
"Bisakah kita mengetes Ardan?" tanya Mama Ardan ketika sedang berdua saja di kamar.
Mereka baru saja kembali dari rumah Wina.
"Maksudmu?" tanya Papa Ardan ngga ngerti.
"Aku yakin perasaan anak itu masih abu abu. Apakah relasi bisnismu menpunyai anak gadis yang cantik?"
Papa Ardan menatap istrinya. Dia pun masih ragu akan perasaan Ardan. Apa iya Atdan sudah memantapkan hati pada Wina.
Gadis itu memang cantik dan pintar. Tapi sebenarnya itu belum cukup untuk menjadi pendamping putranya. Pewaris tunggal kerajaan bisnisnya.
Lagi pula banyak yamg lebih cantik dan pintar dari Wina. Contohnya saja putri rekan bisnisnya, Zain. Anaknya yg model itu sangat cantik dan juga pintar.
Beliau setuju pendapat istrinya. Ardan masih abu abu. Mungkin dia terkena pesona sesaat yang mungkin akan luntur.
"Temanku anaknya model yang sangat cantik. Dia ingin mengenalkannya pada Ardan," kata Papa Ardan tenang.
Maaf Ardan, papa juga mau tau, kamu bisa ngga berpaling dari Wina.
Senyum di bibir Mama Ardan terkembang. Dia hanya perlu Wina mundur dengan sendirinya dari Ardan.
"Boleh di coba."
"Besok aku akan janjian dengannya," putus papa membuat istrinya tambah senang.
Semakin cepat akan semakin baik, batin Mama Ardan sinis.
*****
"Kemarin dokter Eri tanya kenapa kamu ngga ikut," celoteh Dewi ketika mereka berada di wastafel.
Dia sedang menebalkan maskaranya.
"Kamu jawab apa?" tanya Wina yang sedang mencuci tangannya.
"Lagi nge date sama pacarnya," tawa Dewi membuat Wina tersenyum.
Padahal saat itu dia sedang dihina mamanya Ardan, batinnya miris.
"Dokter Eri terlihat suka sama kamu," kata Dewi iri.
Padahal dia sudah mendempul wajahnya, masih saja targetnya lolos. Hanya Dimas yang memujanya.
"Mungkin cuma heran karena aku ngga ikut. Belum tentu suka," bantah Wina sekedar untuk menyenangkan hati temannya.
Dan wajah Dewi kembali berseri.
"Mungkin juga, ya."
"Kalian di sini?" kaget Sita yang baru saja datang
"Ada apa?" tanya Dewi ngga acuh. Dia masih kesal melihat sikap Sita yang over dengan Dokter Eri. Kenapa target mereka sama, keluhnya kesal dalam hati.
__ADS_1
"Si bos ngajak kita makan baeng lagi. Katanya buat ngerayain keberhasilannya keluar dari status jomblo," jelas Sita penuh semangat.
Mumpung makan gratis. Enak dan mahal lagi. Tempatnya pun elit.
"Ooo," jawab Wina datar.
"Kita harus ikut."
"Ngancam pake sp lagi ya," tuduh Dewi karena sudah hapal kebiasaan bosnya yang ngga mau ditolak.
"Pastilah," sahut Sita enteng sambil membetulkan bulu matanya yang cetar.
Wina dan Dewi pun terkikik.
"Mumpung gratis," tukas Dewi.
Wina kembali terkikik.
"Ya udah, ayo kita berangkat. Oiya, pacar Lo yang keren itu ngga ngajakin makan siang?" pancing Sita sebelum mereka meninggalkan toilet wanita, tempat favorit mereka.
Wina hanya menggeleng. Ardan mengatakan hari ini dia sangat sibuk Tapi Ardan berjanji akan menjemputnya pulang.
"Hati hati, Win. Lo pacaran dengan orang yang terlalau kaya," kata Dewi mengingatkan.
"Kan malah bagus. Aku juga mau punya pacar seperti itu," respon Sita sambil melirik iri pada Wina yang hanya tersenyum saja.
Padahal Wina biasa aja. Kenapa seorang Ardan bisa jadi pacarnya, batinnya sungguh iri.
"Heran aku. Bos Gaga juga ganteng dan kaya. Susah banget nyari jodohnya," cela Sita ngga abis pikir.
"Kriterianya tinggu.Kita aja lewat," balas Dewi ikut mencela.
Wina hanya diam.
Apa dirinya sudah memenuhi kriteria Ardan.
Mengingat kedatangan Ardan tadi malam, apakah dia benar benar sudah serius dengannya. Batin Wina terus saja bertanya tanya.
"Yok," seru Gaga menyadarkan Wina. Akhirnya ketiga gadis itu mengambil tasnya dulu baru menyusul Gaga ke basemen.
****
Ardan seakan terhipnotis melihat gadis super cantik di depannya. Tiara, putri Pak Zain. Dia datang mengantarkan berkas berkas kerja sama perusahaan mereka.
Begitu juga Tiara. Gadis itu benar benar terpesona akan ketampanan Ardan.
"Silakan duduk," kata Ardan akhirnya sadar.
Benar kata Papa, gadiis ini sangat cantik, batinnya cukup kagum.
Ngga banyak gadis yang bisa menghipnotisnya. Wina salah satunya.
Ah, tanpa sadar Ardan membuang kasar nafasnya. Belum apa apa sudah tergoda, batinnya merasa bersalah dengan Wina.
__ADS_1
"Terimakasih," ucapnya tersipu. Wajahnya merona ketahuan mengagumi si tampan di depannya.
"Papa memintaku memberikan ini," ucapnya anggun sambil menyerah kan berkas pada Ardan.
Saat Ardan menerimanya, Tiara sedikit meremas lembut jari jari Ardan yang bersentuhan dengannya.
Ardan tersenyum miring. Ardan pun langsung membaca dengan serius detail kerja sama itu. Ardan tau Tiara memperhatikannya.
Andai saja dulu dia bertemu dengan Tiara, dia akan sedikit bermain dengannya.
"Ngga lama kemudian, Ardan pun menandatangai berkas berkas tersebut tanda setuju. Tadi malam dia sudah mempelajarinya, hingga dia bisa cepat menandatanganinya.
Jam menunjukkan waktu makan siang.
"Emm... saya ingin mentraktir anda makan siang," kata Tiara memberanikan diri.
Ardan melirik jamnya. Satu jam lagi dia akan meeting penting. Karena itu dia tidak mengajak Wina makan siang.
Tapi untuk menolak juga sungkan. Nggak enak sama papa gadis ini.
"Gimana kalo kita makan siang di kantorku aja. Bentar lagi aku ada meeting penting."
Tiara tersenyum manis.
"Oke."
"Di sini ada menu soto ayam, soto daging, mie.goreng, sate, steak. Kamu mau makan apa?" tanya Ardan menawarkan.
"Aku ikut kamu aja."
"Oke."
Ardan pun meminta ob membawakan makan siang ke ruagannya. Berupa soto daging dan minumannya dua teh botol.
"Ngga ada pantangan?" tanya Ardan mengingat gadis di depannya adalah model terkenal.
Tiara menggelengkan kepalanya masih dengan senyum manisnya.
"Biasanya aku membakar kalori dengan treatmild."
Ardan tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Syukurlah. Biasanya model sepertimu membatasi kalori yang dimakan."
Tiara tertawa lepas hingga giginya yang berderet terlihat cantik.
Ardan sempat terpesona.
Gila, aku bisa goyah, batinnya galau.
"Yah, kebanyakan begitu. Tapi aku cukup beruntung, biarpun makan berkalori tinggi, aku tetap kurus," katanya kemudian tertawa lagi.
Ardan pun ikut tertawa mendengarnya.
__ADS_1