
"Wina, kamu harus nemenin Oma beli perhiasan," seru Oma Rahayu ketika memasuki ruangannya.
Baru juga Wina membuka laptopnya Oma Rahayu datang mengejutkannya.
"Sekarang, nek?" tanya Wina agak ragu
Oma Rahayu langsung berkacak pinggang dan melototkan matanya.
"Kamu pikir tahun depan?"
Wina tertawa kecil melihat reaksi Oma Rahayu.
"Oke Oma," kata Wina sambil menutup laptopnya.
"Hmm,,,, apa karena kamu cucuku jadi kamu enggan membantah seperti dulu?" dengus Oma Rahayu.
Wina lagi lagi tertawa. Hidup memang aneh, ngga disangka, nenek yang digelarinya nenek gayung ini adalah nenek kandungnya.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun Wina mengambil tas kecilnya dan melangkah mendekati Oma Rahayu.
"Ayo kita berangkat, Oma," ajaknya sambil menggandeng tangan keriput Oma Rahayu yang mengalihkan pandangannya dari Wina dengan mengulum senyum.
"Eh, Oma," kaget Nadhira ketika akan memasuki pintu ruangan Wina.
"Oma mau bawa Wina pergi," kata Oma to the point, ngga bisa dibantah.
"Oh, iya Oma," ucap Nadhira patuh sambil melirik Wina agak kesal, masalahnya banyak pekerjaan yang harus mereka selesaikan sampai akhir bulan ini.
Apalagi menjelang pernikahan, Ardan selalu mengajak Wina menemaninya bekerja di perusahaannya. Memamg, setelah makan siamg, Wina akan dikembalikan Ardan ke kantornya..Tapi kurang efektif, karena Nadhira harus menangani meeting meeting pagi sendirian.
Padahal rencananya Nadhira mau membahas pekerjaan yang mereka akhirnya terima dari dinas siang ini. Tapi Nadhira tentu saja ngga berani mengatakan penolakan pada Oma kesayangamnya. Bisa bisa mereka berdua akan kena omelan yang akan terus diungkit ungkit selama seminggu ini.
Wina yang dapat membaca isi pikiran ruwet Nadhira mengembangkan senyum lebarnya.
Untungnya Ardan selalu membantunya. Maklum saja, Wina belum punya pengalaman dengan perusahaan besar milik keluarganya.
"Aku udah ngirim ke kamu hasil analisisnya," ucap Wina memberitau membuat wajah kesal Nadhira berubah ceria.
"Sungguh? Kalo gitu oke," seru Nadhira senang.
"Hati hati ya Oma, Wina," lanjutnya super ramah.
Oma ngga menjawab,tapi lamgsung menarik tangan Wina.
"Apa dia memperbudak kamu?" tuduh Oma Rosita penuh selidik.
"Ngga Oma," bantah Wina sambil memggelemgkan kepala.
"Tadi kenapa Dhira lelihatan kesal?" tanya Oma masih curiga.
Wina tertawa kecil.
"Dasar cucu kurang ajar. Baru aja sah jadi cucu udah suka ngetawain omanya," omel Oma Rahayu merajuk.
__ADS_1
"Begni nenekku yang cantik. Wina baru aja masuk kantor. Sepuluh menit lah sebelum Oma datang," ucap Wina teris teramg.
Oma menghentikan langkahnya. Mereka baru aja keluar dari lift lobby perusahaan.
Kali ini tangannya bersidekap, menatap kesal ke arah cucu yang baru saja diketahuinya memiliki darah keturunannya.
"Kenapa kamu baru datang siang siang. Kata mama kamu, kamu idah berangkat dari pagi. Kamu ngelayap kemana sama bocah sok ganteng itu?" cerocos Omanya mangkel. Apalagi menyangkut Ardan yang dia benci karena selalu dibandingkan dengan cucu kesayangannya.
Wina tersenyum.pada beberapa pegawai yang memperhatikan mereka takut takut.
"Ardan minta Wina nemanin dia di kantor, Nek," jelas Wina ringan.
"Ngapai kamu di kantornya ngapain dari pagi ampe siang?" sentak Oma Rahayu tambah kesal karena penuh curiga.
"Wina ngerjain kerjaan Wina. Tadi Wina udah bilang ke Dhira kalo kerjaannya udh selesai," terang Wina lagi membuat sang nenek manggut manggut.
"Kamu aneh aneh sama dia, ya? Sempat tidur atau berbuat ngga benar?" tanya Oma Rahayu setengah menuduh dan bertanya.
"Ngga nek, Wina ngerjain kerjain kantor juga. Sama kayak Ardan. Kita harus cepat nyelesaiin kerjaan, Nek, sebelum nikah," kata Wina kemudian tertawa kecil.
Wajah sang Oma Rosita yang sudah masam bertambah masam mendengar kata pernikahan dari mulut cucunya.
Kemudian beliau melangkah pergi meninggalkan Wina yang tersenyum maklum menghadapi tingkah Omanya. Wina pun mulai memyusul Oma.Rahayu.
"Aku ngga sudi besanan dengan si Karin gila itu. Beraninya dia ngga minta maaf pada mu dan aku! Padahal keluarga besarnya sampai memohon mohon minta dimaafkan!" rutuk Omanya sambil jalan meninggalkan lobby.
Beberapa karyawan menundukkan kepalanya mendengar omelan yang cukup jelas dan pedas itu.
Wina akan sangat bersalah kalo ada apa apa terjadi pada nenek yang sudah dia sayang sejak awal mengenalnya.
Dia menjadi penyumbang andil terbesar penyakit hipertensi Oma Rahayu meningkat.
Wina meraih tangan Omanya yang memijatnya lembut.
"Maafkan Wina ya, nek," kata Wina lembut. Mereka sudah tiba di samping mobil Oma Rahayu.
Supir Omanya sudah mrmbukakan pintu buat neneknya.
"Udah, ayo cepat masuk ke mobil," dengus Oma sambil masuk ke dalam mobil.
Wina tersenyum. Dia pun melepaskan pegangannya dan mengikuti oma Rahayu memasuki mobil.
Di dalam mobil Wina kembali meraih lengan neneknya dan mulai memijatnya lembut.
Oma Rahayu masih saja diam, tapi beliau dapat merasakan syarafnya yang tadi menegang kini mulai mrngendur. Saking nyamannya Oma Rahayu pun memejamkan mata dan mulai terlelap.
Wina tersenyum melihatnya. Dia masih saja memijat lembut lengan neneknya. Dia baru saja mengetahui Oma Rahayu nenek kandungnya. Wina sangat berharap agar neneknya selalu sehat. Banyak yang ingin dia lakukan bersama neneknya.
Akhirnya mereka sampai di toko perhiasan yang sangat besar. Rame sekali yang berkunjung di sana, karena kualitas perhiasan yang ditawrkan sangat istimewa.
"Nek," panggil Wina pelan samhil menepuk lembut lemgannya, membuat Oma Rahayu membuka mata.
"Kita sudah sampai?" tanya Oma sambil merapikan dandanannya.
__ADS_1
"Sudah cantik, nek," ucap Wina dengan senyum jahil di wajahnya.
"Iya, aku tau aku udah tua," omel Oma Rahayu lagi.
CUP
Oma Rahayu terdiam saat kecupan lembut mampir di pipi kanannya.
Oma mulai tersenyum. Wina termasuk cucu yang berani berinteraksi dengannya, seperti Eri.
"Ayo Oma, ntar cantiknya luntur," goda Wina langung turun.
Oma Rahayu ngga marah, malah tetap tersenyum. Hatinya terenyuh dengan sikap Wina. Cucunya yang berhati baik. Harusnya mama Ardan bangga memilikinya. Bukannya tidak suka padanya. Bahkan hampir membunuhnya.
Sambil menggandeng Wina, Oma Rahayu pun melangkah tenang memasuki toko perhiasan mewah itu.
"Pilih yang kamu suka. Oma lihat cuma ada kalung emas tipis murah itu. Ganti, pilih yang ada berliannya yang besar. Tanganmu polos sekali. Pake gelang, kalo perlu yang tebal, beli cincin untuk salah satu jarimu dengan hiasan berliannya. Heran, papa dan mamamu sangat miskin sampe ngga bisa membelikan anak tunggalnya banyak perhiasan berlian," omel Oma Rahayu panjang lebar membuat Wina terkekeh.
Saat ini mereka sudah berada di depan salah satu stand perhiasan mewah.
"Jangan ketawa. Pilih, jangan bikin malu nenekmu," sarkas Oma Rahayu sambil melihat lihat perhiasan di dalam kotak kaca.
Wina terkekeh lagi. Sama sekali ngga tersinggung. Karena memang sebelum tau kalo dirinya adalah cucu omanya yang sangat kaya raya, Wina cukup memiliki perhiasan emas beberapa gram saja tanpa berlian.
Wina pun mulai memilih milih. Tapi matanya langsung terpesona dengan untaian kalung berliontin AK yang dihiasi berlian kecil tapi terlihat sangat mewah.
"Kak, yang ini," ucap Wina sambil menunjukkan pilihannya pada pegawai wanita yang langsung mengambilkan kalung yang ditunjuk Wina.
"Kenapa bukan AW," kata Oma Rahayu sambil menunjukkan liontin dengan inisial tersebut.
Wina tersenyum getir.
"A untuk Ardan, K untuk Karin, mama Ardan, Nek."
"Kenapa kamu masih menyebut nama itu. Moodku jadi buruk,"dengus Oma Rahayu.
Wina tersenyum lembut. Dia menyandarkan kepalanya di bahu Oma Rahayu.
"Ardan itu sayang banget sama mamanya, Nek. Karena itu Wina dari dulu selalu minta mundur karena ngga mau nyakiti hati mama Ardan. Wina sudah cuekin Ardan, tapi Ardan tetap ngga mau ninggalin Wina. Malah berjanji kalo ngga akan nyerah untuk meluluhkan hati mamanya," kata Wina kemudian menjeda sebentar.
"Tapi melihat Ardan sakit Wina ngga tega. Apalagi Ardan sampai hampir meninggal karena keegoisan Wina. Wina sekarang hanya bisa berdo'a semoga mama Ardan bisa menerima Wina," kata Wina dengan suara bergetar.
Oma Rahayu membelai rambut Wina. Hatinya bergetar mendengar pengakuan Wina.
"Mau kamu kasihkan langsung?" tanya Oma setelah lama terdiam.
"Enggaklah Oma. Biar Ardan.aja yang ngasih. Agar mamanya mengerti kalo Ardan sangat sayang dengan beliau," ucap Wina bijak.
"Mama dan papamu benar benar pintar merawat kamu. Walau ngga banyak harta, tapi mereka bisa membuat kamu menjadi anak sangat yang baik," puji Oma tulus.
Ngga jauh dari situ, tubuh mama Ardan bergetar menahan perasaannya. Suaminya merengkuhnya agar istrinya ngga jatuh.
"Berikan Restumu," pinta papa Ardan sangat lembut di telinga mama Ardan.
__ADS_1