Cinta Lama Saingan Tetap

Cinta Lama Saingan Tetap
Akhirnya Datang


__ADS_3

"Kenapa kamu membeli kue cukup banyak?" tanya mamanya heran, ketika melihat kue kue yang dikeluarkan anaknya dari tas tentengannya.


Mama dan papanya udah pulang dari tadi.


"Teman Wina mau datang katanya. Ma," ucap Wina sambil menata kue kue itu di atas meja.


"Siapa?" tanya mama curiga. Sepertinya sangat spesial, batin mamanya dalam hati.


"Lihat aja nanti ya, Ma," ucap.Wina dengan sentum rahasianya.


Mama balas tersenyum mengerti.


"Jadi mama pake daster atau gimana?" goda mamanya membuat Wina tertawa kecil.


"Yang bagusan dikit, Ma," ucapnya manja sambil memeluk mamanya.


"Ya udah kamu mandi sana," perintah mamanya begitu Wina sudah mengeluarkan kue kue dan menatanya.


"Iya, Ma," ucap Wina sambil memcium mamanya.


Setelah itu Wina melangkah menuju kamar mandi.


Mama masih menatap Wina sambil terus berpikir dan penasaran tentang jenis kelamin teman Wina yang akan datang.


Laki atau perempuan ya, hati mama sibuk bertanya tanya.


Akhirnya mereka sekeluarga makan malam dalam henng. Wina agak canggung karena papanya selalu melihatnya dengan tatapan antara ingin bertanya atau tidak.


Setelah istrinya mengatakan kalo teman Wina mau datang ke rumah, beliau lengsung mengenakan kemeja batiknya yang spesial.


Papa mempunyai firasat kalo yang datang pasti bukan tamu biasa. Apalagi dengan persiapan kue kue yang putrrinya beli dan sudah di tata di atas meja.


Begitu selesai makan, Wina membantu mamanya membereskan meja makan.

__ADS_1


Wina menatap hp dengan gelisah. Lima belas menit lagi pulul delapan malam.


Apakah ngga jadi?


Wina menghela nafas panjang.


Mama dan papa tersenyum melihat kegelisahan putri semata wayangnya. Mereka makin yakin kalo yang ditunggu putrinya adalah orang yang spesial.


Nggak lama kemudian terdengar suara bel, Wina yang bersama papa dan mamanya di ruang keluarga langsung bergegas ke arah pintu.


Begitu pintu terbuka, terlihat Ardan mengembangkan senyum simpatiknya. Begitu juga papa Ardan ikut tersenyum ramah, sedangkan Mama Ardan yang ngga disangka ikut, pura pura ngga melihat ke arahnya.


"Silakan masuk tante, om, Ardan," ucap Wina menyilakan mereka masuk.


"Maaf, ya, kemalaman," ucap Adan lembut sambil melamgkah masuk.


Oeang tua Wina pun ikut menyambut dengan ramah.


Dapat Wina lihat, Mama Ardan seperti terpaksa melakukannya.


"Jadi kalian dulu teman SMA?" tanya mama sambil menatap putrinya.


"Iya. tante. Kita dulu beberapa kali sekelas," sahut Ardan menjelaskan.


"Jadi kalian bertemu lagi," lanjut papa hangat.


Ardan dan Wina tersenyum sambil memgangguk membuat papa, mama dan papa Ardan teetawa. Sedangkan Mama Ardan hanya mengulas senyum tipisnya.


"Mungkin Ardan akan lebih sering mengantar jemput Wina," kata papa memulai pembicarsan serius.


Papa dam mama Wina saling pandang.


"Maksud kedatangan saya dan keluarga, agar keluarga kita lebih saling mengenal," tutur Papa Ardan .

__ADS_1


Papa dan Mama Wina tersenyum.


"Senoga silaturahmu anak anak dan kita sebagai orang tua mereka makin terjaga," kata Papa Ardan lagi.


"Amin," balas Papa Wina.


Papa Ardan terlihat lebih komunikatif mrmbuat suasana terasa hangat.


Wina menatap Ardan yabg begitu antusias menanggapi omongan mama dan papanya.


Terimakasih, ucap Wina dalam hati ketika matabya brrsitatap dengan mata Ardan.


Ardan pun tersenyum lembut seperti mengerti akan kata hati Wina.


Andai saja Wina tau, betapa susahnya membujuk mamanya sampai mereka cukup terlambat datang


"Bisa ngga sayang kamu pertimbangkan Dina lagi. Mama mohon. Dengerin mama kali ini, ya," kata Mama Ardan memohon.


"Ma, Ardan udah berusaha. Dulu kami sempat menjauh.Tapi saat bertemu dengan Wina lagi, Ardan langsung aja mendekatinya, Ma. Hati Ardan yang milih dia, Ma. Ardan beneran serius," kata Ardan pelan agak frustasi menghadapi mamanya. Padahal jarum jam terus berjalan.


"Apa kamu beneran serius. Gadis itu ngga sederajat dengan kita. Gimana kalo dia ketemu sama keluarga besar kita. Kamu tau Eyang kamu seperti apa," kata Mama Ardan panjang lebar.


Tentu saja Ardan tau gimana sikap eyang putrinya yang sama seperti mama dan keluarga besarnya. Sangat memperhatikan bibit, bebet dan bobot.


Karena itulah dari awal kenal Wina, Ardan sempat meninggalkan gadis itu. Dia takut Ellka ngga bisa berbaur dengan keluarganya.


Tapi setelah banyak.waktu yang dia lewati, Ardan baru sadar kalo hatinya tidak bisa berpaling dari Wina.


"Ma, Ardan selalu menuruti mama. Sekali aja Ardan mohon, mama kabulkan satu aja permintaan Ardan. Beri Wina kesempatan ya. Ma," pinta Ardan sambil berlutut.


Mama Ardan terpana melihat kesungguhan Ardan. Batinnya terguncang.


"Ma," panggil Ardan karena melihat mamanya masih diam dan menatapnya nanar.

__ADS_1


"Baiklah," kata Mama Ardan menyerah.


Kali ini ngga apa, mungkin besok ada kesempatan, batin Mama Ardan.


__ADS_2