Cinta Lama Saingan Tetap

Cinta Lama Saingan Tetap
Dibantu dokter Eri


__ADS_3

Hp Wina bergetar. Padahal dia lagi sibuk sibuknya. Akhirnya terpaksa juga dia angkat.


Dokter Eri?


"Iya, dokter ada apa?" tanya Wina dengan suara dibuat sebaik mungkin.


"Mama pacarmu di ICU sekarang?"


"Benarkah?"


Walaupun Wina ngga suka dengan mama Ardan, tapi mendengar wanita yang sudah melahirkan laki laki mata keranjang yang dia cintai, Wina merasa cemas juga


"Tadi malam. Kena serangan jantung. Ardan lagi di kerubungi dua gadis gadis cantik," kata dokter Eri menggodanya.


Haaahh? Dua orang? Dewi dan gadis itu kah? tebak Wina kesal dalam hati.


Terdengar tawa pelan dokter Eri.


Dasar dokter kurang ajar. Ngasih berita sedih malah sempat sempatnya tertawa, batinnya sebel.


"Kamu mau ke sini ngga? Nanti aku kirimkan supir ke sana?"


Haahh? Kenapa dia jadi baik? kaget lagi Wina membatin.


Dia kesambet?)


"Ngga usah dokter..Saya lagi sibuk juga," tolaknya halus.


Bukannya Wina ngga mau ketenu Ardan dan menguatkan hatinya. Tapi dia ngga mau bertemu dua gadia cantik itu.


"Nanti aku mintakan ijin sama Om Endi. Kamu siap siap aja. Bentar lagi supirku ke situ," kata dokter Eri sambil menutup sambungan telpon.


Eh, kan aku belum setuju, batinnya kesal.


Tapi Wina membereskan juga meja kerjanya dengan deg degan.


Dokter Eri kenal sama bosnya? Sampai sampai mau mintakan ijin untuknya?


Nggak.lama kemudian telpon di mejanya berbunyi.


"Win, kamu boleh ijin pulang. Mama pacarmu sekaramg di rumah sakit," kata bos Endi begitu Wina mengangkat telponnya.


"Iya, Pak. Makasih," kata Wina ngga enak mau menolak Aneh aja rasanya Pak Endi dengan mudahnya memberi ijin ketika dokter Eri yang minta.


"Ya udah. Om tutup.dulu telponnya."


"I... ya, Pak," kata Wina gugup. Dia baru bisa bernafas lega setelah Pak Endi menutup telponnya.


"Kamu mau ke mana?" tanya mba Siwi heran melihat Wina sudah merapikan mejanya.


"Aku ijin pulang mbak," ucapnya pelan.


"Kenapa? Kerjaan kita masih banyak lho," ucap mba Siwi agak kesal.


"Ke... keluargaku ada yang masuk ke rumah sakit," ucap Wina agak gugup. Merasa ngga enak, karena memang pekerjaan lagi banyak banyaknya.


"Emm... aku ngerjain di rumah sakit ntar, mbak," sambung Wina lagi.


"Siapa yang sakit? Maaf aku ngga tau," kata mba Siwi merasa bersalah karena sudah mengira Wina ijin mau jalan jalan dengan pacarnya.

__ADS_1


"Itu-."


"Win, ada supir di bawah nungguin Lo," kata Dewi yang tiba tiba membuka pintu dan membuatnya ngga jadi memberitau mba Siwi.


Tapi Wina pun bersyukur karena kedatangan Dewi membuat dia ngga jadi mengatakan yang sebenarnya.


"Oh iya," katanya langsung bangkit dari duduknya.


"Hati hati ya. Semoga cepat sembuh yang sakit, Win" ucap mba Siwi perhatian.


"Makasih, mba. Aku nanti akan tetap mgerjain di rumah sakit," janji Wina.


"Ngga pa pa, Win. Kamu konsen aja merawat yang sakit," kata mba Siwi lembut.


Wina hanya mengangguk karena Dewi sudah menyeretnya.


Wina ngga yakin akan bisa merawat mama Ardan. Yang ada Wina akan diusir kalo mama Ardan sudah sadar.


****


Di sinilah Wina sekarang. Supir dokter Eri sudah mengantarnya di depan rumah sakit.


Wina ragu, haruskah dia masuk? Bukankan udah ada gadis gadis yang menghibur Ardan.


Wina menarik nafas panjang. Tapi dia terkejut melihat seseorang yang berjalan cepat ke arahnya sambil tersenyum.


Ardan. Dia nampak berantakan tapi tetap aja tampan. Sepertinya Ardan masih memakai kemejanya yang tadi malam. Wajah lelahnya tersenyum senang melihat Wina.


"Aku pikir Eri berbohong kalo kamu menunggu di luar rumah sakit," katanya setelah berada di dekat Wina.


"Tadi aku ke sini dengan supir dokter Eri. Mama kamu ginama?" tanya Wina agak cemas.


Wina kaget karena merasa tangan Ardan yang agak panas.


"Kamu demam?" tanya Wina makin cemas.


"Sedikit," kata Ardan sambil menyandarkan kepalanya di ceruk leher Wina.


Ardan merasa kepalanya sangat pusing. Tapi dia berusaha bertahan dan terlihat kuat.


Wina tambah cemas karena merasakan hawa panas yang mengalir ke lehernya.


"Kita cari makan ya. Kamu pasti belum makan," kata Wina sambil memijat tangan Ardan yang menggenggamnya. Sudah hampir jam makan siang.


"Aku mau pulang ke apartemen. Bisakah kamu ikut?" tanya Ardan yang sudah menarik kepalanya dari ceruk leher Wina, dan kini menatapnya dalam.


"Ya, aku akan mengantarkan kamu pulang," jawab Wina membuat Ardan tersenyum sambil menahan pusing di kepalanya.


"Kamu bawa mobil?" tanya Wina sambil melihat sekitar parkiran rumah sakit, tapi ngga melihat mobil merah Ardan.


"Ngga, tadi aku bareng papa," ucapnya pelan sambil menempelkan lagi kepalanya di leher Wina. Wina kembali merasakan sengatan panas si lehernya.


"Oke, kita naik taksi," kata Wina sambil melambaikan tangannya pada salah satu taksi yang terparkir.


Begitu masuk ke dalam taksi, Ardan langsung mengandarkan kepalanya di bahu Wina. Rasanya pusing dan mual.


"Alamatnya mbak?" tanya pak supir sambil menoleh pada Wina.


Ardan yang menjawab dan langsung di angguki pak supir.

__ADS_1


Wina terdiam. Apartemen yang disebut Ardan itu terkenal mewah. Wina memang belum pernah maen ke apartemen itu selama mereka menjadi kekasih yang hanya sebentar, hanya beberapa bulan.


"Apa yang kamu rasakan? Pusing, mual?" tanya Wina yang menatap mata Ardan yang terpejam.


"Iya."


Wina pun membaringkan Ardan di pangkuannya.


"Tidurlah bentar," kata Wina lembut.


Ardan membuka matanya sebentar.


"Makasih. Maaf malah merepotkan," ucap Ardan pelan. Tanpa menunggu jawaban Wina, Ardan pun memejamkan mata karena rasa pusing yang hebat di kepalanya.


"Pak, kalo lewat apotik sama tempat bubur ayam, tolong mampir ya," kata Wina sambil membelai rambut tebal Ardan.


"Iya, mbak," ucap pak yang juga menyadari kalo salah satu penumpangnya sakit.


"Kenapa suaminya ngga dirawat aja, mbak. Mbak berdua kan tadi dari rumah sakit," kata pak supir kepo


Suami?


DEG


Jantung Wina berdebar keras.


"Em,,, ngga mau dianya, pak, jawab Wina sekenanya.


"Oh, mungkin cuma maunya dirawat sama mbakya," kekeh pak supir.


Wina ngga menanggapi, hatinya kesal mendengar ucapan Pak Supir.


Supir kurang ajar. Kepo banget, sih.


Kalo saja pak supir masih muda, udah Wina timpuk pake tas laptopnya.


Ardan tersenyum dengan matanya yang terpejam. Tentu aja dia lebih suka dirawat Wina dari pada dirawat di rumah sakit.


Apalagi ada Tiara dan Dina. Kalo Dina, wajar dia tau, karena Dina dokter di situ. Tapi Tiara tau dari mana?


Perasaannya dengan Tiara pun cuma sekedar menuruti keisengannya saja. Ngga ada secuil pun yang tinggal.


*


Untung tadi ada seorang perawat yang memanggilnya ke ruang administrasi. Walaupun heran karena sudah mengurusnya tadi malam, Ardan menurut saja. Dia lega terbebas dari dua gadis yang ngga diharapkannya.


Tapi Ardan heran karena perawat itu membawanya ke ruangan dokter Eri yang langsung saja menyeretnya ke luar rumah sakit.


"Ada apa dokter?" tanya Ardan yang merasa kepalanya tambah pusing.


Dokter Eri menghentikan langkahnya beberapa meter dari pintu masuk. Bibirnya tersenyum melihat mobilnya sudah parkir di depan.


"Di depan ada Wina."


Ardan yang awalnya ngga semangat menatap ke depan ngga percaya.


Matanya berbinar. Winanya turun dari mobil.


"Sekalian sakit Lo diobatin Wina," kata dokter Eri sambil pergi setelah sebelumnya mengedipkan sebelah matanya.

__ADS_1


__ADS_2