
Akhirnya Ardan membawa rubiconnya ke pantai. Dia ngga peduli dengan semua jadwal padatnya yang pasti terbengkalai.
Ardan membuka jendela mobilnya dan Wina setelah men off kan mobilnya.
Wina masih bersandar di bahu laki laki yang sangat dicintainya.
"Maaf, seandainya aku ngga kesal, kita pasti masih baik baik aja," kata Wina walaupun ngga begitu yakin. Hatinya sedih membayangkan apa lagi yang akan di lakukan mama Ardan padanya jika kecelakaan itu ngga terjadi pada mereka.
Karena kecelakaaan itulah dia bisa bertemu kedua opanya dan Oma Rahayu ternyata adalah nenek kandungnya.
Tapi papanya sempat mengatakannya setelah dia sadar, kalo beliau dan mama bermaksud akan menemui keluarga papanya seandainya saja kecelakaan itu ngga terjadi
Ardan memejamkan matanya merasakan sakit di dadanya. Jika saja dia bersikeras mengantar gadis itu samai di depan halaman banknya, mungkin dia bisa menyelidiki niat buruk mamanya di kemudian hari.
"Mama ku sudah sangat keterlaluan," ucapnya pahit.
Wina hanya menatap Ardan yang masih memejamkan matanya. Lidahnya kelu sampai ngga bisa berkata sepatah kata pun.
"Katanya kamu koma?" tanya Ardan mengalihkan topik pembicaraan. Dia ingin mendengar apa saja yang Wina alami tanpa dia di sampingnya.
"Enam bulan."
Syukurlah, batin Wina.
Membahas tentang kecelakaan mereka sungguh sangat berat.
"Selama tiga bulan aku terapi. Kamu katanya berobat ke Jerman?"
Ardan membelai puncak kepala Wina lembut.
"Iya. Tiga bulan kemudian aku udah bisa jalan lagi. Aku menemui Oma Rahayu, kata beliau kamu masih koma."
Mata mereka saling bersitatap penuh makna.
"Oma melarang kamu menemuiku?" tanya Wina perlahan.
"Iya. Tapi wajarlah. Oma dan keluarga kamu mengkhawatirkan keselamatan kamu," ucap Ardan maklum.
"Kenapa kamu ngga mencariku, Ardan?" tanya Wina sedih.
"Aku pikir kamu sudah melupakan aku," lanjutnya lagi sambil menunduk, menyembunyikan kesedihannya.
Ardan mengangkat dagu Wina dan menatap wajah sendu itu lekat.
"Aku sudah mencarimu di mana mana. Tapi Opa Hadikusuma ngga memberikan akses untuk aku bisa menemukanmu, Wina," kata Ardan kemudian menarik wajah itu bersandar di dadanya.
"Perusahaan papa.hampir bangkrut. Para investor mengalami krisis kepercayaan sampai menarik investasinya. Aku harus berhasil mengembalikan kejayaan kami kembali, agar saat bertemu denganmu aku bisa memamtaskan diri," jelas Ardan panjang lebar sambil mengelus bahu Wina lembut.
Wina membenamkan wajahnya di dada Ardan sambil meneteskan air mata lagi.
__ADS_1
"Kamu ngga perlu melakukan itu. Ngga perlu bekerja keras sampai lupa makan dan istirahat," katanya terisak.
Ardan tersenyum mendengarnya.
"Kamu sekarang cucu konglomerat terkenal Wina. Aku harus berusaha agar sejajar dengan kamu," kata Ardan lembut.
"Dulu waktu aku orang biasa kamu ngga ada beban," ungkit Wina dalam isaknya dengan nada kesal.
Ardan tertawa lepas. Entah sudah berapa lama dia tidak tertawa sebahagia ini.
"Beda sayang. Oma Rahayu dan dua opamu pasti sudah punya kriteria jodoh untukmu."
Wina menarik wajahnya menjauhi Ardan. Teringat pesan yang dikirimkan Opa Megantara padanya.
"Kenapa?" tanya Ardan bingung yang melihat Wina tiba terdiam dan muram lagi.
"Sepertinya Opa sudah menjodohkanku. Malam ini mereka akan ke rumah Opa," ucap Wina lirih sambil memandang ke arah lain. Hatinya sangat sedih sampai ke dasarnya.
Ardan terdiam, berpikir. Dia ngga akan rela Winanya dijodohkan dengan laki laki lain. Setelah banyak yang terjadi di antara mereka. Ardan ngga akan sanggup tetap kokoh berdiri jika Wina sudah bersama yang lain.
"Kita temui opamu. Aku ngga mau berpisah lagi denganmu," kata Ardan sungguh sungguh.
Wina menatap Ardan dengan mata penuh binar.
"Kamu mau nemuin Opa?"
Wina tersenyum dengan hati bersenandung senang mendengar ucapan Ardan.
"Kalo mama dan papa, aku rasa mereka ngga akan keberatan. Tapi Opa Megan dan Opa Hadi, apalagi Oma Rahayu, aku rasa agak sulit," ucap Wina ragu.
"Tenanglah. Aku akan meluluhkan hati mereka," kata Ardan penuh keyakinan.
Wajah Ardan semakin tampan dengan senyum simpatik di bibirnya.
Wajah Wina pun memanas.
Menikah? Bisakah mereka mewujudkannya.
"Tapi..." ingatan Wina kembali pada Mama Ardan yang di penjara. Ada rasa takut terselip dalan hatinya.
"Tapi apa?" tanya Ardan bingung melihat wajah Wina muram lagi.
"Mama kamu...." kata Wina menggantung, tapi sudah cukup bagi Ardan untuk mengerti.
Ardan menghela nafas panjang.
"Dua hari yang lalu mama sudah di pindahkan ke pavilium pasien gangguan mental. Mama sekarang hobi melamun dan kalo bicara ngga jelas. Syukurnya penyakit jantungnya sudah jarang kambuh," kata Ardan menceritakan keadaan mamanya.
Wina terpana mendengarnya.
__ADS_1
"Untungnya keluarga kamu mengijinkan kepindahan mama.Tapi tentu saja dengan pengawasan yang sangat ketat," lanjut Ardan lagi.
Nada suaranya terdengar sedih di telinga Wina. Pasti Ardan dan papanya sangat tertekan.
"Maaf," bisik Wina lirih.
Ardan tersenyum tenang.
"Sudah sewajarnya begitu. Aku juga ngga tau apa yang bisa mama lakukan lagi padamu," ucap Ardan kembali merengkuh bahu Wina yang kini memejamkan mata.
Mamanya begitu tau Wina cucu dari tiga konglomerat terkenal merasa sangat shock dan menyesal akan tindakann yang sudah diperbuatnya. Tapi karena ngga bisa dibebaskan dari penjara, beliau jadi sakit hati dan marah. Mama Ardan sering mengamuk agar jantungnya kambuh dan beliau bisa menghirup udara bebas. Tapi Opa opa dan Oma Rahayu mencegahnya dan mengirimkan dokter jantung untuk.melakukan perawatan rutin, tapi tetap di selnya.
Mungkin karena sudah lelah, dua bulan yang lalu mama Wina jadi suka melamun dan kadang kadang berteriak memaki opa opa dan oma Wina. Hingga dua hari yang lalu, atas ijin dari opa Megantara dan Oma Rahayu mereka memindahkan mamanya dengan pengawasan yang sangat ketat ke pavilium gangguan mental.
Biar bagaimanapun, keluarga mereka pernah dekat. Selain sebagai relasi bisnis, bahkan Om Argo Seto dulu berteman baik dengan papanya. Kini persahabatan itu ternoda karena perbuatan mamanya.
"Kenapa tante sangat membenciku," bisik Wina lirih.
"Bukan salahmu. Mata hati mama sudah tertutup dengan harta."
Ardan memberanikan diri mengecup puncak kepala Wina, kemudian menempelkan dagunya di sana.
Wina merasa tenang dalam dekapan Ardan. Hatinya berdesir mendapat perlakuan manisnya.
"Kamu sekarang kurus," kata Wina lagi.
"Nanti aku gemukkan lagi," kata Ardan membuat Wina tertawa. Ardan pun tertawa. Rasanya beban di dadanya lepas dan sirna begitu saja.
"Aku ngga suka wajah kamu yang banyak bulunya," cicit Wina memprotes.
"Akan aku cukur. Selama ini aku ngga terlalu memperhatikan," ucap Ardan jujur dan setuju.
Wima kembali membenamkan wajahnya di dada Ardan. Rasanya senang mendengar Ardan menuruti keinginannya.
"Kabar mantan mantan kamu gimana?" tanyanya kepo membuat Ardan tersenyum miring.
"Mantan? Siapa?" ledek Ardan menggoda.
"Siapa lagi? Pura pura lupa," kesal Wina membuat Aran tertawa lagi.
"Sejak tersiar kabar perusahaan papa di ambang kebangkrutan, banyak teman dan sahabat menjauhi aku dan papa. Apalagi juga diketahui mama masuk penjara," jelas Ardan lagi setelah tawanya reda.
"Maaf," kata Wina ngga tega. Dia ngga bisa membayangkan betapa terpuruknya Ardan dan keluarganya.
"Mungkin itu memang harus kami jalani. Tapi sekarang kami baik baik saja," ucap Ardan lembut. Dia masih menumpukan dagunya di kepala Wina.
"Ngga tau kabarmu sekian lama membuatku hampir gila. Aku akan berusaha sekuatnya meyakinkan keluargamu. Aku ngga takut bersaing dengan laki laki yang dijodohkan denganmu. Aku masih masuk dalam most wanted top ten," tegas Ardan penuh percaya diri.
Wina tertawa pelan mendengarnya. Wina teringat sepupunya pun mengaku menyukai Ardannya. The most wanted top tennya.
__ADS_1