
Wina memasuki rumahnya dengan tergesa gesa. Dia pun bergegas ke kamarnya dan langsung duduk meringkuk di lantai dengan bersandarkan dinding.
Air mata Wina yang sejak tadi ditahan kini mengalir deras.
Salahnya memilih menetapkan hati pada Ardan. Dulu ampe sekarang Ardan ngga pernah berubah.
Selalu dikelilingi dan melayani gadis gadis cantik dan seksi.
Kembali Wina menyimpan wajahnya di kedua lututnya yang ditekuk. Dia membiarkan airmatanya mengalir deras.
Nggak lama kemudian ada pesan masuk dari mamanya yang mengabarkan mama dan papa ada dinas mendadak ke luar kota selama beberapa hari.
Syukurlah, batinnya. Jadi mama dan papanya tidak dapat melihat mata sembabnya.
Wina benar benar patah hati. Rasanya sakit banget. Dulu dan sekarang ngga jauh berbeda. Hanya saja sekarang dia sudah melibatkan orang tuanya. Teganya Ardan.
Mungkin inilah saatnya dia benar benar melupakan Ardan. Jalan restu dari Mamanya Ardan masih tetap buntu. Sekarang ketahuan Ardan yang gampang tergoda.
Dari dulu Ardan terbiasa berdekatan dengan banyak perempuan cantik. Harusnya diragukan ketika Ardan ingin Wina menjadi satu satunya. Bukan malah merasa sangat istimewa.
Wina kembali menyesali hatinya yang sempat berbunga karena perlakuan spesial dari Ardan
Mungkin benar, orang biasa pasangannya ya orang biasa. Tadi aja Wina rikuh di perusahaan Ardan yang besar dan megah.
Ardan pun belum pernah mengajaknya ke perusahaannya. Apalagi ke acara acaranya.
Apa Ardan malu? Atau dia ngga pantas? Tapi kenapa memilihnya? Wina kembali meneteskan air mata.
Lagian Wina pasti merasa ngga nyaman berada di lingkungan Ardan.
Wina lebih klop dengan temannya yang selevel seperti di kantornya. Lebih santai.
Menghadapi Mama Ardan dia pasti ngga bakalan sanggup bertahan. Wanita anggun itu memiliki standar tinggi untuk calon mantunya. Gadis yang dicium Ardan pun rasanya dia mengenalnya. Seperti Familiar. Cantik dan berkelas.
Wina menjatuhkan dirinya di lantai dengan posisi meringkuk. Dia berusaha memejamkan mata. Kamarnya pun dibiarkannya gelap gulita. Dia ngga butuh cahaya saat ini.
*****
Ardan masih mencoba menelpon Wina. Tetap tidak tersambung. Sambil menghapus keringatnya, dia kembali menelpon Wina. Masih begitu juga
__ADS_1
Apa sudah diblokir?
tanya hatinya patah.
Bodoh! Bodoh!
Ardan memaki dirinya yang tadi sempat membalas ciuman Tiara.
Kenapa dia selalu saja tidak bisa membuang sisi brengseknya.
Papi menatap Ardan yang terlihat gusar dan frustasi sambil membuang nafas kasar.
"Pa, aku mau nyusul Wina," kata Ardan sambil menyimpan hpnya.
"Jam satu kita meeting. Sudah, nanti saja. Wina juga butuh waktu sendiri. Dia mungkin sekarang sedang menata hati," kata Papanya menahan.
Ardan yang siap berbalik untuk pergi menghentikan langkahnya.
"Mungkin Papa benar. Tapi Ardan ngg tenang kalo ngga ketemu Wina. Melihat keadaannya. Ardan kembali pas meeting, Pa," pamitnya keras kepala dengan langkah langkah kaki yang setengah berlari.
Papa menghela nafas panjang.
Tangannya meraih hpnya yang bergetar. Istrinya.
"Ya, sayang. Ada apa?"
"............................."
"Sudah diantar Wina tadi."
".............................."
"Wina sudah balik ke banknya. Ma, Papa sama Ardan mau makan dulu."
".............................."
Tanpa.curiga istrinya memutuskan telponnya.
Papa kembali melangkah memasuki lift dengan tentengan paper bag dari Wina.
__ADS_1
Paper bag yang membuat suasana jadi berantakan ini juga harus dicicipi rasanya. Agar saat ditanya istrinya, beliau bisa menjawabnya.
Begitu sampai di kantor Wina, Ardan merasa bingung. Wina masih ngga mengangkat telponnya.
Win, maaf. Aku khilaf. Jangan marah.
Tapi pesan itu hanya tercentang satu.
Wina mematikan hpnya?
Ardan mencoba berpikir positif.
TOK TOK TOK
Ardan yang sedang melamun, terkejut mendengar ketukan di kaca jendela mobilnya.
Dia seperti mengenal laki laki ini. Ardan pun menurunkan kaca mobilnya.
"Nunggu Wina ya. Dia ijin pulang. Ada keperluan keluarga katanya," kata laki laki yang sebaya dengannya ramah.
"Oh iya, makasih," ucap Ardan agak bingung karena lupa nama laki laki yang memberikan informasi padanya.
Laki laki tampan itu tertawa. Seakan tau yang dipikirkan pacarnya Wina.
"Nama gue Adhi. Ya udah, gue cabut dulu," kata Adhi sambil melambaikan tangannya dan beranjak pergi.
Ardan segera membuka pintu mobilnya.
"Terimakasih," serunya bersahabat sambil balas melambaikan tangan.
"Ya," balas Adhi sambil menoleh sebentar sebelum memasuki sebuah mobil.
Ardan menghela nafas panjang.
*Kamu sampai ijin, Win. Pasti sekarang kamu lagi nangis*, batin Ardan merasa sangat bersalah.
Aku memang jahat.
Ardan masuk ke dalam mobilnya dan menutup pintu mobil itu dengan kasar. Kemudian melajukan mobil tersebut dengan sangat cepat.
__ADS_1