
"Ada apa?" tanya Dewi pada teman temannya yang sudah berada di halaman luar kantor begitu dengar bunyi rem yang keras
"Kecelakaan ya," tebak Sita khawatir.
Kalo dari bunyi rem, sepertinya agak fatal.
"Mau lihat tapi udah banyak yang berkerumun," kata Adi yang baru memarkirkan mototmya.
"Katanya korbannya dua orang. Pelukan gitu," kata Asri yang baru dari sekitaran kerumunan.
"Udah panggil ambulance? Atau pake ambulance bank aja," kata Sita cepat.
"Biar cepat ditangani."
"Pak Gaga lagi ngurusin," kata Asri.
"Si Bos kok, kelihatan panik, ya?" tanya Adhi yang tiba tiba punya firasat ngga enak.
Dia pun menyusul Gaga dengan langkah tergesa.
"Perasaanku, kok, agak lain, ya," kata Dewi yang merasa ingin cepat cepat melihat korban.
"Kamu jangan buat aku cemas," kata Sita yang juga melangkah mengikuti Dewi.
Gaga yang udah keluar duluan begitu mendengar suara rem yang keras, dengan cepat menemui sekuriti. Saat itu dia masih di dalam mobil yang sudah posisi parkir, dan mesin pun sudah Gaga off kan. Gaga malahan sedang chat chatan dengan Lia.
"Pak Asrul, ada kecelakaan, ya?" cegat Gaga pada Pak Asrul yang sedang berlari panik.
"Ada dua orang ditabrak truk, Pak Bos. Truknya melarikan diri, lagi di kejar." katanya dengan nafas terengah engah.
"Pak Bos pake ambulance kita ya. Biar cepat. Soalnya parah banget korbannya," kata Pak Asrul lagi.
"Pake.aja. Minta langsung sama Paj Kumolo. Saya yang nyuruh. Semoga korban selamat," titah Gaga cepat bersama do'a dan harapannya.
"Sepertinya pegawai sini, Pak Bos. Seragamnya.....," kata Pak Asrul menggantung.
Wajahnya ngga terlihat jelas. Pak Asrul hanya bisa memastikan seragam yang dipake perempuan adalah seragam pegawai bank tempatnya bekerja. Sedangkan prianya memakai jas mahal.
Jantung Gaga berdebar keras.
Firasat buruk, batinnya tiba tiba kalut.
"Udah sana Pak Asrul. Malah bengong," sentak Gaga saking gugupnya mengagetkan Pak Asrul yang langsung tersadar.
"Maaf, Pak Bos. Cuma mau bilang, kalo yang laki laki pake jas mahal. Seperti jas Pak Bos," kata Pak Asrul sebelum berlari untuk menemui Pak Kumolo yang udah kelihatan ngga jauh dari situ.
Bank milik Gaga memang mensiagakan dua ambulance yang bisa dipake warga sebagai antisipasi kepedulian pada masyarakat di sekitar situ. Termasuk menolong korban kecelakaan. Karenanya ambulancenya standby 24 jam.
Jantung Gaga tambah berdebar keras dengan firasat yang semakin buruk. Setengah berlari Gaga menuju ke arah kerumunan.
Gaga merasa hatinya semakin ngga enak melihat mobil sport merah yang cukup dia kenal. Mobil Ardan.
Sepasang matanya gelisah mencari keberadaan Ardan.
Reflek menekan nomer hp Wina. Suara derimg telpon yang berasal dari arah kerumunan membuatnya cepat berjalan ke arah situ.
__ADS_1
"Hp korbannya bunyi," seru salah satu warga yang berkerumun.
DEG
DEG
"Maaf permisi," kata Gaga sambil memaksa masuk ke dalam kerumunan yang untung saja memberinya jalan.
DEG
DEG
Gaga kenal tas kecil yang dipakai perempuan yang wajahnya berada di dada laki laki itu. Tapi wajah laki laki itu terlihat jelas.
Ardan!
"WINAAAA," Jerit Dewi dalam raungan. Dia langsung menghampiri Wina. Dia menyibakkan rambut yang menutupi wajah yang penuh darah.
"WINAAA," jerit Dewi lagi begitu memastikan wajah sahabatnya.
Sita terduduk dengan suara tangisan yang keras.
Adhi dan Gaga seakan terpaku kakinya.
Untung dua ambulance datang mendekati mereka. Warga yang berkerumun itu segera memberikan jalan.
Gaga, Adhi dan warga membantu petugas medis memgevakuasi Ardan dan Wina.
"Bawa ke rumah sakit Permata Internasional," perintah Gaga cepat pada kedua supir banknya.
"Siap, Pak Bos," kata Pak Kumolo langsung memlajukan ambulancenya.
Darah segar masih berceceran. Bahkan pakaian Gaga dan Adhi, terkenal darah Wina dan Ardan.
"Darah Wina," raung Dewi sambil melihat kedua tangannya yang berlepotan darah Wina.
"Pak Asrul, bawa mobil saya ke sini," seru Gaga sambil melemparkan kunci mobilnya pada Pak Asrul yang berdiri ngga jauh dari situ.
Dalam keadaan begini, nggak mungkin dirinya dan Adhi menyetir.
Gaga dengan cepat menekan nomer kontak dokter Eri.
Mobil Gaga datang. Gaga langsung masuk bersama Adhi, Sita dan Dewi.
Akhirnya telponnya diangkat Dokter Eri.
"Wina dan Ardan kecelakaan. Ambulance kantor sedang menuju ke rumah sakit Lo. Sangat parah. tolong, persiapkan segalanya," bagai air bah Gaga memberi perintah.
Tanpa menjawab dokter Eri memutuskan telpon. Dia sudah tau apa yang harus dilakukan dalam keadaan genting begini. Apalagi menyangkut dua orang yang sangat dikenalnya.
Gaga bingung. haruskah dia mengabari orang tua Wina dan Ardan sekarang. Bagaimana cara mengatakannya? Apakah to the point aja?
Gaga menghembuskan nafas, kemudian menghirupnya lagi.
Bagaimana kalo mereka punya penyakit jantung?
__ADS_1
Akhirnya saking bingungnya, Gaga mengabari papanya.
Papanya tentu saja terkejut mendengar kabar yang dikatakannya. Beliau pun bergegas menuju ke rumah sakit.
Dewi dan Sita ngga henti hentinya menangis. Rasanya takut sekali melihat keadaan Wina dan Ardan yang berdarah darah hampir di sekujur tubuhnya. Badan keduanya pun masih gemetaran.
Adhi pun hanya diam tanpa kata. Dibenaknya ada keheranan. Dia mendengar orang orang sibuk berbicara tentang kecelakaaan tadi. Terjadi di tengah jalan saat gadis itu menyeberang. Melihat ada truk yang kencang, laki laki yang memeluknya berlari mengejar gadis itu sampai akhirnya mereka disenggol bagian depan truk yang berusaha mengerem mendadak.
Ada yang aneh. Mengapa truk baru mau berhenti ketika laki laki itu mulai berlari? Mengapa ngga dari tadi tadi aja dia mengerem.
Polisi tadi juga sudah datang saat mereka akan naik ke mobil Gaga. Biarlah diselidiki sampai tuntas.
Semoga keduanya bisa bertahan, batin Adhi berharap dan terus berdo'a.
Adhi menatap bosnya yang terlihat bingung. Setelah menelpon dokter Eri dan papanya, bosnya terlihat bingung.
Pasti dia merasa ngga tega menelpon orang tua Wina dan orang tua Ardan.
Eh, bosnya kenal orang tua Ardan? batin Adhi ragu.
Mungkin aja. Sesama orang kaya pasti saling mengenal, batinnya lagi.
Kenapa Ardan tidak mengantar Wina ke depan bank seperti biasa? Kenapa harus di seberang jalan, batin Adhi menyalahkan Atdan kesal.
"Wina sama Ardan, kenapa bisa.....," ucap Dewi dalam isaknya.
"Winaa......," tangis Sita lagi.
"Kita do'akan mereka agar bisa bertahan," kata Adhi akhirmya bicara.
"Iya," ucap keduanya berbarengan, masih terus menangis.
"Kata orang orang yang lihat, truk itu seperti ingin menabrak mbak Wina," kata Pak Asrul dengan nada suara bergetar.
Ngga disangkanya, mbak Wina yang selalu memberikannya uang tiap bulan setelah gajian yang menjadi korban.
Bukan Pak Asrul aja. Satpam dan supir lainnya juga.
"Maksud bapak?" tanya Gaga tertarik. Dia menghentikan tangannya yang akan menekan nomer hp mama Wina, yang memamg dia simpan.
"Kata orang orang yang lihat, Pak Bos, truk itu kencang banget menuju arah Wina, tapi tiba tiba mengerem ketika melihat pacarnya mbak Wina berlari mendekati mbak Wina," cerita Pak Asrul dengan raut bingung dan sangat sedih.
Gaga terdiam. Kepalanya masih belum bisa berpikir..Mengingat keadaan Wina dan Ardan yang penuh darah masih membuat kepalanya blank. Apalagi dia masih belum menelpon oramg tua Wina.
Kalo Ardan, papanya yang akan mengabari orang tuanya.
"Makanya bunyi remnya keras sekali. Tapi tetap aja menabrak, karena jaraknya sudah sangat dekat," lanjut Pak Asrul kesal.
Suasana hening kembali. Belum ada yang menyahut. Rasa terguncang ngga percaya masih memenuhi pikiran mereka.
"Padahal kata orang orang, laki laki itu berusaha menolong mbak Wina. Pacarnya mbak Wina mendorong mbak Wina..Tapi Mbak Wina malah terus megang tangan laki laki itu," tambah Pak Asrul dengan mata berkaca kaca.
Dewi dan Sita tambah keras tangisnya. Adhi dan Gaga tertegun mendengarnya.
Wina pasti ngga mau Ardan celaka sendiri, batin Gaga sedih.
__ADS_1
Dari cerita Pak Asrul, bisa aja Wina selamat karena Ardan sudah berusaha mendorongnya, menjauhi badan truk. Tapi Wina tetap bertahan dengan Ardan sampai keduanya ditabrak dan terpental.
Ardan pun terus memeluk Wina sampai akhir. Masih tetap berusaha melindungi Wina sampai detik detik terakhir. Gaga ngga bisa membayangkan apa yang dipikirkan keduanya begitu melihat kedatangan truk yang sudah di depan mata.