Cinta Lama Saingan Tetap

Cinta Lama Saingan Tetap
Putus


__ADS_3

"Kapan ya Om?" tanya Ardan kaget.


Kenapa Wina ngga cerita.


"Beberapa hari yang lalu," kata Om Endi berusaha mengingat ingat.


Ardan terdiam. Keduanya menoleh ketika pintu ruangan Om Endi terbuka.


"Bapak manggil saya?" tanya Wina sambil melangkah masuk tanpa tau ada Ardan di situ.


"Iya, Ardan ngajak kamu makan siang," kata Om Endi ramah.


Wina kaget melihat ada Ardam disitu. Ingin langsung keluar tapi ngga mungkin dia bersikap ngga sopan di depan big bosnya.


"Om, kita pergi duluan ya," pamit Ardan sambil menggandeng Wina yang ngga mungkin menolaknya di depan big bosnya.


"Hati hati, jangan dinakalin ya, Ardan," canda Om Endi membuat Ardan tertawa kecil.


Wina berusaha tersenyum untuk menutupi kecurigaan big bosnya.


Dia pun menuruti Ardan. Teman temannya belum keluar makan soang. masih ada waktu setengah jam lagi. Wina merasa Ardan mengenal big bosnya sampai diperbolehkan pergi, padahal belum jam istirahat.


Begitu sampai di depan mobil Ardan, Wina menghempaskan tangannya hingga genggaman Ardan terlepas.


"Win, maaf, aku khilaf," kata Ardan sambil meraih tangan Wina lagi. Tapi gadis ini menepisnya.


"Win, aku memang brengsek. Tapi bukan aku yang mulai. Dia hampir jatuh, trus aku menolongnya. Entah kenapa dia menciumku dan aku memang brengsek. Aku membalas ciumannya," kata Ardan mengaku dengan nada marah campur frustasi.


Wina ternganga mendengarnya. Dia memang tau dulu pergaulan Ardan seperti apa. Tapi melihat langsung perbuatan pria yang berjanji akan serius dengannya membuatnya merasa jadi orang paling bodoh.


Apalagi kini mendengar pengakuan jujurnya.


"Ardan, aku mohon cukup sampai di sini aja. Kalo kamu suka sama gadis itu, ya udah sama.dia aja. Lagian restu mama kamu juga ngga akan pernah sampai ke aku," kata Wina dengan nada memelas karena memendam rasa sakit yang amat sangat. Cukuplah kemarin dia menangisi Ardan. Matanya pun masih cukup bengkak hari ini.


"Tidak, aku ngga akan melepaskan kamu. Aku memang egois. Tapi aku ngga bisa tanpa kamu," kata Ardan memohon.


Wina memundurkan langkahnya.


"Kita putus Ardan. Lupakan aja semuanya.


Ardan menatap Wina putus asa.


"Tidak bisakah kamu memafkan aku?" pintanya lirih.


Mata Wina berkaca kaca.


"Semoga kamu bahagia," kata Wina berbalik pergi. Dia bergegas memasuki kantor dan membiarkan Ardan yang masih berdiri mematung ngga percaya.


Bahagiaku denganmu, maaf, maafkan aku, rintihnya dalam hati.

__ADS_1


Wina benar benar sudah pergi, menghilang. Hatinya juga. Dia merasa kekosongan yang amat sangat. Karena Wina sudah membawa hatinya pergi.


Akhirnya Ardan memasuki mobilnya.


Begini saja kah? Sudah selesai?


Ardan memegang dadanya yang terasa sakit.


Kalo jadi Wina, dia pun ngga akan memaafkan laki laki brengsek ini.


Ardan ingat, dia pun sempat terpesona dengan kecantikan Tiara. Sampai membalas ciuman gadis itu.


Dia memang bodoh.


Ardan memejamkan matanya. Akhirnya Ardan menjalankan mobilnya denga sangat kencang.


Wina kini melihat wajah sembabnya di kaca watafel toilet kantor merasa hatinya benar benar patah.


Air matanya masih saja mengalir. Tapi dia meyakini keputusannya. Dia ngga mungkin akan mendapat restu dari mama Ardan.


Cepat atau lambat mereka pasti akan putus juga.


Biarlah sakit sekarang. Ini hanya akunulasi dari rasa sakitnya yang dulu juga.


Yang aneh, Wina sama sekali ngga merasa lega dengan keputusannya. Yang ada hanya rasa hampa dan perih karena luka.


Kita orang biasa, carilah jodoh orang biasa aja.


Dia terlalu tinggi bermimpi.


Saat jatuh, rasanya sakit sekali.


Wina membasuh wajahnya. Teman temannya pasti ngga akab mencarinya karena mereka tau kalo Wina pergi bersama pacarnya.


Setelah cukup lama di toilet, Wina pun keluar. Tapi dia terkejut, begitu sampai di ujung lorong, Pak Endi menatapnya sambil tersenyum.


Orang tua ini mengerti, kalo telah terjadi sesuatu yang buruk di antar keduanya.


"Bisa bicara sebentar?"


Mendengar sapaan ramah itu membuat Wina rikuh.


"Bisa Pak."


Wina mengikuti Pak Endi ke taman samping bank.Dan duduk berhadapan.dengan Pak Endi.


"Santai, Wina," ucap Pak Endi dengan wajah kebapakannya


Wina tersenyum sopan. Berusaha tenang.

__ADS_1


"Kalian ada masalah?" tanya Pak Endi to the point.


"Engga, Pak," bohong Wina.


Pak Endi menghela nafas panjang.


"Papa Ardan dan Saya teman lama."


Pantas, batin Wina ketika menyadari betapa bebasnya Ardan tadi membawanya saat masih jam kantor.


"Bapak tau, ngga bakalan mudah menjadi pacar Ardan," ucap Pak Endi kemudian menatap bunga bunga di depannya.


"Mamanya yang punya kriteria tinggi untuk calon mantunya dan Ardan yang selalu di goda gadis gadis cantik."


Mia serasa tertohok mendengarnya


Benar sekali, batinnya sedih.


"Tadi bapak lihat, Ardan seperti terpukul.dan kamu pun menangis," ucapnya hati hati.


Wina menunduk.diam.


"Kalian putus?" tebak Pak Endi yang langsung merasa benar melihat reaksi Wina yang sama sekali tidak membantah.


"Mama Ardan pasti senang mendengarnya."


Wina tersenyum pahit.


Sudah pasti, batinnya getir.


"Bapak lihat, kalian seperti saling menyukai," tebak beliau.


"Kami terlalu berbeda, Pak," ucap Wina getir.


"Kamu baik dan pintar."


"Saya bukan dari keluarga kaya raya, Pak."


"Wina....."


"Harusnya sejak awal saya sadar. Cinta saja tidak cukup," cicit Wina pelan.


Kesetiaan yang Ardan nggak punya dan kepercayaan yang dia pun ngga lagi memilikinya.


"Maaf Pak," kata Wina sambil bangkit berdiri dan berbalik pergi. Ar matanya tumpah lagi. Patah hati keduanya benar benar membuat sakit tak tertahankan di hatinya.


Pak Endi menatapnya kasihan. Dia pun masih mengingat wajah pias Ardan sebelum ngebut dengan mobilnya.


Semoga anak itu selamat, do'anya dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2