Cinta Lama Saingan Tetap

Cinta Lama Saingan Tetap
Ardan yang bersungguh sungguh


__ADS_3

"Saya benar benar serius dengan Wina, om, tante," kata Ardan sungguh sungguh di depan mama dan papa Wina.


"Kata Wina kamu pernah selingkuh. Apa kamu masih bisa dipercaya," ucap papa Wina datar.


Ardan menarik nafas panjang. Dia mengerti kenapa sambutan mama dan papa Wina dingin padanya sejak dia datang.


"Saya salah. Saya kadang masih suka iseng. Tapi setelah kita berpisah, saya benar benar menyesal."


Wina juga diam saja ngga bereaksi apa apa. Tapi jantungnya terus saja berdetak tanpa irama.


"Om dan tante wajar kalo ngga percaya sama saya. Karena saya sudah menyakiti hati putri om dan tante yang sangat berharga. Tapi untuk kali ini saja, tolong beri saya kesempatan terakhir," kata Ardan benar benar memohon. Bahkan dia turun dari kursinya dan duduk bersimpuh di hadapan mama dan papa.


Mama sama papa saling lirik. Ardan terlalu pintar merangkai kata yang menyentuh. Suasana terasa hening.


Papa berdehem agak keras. Beliau menatap Ardan tajam.


"Saya kasih kamu kesempatan. Tapi kalo kamu menyakiti anak saya lagi, saya sendiri yang akan menghajar kamu."


"Iya, Om. Saya janji akan membahagiakan Wina," kata Ardan sungguh sungguh.


Papa Wina menatap Ardan datar. Posisi Ardan persis seperti dirinya dulu ketika berusaha meyakinkan papa mertuanya.


Dirinya sudah membuktikan kalo sudah berubah menjadi suami dan ayah yang baik. Tapi pemuda di depannya baru mau membuktikan kata katanya. Apa dia harus memberinya kesempatan? batin papa gundah.


"Percuma juga Om memberikan kamu kesempatan, kalo pada akhirnya keluarga kamu ngga menyetujui hubungan kalian," kata papa Wina dengan mata menyorot tajam pada Ardan. Tetap mengeraskan hatinya untuk nggak luluh.


Ardan terdiam. Dia tau mamanya tetap pada keputusannya.


"Papa menyetujui hubungan kami, Om. Tapi mama memang belum," kata Ardan setelah cukup lama terdiam.


"Mengapa kamu tidak mencari dari kalangan kamu saja. Yang kaya raya. Kami bukan orang seperti itu," kata papa Wina sinis.


"Saya sudah suka sama Wina sejak SMA, Om. Setelah lulus kami ngga pernah bertemu. Jujur, selama kuliah saya sering berpacaran dengan banyak permpuan. Tapi mungkin Om ngga percaya, sama seperti saya juga, saya selalu mengingat Wina. Saya ngga pernah seserius ini dengan perempuam manapun. Hanya dengan Wina Om," kata Ardan panjang lebar.


Wina menatap Ardan sayu.


Dia nggak bohong?


"Saya memang bukan laki laki yang baik. Tapi saya ingin berubah, Om. Harusnya saya berubah atas keinginan saya sendiri. Tapi saya engga bisa Om. Wina yang membuat saya ingin berubah."


Mama menggenggam erat tangan Wina yang dingin.


Dia salut dengan kejujuran Ardan di depan mereka. Bibirnya tersenyum, mengingat dulu suaminya juga begitu pada papanya. Benar benar memohon.


Pengakuan pengakuan Ardan cukup mempengaruhi papa Wina juga


"Tapi Om, tante dan Wina ngga ingin kamu jadi anak durhaka karena menentang mama kamu," kata papa Wina tajam.


Ardan mengusap wajahnya frustasi.


Apalagi yang harus dikatakannya?


"Om tenang saja. Papa yang akan melunakkan hati mama," kata Ardan akhirnya. Udah ngga tau lagi apa yang harus dia katakan untuk membuat papa Wina percaya kalo dia bersungguh sungguh dengan putrinya.


Memang Ardan mengharapkan bantuan papanya untuk membujuk mamanya.


"Oke. Om akan awasi kamu. Kamu masih dalam masa percobaan. Jika kamu kedapatan selingkuh lagi, putus harapan kamu. Kamu ngerti?!" ucap papa Wina garang.


"Iya, Om, makasih," kata Ardan kemudian meraih tangan papa Wina dan menyalimnya penuh rasa syukur.


Papa Wina ngga berkata apa apa lagi. Beliau hanya menatap putrinya yang sedari tadi menatap Ardan cemas.


"Kalian berangkatlah duluan," kata papa sambil mengangkat tubuh Ardan agar berdiri.

__ADS_1


"Siap, Om," kata Ardan dengan senyum lega.


"Ingat janji kamu," ucap papa masih dengan nada mengancam.


"Ya Om. Kalo gitu, saya antar Wina dulu. Saya pamit Om, Tante."


Wina pun menyalim tangan kedua orang tuanya sebelum menyusul Ardan.


"Makasih Pa," kata Wina sambil memeluk papanya.


Papanya melihat istrinya dan tersenyum.


"Kalo dia ngga setia, langsung tinggalin. Kesempatan buat dia sudah abis," kata papa sambil meepaskan pelukannya.


"Iya,Pa," ucap Wina kemudian mengembangkan senyumnya.


"Hati hati sayang," kata mama sambil mengecup kening putri satu satunya.


"Iya, ma," balas Wina sambil bergegas menyusul Ardan yang sudah menunggunya di mobil.


Dengan manis, Ardan membukakan pintu mobil untuk Wina yang hanya tersipu.


"Lega rasanya sudah ngobrol dengan papa kamu," kata Ardan sambil fokus menyetir.


Wina tersenyum sambil menatap wajah Ardan dari samping.


Tadi malam Wina langsung mengirim pesan ke Ardan kalo papanya mau bicara serius dengannya.


Karena itu Ardan sengaja datang ke rumah Wina lebih pagi agar bisa mengoobrol lebih santai ngga diburu waktu.


"Aku akan bicara dengan papa agar membujuk mama," kata Ardan ketika Wina masih diam saja.


"Tapi kalo masih saja ingin menjodohkan aku, aku bakalan nolak. Aku udah dewasa. Aku juga bisa langsung nikahi kamu. Kamu mau nggak?" ucap Ardan melantur, kemudian terkekeh.


Selalu saja anggap semuanya mudah.


"Dari kecil, mama selalu mendoktrinku. Makanya sampai sekarang aku ngga punya teman. Mama selalu bisa membuat teman temanku menjauh," kata Ardan mulai bercerita.


"Makanya aku senang melihat kamu dikelilingi banyak teman. Sebetulnya aku iri," kekeh Ardan.


Wina menatap Ardan kasian. Wajarlah waktu SMA Ardan selalu sendiri dan ngga peduli pada siapa pun.


"Mama selalu mengancam akan mengerjai orang tua mereka. Bisa aja di pecat, atau kecelakaan tiba tiba. Pernah kejadian dulu, papa teman sd ku dipecat dari kerja gara gara dianggap ngga pantas sama berteman denganku," kata Ardan mengenang.


"Jadi aku.menjauhinya dan pekerjaan papanya akhirnya kembali. Hebat ya, mamaku," kata Ardan miris.


Wina menggenggam tangan Ardan.


Ardan tersenyum


"Karena itu aku menjauhimu. Mama juga memaksaku dengan Dina. Aku ngga mau kamu dan keluargamu ada apa apa."


Karena itu kamu menghindar dan terus bersama Dina?


"Tapi aku berontak dengan ikut balap liar. Agar papa Dina ilfeel. Dan berhasil, sih," kekeh Ardan mengingat betapa dinginnya sambutan papa Dina setiap melihat dirinya.


"Tapi aku kebablasan. Aku malah banyak maen perempuan," kekeh Ardan tapi cuma sebentar karena Wina kembali mencubitnya.


"Sakit sayang. Aku lagi nyetir. Kalo nabrak gimana," kata Ardan sambil meringis, tapi tetap fokus dengan stirnya.


"Biarin," tukas Wina sewot.


"Tiara memang disiapkan mama untuk memggodaku," lanjut Ardan setelah beberapa lama.

__ADS_1


"Sayangnya, dia berhasil menggodaku. Bayangkan saja, dia sengaja memakai baju seksi. Sangat pendek.da tipis," kata Ardan kemudian tersenyum melihat wajah sewot Wina.


"Tapu aku hanya tergoda untuk mempermainkannya saja. Ngga ada perasaan apa apa."


"Aku suka alkohol, ibadahku jarang jarang. Imanku sangat tipis, Wina," kata Ardan jujur tambah membuat Wina bete.


"Nanti kalo kita udah nikah, kamu tiap malam pake lingerie ya," pinta Ardan menggoda sambil mentowel pipi Wina yang manyun.


"Nggak sudi, aku mau pake jubah terus," tolak Wina galak membuat Ardan malah tergelak gelak.


Akhirnya mereka sampai juga di seberang jalan dari bank tempat Wina bekerja.


"Jangan cemberut lagi. Harusnya aku ngga cerita ya," bujuk Ardan sambil membelai puncak kepala Wina penuh sayang.


Tapi Wina ngga berubah. Hatinya masih kesal mendengar kejujuran Ardan.


"Sebentar, aku parkir dulu," kata Ardan yang melihat spion dan akan melajukan mobilnya persis di depan bank.


"Di sini aja," tolak Wina.sambil membuka safe belt.


"Di depan bank kamu aja ya, bentar lagi sepi, kok," bujuk Ardan lembut.


"Nggak pa pa di sini aja. Dulu dulu kamu juga pernah antar cuma sampai di sini, kan?" tolak Wina lagi. Dia masih kesal mendengar pengakuan jujur Ardan.


Ardan mengalah. Akhirnya dia menepikan mobilnya. Karena lalu lintas masih cukup rame.


Seolah mengerti akan kekesalan Wina, Ardan lalu keluar dari mobilnya dan setengah berlari memutari bagian depan mobilnya.


"Tuan putri, ayo," kata Ardan begitu pintu mobil terbuka.


Wina yang biasanya tersipu tapi kali ini tidak. Dia masih mempertahankan kekesalannya.


Ardan menghela nafas menyesal melihat Wina yang sama sekali ngga mau memandangnya.


"Aku antar ke seberang," bujuk Ardan lagi sambil mengawasi jalan.


"Aku sendiri aja," kata Wina tetap keras kepala.


"Oke, tapi tunggu sepi, ya," bujuk Ardan mengalah.


Setelah cukup sepi, Wina berlari lari menyeberang jalan. Ardan terus menatapnya.


Maaf, batin Ardan.


Tapi bola mata Ardan membesar saat melihat sebuah truk melaju kencang hendak menghantam Wina.


"WINA!!" teriak Ardan sambil berlari sekuat tenaga mendekati Wina yang jadi terpaku menatap truk yang sebentar lagi menghantamnya.


" AWAAASSSS!!!"


"AAAAAHHHH!!!"


Banyak sekali seruan kaget dari orang orang yang melihat.


Truk itu yang semula sangat kencang, tiba tiba mengeluarkan suara decit yang memekakkan telinga saat mengerem mendadak.


Ardan yang akan mendorong Wina terkejut karena Wina memcekal kedua tangannya sangat erat. Keduanya saling bertatapan.


BUUUGGGGHHH


Bagian depan truk itu menghantam keduanya sangat keras membuat keduanya terpental sambil berpelukan.


Keduanya pun terhempas dengan sangat keras beberapa meter jauhnya dari lokasi kecelakaan dengan masih tetap berpelukan.

__ADS_1


__ADS_2