
"Tante, Wina sekarang sudah dipindah perawatannya di rumah dokter Eri," kata Dina ketika mengecek tensi mama Ardan di ruang rawat ina Ardan besok paginya.
Sekarang mama Ardan dirawat satu kamar dengan putra kesayangannya.
"Kamu tau dari mana?" tanya mama Ardan kaget.
Hebat juga gadis miskin itu menarik simpati laki laki kaya raya, sinisnya dalam.hati.
Papa Ardan juga sampai mengangkat kepalanya dari hpnya dan menatap intens ke arah Dina.
Tadi malam, papa Ardan mengunjungi kamar Wina. Wina hanya ditemani papanya, karena mama Wina pulang untuk mengambil keperluan mereka. Tapi papa Wina tidak mengatakan soal kepindahannya.
Istrinya bersikeras menemani Ardan, menunggu putranya sadar.
"Maaf, mengganggu Pak Bas," sapa papa Ardan sambil membuka pelan pintu ruangan rawat inap Wina.
"Masuk, Pak Putra," sambut papa Wina ramah. Beliau baru saja selesai membaca surat ar rahman.
"Suara bapak merdu sekali," puji papa Ardan kagum. Beliau sempat mendengar, karena pintu kamar Wina sedikt terbuka.
Papa Wina hanya tertawa menanggapinya.
Setelah menutup pintu, papa Ardan berjalan menghampiri papa Wina sambil menatap Wina dengan sedih.
"Gimana keadaan Wina?"
Mengapa kalian berdua belum sadar juga? batin papa Wima sedih.
"Masih begini aja, pak. Maaf saya belum menjenguk Ardan."
Papa Ardan tersenyum
"Ngga apa apa. Ardan juga sama seperti Wina. Masih belum sadar," ucap papa Wina tetap tenang, walau hatinya sangat sedih.
Papa Ardan menghela nafas panjang.
"Wina gadis yang baik," kata papa Ardan tulus.
Beliau teringat ketika ngga ada niat Wina sama sekali untuk membalas perlakuan pegawai resepsionis perusahaannya yang sudah merendahkannya..
Mengadu padanya juga tidak sama sekali Wina lakukan.
Papa Ardan menghela nafas panjang lagi.
Papa Wina tersenyum mendengar pujian papa Ardan. Mata papa Wina berkaca kaca sambil menatap putri tunggalnya.
"Wina anaknya manja," kata papa Ardan walau sedih tetap terlihat bahagia karena membayangkan wajah ceria Wina.
Papa merasa sangat bersalah melihat kesedihan di wajah papa Wina. Wina sudah pernah beberapa kali menjadi korban kelicikan istrinya.
Beliau lagi menyelidiki kecelakaan yang dialami Ardan. Walau sudah mendengar kalimat memcurigakan istrinya, tapi papa Ardan harus bisa mencari bukti yang membuat istrinya ngga bisa berkelit lagi.
"Ardan juga laki laki yang sangat bertanggungjawab," kata papa Baskoro balas menuji.
"Tapi Ardan pernah menyakiti Wina," kata papa jujur dengan wajah menyesal.
__ADS_1
Papa Wina tersenyum maklum.
"Saya tau. Ardan bahkan mengakuinya terang terangan." kata papa Wina tenang.
Papa Ardan menatap papa Wina heran karena papa Wina sama sekali ngga menyimpan kemarahan.
"Anda ngga marah?"
Papa Wina menggelengkan kepalanya.
"Saya sudah memaafkan Ardan pagi itu sebelum mereka kecelakaan," kata papa Wina dengan nada suara bergetar. Menahan berbagai gelombang perasaan yang berkecamuk di dadanya.
Sebelum berangkat mereka terlihat bahagia karena dirinya dan istrinya sudah merestui hubungan mereka kembali.
"Oooh," desah papa Ardan sedih.
"Sampai akhir Ardan tetap melindungi Wina. Maaf, saya dengar Ardan mengalami cedera yang parah karena itu," sesal papa Wina.
Ganti papa Ardan tersenyum.
"Ardan anak saya sangat kuat. Mungkin dia akan pake kruk dulu beberapa hari," kata papa Ardan menenangkan.
"Maaf."
Papa Ardan tertawa pelan melihat wajah bersalah papa Wina.
"Santai bro. Ardan ngga apa apa, percaya sama saya," kata papa Ardan sambil menepuk calon besannya di masa depan.
"Semoga anak anak kita cepat sadar dan pulih. Setelah itu kalo Pak Bas ngga keberatan, kita akan bicarakan lebih serius tentang hubungan mereka," ucap papa Ardan penuh maksud.
"Tentu, saya menunggu waktu itu," sahut papa Wina dengan wajah penuh senyum.
Kenapa papa Wina ngga mengatakan apa apa y? batinnya heran.
"Dokter Eri yang cerita. Omanya memaksa agar Wina dirawat di rumahya, tante," jelas Dina.
Mama Ardan mendengus.
"Menang banyak dia. Ngga dapat Ardan, tapi dapatnya malah keluarga Adhiyaksa," sinis mama Ardan.
"Mama ngomong apa, sih," cetus papa Ardan ngga suka.
"Ngomong kenyataan lah," kata mama Ardan ngga peduli. Apalagi semalaman suaminya mendiamkannya. Sekalinya ngonong malah nyolot ngebelain gadis miskin yang menggoda Ardan.
Papa Ardan ngga menyahut lagi. Beliau kini konsen melihat hpnya
Alisnya menyatu ketika membaca berita yang diposting teman temannya di grup bisnis mereka.
Putra kedua Megantara sudah kembali?
Tentu nana Megantara sudah terkenal di dunia bisnis. Beliau adalah adik dari Oma Rahayu. Bisnisnya berbeda dari kakaknya, karena bergerak di bidang perkebunan. Sawit, kopi, teh, dan kakao. Bahkan sampai di luar negeri. Pabrik pabrik pengemasan produknya pun tersebar di mana mana.
Sangat mengejutkan dan menghebohkan kalo putra keduanya kembali. Bahkan orang orang sudah melupakan kalo Megantara punya dua orang putra. Karena putra kedua kabarnya lebih memilih menjadi orang biasa dan memutuskan pergi begitu saja, meninggalkan kerajaan bisnis keluarga.
Minggu depan akan dikenalkan ke publik, begitu info di grup bisnisnya.
__ADS_1
"Ardan kita akan cacat, Pa. Pasti dia nyari yang normal dan tetap dengan sasaran pria muda kaya raya," sewot mama Ardan dengan nada tinggi.
"Ardan cuma butuh terapi. Ngga butuh waktu lama Ardan bisa jalan lagi," kata papa Ardan tenang.
"Itu kata papa. Bukan kata keluarga Wina, kan. Papa Wina ngga bilang ke papa kan, kalo mau pindah ke rumah Oma Rahayu? Itu artinya dia ngga ngehargai papa," pungkas Mama Ardam tajam.
"Padahal Ardan sampai parah begini karena menyelamatkan anaknya," tandas mama Ardan melanjutkan kata kata pedasnya. Menyelipkan racun racunnya untuk mempengaruhi pikiran suaminya.
Papa Ardan sebenarnya kecewa juga karena papa Wina ngga memberitahu kepindahannya, bahkan belum menjenguk Ardan sama sekali.
Tapi mungkin orang tua Wina tau kalo mama Ardan tidak menyukai anaknya. Pasti mereka masih merasa kesal dan sakit hati.
Merasa puas karena suaminya ngga menyahutinya lagi, mama Ardan berpaling pada Dina.
"Dina, tante ngga memaksa. Tapi Ardan akan lumpuh."
Dina tersenyum, kemudian menatap wajah tampan Ardan yang masih terlelap.
Kalo Ardan ngga keberatan, saya mau membantunya sampai pulih, tante."
"Tante ngga keberatan, sayang. Justru tante malah senang," jawab mama Ardan dengan ekspresi bahagianya.
"Makasih, tante," ucap Dina senang.
Ardan pasti kecewa kalo dia tau Wina di rumah dokter Eri, batin Dina.
Mama Ardan tersenyum puas sambil mengerling pada suaminya yang tetap sibuk dengan hpnya. Seolah ngga peduli dengan percakapan keduanya.
Apa sih yang dilihatnya di grup, kesal mama Ardan dalam hati.
"Ada berita penting ya, pa? Serius banget," tanya mama Ardan sambil mendekatkan kursi rodanya ke suaminya.
"Putra kedua Pak Megantara udah pulang," jawab papa Ardan sambil menunjukkan isi obrolan teman temannya.
"Ponakannya Oma Rahayu?" tanya mama Ardan kepo.
Beliau juga tau silsilah keluarga Oma Rahayu. Mereka adalah saingan saingan bisnis keluarganya. Bisnis keluarga mama Ardan juga bergerak di bidang perkebunan. Terutama sawit dan teh.
"Iya."
"Kenapa dia kembali ya?" gumam mama Ardan.
"Mana papa tau. Minggu depan akan dikenalkan bersamaan dengan acara pertunangan dokter Eri."
"Haaah, secepat itu mereka akan bertunangan," kaget mama Ardan dengan suara marahnya.
Pap Ardan menatap istrinya heran karena melihat reaksi kagetnya yang sangat berlebihan.
"Mama tau siapa tunangan dokter Eri?"
"Papa gimana, sih. Tunangannya ya pasti gadis miskin itu. Wina. Siapa lagi. Hemmmhh.... cepat sekali dia menggantikan Ardan," dengus mama Ardan benar benar ngga dapat lagi memelankan suaranya saking emosinya membuat papa terhenyak.
Sembarangan, bantah papa Ardan dalam hati tetap ngga percaya. Apalagi tadi malam beliau sudah mengatakan dengan jelas keinginannya atas kelanjutan hubungan kedua anak mereka.
Mama Ardan benar benar merasa terhina dan ngga terima. Secepat itu mereka membuang anaknya.
__ADS_1
"Nggak... mungkin," bantah Ardan lemah.
"Adan, kamu sudah sadar," seru Dina bahagia sampai matanya berkaca kaca. Sedari tadi dia memperhatikan obrolan serius orang tua Ardan sampai ngga sadar mata Ardan kini sudah terbuka.