Cinta Lama Saingan Tetap

Cinta Lama Saingan Tetap
Kepo


__ADS_3

"Jadi itu cowo lo... ganteng banget ya," puji Dewi saat melihat Wina di pantri. Masih ada waktu sepuluh menit, setelah di antar Ardan.


Wina hanya tersenyum kecil sambil mengaduk kopinya. Akhir akhir ini ia butuh menghirup aroma kopi untuk menenangkan pikirannya.


"Anak mana sih, kok aku seperti kenal ya." Dewi mengerutkan keningnya berusaha mengingat. Rasanya dulu pernah melihat cowo  seganteng itu. Tapi lupa dimana.


"Teman waktu SMA," jelas Wina akhirnya setelah menyesap kopinya.


" Rasanya pacarmu itu cukup populer jaman kita SMA. Cuma aku lupa."


" Itu lo Wi, yang dulu suka balap motor. Iya kan Win?" Sambar Sita yang baru aja masuk ke pantri.


"Oiya... dulu waktu SMA aku pernah nonton pas dia balap. Sering menang tu," sambut Dewi antusias.


"Kamu sejak kapan pacaran sama Ardan?" Selidik Sita. Penasaran juga, soalnya Wina agak tertutup soal cowo. Ga seperti dirinya dan Dewi yang suka heboh dan ga tau malu cerita tentang cowo cowo mereka.


"Iya, sejak kapan kamu jadi pacar Ardan? " kali ini Dewi menatap Wina tajam. Agak aneh aja kalo seorang Ardan memilih Wina sebagai pacarnya.


"Ya baru aja," jawab Wina malas.

__ADS_1


Dewi melirik Sita sebelum berucap. " Sejak lulus sma aku ga tau sih peredaran Ardan. Waktu kita sma, aku dengar kabar pacarnya banyak."


"Waktu di arena balap aja, banyak cewe cantik berebutan nempel sama dia. Dia pernah juara juga kan beberapa kali. Trus dia kuliah di Australia, gitu sih yang aku tau," sambung Sita.


"Kamu serius mau pacaran sama dia? Berat di saingan lo, Win," tukas Dewi lagi.


"Selain cewe dalam negeri, juga bule. Bisa ga tenang hidup lo,," cecar Sita penuh semangat.


"Tapi Ardan memang keren banget. Jadi mantannya aja pasti udah bahagia ya," sarkas Sita lagi.


Wina cuma bisa membuang nafas mangkel mendengqr komen sahabatnya, gini lo mamanya sahabat, deliknya dalam hati. Tanpa mempedulikan keduanya, Wina pergi meninggalkan pantri.


"Aku ada rapat bentar lagi."


"Jangan marah Win. Kita cuna kepo aja," ujar Sita ngga enak hati.


Wina cuma tersenyum kecil. " Iya."


"Kamu kapan pastinya jadian sama Ardan?" Sita masih penasaran.

__ADS_1


"Belum lama. Dulu sma pernah dekat, terus bubar gitu aja. Sekarang nyambung lagi," jelas Wina akhirnya.


"Lo, clbk ya," cibir Dewi ngakak.


"Ya gitu. Udah ya." Kata Wina sambil melambaikan tangannya dan masuk ke ruangannya. Males banget dengerin obrolan ngga bermanfaat.


Dewi dan Sita saling menatap.


"Pantasan tu anak ngga punya pacar selama kerja bareng kita. Mantannya ga kuat." Sita menggelemgkan kepalanya.


"Ngga nyangka kalo Wina pernah pacaran sama Ardan. Sejak sma aku ngga pernah ketenu Wina sih. Memang SMA Wina banyak cowo cakep dan populer."  Dewi menghela nafas. Salut sama teman cueknya itu. Seakan ga peduli sama cowo, ternyata mantannya bukan abal abal, malah balikan lagi sekarang.


"Mungkin dulu Wina putus karena ngga tahan di dua in atau di tigain sama Ardan." Sita ngikik mendengar praduganya sendiri. Apa sekarang Wina udah kuat mentalnya yah makanya mau balik lagi?


Dewi juga ikut ketawa mendengar dugaan teman ga benarnya itu. Harus kuat mental untuk berada di samping Ardan. Apalagi Wina bukan cewe gaul dan modis yang biasa menempel dengan Ardan. Kenapa cowo sekeren dan setajir Ardan bisa menyukai cewe kalem seperti Wina ya, batinnya terus aja heran.


" Kerja Woii, gosip aja," seu Adhi mengagetkan.


" Dasar kaget tau," sentak Dewi kesal. Muncul tiba tiba seperti jin aja, makinya dalan hati. Sita pun ikut memelototi Adhi.

__ADS_1


Adhi hanya ketawa senang karena berhasil membuat kaget kedua sohibnya itu.


__ADS_2