Cinta Lama Saingan Tetap

Cinta Lama Saingan Tetap
Galau


__ADS_3

Akhirnya mama dan papanya pulang juga dari dinasnya. Kini orang tuanya jadi kaget melihat pria tampan lain yang sedang bertamu di rumah.


Bukan Ardan.


"Siapa?" tanya mama ketika keduanya ada di kamar Wina.


Wina yang bermaksud keluar dari kamar setelah menganbil tasnya jadi kaget.


"Mama, ngegetin aja."


Mama tertawa kecil.


"Udah terbiasa di rumah sendiri ya," goda mama.


Wina langsung manyun.


"Kenapa, sih, dinasnya bisa bareng? Mama sama papa tukaran sama pegawai lainnya ya, biar bisa dinas bareng?" tuduhnya kesal. Ditinggal hampir sepuluh hari. Belum pernah selama ini kedua irang tuanya melakukannya.


Mama mencubit kecil pipi Wina gemas.


"Mana bisa seperti itu."


"Sakit Ma," omelnya sambil mengelus pipinya.


Mama tertawa lagi melihat kelakuan Wina yang seperti anak kecil.


"Itu siapa? Kamu kok ngga sama Ardan?"


"Teman ma. Neneknya ngundang ke acara ulang tahun."


Sengaja Wina ngga menjawab tentang Ardan. Dia takut ngga bisa berbohong.


"Kok ngga sama Ardan?" tanya mama penasaran.


Ada masalah kah?


"Ya enggaklah ma. Ardan juga lagi sibuk." Terpaksa Wina berbohobg.


Maaf ma.


Mamanya menatap maklum. Beliau tau ada yang disembunyikan anak semata wayangnya. Anak itu melengos saat mama menatap lekat matanya.


"Ooo, tapi kamu udah kasih tau Ardan kalo mau pergi sama laki laki lain?"


"Belum suami juga. Udah ya, Ma. Wina pergi dulu. Kasihan Eri lama nunggunya," Wina ngeles sambil melangkah meninggalkan mamanya.


Mama menggelengkan kepala. Beliau semakin yakin, hubungan anaknya dalam masalah. Beliau dan suaminya baru saja sampai tadi pagi di rumah jadi belum bertemu Ardan.


"Pa, Ma, Wina pamit, ya," ucap Wina sambil menyalim tangan kedua orang tuanya.


"Hati hati," kata Mama dan Papa berbarengan.


"Pergi dulu ya om, tante," pamit Eri sopan juga sambil menyalim tangan kedua orang tua Wina.

__ADS_1


"Titip Wina ya," kata papa ngga tenang melihat kepergian Wina dengan laki laki lain. Walaupun laki laki ini juga sopan, tapi anaknya sudah punya kekasih.


"Iya Om."


Kedua orang tua Wina pun melihat krpergian Wina dengan mobil mewah teman laki laki barunya.


"Papa bingung, Wina sepertinya ada masalah dengan laki laki yang datang bersama keluarganya."


Papa pun menghela nafas panjang.


"Mungkin lagi ada masalah dikit. Papa ngga usah khawatir. Ingat, kan, baru kemoteraphi. Ayo istirahat, Pa," kata mama sambil membimbing suaminya ke kamar untuk istirahat.


Sebenarnya orang tua mereka tidak melakukan perjalanan dinas. Tapi mama menemani papa melakukan kemoteraphi untuk kanker kelenjar getah bening yang terlambat dideteksi.


Beberapa hari sebelumnya, papa iseng melakukan cek kesehatan karena kepalanya sering pusing. Tapi hasil yang di dapat membuat mereka terkejut dan terguncang.


Suaminya mengidap kanker kelenjar getah bening stadium tiga. Karena itu mama meminta ijin kantor untuk menemani suaminya melakukan kemoteraphi di kota lain. Mencegah ketahuan dari anaknya.


Mama dan papa belum sanggup mengatakan pada Wina. Mereka ngga mau putri tunggal mereka terpukul dan hilang keceriaannya.


*****


Akhirnya Eri dan Wina sampai di sebuah butik terkenal yang lengkap dengan salon mewahnya.


"Kenapa kita ke sini?"


Wina menatap dress yang dipakainya. Ini dress paling mahal miliknya. Seharga hampir satu juta.


Siapa tau mereka berkencan dengan pria kaya, dan ngga akan memalukan tampilannya jika digandeng.


Akhirnya Wina kemakan juga racun yang diberikan dua teman mengerikannya itu.


Alhasil dress ini baru dipakenya di acara reuni yang mempertemukannya dengan Ardan. Dan ini adalah kedua kalinya dia mengenakannya.


"Jangan tersinggung. Ini pesan dari Oma," kata Eri cepat sebelum Wina berubah pikiran.


"Untuk apa sih," kesal Wina. Dia ngga suka diperlakukan seperti ini. Apalagi Wina baru mengenal dokter Eri. Dengan Ardan pun Wina ngga pernah meminta apa apa. Prinsipnya dia bukan cewe matre, apalagi seperti yang dituduhkan mama Ardan.


"Demi oma, Win. Apa kamu mau lihat dia sesak nafas karena melihat kamu yang ngga sesuai ekspetasinya."


Ngomong apa, sih. Melantur aja. Ekspetasi apaan.


"Ya-ya," kata Eri dengan mata puppisnya.


Dengan kesal akhirnya Wina menurutinya.


Ternyata di dalam dayang dayang suruhan nenek gayung sudah menunggunya. Tanpa membuang waktu, mereka pun merapikan Wina.


Hasilnya membuat Eri terpana.


Cantik banget, batinnya ngga sadar memuji.


"Hey, malah melamun," ucap Wina sambil menggoyang goyangkan tangannya ke depan wajah Eri yang langsung tersadar.

__ADS_1


Eri pun tersenyum nakal.


"Ngga nyangka bisa cantik begini, aduuuh," ringisnya ketika Wina memukul bahunya dengan tas mahak limited edition nya.


"Hati hati rusak, Win. Itu cuma dipinjamkan," tukas Eri berbohong.


Wina sempat tertegun. Tapi ngga lama kemudian dia tetap melanjutkan memukul bahu dokter menyebalkan ini.


"Biarin. Bodoh amat," katanya cuek membuat Eri yang lari menghindar jadi tertawa.


Ngga mempan ditakuti rupanya, batin Eri ngakak.


"Pacar kamu namanya siapa? Mungkin aku kenal," kata Eri ketika sudah menjalankan mobilnya.


Wajah ceria Wina langsung muram. Dia malah memandang jauh dari jendela mobilnya.


"Sorry," respon Eri ngga enak karena sudah mengubah mood Wina.


Wina ngga menjawab. Udah seminggu lebih dia ngga bertemu Ardan. Blokir nomer Ardan pun belum dibukanya.


Tapi kata kata Gaga mengganggu pikirannya akhir akhir ini.


"Pacar kamu suka mabok sekarang. Aku hanya khawatir, sambil mabok dia nyetir sendiri mobilnya," kata Gaga dua hari yang lalu.


"Ini ketiga kalinya aku melihatnya mabok di bar yang sama."


"Ngapain kamu ke bar. Mabok juga?" tuduh Wina pura pura galak, untuk menyembunyikan keresahan hatinya tentang keadaan Ardan.


Gaga langsung menoyor jidatnya.


"Sembarangan. Aku ketemu klien lah."


"Ketemu klien kok di bar," sarkas Wina yang kembali mendapat toyoran Gaga.


"Ngga perlu kamu pikirkan. Yang harus kamu cemaskan itu pacarmu. Tiap malam mabok."


"Bukan pacarku lagi," jawab Wina pura pura cuek. Dia berusaha tetap menutup kran hatinya untuk Ardan.


Wina udah ngga ingin mendengar kabar Ardan. Hari harinya sudah mulai membaik dan normal, tapi kini malah terusik lagi oleh info Gaga.


"Anak orang Win. Kamu, kan, udah besar. Selesaikan masalah kalian baik baik. Bukan saling menghindar gini," nasihat Gaga.


Bukannya udah selesai. Udah putus kan, batin Wina dengan hati yang sudah mengeras.


"Dia tuh cinta banget sama kamu. Sampai patah hati gitu," kata Gaga lagi mengusiknya.


Wina masih diam. Hatinya masih cinta, rindu campur benci dengan Ardan. Tapi Wina udah ngga ingin berurusan lagi dengan laki laki itu.


"Aku ngomong gini biar kamu ngga nyesal nanti kalo ada apa apa sama Ardan. Bisa kapan aja si Ardan itu kecelakaan. Wong mabok gitu tetap nyetir."


Wina agak terhenyak mendengar kata kata terakhir Gaga sebelum pria telat nikah itu pergi meninggalkannya.


Jujur Wina takut kalo sesuatu yang buruk menimpa Ardan. Pasti dia akan sangat terpuruk. Apalagi kalo sampa Ardan benar benar kecelakaan, trus meninggal dunia. Kehilangan yang benar benar nyata.

__ADS_1


__ADS_2