
Wina dan Nadhira yang sudah memasuki ruang meeting mulai resah. Beberapa peserta meeting sudah mulai berdatangan. Ada empat perwakilan perusahaan termasuk perusahaan Ardan.
Akhirnya yang ditunggu Wina datang juga. Ardan memasuki ruangan dengan gaya ngga acuhnya. Dibelakangnya ada seorang laki laki yang seusia dengannya juga.
Jantung Wina berdebar keras. Ada nyanyian rindu yang ingin membuncah keluar dari rongga dadanya. Matanya pun sampai berkaca kaca.
Laki laki itu cukup berbeda dari setahun yang lalu. Wajahnya ditumbuhi jambang tipis. Terlihat lebih kurus walau kesan macho sangat kuat terpancar dalam dirinya.
Sepanjang meeting, Ardan hanya sibuk dengan hpnya. Dia belum sadar ada Wina yang menatap lekat penuh rindu padanya. Laki laki yang datang dengannya, sibuk menjabarkan materi mereka dan menjawab segala pertanyaan yang dilontarkan.
"Win," panggil Nadhira sambil memegang lengannya.
Wina tersenyum tipis, baru tersadar kalo fokusnya ngga bisa teralihkan dari Ardan
"Ya?"
"Bentar lagi giliran kita," kata Nadhira mengingatkan.
Hatinya tersentuh melihat sepupunya yang terus saja menatap Ardan yang sama sekali belum menyadari kehadirannya.
Akhirnya Nadhira pun memaparkan program mereka. Dan seperti yang sudah mereka rencanakan, mereka berdua akan saling bergantian. Wina pun mengambil alih saat dilakukan analisis data tentang keuntungan yang akan diperoleh dan memaparkan faktor resikonya yang sangat kecil.
Ardan terdongak kaget mendengar suara yang dulu selalu menemaninya.
Matanya beriak begitu melihat Wina yang dengan gamblangnya menuturkan konsep perusahaannya.
Tatapan matanya yang tak berkedip membuat laki laki di sampingnya menyadari dan menatapnya heran.
Tumben Lo fokus, batinnya kemudian mengalihkan tatapannya pada wakil CEO saingan perusahaan mereka.
Tentu saja Kian-laki laki muda, sahabat dan merangkap asistennya ngga kenal denga Wina. Karena wakil CEO itu baru bergabung di perusahaannya.
Kenapa si bos menatap wakil CEO baru ini serius. Walau baru, tapi dia terlihat pintar, batin Kian penuh tanya dan memuji penampilan expert wakil CEO di depannya.
Nadhira pun dapat melihat Ardan yang beberapa kali terlihat cuek dalam pertemuan pertemuan mereka, kini menatap lekat pada sepupunya. Seperti yang dilakukan sepupunya.
Benarkah mereka ada hubungan? batin Nadhira mulai yakin. Tatapan Ardan bukan seperti tatapan kagum akan kepintaran sepupunya, tapi lebih dari itu. Tatapan rindu karena sudah lama ngga bertemu.
__ADS_1
Nadhira hanya tau sepotong sepotong saja kisah mereka. Dia terkejut karena Papanya mengatakan sepupunya dirawat di rumah sakit di Amerika. Padahal selama ini dia taunya papanya anak tunggal.
Tanpa sengaja Nadhira mendengar obrolan kalo sepupunya berhubungan dengan Ardan Putra Pamungkas, most wanted top ten. Tentu saja Nadhira ngga percaya. Apalagi sosmed Ardan yang diintipnya tidak pernah menampakkan wajah kekasihnya secara jelas.
Mengapa mereka berpisah? Mengapa Ardan tidak menemui sepupunya waktu masih dirawat? Tidak ada yang mau menjelaskan secara detil padanya. Nadhira hanya menduga kalo sepupunya sudah putus dan hanya kekasih numpang lewat saja. Karena Ardan banyak digilai para wanita.
Saat selesai menjabarkan analisis datanya, Wina sengaja baru menatap Ardan yang sedari tadi terus menatapnya. Wina yang takut hilang konsentrasinya, makanya selama presentasi Wina mengalihkan tatapannya dari Ardan.
Bibirnya mengukur senyum untuk Ardan, begitu juga Ardan. Wajah dingin Ardan memudar. Nadhira dan beberapa gadis cantik yang ada di ruangan terpana melihat wajah kaku itu tersenyum penuh makna.
Ardan terus menatap Wina sampai gadis itu duduk di depannya.
Bodohnya dia ngga menyadari kalo Wina sangat dekat dengannya, batinnya mengumpat.
"Bos, Lo kenal?" tanya Kian heran melihat reaksi bosnya yang sangat berlebihan pada wakil CEO saingan mereka.
"Mana kunci mobil?" tanya Ardan tanpa menatap Kian.
"Kunci mobil?"
Walau heran Kian menyodorkan juga kunci mobilnya pada Ardan.
"Haah?" kaget Kian ngga percaya.
Tapi matanya semakin membulat melihat Ardan yang langsung berjalan mendekati arah wakil CEO baru itu yang sedang memasukkan laptopnya ke tas jinjingnya.
Nadhira dan peserta meeting lainnya menatap heran dan penuh harap pada Ardan yang mendekat ke arah mereka.
Biasanya Ardan diikuti asistennya langsung keluar setiap meeting selesai.
Jantung Nadhira dan beberapa gadia cantik yang berdiri searah dengan tujuan Ardan berdebar. Ardan terlihat sangat maskulin. Mereka jarang melihat Ardan dari dekat. Harun parfumnya menghipnotis ketika Ardan melewati mereka.
Hati Nadhira dan para gadis cantik itu menjadi patah ketika melihat Ardan langsung meraih tangan Wina yang terkejut karena ngga menyadari kedatangan Ardan.
"I miss you," bisiknya kembut membuat wajah Wina merona. Andai saja bukan dalam ruang meeting yang masih dipenuhi orang orang, Wina akan langsung memeluk Ardan menumpahkan segala rindu dan permintaan maaf.
Nadhira yang berdiri di sebelah Wina dapat mendengar kata kata Ardan.
__ADS_1
Fix, dia sudah yakin kini, keduanya memiliki hubungan yang dalam.
"Aku duluan," pamit Wina pada Nadhira ketika Ardan menarik lengannya agar mengikutinya.
Para peserta meeting mulai berbisik. Baik gadis gadis maupun para pria. Mereka ngga pernah melihat Ardan seaktif ini dengan perempuan manapun. Kian sang asisten walaupun sempat bengong, akhirnya ikut pergi menyusul dibelakang Ardan. Sengaja menjauh dari menjawab pertanyaan pertanyaan yang ngga berbobot.
Wina menatap tangan Ardan yang sudah tersampir di bahunya. Jantungnya berdebar sangat kencang, begitu juga jantung Ardan yang dapat dia rasakan karena mereka sangat dekat.
Ardan ngga bicara sepatah pun sampai mereka memasuki lift. ada Kian di belakang mereka yang juga membisu tapi menatap curiga.
Wina dapat merasakan beberapa kali Ardan meremas bahunya lembut tanpa sepatah kata yang terucap.
Sampai lift terbuka, mereka pun berjalan ke parkiran mobil. Sepanjang jalan mereka menjadi santapan heboh dari para pegawai yang melihatnya
"Sorry, gue ada urusan," katanya pada Kian.
"Ok, gue udah pesan taksi," kata Kian maklum.
Dia melihat si bos dengan gentle membukakan pintu mobil untuk wakil CEO baru itu dan melindungi kepala gadis itu ketika akan memasuki rubiconnya.
Yang membuat Kian takjub, wajah dingin itu tersenyum. Rasanya sudah lama sekali ngga melihat senyum di wajah bosnya.
Akhirnya rubicon itu pun berlalu meninggalkan Kian dengan banyak pertanyaan.
Tangan Wina terus di genggam Ardan sambil menyetir. Wina merasakan aliran hangat yang membuat matanya basah.
Ada ketakutan dalam dirinya. Dia belum siap berpisah dengan Ardan.
"Kenapa kamu nangis?" tanya Ardan terkejut melihat Wina mengusap air matanya.
Ardan segera meminggirkan mobilnya d iparkiran sebuah kafe di dekat situ yang cukup sepi.
"Kenapa kamu ngga pernah menghubungiku," kesal Wina dalam isaknya. Air matanya sangat deras membasahi pipinya begitu saja.
Ardan menarik kepala Wina ke dadanya. Dia mendekap erat sambil memejamkan matanya.
"Maaf," bisiknya pelan.
__ADS_1
Wina terus menangis, membasahi jas Ardan.
Mata Ardan pun mulai berkabut. Dia pun mencium lembut puncak kepala Wina. Wangi rambut Wina sudah sangat lama dia rindukan.