Cinta Lama Saingan Tetap

Cinta Lama Saingan Tetap
Penuh Emosi


__ADS_3

Dengan kesal mama Ardan menuju ruangan putranya. Dina pun membantu mendoromgkan kursi rodanya.


Kenapa dia ngga mengangkat telpon dari ku, kesal mama Ardan dalam hati.


Malah dimatikan hpnya, omelnya lagi dalam hatinya.


Begitu sampai di kamar putranya yang pintunya terbuka cukup lebar, mata mama Ardan memandang sinis pada sahabat suaminya.


Ternyata ada dia. Pantas saja. Pasti dia sudah menebarkan banyak racun, geram mama Ardan sambil meminta Dina mendorong kursi rodanya masuk ke ruangan itu.


Suaminya dan Endi yang sudah mengetahui kedatangannya tidak mengacuhkan kedatangannya.


Dina yang merasa ngga enak dengan aura dingin di antara ketiga orang tua paruh baya itu berusaha tidak menpedulikan.


Dia ikut mengantar mama Ardan karena ingin melihat keadaan Ardan.


Dina melangkahkan kakinya ke samping Ardan.


"Om," sapa Dina pada keduanya yang menyambutnya dengan senyum hangat.


"Ardan, kamu belum sadar?" tanyanya sedih melihat pemuda itu masih terpejam.


Kepalanya masih diperban, pipinya terdapat luka gores. Ada gips di kedua kakinya. Dari paha sampai betis. Begitu juga tangan kanannya.


"Anakku, apakah dia ngga apa apa?" tanya mama Ardan shock juga melihat keadaan Ardan.


Dalam hati beliau memaki keponakannya yang telah membuat putranya terlihat cukup mengerikan.


Karena tidak ada yang menjawab, Dina membantu mendorong kursi roda mama Ardan ke samping tempat tidur Ardan.


Air mata wanita cantik dan anggun ini mengalir deras, melihat keadaan anaknya yang sangat mengkhawatirkan.


Hati papa Ardan terusik melihat istri yang sangat dicintainya berurai air mata.


Kelemahannya Papa Ardan selalu ngga bisa melihat istri tercintanya menangis. Tapi rasa kecewanya masih lebih besar.


"Aku pulang dulu ya," kata papa Gaga sambil menepuk pundak sahabatnya.


"Makasih," kata papa Ardan sambil menganggukkan kepalanya.


Papa Gaga berjalan keluar tanpa berpamitan pada istri sahabatnya. Langkah kakinya terhenti di depan pintu kamar Wina yang tertutup rapat.


Bertahanlah Wina. Om akan membantu kamu, janjinya dalam hati sebelum melangkahkan kakinya menjauh.


Nggak lama kemudian, Oma Rahayu muncul dengan langkah lebarnya bersama dokter Eri dan mamanya.


"Tenang Oma. Wina ngga apa apa," kata dokter Eri berusaha membuat Omanya tenang.


Tapi omanya hanya menatap marah pada cucu kesayangannya yang baru saja mengabarinya. Tepatnya setelah Wina selesai menjalankan operasi.


"Kamu! Kenapa telat kasih tau oma," kata Oma Rahayu geram.


"Kan tadi Eri ikut membantu operasi Wina, Oma," sangkalnya membela diri.


Tentu dokter Eri ngga mau kalo omanya membuat drama selama Wina menjalani operasinya.

__ADS_1


"Bisanya kamu ngeles," hardik Oma Rahayu galak membuat dokter Eri cengengesan. Mamanya mengambil nafas dalam dalam melihat pertengkaran keduanya.


"Cari supir truk itu. Akan oma pites. Beraninya mengganggu calon mantu ku," marah Oma Rahayu lagi dengan dada panas.


Mulai lagi, kan, keluh dokter Eri mendengar omelan oma kesayangannya.


Kalo dari tadi tadi dikasih tau, Oma pasti udah nyanyi dan membuat keluarga Ardan bisa curiga akan hubungannya dengan Wina.


TOK TOK TOK


Setelah mengetuk pelan tiga kali, dokter Eri membuka pintu ruangan Wina.


Mama dan Papa Wina yang sedang menunggui Wina menoleh, dan terkejut.


Oma Rahayu dan mamanya dokter Eri pun ngga kalah terkejutnya.


Keduanya terdiam dan saling tatap dengan orang tua Wina.


"Ehem..... Permisi, Tante, Om. Maaf mengganggu," kata dokter Eri membuat mereka tersadar dan memutuskan tatapan.


Dokter Eri merasa curiga dengan keterkejutan orang orang di depannya.


Tapi dokter Eri kaget melihat omanya berjalan cepat melewatinya dan langsung memukulkan tongkatnya cukup keras pada pundak papa Wina yang hanya meringis.


"Anak kurang ajar! Di sini kalian rupanya," seru Oma Rahayu penuh emosi.


"Ampun, tante," kata papa Wina yang kini mulai mengelak dari serbuan tongkat Oma Rahayu.


Mama Wina saling pandang dengan mama dokter Eri dengan mata berkabut. Keduanya mengembangkan senyum senang karena sudah sekian lamanya ngga ketemu.


Dokter Eri menjadi heran.


Mereka saling kenal?


Sementara Oma Rahayu terus saja berusaha memukul papa Wina.dengan kemarahan yang meluap luap.


"Dasar anak ngga tau diri. Kamu membuat adikku sakit sakitan," seru Oma Rahayu makin marah.


"Oma, sudah. Nanti Wina terganggu,"


kata dokter Eri sambil menahan tangan omanya yang masih berusaha melepaskan diri.


"Papi sakit?" tanya Papa Wina kaget, lalu terdiam. Terbayang wajah keras papinya yang mengusirnya dulu.


Tapi dia memang pantas menerimanya.


TUK!


"Aduh," ringis papa Wina lagi.


Dengan kejam Oma Rahayu memukul kepala papa Wina dengan tongkatnya. Beliau tersenyum puas.


"Baskoro Megantara! Kemana aja kalian selama ini!" bentak Oma Rahayu cukup menggelegar.


Papa Wina-Baskoro Megantara, masih diam ngga menjawab.

__ADS_1


"Iya, Camila. Sejak kapan kalian di kota ini?" tanya mama Ardan masih ngga percaya.


Mama Wina-Camila diam ngga menjawab.


Puluhan tahun keduanya menghilang.Tanpa kabar berita.


"Kalian orang tua Wina?" tanya mama dokter Eri lagi.


"Iya. Kok bisa kalian kenal Wina?" tanya mama Wina heran.


Dokter Eri menjadi penonton bisu yang menyaksikan tayangan live di depannya.


"Wina pernah menyelamatkan mama. Pantas saja, aku merasa sayang ketika pertama kali melihatnya," kata mama dokter Eri dengan mata berkaca kaca.


"Hei, anak nakal Baskoro! Jawab tante!" seru Oma Rahayu sambil menahan marahnya yang sudah mendidih di rongga dadanya.


Papa Wina akhirnya menghela nafas panjang.


"Sejak menikah, tante."


"Kenapa kamu ngga memberi kabar ke tante?" marah Oma Rahayu lagi.


"Untuk apa," ucap papa Wina pelan.


TUK!


"Aduh, sakit tante," ringisnya lagi karena kini bahunya yang satu lagi kena ketukan keras Oma Rahayu.


"Dasar anak bodoh. Kamu sama papimu sama saja bodoh dan keras kepalanya," omel Oma Rahayu sambil menggeleng gelengkan kepala masih emosi.


Papa Wina ngga menjawab.


"Papamu juga hampir mati mencarimu," kata Oma Rohayu sambil menodongkan ujung tongkatnya ke dada mama Wina.


Dada nama Wina bergetar. Kata kata tante suaminya membuatnya tetap ngga percaya walau hatinya mencelos karena sangat merindukan papanya.


Bukannya papanya membencinya?


"Melihat kalian kepalaku jadi pusing. Papa papa kalian hanya marah sebentar. Lalu kalang kabut mencari kalian, tetap aja ngga ketemu. Untung mereka belum dijemput Izrail," omel Oma Rahayu pamjang lebar dengan hati geram.


Papa dan Mama Wina saling menatap Oma Rahayu ngga percaya.


"Nggak percaya?" tanya Oma Rahayu judes.


Kembali papa dan mama Wina saling pandang. Rasanya masih tetap ngga percaya, walaupun hati mereka sangat senang sampai ingin menangis.


Mama Wina mengira, papamya sudah ngga menganggapnya lagi dan membuangnya. Begitu juga isi pikiran papa Wina.


Papinya terang terangan ngga mengakuinya sebagai anak karena kecanduannya yang luar biasa pada narkoba. Papa Wina bahkan tanpa kata langsung pergi setelah penghulu berkata sah untuk pernikahan sederhana mereka.


Orang tua mana yang rela putrinya dinikahi pecandu narkoba.


Akhirnya papa dan mama Wina pergi jauh dari kota asal mereka. Mereka pun melepas nama belakang yang pasti mudah dikenal di mana pun mereka berada.


Kepergian itu juga untuk memutus mata rantai narkoba papa Wina. Para bandar narkoba pun tidak bisa menemukan pelanggan istimewanya lagi.

__ADS_1


Papa Wina dulu hanya pemakai, bukan pengedar. Segala rehabilitasi pernah beliau jalanin, tapi semuanya gagal karena tidak bisa lepas dari intaian para bandar.


__ADS_2