
Ardan kembali meeting dengan Tiara. Bahkan gadis sangat cantik itu membawa makan siang untuk mereka.
"Ngga ada janjian makan siang, kan?" tanya Tiara dengan senyum manisnya.
Ardan tertawa kecil sambil menggelengkan kepalanya.
"Ngga sih. Aku memang pengen makan siang di kantor aja."
"Syukurlah," ucap Tiara lega.
"Kita kerja dulu ngga apa ya. Wadah yang aku bawa bisa nyimpan panas. Nanti makanannya akan tetap hangat," kata Tiara sambil mengeluarkan laptopnya.
Karena roknya yang pendek, saat dia duduk, paha putihnya tersingkap.
Ardan tau gadis ini memancingnya.
"Oke," ucap Ardan melanjutkan kembali kerjaannya tanpa mempedulikan hidangan yang ada di depan matanya.
Tiara tambah kagum melihat sikap Ardan yang tetap sopan dan sama sekali tidak menunjukkan tatapan nakalnya.
Apa benar dia sudah punya pacar? Seperti apa perempuan yang dia suka? Tiara terus saja bertanya tanya dalam hati.
Tapi melihat Ardan yang serius dalam bekerja membuat Tiara melupakan niat awalnya untuk menarik perhatian Ardan dengan kecantikannya.
*****
Wina termenung membaca pesan yang dikirim Mama Ardan. Mama Ardan memintanya mengantarkan makan siang Ardan ke perusahaannya. Makan siang tadi dikirimkan melalui ojol.
Wina merasa rikuh untuk menemui Ardan di perusahaannya.
Ardan juga belum pernah mengajaknya ke perusahaannya.
Wina menghela nafas panjang. Sekarang dia sudah berada di depan resepsionis. Makanan untuk Ardan pun sudah dibawanya
Mama Ardan sengaja menitipkan makan siang buat anaknya.
Mamanya Ardan takut Ardan bosan dengan menu di kantin, karena udah dua minggu ini Ardan makan di kantor.
"Ada yang bisa di bantu, mbak?" tanya salah satu pegawai Resepsionis dengan ramah.
"Emm, saya ingin menemui Bapak Ardan. Mamanya meminta saya mengirimkan makan siang," ucap Wina canggung.
Kedua pegawai resepsionis itu menatap Wina antara percaya dan ngga percaya.
"Sebentar, saya akan menelpon mamanya," ucap Wina lagi agar dipercaya oleh dua pegawau cantik itu.
Tapi apesnya, no telp Mama
Ardan ngga aktif.
Dua kali dia coba tetap saja ngga bisa. Wina mencoba menelpon Ardan tapi ngga diangkat juga.
Wina merasa dua pegawai resesionis memgejeknya dalam tatapan mereka.
__ADS_1
Dari pada dimakan dua pegawai itu lebih baik aku bawa pulang, putus Wina dalam hati.
"Ngga jadi mbak," kata Wina sambil membalikkan badannya dan melangkah pergi.
"Lho Wina, kamu di sini?" tanya Papa Ardan yang baru keluar dari lift dengan beberapa orang rekan bisnisnya.
Kedua resepsionis yang tadi mengejeknya melalui tatapan dan senyuman menjadi pucat, melihat pemilik perusahaan menyapa gadis yang ditolak mereka dengan sangat ramah.
"Iya, Om.Tadi tante minta tolong mengantarkan makan siang Ardan," jawab Wina sambil melirik puas pada wajah pucat dua pegawai resepsionis itu.
"Trus kok ngga langsung naik lift?" tanya Papa Ardan heran.
"Ardan ngga menjawab telpon tadi Om."
Papa Ardan tau ini pasti ulah istri nya. Istrinya tau kalo selama bekerja Ardan akan mensilentkan hpnya. Tapi gadis ini tidak marah dan memarahi pegawai resepsionisnya.
"Tuty, Lena, kalo nona Wina ke sini lagi, suruh langsung menemui Pak Ardan. Paham," ucap Papa Ardan dingin.
Walaupun dia masih ragu dengan kelabilan putranya, Wina saat ini adalah kekasih putranya. Pewaris perusahaan yang harus dihormati.
"Iya, Pak. Nona, maaf kan kamI," kata Tuty dan Lena bersamaan. Mereka sampai menemui Wina sambil menundukkan kepalanya.
Antara malu dan rasa bersalah. juga takut dipecat. Entah apa hubungan Nona ini dengan bos besarnya.
"Iya ngga pa pa," ucapnya tetap baik.
Papa Ardan salut dengan kepribadian Wina yang mudah memaafkan. Padahal dia bisa mengadu padanya akan sikap tidak sopan dua pegawainya.
"iya Om."
Wina pun mengikuti langkah Papa Ardan.
"Mama Ardan benar. Kamu harus sering sering menemui Ardan di kantor," ucap Papa Ardan ramah.
Wina tersenyum rikuh melihat keramahan Papa Ardan.
*****
Ngga terasa, jam makan siang pun tiba.
"Aku siapin ya makan siangnya," ucap Tiara manja. Gadis itu langsung berdiri. Mungkin karena kelamaan duduk, tubuhnya limbung dan hampir jatuh. Ardan pun reflek menahan gadis itu seakan sedang memeluknya.
Tiara yang melingkarkan tangannya di leher Ardan dengan berani mengecup bibir pria itu.
Suara pintu yang terbuka membuat Tiara menjauhkan bibirnya.
Ardan yang masih menahan tubuh Tiara jadi mematung begitu melihat siapa yang datang.
Papa yang menatapnya tenang dan di sebelah papa yang membuat Ardan merasa tertangkap basah sudah selingkuh.
"Om, titip. Saya langsung pulang," kata Wina langsung mencantelkan paper bag ke tangan Papa Ardan.
Memang tidak sopan, tapi Wina udah ngga bisa berpikir lagi. Dadanya terasa sangat sesak. Dia melihat ketika mereka saling menjauhi bibir masing masing.
__ADS_1
Wina melihat tangan gadis itu membelit leher Ardan dan tangan Ardan di pinggang gadis itu.
Wina langsung bergegas pergi.
Bodoh. Dia memang bodoh.
Untung lift yang tadi membawanya naik telah terbuka karena ada seorang pegawai wanita yang memasukinya. Jadi Wina bisa secepatnya kabur dari Ardan.
Ardan melepas paksa tangan Tiara di lehernya dan berlari mengejar Wina dengan melewati papanya.
Bajunya basah oleh keringat dingin. Bayangan ketakutan akan ditinggal Wina semakin dekat.
Sial, lift CEO sedang di perbaiki.
Dengan nekat, Ardan melewati tangga darurat.
Sementara Wina yang sudah mencapai loby berjalan tergesa gesa ke luar dari perusahaan Ardan. Hatinya begitu sakit.
Sengajakah Mama Ardan melakukan ini agar Wina tau kelakuan Ardan di perusahaan?
Wina pun mencegat taksi yang lewat dan langsung meminta di antar ke alamat rumahnya.
Air matanya mengalir. Wina pun mengetikkan pesan pada Mba Siwi yang satu divisi dengannya. Kalo siang ini minta diijinkan pulang karena kurang sehat. Setelahnya Wina memblokir no hp Ardan.
Cukup Win.
Setelah setengah jam, Ardan dengan nafas memburu melewati lobi, memperhatikan sekitarnya.
Dia sudah membuat kesalahan fatal. Sangat fatal.
Ardan mengatur nafasnya yang belum normal. Kakinya rasanya mau patah.
"Ini yang papa takutkan. Kamu belum bisa setia dalam berkomitmen."
Ardan menatap papanya yang sudah berdiri di sampingnya dengan kesal.
"Kenapa ngga ngasih tau Ardan kalo Wina datang, Pa."
"Wina beberapa kali menelpon kamu. Tapi kamu ngga angkat. Mamamu menitipkan makan siang buat mu dan meminta Wina mengantarkannya," jelas papa panjang lebar.
Ardan pun mengambil hp yang di silent nya selama dia bekerja.
Hatinya mencelos melihat dua kali Wina menelponnya tapi ngga diangkat olehnya.
"Tadi Wina hampir pulang karena resepsionis ngga ijinin dia masuk. Untung papa baru selesai meeting dan melihatnya."
"Sekarang Wina pasti sudah balik ke kantornya," lanjut papa lagi.
Dia merasa kasian dengan anaknya yang masih tampak kelelahan menuruni enam lantai lewat tangga darurat.
Rencana mama berhasil, sarkasnya dalam hati.
Sekarang Wina pasti akan langsung mundur dan melupakan Ardan.
__ADS_1