Cinta Lama Saingan Tetap

Cinta Lama Saingan Tetap
Menemani Ardan


__ADS_3

Akhirnya Wina sampai juga di unit mewah Ardan.


Inikah namanya pentahouse, batin Wina kagum.


Ardan pun membaringkan tubuhnya di sofa.


Wina langsung berjalan ke arah dapur. Syukurlah dia bisa menemukan air mineral yang ngga dingin.


Setelah mengambil mangkok dan diisi dengan bubur ayam yang tadi dibelikan pak supir, Wina pun menghampiri Ardan.


Dengan lembut Wina mengangkat tubuh atas Ardan agar menyandar di sandaran sofa.


"Makan dulu ya, abis itu makan obat," kata Wina ketika mata Ardan terbuka dengan sayu.


Wina sempat mengomel melihat obat sirup yang diminta Ardan waktu pak supir tadi akan membelikannya.


Tapi mengingat tubuh kekar itu yang nampak lemah, mungkin memang lebih baik Ardan mengkonsumsi obatnya berupa sirup.


"Aku mual, Wina," katanya pelan.


"Sedikit aja ya," kata Wina memaksa.


Akhirnya Ardan mau membuka mulutnya dan langsung menelannya.


Wina pun menuangkan obat di sendok dan kembali memaksa Ardan meminumnya.


"Pahit," keluh Ardan membuat Wina terkikik geli.


Ardan terpesona menatapnya.


Aku rimdu, Win.


Wina pun memberikan Ardan minum.


Wina kembali memaksa Ardan memakan buburnya.


Tapi di sendok ke empat Ardan menolak.


"Udah ya Win."


Ardan merasa perutnya mulai mual.


"Ya, udah," kata Wina mengalah.


Dia pun membantu Ardan membaringkan tubuhnya.


"Mau kemana?" tanya Ardan melihat Wina berdiri.


"Mau ambil air buat kompres kamu,"


" Di sini aja," kata Ardan sambil menarik tubuh Wina hingga jatuh di pelukannya.


"Ardan," kaget Wina dengan wajah memerah.


"Sebentar aja, Wina. Sebentar," pinta Ardan sambil mengetatkan pelukannya.


Jantung Wina berdebaran seperti abis berlari sprint. Dia bisa merasakan hawa panas tubuh Ardan berpindah padanya. Jantung Ardan terasa keras memukuli rongga dadanya.


"Ardan," ucapnya terhenti karena bibir Ardan sudah menyentuh bibirnya. Menyesapnya penuh rindu.


Wina terlena. Dia membiarkan karena tubuhnya juga menginginkannya.


Tapi ketika tangan Ardan mulai bergerak di dadanya, Wina menahannya.


Ardan membuka matanta yang senakin sayu dan berkabut karena gairah.


Wina menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Maaf," kata Ardan kemudian menarik wajah Wina ke dadanya.


Gila, dia hampir kelepasan, umpat Ardan dalam hati.


Wina terdiam. Baru pertama kali Ardan hilang kontrol padanya.


"Ardan, sebaiknya aku mengompres dirimu saja," katanya berusaha melepaskan dekapan Ardan.


"Aku janji ngga melakukannnya lagi. Aku mohon, biarkan aku memelukmu," pinta Ardan dengan suara lemah.


"Ya," sahut Wina pelan antara percaya dan nggak.


Ardan tersenyum samar.


"Makasih."


Kemudian Ardan memejamkan mata. Sedangkan Wina sama sekali ngga bisa terlelap. Dia takut, saat tidur Ardan akan khilaf. Padahal hubungan mereka sangat ngga jelas.


Engga berapa lama kemudian, Wina sudah mendengar daru nafas Ardan yang teratur. Bahkan dia terdengar mendengkur halus membuat Wina tersenyum jahil. Wina pun merekamnya dengan hpnya.


Kemudian perlahan Wina melepaskan dekapan Ardan. Dia tersenyum melihat wajah tanpan itu tetap tertidur dengan nyenyaknya.


Wina memegang kening Ardan, ternyata demamnya sudah menurun.


Wina pun membuka tas laptopnya. Dia duduk di lantai yang beralaskan karpet tebal dan bersandarkan sofa tempat Ardan tidur. Wina pun segera melanjutkan pekerjaannya yang tertunda.


*****


Ardan terbangun setelah beberapa lamanya dia tertidur. Harumnya aroma masakan membuatnya bangkit dari tidurnya.


"Wina?" serunya kaget karena ngga melihat Wina di sampingnya. Seingatnya dia tertidur dengan mendekap tubuh ramping itu.


"Hai, sudah bangun?" balas Wina yang bergegas menghampiri Ardan yang kebingungan dengan memakai aprom miliknya.


Ardan tersenyum lega melihat Wina ngga meninggalkannya saat dia tidur.


"Syukurlah udah ngga panas lagi," kata Wina sambil memegang kening Ardan.


"Lama ya, aku tidur?"


"Hemmm," kata Wina menjeda seolah mikir.


"Kira kira tiga jam lah. Pake acara mendengkur lagi," tawa Wina membuat wajah Ardan malundan salah tingkah.


"Masa sih?" sangkal Ardan ngga percaya.


Tapi Wina malah terus tertawa seakan mengejeknya.


Ardan pun gemas dan meraih Wina dalam rangkulannya.


"Ketawa lagi, aku cium," ancam Ardan pura pura galak.


Wina menjauhkan mulut Ardan sambil terus tertawa. Ingatan akan ekspresi Ardan yang tidur mendengkur sangat menggelikan hatinya.


Mau ngga mau Ardan pun tertawa. Rasa bahagia memenuhi rongga dadanya. Dia merasa tubuhnya lebih baik, pikirannya pun jauh lebih ringan.


"Kita makan yuk. Aku tadi pesan bahan masakan online," kata Wina melepaskan dirinya dari pelukan Ardan yang sudah melonggar.


Lagian jantungnya juga nggak kalah kencangnya berdetak saat berdekatan dengan Ardan.


"Kamu masak apa?" tanya Ardan ikut bangkit berdiri.


"Sup daging. Tapi kamu ganti baju dulu ya. Biar aku rapiin meja makan," kata Wina manis.


Ardan reflek mencium lengannya.


Untung ngga bau, batinnya baru tersadar kalo dia belum ganti baju dari semalam.

__ADS_1


"Oke," kata Ardan kemudian menarik lagi Wina dalam pelukannya.


Wina langsung berdebar dengan perlakuan posesif Ardan.


"Ardan."


Ardan hanya diam, menatap wajahnya dengan lembut. Tanpa ragu Ardan memgecup singkat bibir yang udah membuatnya ketagihan.


"I Love You," bisik Ardan di telinga Wina sebelum melepaskan pelukannya dan berjalan ke kamarnya.


Wina terpaku dengan perlakuan Ardan yang menggetarkan hatinya.


Love you too.


Walaupun sudah disakiti, masih saja cinta Wina tetap besar untuk Ardan.


Wina berjalan gontai ke meja makan dan mulai menata sop daging yang sudah dia buat. Juga ada sambal dan kerupuk.


Wina teringat papanya yang juga menyukai menu yang dia dihidangkan buat Ardan.


Kalo libur nanti, Wina akan memasak menu ini buat papanya. Tiba tiba Wina merasa sedih mengingat papanya yang lebih kurus, dan wajahnya pun agak kuyu, ngga seperti biasa.


"Melamun?" tanya Ardan


menyadarkan Wina.


Wima tersenyum melihat Ardan yang hanya memakai kaos oblong dan celana pendek. Wajahnya pun terlihat segar dengan rambutnya yang masih basah.


"Kamu mandi air hangat, kan?" tanya Wina khawatir.


"Iya, dong. Kok, Kamu kelihatan sedih?" tanya Ardan sambil duduk dan menerima piring yang diberikan Wina.


Rasanya seperti dilayani istri.


"Ingat papa sekarang tambah kurus, padahal cuma seminggu lebih ngga ketemu," kata Wina sambil menyendokkan nasi untuk Ardan.


"Cukup Win," cegah Ardan ketika Wina ingin menambah lagi porsi nasinya.


"Sop sama sambalnya ambil sendiri aja ya," ucap Wina sambil menyendokkan nasi ke piringnya.


"Iya," kata Ardan sambil menyendokkan sop daging.


"Apa papa kamu sakit?" tanya Ardan sambil menatap Wina lekat.


"Kata mama, mungkin kecapean. Mama juga kurus, tapi ngga sekurus papa."


"Papa sama mama dinas?"


"Iya, tumben mereka dinas bareng, lama lagi, hanpir sepuluh hari," cerita Wina dengan nada agak curiga kalo mama dan papanya sedang merahasiakan sesuatu


"Kamu merasa ada yang aneh?" tanya Ardan setelah menelan makanannya.


Enak, batin Ardan kagum. Ngga nyangka Wina bisa masak yang enak. Bahkan perutnya ngga kerasa mual lagi tapi malah nyaman saat menerima makanan buatan Wina.


Wina ngga menjawab. Harapannya ngga ada yang mama dan papa rahasiakan.


"Wina," panggil Ardan lagi ketika melihat Wina hanya diam sambil menikmati makanannya.


"Eh, iya," kata Wina sambil memaksakan bibirnya untuk tersenyum.


"Maaf malah buat kamu kepikiran," kata Wina sambil menatap Ardan ngga enak hati.


"Ngga pa pa. Kamu bisa cerita apa aja," kata Ardan lembut.


Wina hanya tersenyum dengan benaknya masih dipenuhi banyak pikiran tentang mama dan papanya.


"Sopnya enak lho. Calon istri idaman," puji Ardan sambil menambah lagi nasinya.

__ADS_1


Wajah Wina merona kembali. Pujian Ardan membuat dia jadi grogi. Tapi hatinya senang karena Ardan menyukai masakannya.


__ADS_2