Cinta Lama Saingan Tetap

Cinta Lama Saingan Tetap
Pilihan Sulit


__ADS_3

"Aku putus dengan Dimas. Harusnya aku senang, tapi kok aku ngerasa sedih," curhat Dewi di kafe.


Wina menemaninya setelah pulang kantor. Mau pulang ke rumah juga malas. Mama dan papanya diperpanjang masa dinasnya.


"Aku kan ngga mungkin keluar dari pekerjaanku. Mana udah ambil kredit rumah yang ampun mahalnya."


Dewi kembali menyeruput juice jeruknya.


Andai saja dia berani seperti cerita cerita di novel. Putus cinta, ke bar, minum alkohol, trus mabok. Trus tidur bareng CEO muda, tampan dan kaya raya.


Tapi yang Dewi takutkan kenyataan yang terbalik. Bukannya nanti ditiduri CEO muda, tampan dan kaya raya, tapi malah digilir dan diperkosa pria pria mabok dan kasar.


Hiiii......


Dewi ngga bisa membayangkan apa yang akan dia lakukan kalo itu sampai terjadi.


Wina juga ikut menyeruput juice jeruknya. Dia juga memahani apa yang Dewi pikirkan.


"Kamu tau kan, ibu dan adikku seperti apa. Mereka benar benar mengandalkan aku. Kalo aku berhenti dan cuma berharap sama Dimas, ngga mungkin cukup. Aku malahan akan membebani dirinya," curhat Dewi panjang lebar.


Wina tau kehidupan susah Dewi sejak SMP. Ibunya buka laundri di rumah. Dia punya satu adik perempuan yang masih tk waktu itu.


Sejak Dewu kerja, kehidupan keluarganya benar benar terangkat. Ibunya pun ngga bekerja lagi karena sudah sering sakit sakitan. Sementara adiknya sedang kuliah di jurusan eknomi perbankan, baru semester tiga.


Karena itu Dewi berat untuk memutuskan tetap bersama Dimas dan berhenti dari pekerjaannya. Apalagi mencari pekerjaan dengan gaji sebesar yang dia terima sangat susah. Pernah Dewi coba melamar kerja di tempat lain, tapi gaji yang ditawarkan hanya separuhnya saja.


"Kamu suka juga ternyata sama Dimas?" tanya Wina yang akhirnya sadar kalo Dewi benar benar menyukai Dimas.


Dewi tersenyum hambar.


"Ngga penting juga, kan, sekarang," ucapnya getir.


"Dimas baik sih, ya."


"Iya," kata Dewi setuju.


"Sangat baik malahan. Akunya aja yang ngga pantas buat dia" lanjut Dewi sedih.


"Kamu juga sangat baik, Dew. Terlalu baik malah," kata Wina memberi semangat.


Dewi memang teman yang baik. Anak yang sayang dan bertanggungjawab pada ibu dan adiknya, bahkan rela mengorbankan kisah cintanya.


"Aku bingung, Win. Kalo hanya sekedar materi, aku ngga yakin bisa bersama cowo lain selain Dimas," kata Dewi tersendat. Matamya pun mulai digenangi air mata.


Wina menepuk pundak Dewi lembut.


"Oiya, gimana kabar pacarmu?" tanya Dewi tiba tiba teringat kalo Wina juga lagi galau. Dia pun menghapus air matanya yang baru akan mengalir.


"Kami sudah putus. Sama seperti kamu," jawab Wina datar.

__ADS_1


Dewi menatap temannya ngga percaya. Begitu mudahnya Wina menjawabnya. Seakan akan ngga ada beban. Padahal Ardan bukan pria kaleng kaleng. Dia anak konglomerat yang harusnya tetap dijaga Wina baik baik


"Kamu ngga sedih?" selidik Dewi dengan fokus menatap wajah Wina lekat lekat.


"Sedihlah. Tapi aku berusaha menerima kenyataan."


"Maksudnya?" tanya Dewi ngga ngerti.


Wina menghela nafas kasar.


"Mama Ardan ngga merestui. Dia sudah punya pilihan untuk Ardan," kata Wina berusaha tetap tenang.


Ardan juga tertarik sama gadis lain. Bahkan menciumnya, tambah Wina dalam hati dengan rasa yang amat.sakit.


Dewi terdiam.


"Wanita yang dulu itu mama Ardan ya, yang nemuin kamu pas makan siang?" tanya Dewi menebak.


Dia ingat waktu mereka akan makan siang bareng dengan si bos Gaga, ada seorang wanita cantik seusia mamanya menunggu Wina. Wanita cantik yang sangat anggun.


"Iya. Dia menemuiku untuk menyuruh menjauhi Ardan."


Dewi menatapnya Wina kasihan. Pasti rasanya sakit sekali.


"Kamu terima permintaannya?"


"Iya," dusta Wina.


Tapi kepercayaan itu sudah hancur berkeping keping sekarang.


Ardan ngga cukup hanya memiliki dirinya.


"Kenapa Win? Kamu cinta, kan, sama Ardan?"


Bukannya mereka cllbk?


"Cinta juga butuh restu, Dew," kata Wina berusaha menahan kepedihannya.


Dewi menatap Wina yang kini sibuk mengaduk juice jeruknya yang udah tinggal separuh.


"Sekarang aku baru percaya kata orang orang, kalo orang kaya pasangannya ya orang kaya. Orang biasa sepertiku ya, nyarinya yang biasa aja," kata Wina getir.


Dewi agak tertohok mendengarnya. Padahal selama ini dia mencari laki laki muda, tampan dan kaya sebagai kriteria pacarnya.


"Sudahlah, lupakan," ucap Wina kemudian tersenyum melihat wajah Dewi yang pias setelah Wina mengutarakan pendapatnya.


"Aku seperti ketampar mendengarnya, Win," kata Dewi jujur.


"Aku berusaha mencari laki laki kaya, tapi yang serius denganku cuma Dimas," kekeh Dewi getir.

__ADS_1


"Dimas baik. Gajinya juga gede kan."


Setia lagi, tambah Wina dalam hati.


Dimas belum pernah ketempelan ada isu miring dengan perempuan lain selama dekat dengan Dewi. Hanya Dewi yang isunya kemana mana sedang dekat dengan pria mapan yang lain. Seperti saat ini.


"Ya, Dimas baik. Tapi dengannya aku akan kehilangan pekerjaan," jawab Dewi jujur.


"Mungkin resiko," kekeh Wina membuat Dewi pun tergelak.


"Aku ngga bisa ambil resiko kehilangan pekerjaan," tandasnya di dalam derai tawanya.


Wina pun tertawa sambil menggelengkan kepalanya.


*****


"Ardan, kita makan siang yuk," ajak Tiara karena hari ini dia ngga membawa makan siang seperti biasa.


Rasanya kesal melihat sekretaris Ardan, si Meti dan asisten Ardan juga ikut menikmati makanan yang sengaja di masaknya untuk Ardan selama beberapa hari ini.


"Aku akan makan siang di kantor. Meti, pesankan aku nasi soto Lamongan," tolak Ardan dengan tetap fokus pada laptopnya.


"Siap Bos," kata Meti cepat.


Kenapa Ardan ngga menanyakannya mau makan apa, kesal Tiara dalam hati.


"Bu Meti, saya sama menunya dengan Pak Ardan," katanya menyela Meti yang sedang menelpon ob untuk mendata pesanan bosnya, dirinya dan asistennya, Bimo.


"Oke Bu."


Meti melirik bosnya yang tetap fokus pada laptopnya. Meti kasian melihatnya. Beberapa hari saja bosnya sudah nampak kurus dengan wajah yang selalu bersih itu mulai ditumbuhi jambang tipis. Menurut Meti, bosnya terlihat sangat macho. Tapi wajahnya semakin dingin.


Meti jadi teringat pada gadis cantik yang berpenampilan seperti pegawai kantoran yang sempat dikejar bosnya.


Meti iri, gadis itu benar benar mendapatkan tempat khusus di hati bosnya.


Dia yang selalu menemani bosnya, dilirik pun tidak. Bahkan nona Tiara yang secantik bidadari ini pun ngga ditamggapi lagi. Padahal awalnya sang bos sempat menunjukkan respon positif.


Nona Tiara sempat beruntung karena pernah diperhatikan Bosnya.


Tapi kini, nasibnya sama seperti dirinya. Ngga dipedulikan.


"Ardan, kok.makannya sedikit?" tegur Tiara melihat Ardan menyudahi makannya yang hanya beberpa sendok saja.


Kemarin kemarin juga begitu. Ardan hanya mencicipi sedikit saja makan siang yang di bawanya. Karena itu Tiara malas membawanya, karema Meti dan asistennya lah yang memghabiskannya.


Ardan ngga menjawab. Setelah Wina memutuskannya, dia benar benar kehilangan selera makannya. Dia bekerja sampai larut malam. Dan ngga pernah pulang lagi ke rumah. Waktu tidurnya pun diisi dengan minum alkohol sampai dia benar benar mabok dan berhalusinasi kalo Wina menemaninya.


Sangat menyedihkan. Wina yang mau menerimanya kembali, dikhianati lagi dan lagi oleh keisengannya

__ADS_1


Kesempatan kini sudah tertutup.


__ADS_2