fokus ke Wina.


"Masa? Kenal?" tanya mama Dina tambah penasaran.


Papa Dina memegang tangan istrinya, dan ketika istrinya menoleh, beliau menggelengkan kepalanya.


"Cewe itu yang menggoda Ardan. Ngga dapat Ardan, digaetlah Eri. Cuma aku heran, kenal di mana, sih, sama Eri," kata mama Ardan tetap meneruskan kata kata jahatnya.


Mama Dina memandang Ardan yang sama sekali ngga ada ekspresinya. Malah hanya memainkan gelasnya.


"Tapi Oma Rahayu sepertinya kenal baik dan sangat menyukai gadis itu," komentar papa Dina ketika melihat Oma Rahayu yang menghampiri keempatnya.


"Jarang jarang Oma Rahayu bersikap baik pada orang lain. Apalagi seorang gadis yang bersama cucu kesayangannya," tambah papa Ardan membela Wina.


Benar juga. Oma Rahayu terkenal sombong dan judes. Beliau juga suka memandang kasta. Mengapa Oma Rahayu bisa bersikap baik pada Wina ya, batin Dina ngga abis pikir.


Selama dia bertugas di rumah sakit, Dina hanya mengobrol biasa saja dengan dokter Eri dan juga dokter Lia. Mereka berdua termasuk dokter idola. Tapi Wina terlihat akrab. Bahkan dengan pasangan dokter Lia.


Dengan Oma Rahayu? Dina malah menghindarinya. Dia pernah melihat seorang dokter diomeli beliau. Entah membuat kesalahan apa.


"Kalian mengenal gadis itu?" tanya papa Dina mulai terusik.


Melihat keakrabannya dengan lingkungan keluarga Oma Rahayu membuat dia tertarik ingin mengenal gadis itu.


"Teman SMA Dina dan Ardan, Pa," sahut Dina cepat.


Dina ngga ingin kedua orang tuanya tau, Winalah yang membuat Ardan menolaknya.


Tapi Dina heran melihat sikap Ardan yang terlihat acuh ngga acuh.


Kenapa Wina bisa bersama dokter Eri? Ardan ditinggalkan?


Dina kembali menatap ke arah Wina yang mengobrol akrab bersama Oma Rahayu. Begitu juga dokter Eri, dokter Lia dan pasangannya.

__ADS_1


Tapi ngga lama kemudian secercah senyum terukir di bibirnya.


Syukurlah. Ardan akan ku dapatkan lagi, batin Dina senang.


"Ooo teman kalian," kata papa Dina sambil melirik papa Arfan yang sepertinya kurang menyukai topik yang sedang mereka bicarakan.


Papa Dina mulai menduga, gadis itu ada hubungannya dengan Ardan dan mama Ardan terlihat sangat tidak menyukainya.


Apa mereka pacaran? Apa gadis itu benar benar miskin?


Papa Ardan menggelengkan kepalanya ngga percaya. Batinnya pun membantah.


Oma Rahayu sangat selektif dalam memilih calon istri buat cucu cucunya. Bibit, bebet dan bobot sangat detil beliau perhatikan.


Papa Dina makin penasaran dengan Wina. Siapa gadis itu sebenarnya. Oma Rahayu terlihat sangat menyukainya.


Ardan sendiri berusaha menahan perasaannya yang sangat terkejut melihat kehadiran Wina.


Ardan yang sengaja dijemput mama dan papanya datang lebih dulu dari Wina. Ternyata keluarga Dina sudah datang lebih dulu.


Ardan yang sudah tidak ingin apa pun lagi hanya diam saja mendengar obrolan dua keluarga.


Emosinya mulai terusik begitu melihat gadis yang mirip dengan Wina.


Tidak, Ardan menggelengkan kepalanya.


Benarkah Wina sudah menggantikannya dengan pria itu?


Tadi pun mata mereka berdua sempat bertatapan. Tapi hanya sebentar, karena Wina mengalihkan tatapannya ngga berapa lama kemudian.


Hati Ardan terasa sakit. Amat sangat. Dia sudah berusaha melupakan Wina dengan kerja ngga berhenti dan alkohol. Tapi kenapa rasa sakitnya masih ada ketika melihat Wina datang dengan pria lain.


Kesalahannya sangat fatal bagi Wina. Tapi Ardan masih ngga bisa percaya kalo Wina menggantikannya secepat ini.


Wina tau dari dulu betapa brengseknya dia. Tapi tetap saja Wina masih mencintainya. Tapi mungkin sekaramg Wina sudah lelah hati dan perasaannya.


Saat ini yang dibutuhkannya hanya alkohol. Karena Wina sudah ngga mungkin lagi digapainya.


*****


"Wina, kamu yang temenin oma tiup lilin ya," pinta Oma Rahayu dengan nada memerintah.


"Saya di sini aja nek," tolak Wina halus.


Keluarga besar Eri malah tertawa mendengar Wina berani menolak.


Dua saudara laki laki Eri yang sudah menikah pun datang bersama istri dan anak anak mereka yabg masih balita. Begitu juga dengan tante dan om Eri. Bahkan juga ada beberapa orang sepupunya yang sebaya dengan dokter Eri.


Yang membuat Wina terharu, mereka semua sangat ramah padanya. Apalagi orang tua Eri. Mereka sangat baik padanya. Wina jadi merasa sedih mengingat sikap kejam mama Ardan padanya.

__ADS_1


"Oma ngga terima penolakan. Kamu sama Eri dampingi Oma," titahnya lagi dengan nada galak.


Eri kembali memijat keningnya. Eri melirik Wina yang terlihat ngga nyaman dengan situasi ini.


"Oma jangan aneh aneh deh. Sama mama papa aja, atau om dan tante," usul Eri membuat mama, papa, tante tante dan om omnya tertawa. Mereka kelihatan senang melihat Omanya sangat ceria dan mengerjai si bungsu Eri.


"Ngga apa lah, Er. Sesekali juga," kata Tante Firda, kakak mamanya menyahut dengan wajah usilnya.


"Iya Er. Nyenangin Oma sesekali kenapa?" tambah Om Aditya-suami tantenya ikut menggodanya.


"Bener. Kapan lagi kamu jadi cucu yang penurut," tandas Omanya kesal.


"Bukan begitu Oma. Eri kan juga udah punya pacar," ucapnya memohon.


Mata Oma Rahayu langsung melotot.


"Lupain pacarmu itu. Dia lebih senang tinggal di New York. Oma ngga mau kamu ninggalin Oma. Seperti abang abangmu itu!" sentak Omanya marah.


Kedua abang Eri yang kena semprot menatap Oma Rahayu dengan senyum lebar. Udah biasa mereka mendengar omelan oma manjanya.


"Maaf Oma," kata Farhan-kakak tertua Emir dengan wajah becandanya. Rayhan-kakak Eri yang nomer dua tertawa renyah.


"Wina juga udah punya pacar Oma," kata Eri masih mencoba memberikan penolakan.


"Biar Wina putuskan pacarnya. Mana ada yang bisa menyaingi kamu," pungkas Oma ngga peduli membuat papa, mama, om dan tantenya geleng geleng kepala.


Oma Rahayu memang sangat keras kepala. Kalo beliau sudah mengatakan A, maka harus dilakukan A juga.


Udah putus nek. Tapi aku mau cari pacar yang biasa aja, batin Wina memberitau.


Eri menatap Wina dengan tatapan penuh penyesalan.


Tuh, kan, dokter. Sudah saya bilang ngga mau ikut, marah Wina dalam hati begitu mata mereka bertatapan.


Maaf, seakan telepati Eri menjawab perkataan Wina dalam hatinya.


Wina menyampirkan rambutnya di telinganya yang sebelah kanan. Tanpa sadar matanya menatap Ardan yang berada dalam garis miring dari posisinya berada.


Seakan itu adalah gambar segitiga pithagoras. Dia dan Ardan berada pada titik miring AC.


Wina dapat merasakan tatapan penuh luka di mata Ardan. Ternyata Ardan mengawasinya. Pantaslah dia merasa ngga nyaman. Tatapan pria yang sudah mengkhianatinya berkali kali itu sangat tajam.


Wina memejamkan mata. setelah lebih dari seminggu, Wina bertemu Ardan lagi. Ardan sangat tampan dalam balutan jas silvernya.


Apakah Ardan sering menghadiri acara seperti ini tanpa mau membawanya?


Pasti Ardan malu mengajaknya. Wina sempat melihat Dina yang tampil sangat cantik dan mewah. Memang Dina lebih cocok. Atau gadis yang mencium dan dicium Ardan. Wina juga senpat melihatnya tadi.


Mereka dari kalangan yang sama. Dirinyalah yang harus minggir.

__ADS_1


__ADS_2