Cinta Lama Saingan Tetap

Cinta Lama Saingan Tetap
Menunggu dan Berharap


__ADS_3

Tanpa mempedulikan ekspresi istrinya yang sangat pias karena keterkejutannya, papa Ardan setengah berlari ke luar dari ruangannya, menyusuri lorong rumah sakit dengan perasaan sangat kalut.


Kedatangan Papa Ardan bertepatan dengan petigas medis yang sedang menurunkan tubuh Ardan.


Papa Ardan benar benar terguncang. Putra satu satunya yang dia miliki, terluka sangat amat parah. Jas, kemeja dan celana panjangnya dikotori darah segarnya.


Kaki papa Ardan terasa lemah. Papa Ardan mulai sempoyongan dan hampir saja jatuh. Untung ada Endi yang menopangnya.


"Makasih" ucap papa Ardan dengan bibir dan tubuh gemetaran tanpa melihat siapa yang menolongnya.


"Aku di sini," ucap Papa Endi menguatkan. Beliau juga shock melihat kondisi Ardan.


"Endi," panggilnya pelan dengan wajah sangat kusut. Beliau bersyukur karena teman dekatnya sudah datang menemaninya.


"Ardan dan Wina butuh do'a kita," kata papa Endi berusaha menguatkan hati sahabatnya.


Semua yang melihat keadaan Ardan pasti sudah menyerah. Wajahnya sangat pucat dan tubuhnya mulai dingin saat tadi papa Endi menyentuh tangannya. Mereka sangat membutuhkan mukjizat dari Yang Maha Kuasa lewat tangan tangan tenaga medis yang terpecaya.


Papa Ardan meneteskan air mata. Dia mengutuk siapa saja yang telah berani mencelakai putra tunggalnya sampai separah ini.


Papa Ardan memejamkan mata kuat kuat. Sakit di dadanya terasa berlipat ganda. Beliau takut kalo ini perbuatan istrinya. Beliau takut karma yang diterima istrinya melalui Ardan.


Siapa yang jadi eksekutornya? batin papa Ardan begitu terluka.


Papa Ardan menarik nafas pelan pelan untuk melegakan rongga dadanya yang sangat sesak. Beliau pun melonggarkan dasinya agar mudah bernafas.


Dina yang ikut menunggu, menjadi terkesiap melihat Ardan yang berlumuran darah di depan matanya.


"Ardan," jeritnya sambil memegang brankar Ardan.


"Kamu kenal?" tanya salah satu teman dokter perempuannya sambil menahan tubuh Dina yang hampir jatuh.


Dina tak menjawab, air mata terus mengalir saat melihat wajah tampan itu yang tampak sangat pucat.


Dina baru saja akan mengecek pasien pasiennya yang rawat inap, merasa aneh melihat kerumunan dokter dan perawat di depan pintu masuk.


Kejadian langka. Dokter dokter yang ada di sana adalah dokter dokter senior yang biasanya menunggu pasien pasien khusus. Yang berkantong sangat tebal tentu saja.


Berarti yang ditunggu mereka adalah orang penting dan sangat kaya raya.

__ADS_1


Karena penasaran, Dina ikut menunggu dan mengabaikan tugasnya.


Hanya sebentar, batinnya membela tindakan salahnya.


Berdua bersama rekan perempuannya yang sama sama baru beberapa bulan diterima, mereka ikut menunggu.


Ngga lama kemudian ambulance yang membawa Wina datang.


Mama dan Papa Wina yang sudah datang langsung menghanpiri petugas medis yang sedang memindahkan tubuh putri kesayangan mereka ke brankar rumah sakit.


Mama Wina menahan tangisnya di pelukan suaminya yang mencoba berdiri tegar. Air mata pun menetes di wajah tuanya yang nampak.terguncang hebat.


Gaga menelpon dirinya ketika baru saja akan meninggalkan rumah bersama istrinya. Mereka berdua sudah berada di dalam mobil, bersiap akan pergi mengajar.


Dengan suara pelan dan gugup, Gaga yang selalu tenang mengabarkan Wina sedang di bawa ke rumah sakit.


Papa pun melajukan mobil dengan perasaan berkecamuk. Rasa takut kehilangan putri satu satunya membuatnya semakin kencang membawa mobil, menyalib satu persatu mobil di depannya. Karena mereka melewati underpass yang syukurnya ngga macet.


Mama Wina hanya diam, membiarkan suaminya melajukan mobilnya seperti dikejar setan. Hatinya serasa kosong dan pikiran buruknya terbang memenuhi otaknya.


Baru tadi pagi Ardan berjanji akan bersungguh sungguh menjaga Wina. Tapi sekarang keduanya terbaring lemah ngga berdaya dan bersimbah darah.


Kini menghadapi kenyataan kalo putri tunggal mereka sangat parah keadaannya, beliau merasa lemas dan ngga bertenaga. Tapi papa Wina berusaha bertahan, ada istrinya yang sama terguncangnya dengan dirinya. Mungkin lebih, karena beliau telah mengandung dan melahirkan Wina ke dunia.


Di dalam benak papa dan mama Wina sibuk memikirkan sebenarnya apa yang telah terjadi. Mengapa mereka berdua bisa terluka sangat parah.


Ardan dan Wina langsung dibawa ke ruang operasi. Diikuti orang orang terdekat mereka.


Mereka semua menunggu dalam diam dengan perasaan tegang, dan terus memanjatkan ribuan do'a.


Bahkan dokter Eri ikut ke dalam, karena dia adalah dokter spesialis jantung.


"Tante," panggil Dewi setengah berlari ketika melihat Mama Wina. Sita juga mengikuti dari belakang. Keduanya teelihat berantakan dengan pakaian yang masih ada noda darahnya.Tadi mereka sudah mencuci tangan dan wajah mereka di wastafel.


"Dewi," ucap mama Ardan yang mengenali salah satu teman dekat Wina. Tapi beliau masih duduk dan di peluk suaminya. Tubuhnya sangat lemas. Untung beliau ngga sampai pingsan.


"Tante," isak Dewi mulai lagi. Dia langsung duduk di bangku sebelah tantenya yang kosong. Sita menyusul di sebelah Dewi sambil.menangkupkan kedua tangannya ke wajahnya. Air matamya pun menetes.


"Ap... apa yang telah terjadi?" tanya mama Wina terbata bata.

__ADS_1


Beberapa kali perawat bolak balik ke luar dari ruang operasi. Mereka membawa banyak kantong darah. Untungnya persediaan darah untuk golongan darah keduanya tersedia dalam stok yang sangat cukup. Jadi ngga perlu mencarinya ke PMI atau membutuhkan donor.


"Wina... Ardan.... ditabrak truk tante. Dewi juga ..... ngga lihat kejadiannya. Hanya mendengar.... suara truk mengerem, tante,. Keras banget," kata Dewi dalam isaknya.


"Mereka.... jatuh berpelukan, Tante. Ardan sepertinya.... melindungi Wina dengan membiarkan tubuhnya yang lebih dulu menyentuh aspal."


Mama kembali meneteskan air mata. Papa Wina mengeratkan pelukan oada bahu istrinya.


Kalo mereka berdua selamat, papa Wina akan mempermudah jalan restu dari mama Ardan. Papa Wina sendiri yang akan memintanya.


Papa Ardan yang berdiri ngga jauh dari tempat Dewi berada, mendengar dengan sangat jelas.


Beliau memejamkan mata dengan hati pedih. Kata kata sahabatnya Endi benar, truk mengerem karena melihat Ardan.


Mungkin awalnya Ardan mengawasi Wina yang menyeberang sendirian, tapi ketika melihat Wina hampir ditabrak, Ardan berlari melindungi Wina. Supir yang siap menabrkak tubuh Wina kaget melihat Ardan dan mengerem.


Itulah asumsi papa Ardan. Mungkin juga orang orang yang tau sepotong sepotong kejadian yang dialami putra tunggalnya bersama kekasihnya pasti berpikir demikian juga.


Teganya istrinya melakukan hal itu. Kalo kecurigaannya benar, beliau ngga tau apakah masih bisa memaafkan dosa besar istrinya.


Hanya saja, yang mengganggu pikirannya, mengapa Ardan membiarkan Wina menyeberang sendirian. Mengapa tidak di antarnya sampai ke depan pintu tempat Wina bekerja? Apa Wina melarangnya?


Papa Ardan menggelengkan kepalanya berusaha mengusir beban berat pikirannya. Beliau harus kuat. Beliau ngga boleh lemah. Operasi sudah berjalan dua jam. Tapi lampunya masih juga menyala. Belum ada satupun dokter yang keluar memberi kabar.


"Om, Pa, minum dulu," kata Gaga memberikan dua gelas kopi hangat pada papa Ardan dan papanya.


"Om ngga haus," tolaknya lemah.


"Jangan gitu, Om. Operasi belum ada tanda tanda kapan selesai. Buat nambah tenaga, Om," bujuk Gaga.


"Minumlah biar sedikit," kata Papa Gaga ikut membujuk sambil mengambil gelas kopi yang di sodorkan Gaga, anaknya.


Gaga kemudian menghampiri orang tua Wina dengan membawa kopi dan teh. Adhi memberikan teh hangat pada Dewi dan Sita.


"Minum dulu, Om, Tante," kata Gaga.


"Makasih," kata papa sambil menerima gelas yang diulurkan Gaga. Beliau memberikan gelas teh pada istrinya yang menggeleng.


"Kita harus isi tenaga sayang. Kita harus kuat. Wina butuh kita," bujuk papanya memaksa istrinya untuk minum. Istrinya sudah terlihat pucat karena terus menangis tanpa suara.

__ADS_1


__ADS_2