Cinta Lama Saingan Tetap

Cinta Lama Saingan Tetap
Menghadapi Keluarga Wina


__ADS_3

"Mereka bersama?" tanya Opa Megantara ketika melihat Nadhira memasuki ruangannya sendiri, tanpa Wina.


"Opa," ucap Nadhira sambil menyalim tangan Opanya.


Tanpa menunggu jawaban cucunya, Opa Megantara menghela nafas panjang.


"Anak itu, kirain sudah bisa lupa," keluh Opa Megantara sambil mendudukkan dirinya di sofa.


Keningnya yang keriput berkerut dalam.


"Apa mereka dulu beneran pacaran, Opa?" tanya Nadhira ingin memastikan lagi, walau kenyataan yang dilihatnya sudah sangat jelas


"Kata Omamu, iya."


Nadhira kagum juga sama sepupunya bisa menarik hati Ardan, laki laki favorit perempuan perempuan high class.


Opa Megantara kembali menarik nafas panjang.


Pasti sebentar lagi kakaknya akan telpon, batinnya resah.


Dan benar saja, hp di saku jasnya pun bergetar.


"Oma mu," kata Opa Megantara dengan raut kesal membuat Nadhira tersenyum jahil.


"Iya, kak."


"...................................................


...................................................."


"Iya," sahut Opa Megantara agak kesal.


"....................................................


......................................................"


"Iya."


Akhirnya pun sambungan telpon diputus kakaknya yang bawelnya ngga ketulungan.


Sambil mengomel Opa Megantara menyimpan hpnya. Nadhira hanya tertawa melihat Opanya yang galak jadi mengkeret kalo berhadapan dengan kakaknya, Oma Rahayu.


"Ardan itu ganteng banget, Opa. Selama aku mengenalnya dia ngga pernah tersenyum. Wajahnya dingin, kaku. Tapi begitu melihat Wina, dia tersenyum. Dhira sampai meleleh, Opa," jelasnya kemudian tertawa kecil.


"Teman teman Dhira dulu sering cerita tentang Ardan. Dia mantan pembalap, dan selalu masuk top ten pengusaha muda yang suksea dan tampan," tambah Nadhira lagi bersemangat.


Opa Megantara tertawa mendengar kata kata cucunya.


"Sepupumu juga sangat cantik dan pintar. Dalam kesederhanaannya dia bisa menarik perhatian Ardan yang anak konglomerat," kata Opa Megantara memberikan sedikit koreksi.


"Iya, Opa," ucap Nadhira kemudian tertawa.


"Padahal Opa akan mengenalkannya dengan Dion, atas suruhan omamu," keluhnya sambil memijat keningnya.


"Dion, yang keluarganya bergerak dalam bisnis pertambangan ya, Pa?" tanya Nadhira takjub.


"Iya, keluarga Dion sempat menanyakan Wina dengan Omamu."


Hebat, baru beberapa bulan bekerja di perusahaan, tangpalannya sungguh luar biasa, batin Nadhira memuji.


"Tapi mereka berdua sepertinya saling mencintai."

__ADS_1


"Kalo Wina bersana Ardan, Omamu takut kalo nyawanya dalam bahaya."


"Kenapa bisa begitu, Opa?" tanya Nadhira ngga ngerti.


"Kecelakaan yang Wina alami akibat perintah dari mama Ardan."


APAA? Batin Nadhira terkejut.


"Mamanya sudah di penjara, tapi baru baru ini dipindahkan ke rumah sakit jiwa," kata Opa Megantara membuat Nadhira makin ternganga.


"Mamanya Ardan ngga suka bisa berbuat sampai segitunya?" Nadhira ngga bisa menghilangkan rasa terkejutnya.


"Karena dia mengira Wina hanya orang biasa," tambah Opa Megantara ketus.


"Ardan memang sudah berusaha menyelamatkan Wina. Tapi Omamu masih ngga bisa terima sikap mamanya Ardan," cerita Opa lagi kemudian memghembuskan nafas kasar.


Nadhira diam, ngga menyahut. Ternyata masalah mereka berat juga.


*


*


*


"Kamu udah siap mental ketemu nenek?" tanya Wina ketika mereka menghabiskan hari mereka di pantai sambil menikmati air kelapa mudanya.


"Nenek?" tanya Ardan bingung.


"Oma Rahayu," kesal Wina melihat Ardan yang terlihat ngga ngerti.


Seketika Ardan tertawa lepas membuat wajah Wina manyun.


"Sorry, aku udah terbiasa manggil oma," jelas Ardan ketika melihat wajah Wina yang menahan kesal.


Kebersamaan setelah sekian lama ngga bertemu membuat perasaannya bahagia. Bebannya pun sudah terbang jauh.


"Ya," ucap Wina kemudian menyeruput kembali kelapa mudanya.


"Sudah, jangan khawatir. Pulang ini mau diantar ke rumah kamu atau rumah Oma Rahayu?"


Wina terdiam sebentar.


"Rumahku aja."


Wina sebetulnya belum siap membawa Ardan menemui opa dan omanya.


Lebih baik menemui mama dan papanya dulu. Biarlah mama dan papanya yang akan membujuk oma dan kedua opanya.


Ardan mengacak rambut Wina dengan senyum lembut di bibirnya.


"Jangan khawatir. Oh iya, besok temani aku di kantor ya," pinta Ardan berharap.


"Emm... oke," jawab Wina agak ngga percaya. Tumben, dulu nawarin aja ngga pernah. Tapi rasanya Wina agak trauma memgingat kejadian dulu saat dia mengantarkan makanannya ke ruangan Ardan.


"Maaf untuk yang dulu," sesal Ardan ketika melihat wajah Wina berubah muram lagi. Tapi Ardan yakin Wina akan kaget saat masuk ruangannya dan akan betah berlama lama di sana. Dekorasi ruangan itu sudah dia rubah semuanya. Jadi kenangan buruk itu bisa hilang.


"Ya," ucap Wina pelan kemudian berusaha tersenyum. Dia harus membuang segala sampah di kepalanya agar tidak memendam kesal terus dengan Ardan.


Keduanya menyeruput kembali air kelapa mudamya sebelum pulang ke rumah Wina.


Yang Wina takutkan terjadi. Di rumah sudah menunggu selain mama dan papanya, Oma Rahayu, Opa Megantara, bahkan Opa Hadikusuma yang sengaja datang akibat titah Oma Rahayy.

__ADS_1


Setelah menyalim tangan para tetua di dalam, mereka duduk berdampingan.


Wina terlihat tegang, tapi Ardan tetap santai.


"Kalian dari mana saja," interogasi Oma Rahayu di mulai.


"Pantai, Oma," jawab Ardan.


Oma mendengus kesal.


"Ngapain aja," tanyanya masih galak.


Tuh, kan, keponya udah keluar, batin Wina deg degan.


"Ngobrol Oma. Kita udah setahun ngga ketemu," jawab Ardan tenang.


"Hemmh," dengus Oma Rahayu lagi. Sementara kedua opanya menatap Ardan tajam. Pantas diakui di dunia bisnis, attitude nya sangat tenang walau di bawah intimidasi.


"Oma akan menjodohkan Wina dengan anak dari Grup Subagyo. Kamu jangan mendekati Wina lagi," tandas Oma Rahayu tajam.


Wina tersentak mendengar keterusterangan neneknya pada Ardan. Juga larangannya.Wina melirik Ardan, keok ngga tuh.


"Maaf Oma. Saya benar benar minta maaf atas apa yang sudah dilakukan mama saya. Beliau pun sudah sangat menderita karena hampir setahun hidup di penjara," kata Ardan dengan nada tetap tenang. Benar benar Ardan mampu menahan gejolak berbagai perasaan dalam hatinya.


"Saya mohon, tetap ijinkan saya bersama Wina. Saya sangat mencintainya," kata Ardan sungguh sungguh, penuh harapan.


Suasana terasa hening. Wina tersenyum mendengar kata kata Ardan, dadanya berdesir hangat.


Mama dan papanya saling pandang. Wina menganggukkan kepalanya pada keduanya saat menatap ke arahnya membuat kedua opanya mengulum senyum.


"Oma masih ngga percaya kamu bisa melindungi Wina dari mama kamu," cibir Oma Rahayu sinis.


Ardan menghela nafas panjang.


Sabar, katanya dalam hati.


"Tolong Oma berikan Ardan kesempatan," ucapnya setengah menohon.


Wina jadi gemas melihat sikap neneknya. Walaupun Wina tau, apa pun yang dilakukan oma dan kedua opanya untuk melundunginya. Tapi tetap saja dia merasa ngga tega dengan Ardan.


"Mama kamu ngga selamanya, kan, di rumah sakit jiwa," sarkas Oma Rahayu.


"Iya," jawab Ardan dengan lidah kelu.


"Kalo sudah sembuh, tentu mama akan keluar dari paviliun gangguan mental, Oma," kata Ardan sengaja menekankan kata gangguan mental.


Keadaan menjadi hening dan sunyi mendengar perkataan Ardan.


Hatinya juga sakit selama ini telah membiarkan mamanya di penjara, padahal mamanya sudah mulai menyesal dengan tindakan jahatnya.


Tapi Ardan dan keluarga ngga bisa berbuat apa apa dengan bukti kejahatan yang keluarga besar Wina punya.


Sampai akhirnya mamanya di vonis mengalami gangguan memtal.


Sebagai anak yang sudah dilahirkan, Ardan pasti akan berusaha agar mamanya cepat sembuh dan berada di antara dia dan papanya.


Wina merasa traumanya balik lagi. Dia begitu takut kalo mama Ardan sudah ngga berada lagi di rumah sakit jiwa dan bisa meraihnya dengan mudah.Tapi Wina juga ngga tega melihat kesedihan Ardan yamg dijauhi dari mamanya.


"Siapa yang menjamin mama kamu tidak akan melakukan keburukan pada Wina," sinis Oma Rahayu memecahkan kesunyian.


Ardan terdiam. Dia hanya bisa berharap mamanya bisa berubah dan menerima Wina.

__ADS_1


"Saya, tante. Saya yang akan menjamin istri saya," kata papa Ardan yang sudah berada di ruang tamu bersama teman lamanya Argo Seto.


__ADS_2