Cinta Lama Saingan Tetap

Cinta Lama Saingan Tetap
Tidak Bisa Bertemu


__ADS_3

Dokter Eri akhirnya sampai juga di kamar perawatan Ardan.


Saat membuka pintu yang ngga tertutup rapat dan akan masuk ke dalam, dokter Eri terpaku melihat Ardan yang sedang berdiri dengan kruk membelakanginya. Menatap ke taman bunga di depannya.


Dia sendirian. Sebuah koper sudah rapi di dekatnya.


"Hai," sapa dokter Eri membuat Ardan menoleh dan tersenyum hambar.


"Kamu sudah bisa pake kruk?" tanya dokter Eri kagum dengan kekuatan fisik Ardan.


"Iya," jawabnya pelan. Kali ini Ardan kembali menatap taman di depannya dengan hati kelu.


Dokter Eri terdiam. Suasana ini terasa canggung.


Sepi.


Sunyi.


"Apakah Wina sudah sadar?" tanya Ardan dengan suara bergetar.


Rasa ingin tau akan keadaan Wina sangat besar dalan hatinya. Akan lebih tenang kalo dia pergi setelah tau Wina baik baik saja.


Dokter Burhan tadi pagi sudah mengabarinya kalo Wina belum juga sadar. Itu sangat mengganggu pikirannya. Ardan sangat cemas, apalagi setelah tau keadaan Wina yang sebenarnya.


"Barusan sadar, karena itu aku ke sini. Aku ngga tau nomermu yang baru," kata dokter Eri menjelaskan.


"Syukurlah," kata Ardan lega. Matanya langsung berkabut. Ardan berusaha menahan gejolak di dadanya karena perasaan ingin bertemu yang begitu menyiksa.


Dokter Eri dapat melihat tubuh Ardan yang bergetar.


Tentu saja dokter Eri paham apa yang dirasakan Ardan. Mamanya sekarang di penjara karena dengan tega menjadi otak kecelakaan hebat yang dialami Wina dan Ardan. Ardan pun ngga sepenuhnya menyelamatkan Wina, karena Wina mengalami pendarahan di beberapa organ vitalnya.


Ardan pun ngga berani lagi mendekati Wina karena ancaman keluarga besarnya. Tepatnya Oma dan Opa Opa Wina.


Walaupun Ardan belum tau alasan kenapa keluarganya sangat mengambil berat tentang Wina. Tapi sebentar lagi semuanya akan terbuka. Laki laki ini pasti ngga akan berani lagi menatap Wina jika tau kenyataan yang sebenarnya.


Dokter Eri membuang nafasnya kasar.


Tiba tiba telponnya berdering. Ternyata papanya yang menanyakan keberadaannya.


"Cepatlah menyusul ke bandara. Sebentar lagi rombongan oma mu akan datang membawa Wina," seru papanya ngga sabar dan langsung menutup telponnya.


Ada apa? Firasat Eri ngga enak. Pikirannya langsung tertuju pada Wina. Dia baru melihat pesan yang sudah dikirim mamanya beberapa menit yang lalu.


Wina muntah darah.


Dokter Eri membulatkan matanya dengan jantung berdebar ngga menentu.


Sepupunya sudah sangat parah?


Dokter Eri menatap Ardan yang masih membelakangi dirinya dengan sedih.

__ADS_1


"Waktu sadar, yang dia panggil namamu. Dia ingin tau keadaanmu. Barusan Wina muntah darah. Kamu tau kan Wina mengalami pendarahan di dalam? Kami akan segera membawanya ke luar negeri. Aku pergi dulu."


Setelah mengucapkan itu, dokter Eri dengan setengah berlari meninggalkan ruang perawatan Ardan. Hatinya penuh rapalan do'!a agar Wina bisa cepat bertahan.


Ardan merasa jantungnya mau lepas mendengar kata kata dokter Eri. Tapi saat dia menoleh, dokter Eri sudah ngga ada lagi di kamarnya.


Dengan tertatih Ardan mengejar dokter Eri sampai ke pintu. Tapi matanya hanya bisa melihat dokter Eri yang sudah menjauh. Sangat jauh. Ngga mungkin dia menyusulnya. Apalagi dengan keadaannya sekarang ini.


Dengan hati perih Ardan duduk di kursi di luar kamarnya.


Ngga disangka Wina mengalami cedera sangat parah. Kenapa bukan dirinya saja. Ardan menangis seperti anak kecil. Menangisi nasib gadis yang selalu dia cintai tapi ngga bisa dia lindungi.


Dua hari yang lalu, setelah mamanya dibawa ke kantor polisi, mamanya langsung dimasuk ke dalam penjara. Pengacara keluarga yang sangat mumpuni ngga sanggup melawan bukti dari pengacara Oma Rahayu.


Sama sekali tidak ada keringanan hukuman walaupun ada penyakit jantung yang di derita mamanya. Keluarga mama dan keluarga papa tidak bisa melawan dominasi keluarga Oma Rosita serta adiknya Opa Megantara dan teman mereka Opa Hadikusuma.


Laporan kesehatan Wina membuat hatinya perih dan merasa ngga guna. Ternyata Wina yang melindunginya, bukan dia.


Memang punggung Ardan yang langsung terkena bemper mobil dan aspal, tapi efek dorongan itu membuat pantulan dan Ardan gagal menahan dorongan pantulan itu yang membuat keduanya terhempas untuk kedua kalinya dengan Wina ditimpa tubuh Ardan.


Apalagi mereka pun terguling guling cukup jauh. Dan posisi Ardan yang bergantian menindih Wina membuat cedera di dalam tubuh Wina semakin parah.


Para tim dokter kecele dengan lebih menfokuskan pada Ardan yang dari luar terlihat sangat parah. Padahal sesungguhnya, Winalah yang paling parah.


"Ayo, aku antar ke bandara," kata Gaga membuat Ardan menghentikan tangisnya.


Ardan menatap Gaga yang berdiri bersama teman teman Wina. Ardan pun menghapus airnmatanyya tanpa merasa malu. Karena baginya, dia adalah pria yang sangat memalukan.


Tanpa banyak kata Gaga dan Adhi membantu Ardan berjalan. Bahkan Dimas yang ikut serta membantu membawakan kruk Ardan.


Ardan menatap ke arah luar jendela mobil dalam diam. Air matanya pun sudah berhenti mengalir. Dia.cuma bisa berharap masih sempat menemui Winanya sebelum pesawat yang membawanya terbang.


Hpnya bergetar. Ternyata papanya.


"Kamu dimana?" tanya papanya khawatir.


"Ardan ke bandara, Pa."


"Sama siapa?"


"Sama teman teman Wina."


Terdengar helaan nafas berat papa.


"Do'akan Ardan belum telat ketemu Wina, Pa." ucap Ardan pelan.


"Ya. Nanti kamu tunggu aja di sana ya. Papa akan menyusul. Kita juga harus ke Jerman buat pengobatan kamu."


"Ya Pa."


Telpon pun di putus papanya.

__ADS_1


Ardan memang akan berangkat ke Jerman untuk mempercepat pengobatannya..Sebenarmya dia berat meninggalkan mamanya yang selalu histeris di dalam penjara dua hari ini. Tapi keluarga besar memaksanya. Mamanya akan diurus mereka dengan baik. Papanya yang akan mengantar dan menemaninya.


Papa Ardan sudah sangat kecewa dengan tindakan kejam istrinya. Beliau pun menerima dengan pasrah tuntutan Oma Rahayu terhadap istri dan ponakannya. Tapi keluarga besar keduanya sedang berusaha keras untuk bisa membuat istrinya di keluarkan dari penjara dan menjadi tahanan kota karena penyakit jantungnya.


Yang anehnya, keluarga Wina menyerahkan semuanya pada Oma Rahayu dan adiknya. Bahkan teman Omanya juga ikut membantu.


Anak teman Oma yang juga temannya semasa kuliah juga ikut ikutan menuntut istrinya membuatnya ngga mengerti mengapa bisa begitu.


Padahal mereka berteman baik dulunya. Tapi temannya sekarang selalu menatap marah padanya. Padahal Wina baru calon tunangan cucu Oma Rahayu. Sebegitu dalamnya mereka menyayangi Wina tanpa ikatan darah.


Papa Ardan menghela nafas kasar. Mengapa istrinya ngga bisa melihat kebaikan Wina, sedikit saja. Bukan hanya terfokus pada berapa banyaknya kekayaan semata.


*


*


*


Pesawat Wina baru saja berangkat. Ke Amerika. Itu saja yang mereka ketahui. Amerika sangat luas.


Bahkan dokter Eri juga ngga memberi tau detil dimana Wina akan dirawat.


Tapi foto yang dikirimkan dokter Eri membuat hatinya sangat terluka dan hancur.


Gadis kecintaannya sedang memejamkan mata dengan selang oksigen dan selang infus di tubuhnya.


"Kita do'akan semoga Wina kuat dan cepat sehat. Sehingga bisa berkumpul lagi dengan kita," kata Gaga sambil menepuk bahunya.


"Amiin," sahut teman temannya kompak.


"Amiin," ucap Ardan penuh kesungguhan.


"Kita mau pulang. Ayo, kita antar," ucap Gaga maklum.akan wajah kecewa Ardan.


"Ngga usah. Makasih ya udah ngantar aku ke sini," kata Ardan berusaha menyimpan perasaan kecewanya dan mengulaskan senyum tipisnya.


"Sama sama," balas Gagal maklum.


Mereka semua saling pandang. Rasanya kasihan melihat wajah Ardan yang begitu menderita. Sangat jelas terlihat.


"Oh iya, aku mau pamit. Aku mau ke Jerman untuk berobat. Sekalian ngurus bisnis papa aku di sana," kata Ardan seolah pamit.


Gaga yang sudah tau masalah Ardan hanya bisa diam. Betapa beratnya mencintai tapi ngga bisa bersatu. Betapa beratnya merindu tapi mgga bisa bertemu.


Teman temannya yaang ngga tau secara detil saling pandang dalam kebingungan. Mengapa Ardan ngga berobat sekalian ke Amerika bersama Wina. Mengapa mereka malahan berpisah di situasi yang harusnya saling menguatkan?


"Ya Bro. Cepat sembuh ya. Kalo jodoh, pasti kalian akan bersama juga," kata Gaga membesarkan hati Ardan.


Ardan benar benar tersentuh mendengarmya. Selama ini Ardan ngga pernah punya sahabat buat curhat. Tapi ternyata Gaga bisa memahaminya tanpa dia bercerita tentang kegundahan hatinya.


"Makasih, Bro," ucap Ardan tulus.

__ADS_1


Dewi dan Dimas saling menatap penuh makna. Kata kata Gaga barusan sepertinya juga ditujukan padanya. Siapa yang bisa menolak jodoh kalo Tuhan sudah menakdirkan.


"


__ADS_2