Cinta Lama Saingan Tetap

Cinta Lama Saingan Tetap
Hati Ardan


__ADS_3

Akhirnya mobil yang dibawa Ardan berhenti di depan kantor Wina. Keduanya masih diam. Ardan menatap Wina yang masih memalingkan wajahnya ke jendela di sampingnya.


Ardan menghela nafas panjang. Melihat reaksi Wina yang diam sepanjang perjalanan membuat hatinya ketar ketir juga. 


"Win," panggil Ardan pelan.


Wina menoleh dan menatap Ardan dalam, seakan ingin menyelami hati kekasihnya.


"Aku minta kamu sabar ya. Jangan minta putus lagi. Aku ga bisa." Sepasang mata lembut Ardan balas menatap Wina.


"Aku akan terus memberi pengertian pada mama. Cuma kamu yang aku mau. Just only you," kata Ardan sangat lembut sampai membuat mata bening Wina berkaca kaca.


"Ardan, aku ga mau menyakiti mama kamu. Aku ga mau mama kamu kecewa sama kamu," ungkap Wina lirih. 


Ardan menggenggam tangan Wina. " Mama juga suka sama kamu. Percaya sama aku."


Wina menatap tangan Ardan yang menggenggam tangannya sedih. Secara halus mama Ardan sudah menyiratkan kalo beliau sangat menginginkan Dina jadi mantunya. Apa dia masih bisa berharap.  Perlahan Wina menarik tangannya dari genggaman Ardan.


"Aku masuk ke kantor dulu ya, bentar lagi jam kerja," ucapnya masih lirih.


Ardan menganggukkan kepalanya. Tangannya membelai rambut depan Wina dengan penuh perasaan.


"Pulangnya  aku jemput ya." Bibir Ardan mengulas senyum hangatnya ketika melihat anggukan Wina.


"Sebentar," ucap Ardan sambil membukakan pintu mobil Wina. 


Wina menahan nafas karena posisi Ardan yang begitu dekat dengannya saat melepaskan safe belt dan membukakan pintu mobil di sampingnya. Dengan gugup Wina menatap Ardan. Kedekatan sesaat tadi menimbulkan sensasi yang lain di hatinya.


"Tunggu aku jemput nanti ya. Kita bicarakan lagi."


"Iya." Wina melangkahkan kakinya keluar dari mobil, menatap Ardan sebentar, lalu melangkahkan kakinya cepat nemasuki kantornya.


Ardan terus melihat sampai Wina menghilang ke dalam kantornya, baru dia pergi perlahan dengan mobilnya. Pikirannya pun bercabang. Ingatan akan kata kata mamanya akan kedatangan keluarga Dina untuk makan malam cukup mengganggunya.


Akhirnya Ardan melajukan mobilnya ke kantor. Sebentar lagi dia akan meeting penting. Papanya sudah mulai mempercayainya. Dia harus tunjukkan ke papa kalo dia adalah orang yang bertanggung jawab.


Cukup sudah bersenang senang selama ini. Ardan akan mulai fokus untuk masa depannya bersama Wina. Dia harus bisa meyakinkan mamanya untuk pilihan hatinya. Wina, bukan Dina.


***


"Hebat kamu Ardan, Pak Zen tadi memuji mu," kata Papa Ardan bangga sambil menepuk nepuk bahunya. Meeting berakhir sukses walaupun sempat berjalan alot. Siapa yang ga kenal Pak Zen yang terkenal sangat teliti dalam memperhitungkan modal dan keuntungan. Apalagi kerjasama ini mempertaruhkan modal yang sangat besar dengan tentu saja keuntungan yang berlipat lipat dari modal yang dikeluarkan.


Ardan teraenyum puas. Akhirnya papanya memujinya setelah sekian lama pusing dengan kelakuannya.

__ADS_1


"Tadi Pak Zen menawarkan makan malam di rumahnya. Mau ngenalin kamu dengan putri sulungnya yang jadi model. Kebetulan putri sulungnya sekarang di rumah," kata papanya diikuti senyum lebarnya. 


Inilah yang Ardan ga suka. Semakin dia menunjukan kepintarannya, semakin banyak undangan makan malam berbau perjodohan.


"Malam ini kan keluarga Dina mau datang, Pa." Ardan mengingatkan papanya.


Papanya langsung menepuk jidat tanda lupa.


"Untung Papa belum meng iya kan," tukasnya lagi. " Ya udah, besok aja makan malamnya dengan Pak Zen," lanjutnya setelah berpikir sejenak.


Ardan menggaruk kepalanya yang ga gatal. Kapan dia bisa ngajak Wina makan malam, keluh hatinya kesal.


"Pa, tapi aku ga mau dijodohkan sama siapa pun ya. Aku sudah ada yang punya," kata Ardan akhirnya.


Papanya tergelak mendemgarnya. Istrinya sudah menceritakan kalau Ardan menolak untuk dijodohkan dengam Dina. Anak itu keliatan terpaksa menuruti keinginan mamanya untuk menemani Dina.


"Siapa yang punya kamu selain mama dan papa?" goda papa setelah tawanya terhenti karena melihat ekspresi kesal putra satu satunya.


"Papa pasti udah tau kan," jawabnya malas. Ngga mungkin mamanya ngga menceritakan semua keluhannya pada suami tercintanya.


"Wina,,, cuma beda huruf awal aja." Papa hampir tegelak kalo tidak melihat ekspresi kesal anaknya. Akhirnya cuma bisa tersenyum geli.


"Ok. Anggap saja cuma perkenalan biasa. Sekarang kan bukan jaman siti nurbaya," kata Papa lagi karena melihat putranya masih diam dengan wajah kesalnya.


"Tapi keluarganya bukan pebisnis seperti kita Pa. Papa dan Mamanya guru  SMU," jelas Ardan ragu. Apakah papanya akan bereaksi sama dengan mamanya. Kurang begitu suka?


"Ya nggak apa. Nanti kamu bisa menilai sendiri. Keluarga Wina keluarga pendidik, keluarga Dina dokter semua, Pak Zen pemgusaha  begitu juga dengan Pak Sanif dan Pak Wili. Oiya, mereka juga menanyakan kabar mu." Kembali Papanya tersenyum. Sejak anaknya mulai serius membantunya di perusahaan, bahkan sukses menghandle proyek proyek besar, banyak relasinya yang ingin memgambilnya jadi menantu. Padahal sebelumnya hanya beberapa saja. Bahkan papanya Dina juga sempat meragukan kemampuan Ardan karena kebiasaannya mabuk dan ikut balap liar. Walaupun Ardan juga pernah ikut kompetisi balap yang legal.dan meraih beberapa piala.


"Ngga gitulah Pa. Aku ga mau bandingin keluarga Wina dengan yang lain," kata Ardan tegas.


"Ok, mau kamu gimana?" Tantang Papanya.


"Kita bertamu ke rumah Wina. Soal makan malam atau ngga, terserah keluarga Wina Pa," jelas Ardan lagi.


Papanya tersenyum kemudian menepuk bahunya sambil menyandarkan di meja kerja anaknya.


"Wina kerja dimana?"


"Di Bank *** Pa."


"Teller?"


"Bukan Pa, tapi bagian analisis data." Untung Ardan sempat tanya posisi kerja Wina.

__ADS_1


"Sejak kapan kamu kenal Wina?" Papa benar benar ingin tau. Matanya menatap penuh selidik.


"Sejak SMU Pa. Aku udah suka sama dia. Cuma aku bingung waktu dulu. Soalnya banyak yang cantik cantik deketin aku Pa," jawab Ardan enteng membuat papanya tersenyum miring.


"Itu yang papa takutkan. Kamu ngga tahan lihat yang bening," kekeh papa akhirnya.


Ardan ga marah, hanya menggusar rambutnya. "Karena itu aku nyesal Pa. Lima tahun aku sama sekali ga pernah ketemu Wina. Setelah lulus kuliah dan balik ke sini, aku baru ketemu dia."


"Terus kamu suka sama dia lagi?" pancing papa.


"Iya Pa. Aku sempat pacaran sama Dina, aku ngerasa ada yang kurang. Waktu kuliah aku juga sempat beberapa kali pacaran,  tapi aku juga ngerasa gitu Pa. Aku selalu ingat dia, tapi aku ga nyari sih. Perasaaanku masih abu abu," jelas Ardan panjang lebar. Papa mendengar dengan serius.


"Saat reuni, kami ketemu. Di situ aku ngerasa perasaanku memang untuk Wina Pa. Aku ga akan ngelepas dia lagi," sambung Ardan yakin.


"Kamu belum ketemu putrinya Pak Zen. Kata teman teman Papa, dia sangat cantik. Takut kamu oleng. Sebentar, dia sempat jadi cover majalah ****. Itu bukan majalah porno, tapi majalah luar yang berisi model model selain cantik juga cerdas," kata Papa sambil melipat kedua tangannya di dada. 


"Aku juga pernah pacaran sama model waktu kuliah Pa. Ya, cantik sih relatif Pa.Tapi nurut aku, ada sesuatu di Wina," bantah Ardan yakin.


Papa tersenyum. Lalu berjalan ke sofa dan mengambil sesuatu di tas nya.


"Ini, tadi Pak Zen kasih majalah ini pada Papa." Papa mengulurkan majalah yang berisi cover seorang gadis yang sangat cantik yang berbalut gaun yang sangat indah.


"Setelah SMU, putrinya  sekolah mode di Paris. Dan menjadi model di sana. Bahkan dia dikontrak oleh brand terkenal," jelas papanya.


Mata Ardan menatap kagum sesaat akan kecantikan gadis yang seperti barbie ini. Dia tersenyum ke arah papanya.


"Ardan akui, putri Pak Zen sangat cantik Pa. Tapi Ardan sudah memantapkan hati untuk Wina." Tegas Ardan menjawab. Waktu dia masih sibuk balapan, cewe cewe cantik seperti ini slalu mengantri dimana pun dia berada. Ardan memang bukan cowo baik baik, tapi dia ga sampai kebablasan dalam berhubungan. 


"Baiklah. Sekarang apa yang bisa Papa lakukan?"


"Tolong bantu Ardan yakinkan mama akan pilihan Ardan Pa. Wina ga mau sama Ardan kalo Mama ga merestui." Ardan menatap papanya menohon.


"Wina mau melepas kamu?"


"Iya Pa. Tapi kali ini Ardan ga akan mau."


"Emang dulu kamu pernah mau?" Pancing papa ingin tau. Sepertinya anaknya mengalami cinta lama bersemi kembali. Alias ga bisa move on dr mantan.


"Waktu SMU sih Pa. Aku sempat milih Dina. Tapi itu karena mama juga yang suka nyuruh aku antar jemput Dina. Wina langsung nge hindar. Waktu itu aku ga berpikir jauh. Mana  yang mau sama aku aja Pa," jawab Ardan ringan dan setelahnya dia tertawa diikuti papanya.


"Dasar kamunya.  Tapi sekarang kok Wina mau lagi sama kamu?"


"Butuh perjuangan Pa buat dapatin Wina yang sekarang. Makanya ga akan aku lepasin."

__ADS_1


"Ya yah, Papa maklum. Nanti Papa akan coba ngomong sama Mama ya." Kembali Papa menepuk bahunya penuh sayang.


__ADS_2