
Mama Ardan menatap suaminya dengan tatapan heran. Sedari tadi suaminya terlihat gelisah, berjalan mondar mandir di dalam ruangannya.
"Kenapa, sih, Pa, jalan jalan terus dari tadi. Mama pusing lihatnya," cetus Mama Ardan sambil mendudukkan dirinya dengan bersandar di ranjang rumah sakit.
Keadaan mama Ardan sudah mulai membaik. Sekarang dalam fase pemulihan.
"Entahlah, rasanya hari ini papa merasa ngga tenang," kata papa Ardan sanbil mengusap wajahnya benar benar resah.
"Apa papa ada meeting? Mama ngga pa pa sendirian. Sebentar lagi Dina atau Tiara datang," katanya dengan menyunggingkan senyum manisnya.
"Nanti aja setelah mereka datang papa baru ke perusahaan," kata papa masih ngga tenang.
"Terserah papa," ucapnya setenang mungkin.
Hari ini jantung mama Ardan berdebar debar senang. Keponakannya tadi mengabari sedang mengikuti mobil Ardan yang membawa Wina ke tempatnya bekerja.
Keponakannya berhasil meminjam truk yang sedang parkir, karena ada pekerjaan perbaikan jalan ngga jauh dari bank tempat Wina bekerja hingga membuat lalu lintas agak macet.
Menurut keponakannya, ini waktu yang tepat. Ardan akan sulit menyeberangkan mobilnya ke jalur di depannya untuk bisa sampai di depan pintu masuk bank.
Kemungkinan besar Ardan akan menurunkannya di seberang jalan.
Mungkin saja keponakannya sudah menjalankan tugasnya dengan sangat baik. Dan Wina pun sudah terpental bermandikan darah segar.
Tanpa sadar bibirnya menyunggingkan senyum puas.
"Jangan lakukan lagi," kata papa Ardan membuat mama Ardan menoleh sambil menyimpan kembali senyumnya.
"Maksud papa?" tanya mama Ardan pura pura bodoh.
Papa Ardan menghela nafas kasar.
Beliau menatap istrinya tajam.
"Jangan menyakiti gadis itu," kata papa pelan.
"Papa bicara sama mama?" tanya mama Ardan dengan alis menyatu. Seakan ngga terima akan tuduhan suaminya yang sudah pasti memang benar.
Papa menghela nafas lagi.
"Dengar sayang. Papa ngga mau sampai Ardan membenci kamu," katanya lembut.
Mama Ardan tersenyum manis menyembunyikan hati iblisnya.
"Papa ngomong apa, sih."
Suaminya terdiam. Mencoba menatap wajah cantik yang punya banyak tipu daya di dalam otaknya.
Ingatannya masih segar ketika istrinya meminta dirinya menyetujui melibatkan putri Zain temannya untuk menggoda Ardan.
"Kita perlu tau, karena Ardan ngga pernah serius dengan wanita manapun."
Itu perkataannya ketika ingin menguji Ardan.
Papa yang juga penasaran tanpa pikir panjang mengabulkan keinginan istrinya.
Ternyata putri Pak Zen sangat tau cara untuk membuat sifat iseng putranya muncul.
__ADS_1
Ardan pun akhirnya tergoda dan dengan skenario istrinya yang matang, Wina bisa melihat adegan mesra Ardan dan Tiara.
Istrinya memang sutradara hebat. Dia tau titik lemah putra semata wayangnya.
Akibatnya Ardan mulai menikmati alkohol dan menjadi pekerja keras tanpa kenal waktu istirahat.
Tapi kini kebahagiaan putranya sudah kembali. Karena Wina mau menerimanya lagi.
Istrinya sudah memulai langkah pertama, dia memilih sakit jantungnya kumat dari pada menerima hubungan putra semata wayangnya dengan Wina.
Setelah ini apa lagi yang akan dilakukannya? Mungkin setelah keluar dari rumah sakit, Wina akan secepatnya disingkirkan oleh istrinya.
Papa Ardan belum bisa menebak cara apa yang akan digunakan istrinya.
Ingatannya kembali ke masa lalu. Endi, sahabatnya dijebak di hotel bersama seorang perempuan hingga membatalkan beasiswanya. Dirinya akhirnya berangkat menggantikan temannya. Ternyata ulah istrinya yang waktu itu berstatus sebagai pacar.
Sebenarnya mereka tidak perlu beasiswa itu, karena tanpa itupun mereka bisa kuliah di negara manapun dengan mudah dengan kekayaan orang tua.
Itu hanya sebuah harga prestise yang akan mereka banggakan dimanapun mereka berada.
Mereka ingin menunjukkan, kalo bisa kuliah tanpa campur tangan uang keluarga.
Papa Ardan jadi agak takut memikirlan nasib Wina. Istrinya bisa melakukan apa saja.
Tiba tiba hp di saku luar jasnya bergetar.
Papa Ardan heran kenapa Endi bisa menelponnya. Padahal beliau baru saja memikirkannya. Telepati mereka sebagai sahabat selalu nyambung dalam cepat waktu.
"Telpon siapa?" tanya mama Ardan curiga.
"Endi," sahut papa Ardan sambil menggeser penampakan tombol berwarna hijau.
"Tolak aja," katanya malas.
Papa Ardan tersenyum saja sambil melangkahkan kakinya keluar dari ruang rawat istrinya.
Istrinya kadang suka sengaja berteriak jika tidak suka sama penelponnya.
"Aku keluar bentar, Ma," kata papa Ardan sambil menutup telpon.
Mama Ardan ngga memggubris.
Tapi begitu papa Ardan menutup pintu ruangan kamarnya, beliau dengan cepat mengambil hpnya di atas meja dan menekan nomer Berdy.
Mama Ardan sudah ngga sabar mendengar kabar gembira dari keponakannya.
Tapi raut kecewa dan gusar memenuhi wajahnya. Sudah beberapa kali beliau menekan nomer keponakannya itu, tapi keponakannya tetap ngga mengangakat telpon.
Kemana anak itu. Kenapa dia ngga memgangkat telponku, batinnya gusar.
Lagi dan lagi mama Ardan menekan nomer Berdy. Tetap sama. Tersambung dan tidak diangkat juga.
Oh, mungkin dia sedang melarikan diri, batinnya berprasangka baik. Bibirnya tersenyum lagi. Raut wajahnya memancarkan kegembiraan.
*
*
__ADS_1
Sementara itu di luar, Papa Atdan merasakan dadanya sakit, oksigen begitu susah dihirupnya.
"Benarkah? Kamu jangan bohong!" hardik papa Ardan marah besar.
"Tunggulah di depan parkiran. Bentar lagi ambulance yang membawa Ardan dan Wina sampai."
"Anakku juga lagi mengikutinya
Begitu juga aku."
Tubuh papa Ardan lemas. Dia bersandar di dinding.
Ngga mungkin ulah istriku. Nggak mungkin istrinya mau melukai anak kesayangan mereka, batin papa Ardan membantah.
"Kata Gaga, dokter dokter terbaik sudah standby," kata Papa Endi.
"Ini bukan ulah Karin, bukan?" tanya papa Endi agak ngambang. Ada yang mau dia sampaikan, tapi dia takut sahabatnya akan marah dan sangat sedih. Tapi sahabatnya harus tau betapa jahatnya istrinya itu.
Tadi Gaga menelponnya lagi, menceritakan kejanggalan kecelakaan yang menimpa Ardan dan Wina.
"Tentu tidak. Dia kan terbaring sakit," bela papa Ardan dengan nada ragu.
"Kata Gaga, truk langsung berusaha ngerem ketika Ardan berlari ke arah Wina. Tapi, mungkin juga supirnya baru sadar kalo ada orang di tengah jalan" kata papa Gaga hati hati.
Papa Ardan terdiam.
"Aku mau on the way ya," kata papa Gaga kemudian memutuskan telponnya.
Papa Ardan tertegun. Dia masih ngga percaya dengan kabar yang disampaikan Endi. Apalagi tentang keterlibatan istrinya.
Dengan perlahan beliau membuka pintu ruangan istrinya
Tapi papa Ardan langsung terkesiap begitu mendengar kata kata riang istrinya di hpnya.
"Sudah terpental berapa meter perempuan miskin itu."
Mama Ardan begitu bahagia ketika Berdy mengangkat telponnya.
Kalimat yang didengar dari papa Ardan adalah sambutan pertama tentang kesuksesannya.
Mama Ardan terlhat sangat bahagia dengan hpnya. Tapi hati papa Ardan kembali terluka.
Siapa yang dia telpon?
Mama Ardan dengan cepat merubah ekspresinya begitu menyadari kehadiran suaminya. Beliau juga langsung menekan tombol off. Berusaha ngga gugup.
"Kenapa, Pa?" tanya mama Atdan pura pura heran karena wajah pucat suaminya yang seperti abis melihat hantu.
"Ini ulahmu?" tanya papa Ardan dingin membuat mama Ardan menggelengka kepala.
"Ulah apa?" seru mama Ardan galak.
"Ardan ditabrak truk, M
a, ketika akan menyelamatkan Wina," kata papa Ardan dengan suara bergetar.
DEG
__ADS_1
DEG
DEG