Cinta Lama Saingan Tetap

Cinta Lama Saingan Tetap
De Ja Vu


__ADS_3

"Kamu lagi kirim pesan ke siapa?" tanya Ardan ketika sedang memarkirkan mobilnya di basemen.


"Aku ijin ke Nadhira, kalo hari ini ngga bisa ngantor. Kamu, sih, Ardan, aku juga sibuk loh," kata Wina sedikit mengeluh.


"Nanti abis jam makan siang aku balikin kamu ke kantor," janji Ardan ringan dengan senyum smirknya.


"Bener ya," kata Wina berusaha percaya.


"Bener. Kita ke kantor ku bentar, setelah itu kita nyari WO," ucap Ardan sambil melepas safebeltnya.


"WO?" kaget Wina. Tangannya yang akan melepas safebeltnya jadi berhenti bergerak.


"Iya, yang ngurus pernikahan kita," kata Ardan gemes melihat wajah Wina yang kaget dan pipinya bersemu merah.


Jantung Wina berdetak keras. Dengan pelan Wina menarik nafas dan menghembuskannya sambil tangannya bergerak melepaskan safebeltnya.


"Kamu ngga mau nikah sama aku?" tanya Ardan menggoda membuat pipi itu semakin merah. Ardan pun tertawa kecil melihat reaksi Wina yang tertegun.


"Kamu serius?" tanya Wina dengan dada berdebar kencang.


"Iya dong. Aku pengen cepat sah kan kamu sebagai istriku," ucap Ardan tegas.


"Nanti aku akan melamar kamu secara resmi. Beberapa hari lagi ya," janji Ardan.


"Mama kamu ikut?" tanya Wina, ada sedikit takut menjalari tubuhnya. Susah menghilangkan trauma dari orang yang pernah mau mencelakakannya.


Ardan tersenyum sambil menggeggam tangan Wina lembut.


"Jangan terlalu khawatir ya, ada aku," kata Ardan lembut.


Wina hanya mengerjapkan matanya.


Saat Wina akan membuka pintu mobilnya, Ardan menggelengkan kepalanya.


"Bentar."


Ardan tersenyum sambil membuka pintu mobilnya dan berlari lari kecil memutar mobilnya bagian depan dan membukakan pintu mobil Wina.


Dengan malu malu Wina menyambut uluran tangan Ardan.


Wina terus digandeng Ardan ke lift CEO.


"Kamu mau pestanya outdoor atau indoor?" tanya Ardan selagi mereka di dalam lift.


"Aku terserah kamu," ucap Wina sambil balas menatap Ardan lembut.


"Aku sukanya konsep outdoor. Di kolam renang hotel mungkin," kata Ardan sambil mengeratkan genggamannya.


"Keliatannya bagus," ucap Wina dengan jantung berdebar ngga seirama. Berdua demgan Ardan, apalagi di ruang sempit begini membuatnya ngga tenang.


TING


Wina bersyukur pintu liftnya terbuka.


Mereka di sambut tatapan tertegun beberapa pegawainya. Ngga percaya di bos merangkul mesra seoramg gadis.


Pacarnya kah?


Hati para pegawai wanita itu jadi layu. Ngga disangka bos yang sangat dingin itu ternyata udah punya kekasih.


Wina melirik Ardan kesal, ketika melihat betapa pendeknya rok rok yang dikenakan pegawai wanita yang berada satu lantai dengan Ardan. Biasanya mereka staf khusus.


Ardan merangkul bahu Wina dan ngga mempedulikan para pegawainya yang menunduk hormat padanya.


Ketika melewati Meti, gadis ini agak terkejut melihat gadis yang dirangkul si bos.


Seperti pernah lihat.

__ADS_1


Meti berusaha mengingat dan belum berhasil sampai si bos dan kekasihnya masuk ke ruangannya.


"Eh, itu kan pacar bos yang dulu," seru Meti sambil memukul jdatnya.


"Meti, kamu kenal cewe yang sama bos?" tanya Lidya, asisten Meti. Di perusahaan Ardan dan papanya, mereka memiliki satu sekretaris dan tiga asistennya.


"Itu seperti pacar bos setahun yang lalu," kata Meti agak ragu. Karena waktu itu Meti ngga terlalu serius menatap wajah kekasih pak Ardan yang buru buru pergi.


"Maksud kamu yang buat pak Bos patah hati?" sambar Andin shock.


Ya, gagal dapat simpati pak Bos, keluhnya dalam hati.


"Sepertinya begitu," ucap Meti masih berusaha mengingat.


"Ngga ada harapan kita. Secara bos cinta mati," kata Sherli sang asisten juga ikut mengeluh.


"Ya udah, bubar sana," usir Meti kesal. Dia pun kesal karena pacar bosnya sudah kembali.


Selama ini Meti pun sangat berharap kalo bisa menyembuhkan luka hati si bos.


"Bubar, kalian udah ngga ada harapan," ucap Kian meledek.


Temannya Alvaro yang jadi staf keuangan juga ikut tertawa mengejek bersama Dino.


"Pak Ardan mau nikah," tambah Kian memanasi.


"Apa?" jerit ketiga gadis cantik itu ngga percaya.


Ketiga laki laki jombo ini hanya tertawa tergelak.Senang melihat ekspresi kaget dan tak berdaya para gadis itu.


"Ehem...."


Mereka menoleh pada suara di belakang mereka.


Nona Tiara, batin mereka.


"Pak Ardan ada?" tanya Tiara yang menatap pegawai Ardan heran yang sedang kumpul dan mengobrol.


Bukannya ini jam kerja? batin Tiara sambil menggelengkan kepalanya.


"Ada, tapi........," ucap Meti bingung.


"Oke," kata Tiara yang langsung melewati Meti dan pegawai pegawai Ardan yang reflek memberi jalan.


Tapi mereka saling tatap, kemudian beralih pada Meti dengan sorot mata tajam menyalahkan.


"Meti, kan, ada pacar pak bos di dalam," kecam Sherli.


"Sudah, kita balik ke tempat masimg masing," kata Kian ngga mau kena cipratan masalah yang nanti akan timbul.


Tanpa pikir panjang yang lainnya pun memasuki kubikelnya masing masing.


"Ardan, aku membawa...."


Seperti dejavu, hanya kali ini mereka bertukar peran.


Mata Tiara bersitatap dengan Ardan yang sedang berdiri sangat dekat dengan Wina.


Ardan yang sedang membungkukkan tubuhnya karena sedang membantu Wina melihat kerjaan di laptopnya mendongak, begitu juga Wina.


Wina menatap malas.


Kenapa selalu mencari Ardan, sih, batin Wina kesal.


Seakan menyadari kekesalan Wina, Ardan merengkuh bahu Wina yang bersamaan dengannya menegakkan badan.


"Ada apa?" tanya Ardan datar.

__ADS_1


"Aku cuma mau ngasih kamu ini," kata Tiara setelah kekagetannya hilang. Tangannya menunjuk pada paper bag yang dibawanya.


Ardan menekan telpon kantornya tanpa mempedulikan wajah Tiara.


Dengan pe de Tiara akan melangkahkan kaki mendekati Ardan dan Wina. Tapi suara Meti menghentikan langkah kakinya.


"Ada apa, Pak," terdengar suara Meti karena Ardan me load speaker telponnya.


"Masuk," perintah Ardan datar dan menutup sambungan telpon tanpa menunggu jawaban Meti.


Tak lama terdengar ketukan pada pintu yang sudah terbuka.


Meti pun masuk dengan dada berdebar dan berdiri di dekat Tiara.


"Tolong antar Bu Tiara keluar. Jangan ulangi lagi, atau kamu saya pecat," ucap Ardan dingin. Ardan ngga mau membuat Wina salah paham dan ditinggalkan lagi. Cukup yang dulu. Sekaramg Ardan ingin Wina punya kenangan yang baik tentang ruangannnya.


Wajah Meti langsung pucat.


"Maaf, Pak," ujarnya sangat takut.


"Mari Bu," ucap Meti sambil meraih tangan Tiara yang langsung ditepis Tiara dengan kasar.


"Ardan, aku hanya membawakan sarapan untukmu. Seperti yang biasa kita lakukan," kata Tiara sambil menyelipkan racunnya.


"Sejak kapan kita sarapan bersama? Bukannya saya selalu menolak kedatangan kamu," respon Ardan sinis.


Wina yang awalnya kesal mendengar kata kata Tiara memjadi terkesiap mendengar kata kata sinis Ardan.


Meti pun teekejut mendengar kata kata bosnya yang benar benar menjatuhkan harga diri Tiara.


Wajah Tiara langsung pucat karena menahan malu, belum pernah Ardan menolaknya sekasar ini. Dengan mata berkaca kaca, Tiara bergegas keluar dari ruangan Ardan.


Melihat Tiara yang sudah meninggalkan ruangan bosnya, Meti pun ikut keluar setelah mengucapkan kata permisi.


"Kamu jangan marah ya," kata Ardan sambil mendekap lebih erat tubuh Wina.


"Aku kasian melihatnya," kata Wina jujur. Wina jadi ingat waktu itu dia pun menangis sambil meninggalkan ruangan Ardan.


"Jangan kamu pikirkan. Dia sangat sulit diusir. Semoga setelah ini dia ngga mengganggu aku lagi," kata Ardan sambil menepuk lembut bahu Wina.


Wina mengangguk. Mencoba mempercayai Ardan.


"Ayo kita terusin kerjaan kamu. Setelah ini kita langsung ke tempat WO," ucap Ardan membuat Wina teringat kalo kerjaannya masih belum selesai.


"Aku merasa kamu tertarik sama.dia," ungkit Wina sambil membaca data.di laptopnya.


Ardan tertawa kecil.


"Maaf, aku khilaf," ucapnya jujur setelah tawanya reda.


"Dasar," omel Wina sambil memukul kesal tangan Ardan.di bahunya.


"Maaf, karena menyukai laki laki brengsek ini," kata Ardan lembut.


"Kamu yakin setelah kita nikah, kamu ngga akan tergoda?" tanya. Wina antara kesal.dan ngga percaya.


"Aku usahakan. Eh, sakit Wina. Ya, ya, aku janji ngga akan tergoda lagi sama yang seksi seksi. Aduh, sakit Wina," kata Ardan sambil merimgis menahan rasa sakit cubitan Wina.


"Awas aja. Aku bakal selingkuh kalo kamu gitu lagi," ancam Wina galak.


"Maaf, jangan selingkuh, ya," bujuk Ardan merayu.


"Lihat aja besok," tukas Win masih kesal.


Ardan mengusap puncak kepala Wina. Lalu mengecupnya lembut.


"Ardan yang sekaramg hanya memikirkan kamu saja," ucapnya lembut bagai siraman es di hati Wina yang masih panas.

__ADS_1


__ADS_2