
"Kamu kenapa, Wi?" bisik Wina yang akhirnya menyadari kediaman Dewi.
Tumben, biasanya agresif, batinnya heran.
Dewi hanya menggeleng dan berusaha tersenyum untuk menyembunyikan kegundahan hatinya. Tapi senyum itu terlihat hambar di mata Wina.
"Kamu sakit?" tanya Wina penasaran.
"Engga," kata Dewi kemudian tersenyum tipis.
Dia tau, Wina bakal terus menanyainya sampai rasa penasarannya terpenuhi.
Diapun tau sebenarnya Wina juga punya masalah dengan pacarnya. Cuma beberapa hari ini Dewi ngga bisa konsen dengan masalah yang dimiliki sahabatnya. Hatinya masih diliputi kebimbangan tentang keputusannya putus dari Dimas.
"Dew," desak Wina masih berbisik.
Bener kan? Dewi akhirnya tersenyum karena praduganya selalu benar tentang Wina. Mereka memang cukup dekat setelah beberapa tahun ini bekerja di bank yang sama.
"Nanti aku cerita," ucap Dewi kembali berbisik.
"Oke," balas Wina senang.
Maaf ya Dew, aku udah ngga peduli sama kamu beberapa hari ini. Aku juga lagi banyak pikiran. Aku udah putus sama Ardan, curhat sedih Wina dalam hati.
Wina pun sama seperti.Dewi yang pura pura terlihat ceria.
"Siapa aja yang mau beli rumah di Baverly?" tanya Sita antusias.
"Aku sama Ilham. Boleh dong kita dikasihkan skema kreditannya," respon Tedi bangga.
"Dokter Eri?" tanya Adhi sambil melirik Sita.
Miskin ternyata gebetan Lo, hina Adhi dalam hati.
"Dokter Eri belinya mah cash," timpal Ilham kemudian tertawa bersama Tedi dan teman teman dokternya.
Sita sampai membulatkan matanya karena takjub
Dua milyar belinya cash? batinnya bersorak. Sasarannya pun sudah dia tentukan.
Dewi sama sekali ngga tertarik. Gaga dan Adhi sampai heran melihatnya. Tumben dia terlihat ogah ogahan. Biasanya caper kayak Sita.
"Bercanda, biasa mereka," bantah Eri ikut tergelak.
Wina memutar matanya malas mendengar bantahan enteng itu.
Sok merendah, cibir Wina sinis.
Gaga yang tau siapa Eri ngga berkomentar juga. Malas dia kepo dengan yang urusan orang lain.
Sita salah kalo menaruh harapan pada dokter Eri. Terlalu tinggi. Ngga mungkin tergapai olehnya.
Wina aja yang jelas jelas dicintai Ardan bisa tersingkir juga.
__ADS_1
Hati Gaga sibuk bermonolog.
"Ooo," kata Sita agak kecewa.
Ya ngga mungkin lah, kan cuma dokter spesialis jantung. Beda dengan pengusaha, batinnya ngga jadi berharap.
Kadang dia berpikir, adalah sia sia jika terus mengikuti ajakan Gaga. Memang gratis, tapi sepertinya salah target. Harusnya dia lebih fokus pada tujuan hidupnya, pengusaha pengusaha muda yang kaya raya.
Sayangnya dia selalu hanya ditaksir oleh pengusaha yang baru saja merintis karir. Bukan yang sudah memiliki perusahaan besar dan cabang dimana mana.
Kemana para CEO CEO yang sudah sukses itu. Kenapa tidak ada satu pun yang meliriknya. Bahkan dokter dokter dan menejer di depannya pun sepertinya tidak tertarik padanya.
Sita kadang iri sama Wina. Temannya yang biasa biasa aja itu bisa mendapatkan seorang Ardan. Salahnya juga ngga satu SMA dengan Wina. Jadi dia tidak mengenal Ardan. SMA Wina dan Ardan adalah SMA negeri favorit pada jaman mereka. Hanya anak anak berkualitas dan kaya raya yang bisa masuk di situ.
Wina memang sangat pintar, tapi kalo kaya? Nggak. Wina hanya anak guru. Dia juga pintar dan ngga kaya. Ya, termasuk Dewi, mereka selevel dalam kekayaan.
Jadi Sita ingin merubah nasibnya seperti Wina agar bisa mendapatkan anak konglomerat.
Kalo Dimas pacar Dewi ngga level buatnya. Hanya staf biasa aja. Biarpun IT gajinya jauh lebih besar dari mereka, tapi kalo dirinya pada akhirnya harus dipecat sama aja bohong.
Dewi pasti sama seperti dirinya, membutuhkan karir untuk menaikkan gengsi dan menunjang penampilannya.
"Bos, Lo ngga ngambil rumah di baverly?" ganggu Adhi pada Gaga, tapi kemudian menggaruk kepalanya yang ngga gatal melihat lirikan tajam Gaga.
"Gak," ketus Gaga membuat teman temannya saling senyum dan membuang tatapan mereka dari Gaga
Lo semua kan tau kalo gue punya penthouse. Ngapain beli rumah, batin Gaga kesal.
Gaga suka ada temannya yang bisa memberikan energi positif padanya.
"Pantasan dokter Lia ngga jadi beli rumah di Baverly ya," tukas Ilham mulai paham karena rekannya membatalkan niatnya waktu itu.
"Padahal ngga apa, kan, kalo beli. Kan bisa disewakan. Buat simpanan lah," cetus Adhi memanasi Gaga.
"Betul, Bro. Nilai investasinya juga bagus," tanggap Eri setuju dengan.pendapat Adhi.
"Iya juga, sih," kata Gaga mulai gamang.
Beli tidak ya, batinnya mulai bimbang.
Lia tersenyum melihat wajah Gaga yang sedang mikir cukup keras. Begitu dalam kerutan di kening tampannya. Dia tau apa yang Gaga pikirkan. Tanpa ragu, Lia menggenggam tangan kekasihnya membuat Gaga menoleh dan tersenyum.
"Gue juga beli rumah di Baverly. Tapi yang promo di awal. Satu setengah em. Dewi sama Wina juga beli," kata Adho memberitau.
"Kok aku ngga tau," protes Sita pura pura kaget.
Gaya Lo, cibir Adhi dalam hati.
Ratu drama, Dewi juga ikit mencibir dalam hati. Sedangkan Wina hanya menatap Sita malas.
Mereka tentu ingat jawaban Sita waktu menawarkannya promosi di baverly itu.
Gak lah. Itu urusan suami gue nanti.
__ADS_1
Nah Lho, sekarang malah bilang ngga ada yang ngasih tau.
Dewi dan Wina hanya saling pandang dan saling senyum sinis melihat akting Sita.
Dulu, tiga bulan yang lalu, waktu sales perumahan Baverly maen ke kantornya buat promosi. Wina dan Dewi langsung tertarik. Mereka bersama Adhi langsung memesan rumah yang dipromosikan.
"Wow, kita tetanggan dong," seru Ilham senang.
Calon istri pintar, mikir masa depan, batinnya appreciate.
"Berarti kalian yang depan, dong," tukas Tedi penuh semangat.
"Iya. Kalian yang sebelah utara atau yang selatan?" tanya Dewi ingin tau.
"Kita yang sebelah utara," terang Ilham.
"Yang harganya dua setengah em ya," kagum Adhi.
"Iya," kata Ilham menyahut.
"Komplit itu sama kolam renangnya," antusias Sita.
Senangnya bisa punya kolam renang sendiri, angannya lagi.
"Kalo yang promo punya juga?" tanya Tedy ingin tau.
"Ngga," jawab Dewi akhirnya membuka suara.
"Dokter Safa sama seperti dokter Lia, ya. Udah dibeliin calon suami," kekeh Eri disambut tawa yang lain. Terasa makin heboh di ruangan privat itu.
"Eh, udah saatnya pulang," kata dokter Safa mengingatkan.
"Oh iya."
Mereka pun merapikan barang barangnya.
"Oke, ketemu di vila dua minggu lagi," kata Ilham mengingatkan.
"Sip."
"Oke."
Mereka pun akhirnya berjalan keluar dari kafe.
Eri menatap Wina yang cuek dengannya. Dia pun tersenyum miring.
Kamu yang buat saya pusing dari kemarin, keluhnya dalam hati.
Gimana engga, untuk pesta rumah sakit omanya, beliau mewanti wanti agar dirinya mengundang Wina.
Omanya kangen berat dengan Wina.
Astaga! Eri benar benar ngga abis fikir, bisa bisanya Omanya merindu gadis yang hanya sekali dijumpainya.
__ADS_1