Cinta Lama Saingan Tetap

Cinta Lama Saingan Tetap
Salah Paham


__ADS_3

"Wina, bisa bicara sebentar," tahan dokter Eri ketika melihat Wina dan Dewi menjauhi rombongan.


Tentu saja panggilan itu membuat Dewi ikut menoleh dan Sita kini menatap Wina iri dan juga sedikit marah.


"Iya, dokter," sahut Wina sopan.


"Eh," kaget Wina ketika Eri menariknya menjauhi Dewi. Spontan teman teman mereka menatap dengan heran. Apalagi Sita, ada keterkejutan dalam matanya.


Frontal sekali, cibir Gaga menghina.


"Dokter, apaan sih," kesal Wina sambil menarik kasar tangannya yang masih dipegang Eri.


"Bentar jangan marah dulu," kata Eri menenangkan.


Wina menatap ngga sabar.


Bisa diinterogasi nih, umpatnya dalam hati sambil melirik teman temannya


"Oma kangen sama kamu."


Perkataan Eri membuat Wina membuka mulutnya heran, tapi langsung ditutup dengan tangan kanannya.


"Kok bisa?"


"Oma kalo udah suka ya gitu."


Wina menggelengkan kepalanya. Kirain si nenek ilfeel dengannya. Karena sikap noraknya begitu melihat kemegahan di kompleks perumahab si nenek.


"Minggu depan, ada pesta di rumah. Oma pengen kamu datang."


"Nggak ah," tolak Wina. Dia udah ngga mau dekat dekat dengan keluarga yang sangat kaya raya. Pengalaman sudah mengajarkannya. Bahkan memberinya sakit sampai ke dasar hatinya.


Mata Eri menyiratkan keterkejutannya.


Menolak? Harusnya dia senangkan?


"Ngga semua mendapatkan undangan. Ini private," kata dokter Eri dengan nada yang sedikit ditekan.


Wina tersenyum miring.


"Ya udah. Undang yang lain aja," kata Wina tetap menolak.


Dokter Eri menghembuskan nafas kesal. Kalo bukan karena omanya, ngga sudi dia membujuk gadis yang ternyata sombong ini.


"Dokter jangan salah paham. Oma dokter, kan, berniat menjodohkan saya dengan dokter. Saya ngga bisa. Makanya saya menolak," terang Wina akhirnya karena melihat kekesalan yang nyata di wajah dokter Eri.


Dokter Eri malah tertawa kecil.


"Kamu ngga usah khawatir. Kamu kan udah punya pacar. Oma ngga akan maksa," kata Eri senang karena mulai mengerti kenapa gadis di depannya kekeh menolak.


Ternyata takut dijodohkan, gue juga ngga mau,'kali, batin dokrer Eri kemudian tersenyum miring.

__ADS_1


Eri jadi penasaran, sekeren dan setajir apa pacarnya Wina yang katanya pembalap, sampai sampai Wina tidak tertarik sama sekali dengannya.


"Boleh juga pacar kamu dibawa. Biar oma lebih yakin," tambah Eri lagi.


Mungkin kenal, batin Eri lagi.


"Nggak. Dia ngga suka acara begituan," tolak Wina asal.


Aku udah putus. Jadi ini bahaya, batin Wina resah.


Wina juga takut kalo Ardan dan keluarganya akan hadir. Pastilah, karena keluarga Ardan sangat terkenal. Pasti diundang.


Eri menatap gadis ini lama. Dia mencoba menelisik apa yang membuat Omanya suka pada Wina.


Eri sering mengenalkan teman teman gadisnya pada Oma kesayangannya. Tapi sambutan omanya selalu dingin dan ngga peduli.


Padahal Wina jauh di bawah level gadis tipenya.


Tapi bisa bisanya omanya sangat menyukai Wina.


Memang cantik sih. Tapi cantik kan relatif, batin Eri memuji.


"Ayolah. Ini demi Oma. Nanti aku jemput," bujuk Eri. Bisa kena omel seharian kalo gagal ngajak Wina.


Wina kasian juga melihat wajah frustasi dokter Eri yang biasanya santai


"Dokter, saya ngga cocok berada dalam lingkungan itu. Nanti malah mempermalukan," kata Wina berusaha lebih lembut menolak.


Wina diam saja. Agak menyesal juga karena pertolongannya berbuntut panjang. Tapi jika dia tidak menolong nenek gayung itu, pasti sang nenek sudah kembali ke Pencipta, kan udah tersengal sengal juga waktu itu.


Wina kadang menyesali dirinya yang suka kepo dengan urusan orang lain. Ginilah akibatnya.


Bukannya lega abis nolong, malah menimbulkan efek yang lain.


"Ya sudah. Jemput aja. Dokter tau ngga rumah saya?" tanya Wina akhirnya mengalah.


Ini terakhir, janjinya dalam hati berurusan dengan keluarga yang sangat kaya raya.


"Mana saya tau rumah kamu," cibir dokter Eri.


Wina tertawa kecil kemudian menyebutkan alamat rumahnya.


"Oke. Jam setengah tujuh saya jemput ya," kata Dokter Eri dengan seringai senang di bibirnya. Dia pun melambaikan tangan sebelum pergi.


Wina balas tersenyum sebagai etika kesopanan walau hatinya ngeredek.


Wina pun menghampiri teman temannya.


"Kenapa dengan dokter Eri. Jangan bilang kamu naksir juga," sambut Sita sinis.


Sebel dia melihat Wina yang selalu mudah mendapatkan laki laki tanpa dia berusaha apa pun.

__ADS_1


"Emang kenapa. Dokter itu yang ngejar ngejar Wina," bela Dewi sewot.


"Tapi Wina kan udah punya pacar yang super tajir. Ngapain dia ngelayani dokter Eri yang masih kalah tajir dari pacarnya," sembur Sita kesal campur emosi.


Dasar bego, umpat Gaga sebal. Andai aja Sita tau betapa kayanya dokter Eri, pasti bakalan pingsan.


"Lo ngapa pake emosi," bela Adhi heran campur kesal melihat kemarahan Sita yang meledak ledak terhadap Wina.


"Sorry Win. Gue minta tolong, beri kita kesempatan buat dapatin pacar kaya seperti punya Lo," kata Sita akhirnya sadar sudah kelepasan.


"Kita? Lo kali?" sarkas Dewi sebal.


Gila ya, gara gara cowo yang belum jelas peruntungannya, sudah marah marah.


"Iya, gue," pungkas Sita ngalah.


"Dokter Eri cuma nanya, masih punya no telp sales yang memberikan promosi di Baverly itu apa ngga" bohong Wina meyakinkan.


"Ooh." Sita jadi malu. Wajahnya terlihat memerah.


"Maaf kalo gitu ya, Win," kata Sita merasa ngga enak udah nuduh macam macam ke Wina.


"Iya," balas Wina tenang. Bibirnya pun mengulas senyum tipis.


"Ya udah, pulang. Untung rombongan calon istri gue udah pulang dari tadi," kata Gaga sambil masuk ke dalam mobil.


Dasar tukamg bo'ong, cibir Gaga dalam hati. Ngga mungkin setajir itu minta rumah dengaj harga promosi.


Gaga curiga juga, apa Wina sekarang ganti dekat sama Eri setelah putus dari Ardan.


Apa benar kata kata mamaArdan kalo incaran Wina memang yang kaya, muda dan tampan?


Tapi kemudian hati Gaga membantah, ngga mungkin. Apalagi melihat sikap Wina yang kaget waktu digandeng paksa oleh Eri.


"Maaf ya Win. Tadi gue emosi banget," kata Sita dengan wajah menyesal.


"Iya nggak pa pa," sahut Wina santai.


"Jangan dipikirin," tambah Wina lagi membuat senyum lega terkembang di wajahnya.


"Jangan karena cowo kita jadi berantem," cetus Dewi lega karena melihat kekesalan Sita yang udah hilang.


"Iya," kata Sita menyesal.


"Nah, gitu dong. Teman selamanya," timbrung Adhi ikut senang.


Gaga pun tersenyum.kecil.


"Makasih ya," ucap.Sita tulus sambil menyanderkan wajahnya di lengan Wina. Tentu aja Wina langsung mendorong wajah Sita agar menjauh.


"Make up Lo nempel nih," kesal Wina manyun membuat Sita dan Dewi terkikik.

__ADS_1


"Iya, sorry," ucap Sita dalam tawanya yang berderai derai.


__ADS_2