
"Kok diam aja?" tanya Ardan heran.
Sejak Wina masuk ke dalam mobilnya, gadis itu hanya diam saja.
"Kamu ngga lupa makan siang, kan?" tanya Wina pelan Dia bingung bagaimana harus mengungkapkan foto foto Ardan di ruangannya.
"Engga."
"Pake apa?"
"Soto daging sama teh botol, sayang. Di kantor aja," jawab Ardan ringan.
Wina terdiam. Dia pikir Ardan akan berbohong.
Ingin bertanya tadi makan sama siapa, tapi lidah Wina terasa berat.
"Kamu sendiri tadi makan siang dimana?" Ardan balik nanya.
"Tadi di traktir bos Gaga di kafe. Rame rame gitu," jelas Wina sambil menatap ke luar jendela mobil.
"Ooo."
Ardan jadi teringat dengan teman teman Wina.
"Bulan depan mereka ngajakin liburan. Tapi aku belum iya in," kata Wina lagi.
"Kenapa?" tanya Ardan heran.
Wina menatap Ardan sebentar. Laki laki itu sedang fokus dengan stirnya.
"Nginap dua hari. Aku kan mesti nanya kamu dulu. Boleh apa engga," jawab Wina membuat Ardan menoleh sebentar padanya.
Dadanya terasa hangat karena Wina menanyakan pendapatnya. Padahal Ardan juga ngga masalah kalo Wina langsung ngambil keputusan.
"Boleh aja," jawabnya ringan. Hatinya senang karena merasa dihargai.
"Mereka ngajakin kamu," ucap Wina pelan.
Saat Ardan belum juga menjawab, Wina tau kalo Ardan mungkin akan menolak karena kesibuķannya.
"Bulan depan ya," ucap Ardan akhirnya sambil mikir.
"Mungkin aku ngga bisa. Soalnya ada beberapa proyek yang aku tangani sendiri sekarang. Ngga pa pa, kan?" ujar Ardan merasa ngga enak mengubur harapan Wina yang mengajaknya liburan bareng.
Awalnya Ardan merasa kaget karena Wina ngga pernah berinisiatif mengajaknya pergi. Tapi akhirnya dia malah mengandaskan harapan kekasihnya. Ardan bisa menangkap sorot kecewa yang berusaha disembunyikan Wina di matanya.
Tapi proyek proyek yang dinenangkannya benar benar menguras tenaga dan waktunya. Hanya bertemu dengan Winalah bisa melonggarkan pikirannya.
Mengantar dan menjemput Wina sudah menjadi prioritas dalam kesibukannya yang menggila.
Wina berusaha memaklumi.
"Ngga apa. Tapi kamu ijinin ya?"
"Iya, sayang, boleh. Makasih ya, udah nanya ke aku," ucap Ardan lembut sambil menggenggam tangan Wina sambil terus nyetir dengan satu tangan.
Wina balas tersenyum lembut. Tapi hatinya masih ngga tenang karena foto itu
Tapi mengingat wajah Ardan yang lelah, Wina mutusin ngga bertanya. Wina mencoba mempercayai Ardan.
"Bos kamu baik ya suka traktir pegawainya."
Wina malah tertawa.
"Loh, kok tertawa?"
"Dia itu orangnya ngga pede. Kan lagi pedekate. Jadi minta ditemanin."
Ardan jadi tertawa.
"Udah sering?"
"Iya. Tapi syukurlah, yang ini berhasil," cela Wina kemudian tertawa lepas.
__ADS_1
Ardan terpana melihatnya. Udah lama ngga melihat Wina tertawa seperti ini. Terakhir waktu mereka reuni. Selama mereka dekat sampai sekarang pun, baru Ardan sadari Wina ngga pernah tertawa selepas ini.
Ardan pun ikut tertawa lepas, seolah ikut mencela bosnya Wina.
"Kamu tau, kalo kita nolak dia langsung kasih kita SP," tambah Wina lagi di sela tawanya.
"SP?" heran Ardan. Kemudian tertawa lagi.
Kekanakan sakali, hinanya dalan hati.
"Kalian terlihat dekat," kata Ardan ingin tau lebih banyak tentang Wina dan teman temannya.
Pikirannya benar benar longgar saat bersama Wina.
"Ya, sejak tiga tahun."
"Pantasan akrab."
Wina ngga menanggapi lagi. Bentar lagi Wina akan sampai di rumahnya.
"Maaf aku ngga bisa mampir," kata Ardan sambil membuka safe belt Wina.
Dada Wina berdebar karena jarak yang terlalu dekat. Bau harum Ardan memasuki rongga pernafasannya.
Parfum apa yang dia pake. Masih harum gini. Aku harum ngga ya
Wina benar benar ngga pede berdekatan dengan Ardan.
"Ngga pa pa," ucap Wina sambil membuka pintu mobil.
"Hati hati ya," kata Wina lagi sebelum menutup pintu mobil.
"Oke."
Ardan pun menjalankan mobilnya sambil melambaikan tangan padanya yang juga dbalas Wina.
*****
Wina yang sedang belanja di minimarket dekat rumahnya jadi khawatir melihat nenek yang berdri disampingnya memegang dadanya. Sementara beberapa orang di sekitar mereka pada ngga perduli.
"Ob... baath," katanya susah payah sambil menunjuk dompetnya.
Wina langsung menyanderkan si nenek dan membuka tas yang di maksud.
Orang orang yang tadi ngga peduli mulai menunjukkan itikat baik. Bahkan seorang pegawai pun menghampiri.
"Dek, tolong ambilkan air putih itu," tunjuk Wina sambil membuka tas nenek dan mengambil botol kecil yang diyakini Wina itulah obat yang dimaksud.
"Ini kak," kata anak SMA yang membantu mengambil botol dan sudah membukanya juga.
"Makasih dek," kata Wina sambil mengambil minuman botol tersebut.
Wina pun memberikan satu butir pil pada si nenek yang langsung memasukkannya ke dalam mulutnya dengan susah oayah.
Wina pun membantu si nenek minum untuk menelan obatnya.
"Neneknya ya, Kak?" tanya cowo SMA itu ingin tau.
"Bukan."
"Oo, kirain neneknya," kata seorang ibu ibu yang ikut berjongkok di samping Wina.
"Keluarganya dihubungi mbak," kata ibu ibu yang lain.
"Ya bu, nanti saya tanyakan," ucap Wina pelan.
Mereka pun memperhatikan si nenek yang sudah bisa bernafas normal.
Saat si nenek membuka matanya, orang orang yang berkumpul di situ pada berseru lega.
"Syukurlah nek."
"Nenek bikin kita khawatir."
__ADS_1
"Jangan keluar sendiri kalo malam hari nek."
Si Nenek memandang orang orang dengan pandangan berterima kasih. Lalu pandangannya jatuh ke Wina yang berada di sampingnya.
"Nenek udah ngga apa apa?" tanya Wina lembut.
Sang nenek mengangguk dan maanya mulai berkaca kaca. Kerumunan pun mulai bubar.
"Nenek tadi sama siapa ke sini?" tanya Wina sambil menyimpan tas kecil sang nenek di saku sweater rajutnya.
"Sendiri."
Si nenek pun menghapus air matanya yang baru menetes.
Wina merasa ngga enak melihat nenek itu seperti menahan sedih.
"Saya antar pulang ya nek," ucap Wina sambil membantu nenek itu berdiri.
Begitu sampai di kasir, Wina yang ngga jadi belanja hanya membayar botol minuman untuk sang nenek. Tapi mba kasirnya mengatakan sudah dibayar.
Setelah mengucapkan terimakasih, Wina membawa sang nenek ke mobilnya. Sebuah honda jazz lama.
"Mau saya antar kemana nek?" tanya Wina sambil membuka pintu mobil.
"Ini mobil kamu? Ngga ada yang lebih baruan lagi?" tanya sang nenek sambil memperhatikan mobil itu ngga minat.
Wina tersinggung sebenarnya, tapi dia berusaha menahan.
Udah tua. Sabar.
"Ngga ada nek."
Alih alih marah Wina malah tersenyum. Dia membayangkan sepupunya yang punya mobil ini mendengar, pasti sang nenek bisa dirasani abis abisan.
"Ya, mau gimana lagi," kata si nenek seolah terpaksa masuk ke dalam mobil.
Wina hanya tersenyum saja.
"Mau saya antar kemana, Nek?" tanya Wina sambil memasangkan safe belt pada si nenek.
Nenek itu pun memberikan kartu namanya.
Wina agak terkejut membacanya.
Ini kan kompleks elit. Kenapa nenek setua ini bisa pergi sendiri tanpa di jaga? batin Wina benar benar heran.
"Kanu kalo ngga tau kelewatan," cibir si nenek.
Wina jadi tertawa kecil. Dia yang ngga punya nenek jadi merasa senang melihat sikap nenek yang tadi hampir mau nangis, tapi sekarang malah terlihat sombong.
"Tau nek."
Wina pun menjalankan mobilnya.
"Terimakasih udah nolong tadi," kata si nenek setelah cukup lama mereka terdiam.
"Sama sama, Nek."
"Jarang ada orang yang peduli seperti kamu," puji si nenek tulus.
Wina hanya tersenyum sambil fokus menjalanlan mobilnya.
"Aku punya cucu. Ganteng banget. Dia dokter. Kamu mau ngga?"
Untung aja Wina ngga menganggap serius ucapan sang nenek, jadi ngga gitu kaget.
"Saya udah punya pacar nek," tolak Wina dengan wajah ramahnya.
"Huuuh," dengus si nenek kasar.
"Kenapa yang cantik dan baik selalu sudah ada yang punya," keluhnya melanjutkan.
"Masih banyak nek yang lebih cantik dan baik."
__ADS_1
"Sisanya nenek lampir," omel si nenek membuat Wina tertawa pelan.