Cinta Lama Saingan Tetap

Cinta Lama Saingan Tetap
Ardan yang berubah


__ADS_3

"Kenapa kamu jadi workholic? Kamu juga harus makan dan istirahat yang cukup," kata Papa yang menghampiri ruang kerja Ardan yang masih terang. Padahal udah pukul sebelas malam.


Papanya yang sudah di rumah sengaja meminta sekuriti melaporkan kegiatan anak semata wayangnya.


Sudah beberapa hari ini papanya membiarkan Ardan lembur. Tapi malam ini, hatinya terusik dan bergegas ke perusahaan meninggalkan istrinya yang sudah tidur nyenyak.


Ardan ngga menjawab. Dia masih kecewa dengan papanya yang mendukung niat mamanya untuk mengganggu hubungannya dengan Wina. Tapi tetap saja salahnya ngga bisa menolak memghilangkan sifat isengnya pada Tiara.


"Papa lihat kamu makin kurus," kata Papa lagi berusaha sabar.


Ardan masih mendiamkannya saja. Dia tetap sibuk dengan layar laptopnya.


"Pulanglah ke rumah. Kasian mama," kata Papa sambil menepuk bahunya.


Ardan tetap ngga merespon. Hatinya udah kering kerontang. Hanya alkohol yang dia perlukan.


"Papa akan mendukung kalo memang Wina pilihan kamu sekarang. Kamu jangan begini Ardan," kata Papa yang mengerti kalo anaknya benar benar sudah patah hati. Ini juga termasuk salahnya.


Sudah ngga penting lagi, Pa, batin Ardan malas. Ardan tetap diam, ngga merespon.


Papa pun akhirnya keluar dari ruangannya dengan hati sedih.


Begitu sampai di parkiran, istrinya pun menelpon karena dirinya tidak ada di sampingnya.


"Aku ke perusahaan. Ardan masih kerja di ruangannya."


".................................."


"Ya, aku mau pulamg sekarang."


".................................."


Papa pun menutup sambungan telpon dan memasuki mobilnya. Melaju pergi dengan perasaan ngga menentu.


*****


Mama menatap ruangan anaknya sebelum mengetuknya. Pagi ini mama sengaja berkunjung.


Sudah beberapa hari ini Ardan ngga pulang. Menjawab telpon apalagi membalas pesannya pun tidak.


Anak tunggalnya sedang merajuk. Menunjukkan sisi pembangkangannya.


Untungnya ketika masuk ke ruangan Ardan, anaknya hanya sendirian.


Ardan sedikitpun ngga mempedulikan kehadiran mamanya.


"Ardan, kamu udah sarapan belum?" tanya mama lembut.


Dia menghela nafas panjang karena anaknya ngga menyahutinya.


"Mama bawa sop buntut sapi. Mama.juga belum makan. Temabi mama makan ya," ucap mamanya berusaha menarik perhatian Ardan.


Tapi Ardan tetap ngga menyahut.


Mama mulai memperhatikan penampilan putra tunggalnya. Wajahnya kini dihiasi jambang tipis dan agak tirus. Matanya terlihat kurang tidur. Tubuhnya pun agak kurus.


Mengapa anaknya jadi begini?


Mama semakin membenci Wina yang bisa membuat perubahan drastis pada putranya. Baru kali ini Ardan menentangnya. Sejak bersama gadis miskin itu. Dada mama begitu bergejolak menahan amarahnya.


"Ardan, kamu ngga dengar mama ngomong!" sentak mamanya marah.


Ardan menarik nafas panjang dan menghembuskannya pelan pelan.

__ADS_1


Mendengar suara marah mamanya membuat Ardan jadi takut kalo jantung mamanya akan kambuh.


Akhirnya dia menyimpan dulu hasil kerjanya dan mulai menghampiri mamanya yang sudah duduk di sofa.


Mama pun tersenyum senang. Beliau menata makanan yang dibawanya.


"Ayo temani mama makan," kata mama sambil mengulurkan piring padanya.


Ardan ngga menjawab. Hanya mengambil sedikit nasi dan lauknya.


"Kenapa hanya sedikit? Tambah ya," kata mama sambil menyendokkan nasi dalam ukuran cukup besar ke atas piringnya.


Tapi Ardan menggesernya.


"Ardan," seru mama kesal atas penolakannya.


"Ardan udah makan tadi," dustanya. Padahal belum.


Sejak makannya ngga teratur beberapa hari ini, dia mulai merasa mual tiap akan makan. Tapi Ardan masih berusaha menahannya. Hanya alkohol yang bisa membuatnya nyaman.


"Besok malam pemilik rumah sakit tempat mama biasa di rawat ulang tahun yang ke enam puluh tahun. Kita semua diundang."


Ardan ngga menyahut.


"Kita pergi bareng atau kamu mau bareng Dina?" tanya mama lagi.


Ardan masih diam. Kini dia malah membantu menata kembali makanan mamanya yang tersisa cukup banyak.


"Buat makan siang kamu aja. Hangatin supnya di microwave. Nanti mama nyuruh Meti."


Ardan tetap ngga menjawab, hanya merapikan tempat makanan itu saja.


Mama mencoba sabar menahan amarahnya.


"Sendiri," jawab Ardan akhirnya.


"Jangan sampai ngga berangkat. Jangan buat malu mama," kata mama Ardan penuh tekanan.


Ardan ngga menjawab. Tiba tiba pintu ruangan di ketuk dan dibuka.


Meti bersama Tiara pun masuk dan sempat kaget melihat mama Ardan yang ada di dalam ruangan.


Meti yang sudah tau ada mama bosnya, bersikap biasa aja. Sedangkan Tiara yang ngga tau, agak kkuk karena mama Ardan menatapnya tajam.


"Pagi Tante. Saya Tiara," sapanya sopan.


"Pagi. Kamu anak Pak Zain ya?" tanya mama setelah beberapa lama.


Gadis ini memang sangat cantik. Pantas Ardan bisa tergoda. Tapi mama jadi heran ketika melihat Ardan yang nampak ngga peduli sekarang.


"Oke, mama pulang dulu. Mungkin kamu mau pergi ke acara besok malam dengan Tiara?" pancing mama.


Tiara yang sempat bahagia mendengar kata kata mama Ardan jadi menciut karena penolakan Ardan.


"Ardan pergi sendiri, Ma," tolaknya cepat, kemudian melangkah ke meja kerjanya.


"Ooo," balas mama Ardan yang kini tersenyum maklum pada Tiara.


"Meti, tadi tante masak sop. Kalo mau, makan aja. Bisa kamu hangatkan di microwave," titah mama lagi.


"Iya. Bu."


Meti melirik wajah kecut Tiara dengan hati senang.

__ADS_1


Rasain.


"Mama pulamg dulu. Ingat pesan mama," kata Mama sambil berlalu.


"Hati hati, Ma," ucapnya pelan membuat hati mamanya ngilu.


Ardan ngga mengantar mamanya. Dia kembali sibuk demgan laptopnya.


Mama berjalan ke luar ruangan dengan hati kesal. Putra tunggalnya ngga pernah bersikap kurang ajar seperti ini. Apalagi gara gara perempuan.


Mama Ardan pun memutuskan untuk pergi ke bank tempat Wina bekerja. Dia harus melakukan sesuatu.


Dan di sinilah Mama Ardan. Duduk berhadapan dengan pemilik bank tempat Wina bekerja.


"Tumben kamu kemari," ucap Papa Gaga-Endi santai.


"Pasti kamu sudah bisa menebak tujuanku ke sini, kan?" Mama Ardan balas berucap sama santainya.


Papa Endi tertawa kecil. Tentu saja beliau bisa menebak maksud teman kuliahnya dulu.


"Kamu khawatir?"


Mama Ardan tersenyum kecut.


"Ardan ngga pernah seperti ini."


Papa Gaga masih meneruskan tawanya. Tepatnya tawa mengejek. Tapi mama Ardan ngga marah, beliau tetap tenang.


"Bisakah Wina dipindahkan ke kantor cabang?" tanyanya terus terang.


"Tentu bisa. Sangat mudah," jawab Papa Gaga ringan.


"Apa imbalannya?" tukas mama Ardan setengah mencibir.


Papa Gaga tertawa lepas.


Mama Ardan menatapnya sinis.


"Ingat dulu kamu membuat aku gagal ke Jerman?" kata Papa Gaga tenang setelah puas tertawa.


Tentu saja Mama Ardan ingat. Waktu itu Papa Gaga akan mendapatkan beasiswa S2 ke Jeman, mengalahkan Papa Ardan yang merupakan saingannya satu satunya.


Tapi Mama Ardan melakukan hal licik, menyebarkan foto foto Papa Gaga yang sedang tidur dengan perempuan yang disewanya hingga beasiswanya dicabut.


Akhirnya Papa Ardan yang berangkat menjemput beasiswa itu.


"Aku senang melihat Wina bisa mengacaukan hidupmu," sinis Papa Gaga.


Mama Ardan tersenyum sinis.


"Aku dengar Gaga menjalin hubungan dengan Amelia Haris," kata Mama Ardan mulai bernegosiasi.


Papa Gaga menatapnya malas.


"Aku sangat kenal dengan kelurga itu. Mereka mengadakan kerja sama dengan perusahaan kami."


Papa Gaga masih ngga merespon.


"Kerja sama itu senilai ratusan milyar. Kamu bisa bayangkan kalo suamiku membatalkannya, dan keluarga Haris akan mengalami kebangkrutan," kata Mama Ardan licik.


"Lakukam saja. Suamimu pasti ngga sebodoh dulu," sarkas Papa Gaga membuat wajah Mama Ardan merah menahan marah.


"Well, aku sudah mengatakan tujuanku. Kuberikan waktu dua hari untuk berpikir," kata Mama Ardan sambil bangkit dari duduknya.

__ADS_1


Papa Gaga hanya menatap sinis mantan temannya yang ambisius itu sampai keluar dari ruangannya.


__ADS_2