
"Kamu makannya kok dikit, Ardan?" tanya Wina heran. Karena Ardan cuma mengambil sate ayam cuma tiga tusuk tanpa lontong.
"Aku tadi udah makan di kantor sebelum dijemput mama dan papa," kata Ardan berusaha santai.
Ardan mulai merasa ngga beres dengan lambungnya. Hanya bisa sedikit sekali kalo makan. Kalo nasi paling tiga sendok. Lebih dari itu dia akan merasa mual.
"Kalo gini, aku dong yang keliatan banyak makan," kata Wina dengan senyum malu di wajahnya.
Ardan menatapnya gemas.
"Aku suka kamu banyak makan. Nanti aku temenin kalo kamu mau makan yang lain," kata Ardan dengan wajah menggodanya.
"Iiih, apaan. Nanti si nenek bisa ngatain aku kayak ngga pernah makan sebulan," omel Wina sebal.
Ardan tergelak. Dia pernah mendengar rumor tentang betapa pedasnya mulut Oma Rosita.
"Aku juluki dia nenek gayung," bisik Wina membuat Ardan makin tergelak. Wina pun tertawa lepas.
Akhirnya keduanya memilih makan sambil berdiri.
"Ardan, ni, tambah lagi satenya," kata Wina sambil menyodorkan sate ke mulutnya.
Mungkin karena merasa senang, Ardan ngga merasa mual. Bahkan dia merasa sangat lapar.
"Bibir kamu ada kuah sate," kata Ardan sambil mengusap bibir Wina dengan tisu.
Usapan lembut itu membuat jantung Wina seakan berhenti berdetak.
Ardan pun tersenyum melihat Wina terpaku membiarkannya.
"Kayak anak kecil aja," canda Ardam membuat Mia kembali salah tingkah.
"Nih makan lontongnya," kata Wina sambil menyodorkan lontong yang ditusuk ke mulur Ardan. Tapi dengan sengaja dia mengoleskan pinggiran kuah lontomg yang berbalut kuah sate di pipi Ardan.
"Kamu malah sampai ke pipi," ejek Wina dengan wajah usilnya membuat Ardan yang tau akan perbuatan Wina jadi tertawa.
"Jangan nakal, nanti aku cium," kata Ardan pura pura mengancam setelah tawanya usai.
"Ardan mesum," ejek Wina ngga takut.
Ardan kembali tertawa. Winanya sudah kembali seperti dulu. Tapi bagi Wina, dia hanya ingin menikmati kebersamaannya saat ini. Karena besok dan besok, mama Ardan pasti akan memakinya. Sedari tadi Wina merasa tatapan Mama Ardan mengawasinya.
Akhirnya Wina mengusap kuah sate di pipi Ardan dengan tisu.
"Udah bersih," katanya manis.
Ardan tersenyum sambil meraih tisu kotor di tangan Wina dan meletakkannya di piring satenya yang udah kosong.
Seandainya dia tidak melakukan kesalahan. Momen ini sangat manis, sesal Ardan berkali kali.
"Mau makan apa lagi?" tanya Ardan menyadarkan Wina yang terpaku.
"Eh, udah lah," kata Mia malu ketahuan menatap Ardan.
__ADS_1
"Aku temenin," kata Ardan sambil mengambil piring kosongnya dan memberikan pada pegawai katering yang kebetulan lewat.
Ardan pun menarik Wina untuk mencicipi kesukaan mereka jaman sekolah. Bakso.
"Satu mamgkok aja ya berdua," ucap Ardan membuat Wina tersenyum.
Ardan mengambil dua garpu kecil dan menyerahkan satunya pada Wina. Malam ini Ardan pun ingin menikmati kedekatannya dengan Wina tanpa bisa di ganggu mamanya.
Paling nanti pas pulang dia bakal diceramahin mamanya. Andai saja mamanya ngga punya penyakit jantung, Ardan akan mudah menolak keinginan mamanya.
Mereka pun makan bakso dengan mangkok yang sama dengan wajah memancarkan kegembiraan. Bahkan kadang Wina dam Ardan saling menyuapkan.
Mereka terlihat santai dan manis sebagai pasangan kekasih. Banyak yang memandang iri. Bahkan dokter Eri tersenyum melihat keceriaan keduanya.
Berbeda dengan Gaga, yang cukup tau hubungan Wina dan Ardan. Mengingat mama Ardan yang memaki Wina membuat dia ingin marah.
Ketika.Gaga melirik mama Ardan, Gaga yakin kepala wanita paruh baya itu udah dipenuhi asap. Gaga tersenyum kecut melihat tatapan horor wanita sombong itu pada Wina.
Gaga kembali memakan satenya dengan santai. Para tamu saat ini sedang menikmati hidangan yang sangat mewah dan lengkap.
"Nanti kamu pulang sama siapa?" tanya Ardan agak cemas, karena hari udah semakin malam dan Ardan juga ngga membawa mobil sendiri
"Mungkin sama dokter Eri."
Tadi, kan aku berangkat sana dia.
Diam diam Ardan mengetik pasan pada asistennya agar mengantarkan mobilnya ke alamat rumah Oma Rosita.
"Kamu pulang sama aku aja ya," pinta Ardan penuh harap.
"Mama nanti pulang sama papa."
Wina terdiam.
"Aku akan bilang sama Eri biar ngga nyariin kamu," kata Ardan lagi.
Rasanya lebih tenang kalo Ardan sendiri yang mengantar Wina pulang.
"Nanti mama kamu ngga marah?" tanya Wina pelan.
Ardan melirik mamanya yang menatap kesal padanya. Tapi saat melihat papanya, pria itu tersenyum sambil melambaikan tangannya yang memegang sendok. Papa dan mamanya sedang menikmati cake bersana keluarga Dina.
"Malam ini aja Win. Biarkan aku ngantar kamu."
Wina pun menatap Ardan sedih. Seakan akan yang mereka lakukan adalah hal hal indah sebelum berpisah.
"Baiklah," kata Wina mencoba berdamai dengan hatinya.
Ardan menatap Wina dengan perasaan senang.
Ardan memberikan mangkok bakso yang sudah tinggal kuahnya itu pada pelayan katering yang lewat.
"Mau makan puding? Kelihatannya enak," pancing Ardan sambil menarik tangannya ke arah puding puding cantik seperti kaca.
__ADS_1
"Hai, Ardan," sapa Tiara yang sudah berdiri di sampingnya.
Wina melirik gadis cantik yang menyapa (mantan) kekasihnya.
Wajahnya langsung keruh. Wina ingat gadis ini yang berciuman mesra dengan Ardan.
"Puding?" tanya Tiara lagi yang ngga mendapat respon dari Ardan.
Tiara pun mengulurkan sepiring kecil yang berisi sepotong puding buah.
"Sayang kamu mau puding apa?" tanya Ardan sambil menatap Wina dan membiarkan puding yang diulurkan padanya.
"Hei."
Ardan yang menyadari kekesalan di wajah Wina mentowel pipinya sambil tersenyum.
"Stroberi?" tanya Ardan lagi dan hanya mendapat anggukan Wina.
Tiara dengan malu menarik tangannya yang dicuekin Ardan. Beberapa orang menatapnya kasihan.
"Sorry, pacarku maunya stroberi," kata Ardan pada Tiara, hanya sebagai etika kesopanan, juga karena Tiara datang bersama orang tuanya.
"It's oke," kata Tiara senang karena ditanggapi juga oleh Ardan.
Ardan kembali menarik tangan Wina menjauhi Tiara.
Gadis itu berpenanpilan sangat wah. Tapi setelah diputusin Wina, niatnya untuk iseng dengan gadis gadis juga sirna. Memang aneh.
Sekarang dia hanya ingin memperbaiki image baiknya yang sudah hancur gara gara sampai tergoda dengan Tiara.
"Jangan cemberut lagi," kata Ardan berusaha membujuk karena kini Wina hanya diam saja.
Ardan menghela nafas. Suasana manis tadi sudah lenyap.
"Jangan marah Win," bujuk Ardan lagi.
Tapi rasa cemburu sudah memenuhi rongga dada Wina. Wina sebenarnya ngga mau begini, tapi mood cerianya tadi benar benar sudah hilang.
Kini keduanya saling dian. Ardan masih memotong pudinngnya
"Ayo di makan," kata Ardan lembut sambil menyuapkan puding tersebut pada mulut Wina yang terbuka
Ardan tersenyum, kemudian menyuapkan puding itu ke mulutnya sendiri.
Wina menatap wajah tampan Ardan yang sedang memakan pudingnya.
"Kenapa?" tanya Ardan balik menatapnya
"Ngga pa pa," jawab Wina sambil mengambil sesendok puding dan menyuapkannya pada Ardan yang tentu saja menerimanya dengan senang hati.
Wina mencoba menyimpan wajah Ardan yang sedang tersenyum di hatinya.
Dia berusaha mengingatkan hatinya, kalo malam ini adalah malam terakhirnya dengan Ardan.
__ADS_1
Setelah ini dia akan melupakan laki laki yang penuh pesona ini untuk membuka lembaran baru.