
"Hai, nanti ikut aku makan siang lagi ya," kata bos Gaga tiba tiba mampir di pantri tempat teman teman cewenya biasa ngumpul.
"Dokter Eri sama dokter Ilham ikut, kan?" tanya Dewi antusias.
Sita juga ikut menatap Gaga penuh harap.
Salah satu harus dapat, niatnya dalan hati.
"Iya ikut. Manajer Tedi juga ikut," timbrung Adhi yang juga muncul di ruang pantri.
"Cie cie.... dokter Safa juga ada dong," goda Sita membuat mereka tertawa berderai derai.
Wina pun tersenyum. Udah beberapa hari berlalu. Ardan pun sudah tidak menghubunginya lagi. Tentu aja ngga bisa karena sudah Wina blokir.
Wina.sudah putuskan untuk melupakan Ardan. Benar benar lupa. Tapi tetap ngga bisa. Dia malah merindukan Ardan.
Untunglah teman temannya selalu menghiburnya.
Berpisah setelah orang tua mereka saling mengenal. Sangat berat rasanya. Rasanya lebih berat dari dulu. Saat hanya mereka saja yang tau hubungan mereka.
Wina tersenyum saat tangan Gaga mampir di pundaknya. Wina balas tersenyum.
Wina tau, Gaga sedang berusaha menghiburnya. Melihat teman temannya yang sedang tertawa membuat dukanya sedikit terangkat.
****
Akhirnya mereka pun berkumpul. Wina merasa agak canggung bertemu dengan dokter Eri. Tapi untunglah sikap dokter Eri biasa saja membuat Wina merasa nyaman.
"Kredit lancar, Bro,"usik menejer Tedi pada Gaga.
"Meningkat," kekeh Gaga diikuti tawa teman temannya.
Bisa bahaya kalo banyak macet, batin Adhi mencibir.
Saling bahayanya bisa merusak hubungan pertemanan mereka. Karena mereka termasuk yang bakal di caci, terutama Adhi yang jadi bawahan langsung Gaga.
"Pasti selektif ya nge cairin dana kreditan," timpal Ilham penuh makna.
Setahunya, bank milik keluarga Gaga memgkhususkan pada pencairan dana untuk perusahaan perusahaan besar. Makanya yang bekerja di situ pasti akan terlihat lebih bonafide.
"Betul. Kita mesti cek dan ricek aliran dananya. Kalo keuntungan minimal di atas tiga puluh persen, baru boleh dicairkan," tambah Adhi menginfokan.
__ADS_1
"Kalo buat beli rumah bisa kredit di sana?" tanya Tedi serius.
"Bisa, tapi rumah yang harganya minimal satu em," sahut Sita bersemangat.
Calon suami berkualitas nih, batinnya mulai melirik nakal Tedi.
Sita dikaruniai wajah cantik.dan body gitar spanyolnya. Kerjanya pun di bank di divisi keuangan yang biasa berhubungan dengan bos bos kaya.
Sudah beberapa kali dia berganti pasangan karena belum sesuai dengan tingkat tajir yang dia inginkan. Pasti Tedi akan mudah digodanya.
Sebenarnya sasarannya dokter Eri. Tapi dia ingin tau dulu
seberapa kayanya Tedi.
"Wah, kita memang sedang ngincar cluster Baverly. Minimal kan dua em," cetus dokter Ilham membuat hati Sita terkejut.
Penampilan dokter Ilham terkesan sederhana. Kemeja yang dikenakannya paling tiga ratus ribuan. Jam tangannya pun biasa aja. Ditaksir Sita hanya sekitar dua jutaan. Beda dengan menejer Tedi dan dokter Eri. Mereka memakai Rolex. Walau kw, harga rolex yang dipake mereka ditaksir Sita sekitar dua puluh jutaan. Sita pernah melihat yang seperti itu dipake salah satu mantan pacarnya, yang sama sepertinya penyuka barang barang kw.
Kata mantan pacarnya harga rolex kw itu dua puluh jutaan.
Dewi mulai mengamati Sita yang terlihat sedang mengamati dokter Ilham dan menejer Tedi penuh minat.
Hari ini dia sama seperti Wina. Memilih diam dan hanya ikut tersenyum saja. Dia pun bernasib sama dengan Wina. Patah hati.
Dua hari lalu tepatnya. Dimas mengajaknya makan berdua di kafe yang agak jauh dari kantor.
"Aku mau ngomong serius," kata Dimas setelah mereka usai menyantap makan siamg mereka.
Dewi merasa jantungnya berdetak beda ngga seperti biasanya. Ada firasat aneh yang dia rasakan tiba tiba merasuki rongga dadanya membuat dia merasa ngga nyaman.
"Kita putus ya," kata Dimas pelan sambil menatap dalam mata Dewi.
Dewi terhenyak. Ekspresinya benar benar kaget luar biasa. Dia sampai bengong. Bahkan Dimas sampai dua kali memanggil namanya untuk menyadarkannya.
Seketika Dewi merasa mual. Seluruh makanan yang tadi ditelannya naik ke atas tenggorokannya.
Tanpa pamit dia lari ke toilet kafe. Untung sepi. Dia memuntahkan semua isi perutnya.
TOK TOK TOK!
"Dew, kamu ngga apa apa?" tanya Dimas cemas..Dia langsung menyusul mantan(?) kekasihnya ke toilet sambil membawa tas tenteng Dewi.
__ADS_1
Dewi ngga menyahut. Setelah membersihkan sisa muntahannya, dia pun keluar dari toilet.
"Kamu ngga pa pa?" tanya Dimas sangat cemas melihat wajah pucat Dewi.
Dewi hanya menggeleng. Diapun meraih tas tentengannya dan berjalan pelan ke parkiran
"Pulang?" tanya Dimas bingung melihat reaksi Dewi yang terlihat shock.
Dewi ngga menjawab, dia mengikuti langkah Dimas.
Dimas pun membukakan pintu mobil untuknya. Dimas juga bukan kaleng kaleng. Jabatannya sebagai staf IT di kantor membuatnya bisa memiliki mobil seharga empat ratus jutaan. Wajahnya juga tampan. Banyak pegawai wanita di kantor yang bersedia mengundurkan diri asal Dimas memilihnya. Hanya Dewi yang kekeuh mempertahankan pekerjaannya dari pada memilih Dimas.
Dimas menatap Dewi yang masih duduk diam di dalam mobil. Dimas masih belum menjalankan mobilnya.
"Aku dengar kamu lagi pedekate dengan dokter," ucap Dimas menahan sesak di dadanya.
Dewi menatap Dimas sekilas sebelum mengalihkan pandangan matanya yang sempat beradu pandang dengan mata lelah Dimas.
Dia marah? batin Dewi ngga menentu.
Sebenarnya inilah yang ditunggunya. Dimas akhirnya tau dan memutuskannya. Tapi kenapa setelah semua keinginannya terkabul, dia merasa resah dan ngga mau diputuskan Dimas.
"Aku tau kamu berat meninggalkan pekerjaan kamu. Kita sudah setahun menjalani hubungan ini. Aku tau banget kamu," kata Dimas pelan. Dia terus menatap Dewi yang ngga mau menatapnya lagi.
"Kalo kamu sudah sreg dengan dokter itu, buat apa, kan, kita pertahankan hubungan yang sudah lemah di awalnya," kata Dimas pahit, menahan kesakitan di hatinya.
Dewi paham, pasti sudah berkembang rumor kalo dia lagi pedekate demgan dokter bersama Sita. Mulut ember Sita dan Adhi yang suka bergosip walau dia pria, pasti sudah melukai harga diri Dimas.
"Aku... aku cuma merasa kesal, kalo harus mengundurkan diri," kata Dewi lemah.
Dimas menatapnya dengan luka yang telihat jelas di matanya.
Hatinya lemah saat ini. Apalagi melihat tatapan Dimas. Dia harus menguatkan hatinya. Bukankah ini yang dia harapkan?
"Oke, kita putus," kata Dewi berusaha tegar.
Dia ngga mungkin melepaskan pekerjaannya setelah zona nyaman didapatkannya. Untuk mencari pekerjaan lain, Dewi takut ngga bisa mendapatkan suasana kerja senyaman ini.
Lagian, belum tentu juga dia cepat diterima di tempat lain. Saingan sudah semakin banyak. terutama fresh graduate yang bisa digaji lebih murah dari dirinya.
Andai dia berhenti bekerja, Dewi takut Dimas berpaling darinya. Dan akhirnya dia berakhir dalam ketersia siaan.
__ADS_1
Dewi masih mengingat tatapan Dimas saat itu yang benar benar terluka atas keputusannya.