
"Aku percaya kalo Ardan bisa menjaga Wina," tambah seorang laki laki paruh paya tapi masih terlihat tampan yang berada di sebelah papa Ardan.
Oma Rahayu menatap Argo Seto kesal.
"Argo," seru Opa Megantara kaget melihat kemunculan Argo Seto, putra pertamanya bersama papa Ardan yang memang teman dekatnya sejak kuliah.
"Mas," panggil Bagaskoro sambil menghampiri abangnya dengan senyum merekah.
Keduanya saling berpelukan, setelahnya papa Ardan menjabat tangan papa Wina.
"Maaf," kata papa Ardan penuh penyesalan.
Baskoro tertawa kecil.
"Lupakan saja," kata papa Wina bijak.
"Ck ck ck.... Adikku benar benar sudah berubah. Masa kamu ngga ngenalin adikku, Putra. Dia si bengal itu," decak Argo Seto sambil menggelengkan kepalanya.
"Dia jauh berubah. Lagi lupa aku hanya beberapa kali melihatnya di rumahmu," bela papa Ardan.
Iya, bodoh sekali dia sampai melupakannya. Tapi dia benar benar berubah dari yang dulu, batin papa Ardan sambil membandingkan penampilan Bagaskoro ketika SMA dan sekarang. Sangat jauh berubah.
Bagaskoro kembali tertawa. Dia ingat, dulu dirinya selalu memgenakan jaket jeans rusuh dan topi saat melihat kedatangan Putra Pamungkas-papa Ardan ke rumahnya. Selalu ketika dia akan pergi dengan motor gede kesayangannya.
Dia sendiri juga ngga mengingat kalo papa Ardan adalah salah satu teman abangnya yang suka maen ke rumah.
"Aku telat ya," kata seorang laki laki tampan yang seusia Argo Seto dan Putra Pamungkas memasuki ruang tamu dengan langkah lebar.
"Datang juga," ucap Argo Seto melihat iparnya.
Kali ini Opa Hadukusuma menggelengkan kepalanya. Susahnya memutuskan ikatan ketiganya, karena mereka juga berteman dekat dalam bisnis.
"Bang," panggil Kamila pada abangnya yang kini mendekati dan merengkuhnya.
"Kepalaku masih pusing karena jetlag," katanya riang sambil mengacak rambut adik perempuannya yang sudah lama menghilangkan diiri bersama suami bengalnya.
"Ehem!"
Kini mereka semua berpaling pada Oma Rahayu yang merasa diabaikan.
"Kalian ngga melihat ada yang lebih tua di sini?" sarkas Oma Rahayu membuat Kalandra-abang mama Wina dan Argo Seto menghampiri tantenya sambil mengembangkan senyum gelinya.
"Tante jangan marah marah. Hilang loh cantiknya," canda Argo Seto membuat wajah Oma Rahayu tersenyum senang.
Kalandra hanya menggelengkan kepalanya melihat rayuan ipar sekaligus teman dan rekan bisnisnya berhasil.
"Pa, tante, berilah mereka kesempatan. Kalandra ngga mau mereka nengikuti jejak orang tua bodohnya itu," bujuk Kalandra sambil memegang tangan Opa Hadikusuma.
"Apa? Kamu berani mau bawa Wina kabur juga?" sentak Oma Rahayu kaget sambil menatap Ardan marah.
"Ngga Oma," jawab Ardan spontan. Memang ngga ada kepikir di kepalanya untuk.kawin lari dengan Wina.
__ADS_1
"Kala, kamu jangan kasih ide aneh aneh sama calon mantuku," sergah Oma Rahayu marah pada Kalandra yang tersenyum geli.
Mendengar kata kata Oma Rahayu, yang lain mengulum senyum. Ardan dan Wina kaget, mereka saling tatap dengan penuh harapan.
"Oma ijinkan Ardan menikahi Wina?" tanya Ardan senang. Sekali lagi beban berat di dadanya terangkut keluar.
Kali ini semua fokus pandangan ke wajah manyun Oma Rahayu.
"Tapi syaratnya banyak," kata Oma Rahayu tetap dengan sifat ngga mau ngalah dan keras kepalanya.
Senyum lega pun terukir di wajah wajah yang sempat tegang itu.
"Apa pun Oma syaratnya, akan Ardan penuhi," respon Ardan sambil meremas punggung tangan Wina senang.
"Nek, syaratnya jangan yang berat ya," sela Wina agak resah.
Oma Rahayu menatapnya galak.
"Tenanglah," kata Ardan lembut.
"Kamu selalu saja membela pacar ngga jelasmu itu," tuding Oma Rahayu kesal.
Wina tanpa sadar tersenyum. Dia melepaskan genggaman Ardan, dan melangkah menghampiri neneknya yang super cerewat itu.
"Maaf, Nek. Wina sayang sama nenek. Juga Ardan," katanya manja sambil memeluk Oma Rahayu dan menempelkan wajahnya di bahu sang Oma.
Wajah manyun Oma memudar, berganti dengan senyum lembut di wajah tuanya.
Kedua Opanya juga mendekat dan menepuk lembut bahu Wina.
Wina melepas pelukannya di oma Rahayu dan memegang kedua lengan opanya.
"Ternyata Wina punya opa. Dua malahan. Juga nenek," ucapannya membuat mereka semua terharu.
"Opa akan berikan apa pun yang kamu ngga pernah punya sejak kecil," janji Opa Hadikusuma dengan mata basah.
"Opa juga," ucap Megantara dengan tatapan sayang.
"Om juga," tambah Argo Seto ngga mau kalah.
"Sama, Om pun akan berikan kehidupan yang sangat mewah padamu," timpal Kalandra sambil berangkulan dengan Argo Seto dan Putra Pamungkas
Ardan tersenyum haru melihat kebahagiaan yang menyelimuti keluarga Wina.
"Syaratnya," tukas Oma Rahayu lantang membuat mereka semua menatap serius Oma Rahayu.
Ardan merasa jantungnya berdebar kencang.
Semoga ngga sulit, batinnya penuh harap.
"Kamu ngga boleh selingkuh, ngga boleh nyakitin cucuku," seru Oma Rahayu tetap lantang.
__ADS_1
"Ardan janji Oma," jawab Ardan cepat. Cukup sekali dia buat kesalahan fatal. Ngga bakal lagi lagi dia ulangi.
"Saya yang akan menjewer dan menghajarnya tante, kalo sampai itu terjadi," kata Papa Ardan setengah mengancam sambil melihat anaknya yang hanya melebarkan cengiran khasnya.
"Kamu ngga keberatan, kan, kako aku ikut menghajar anakmu kalo dia sampai begitu," kata Argo Seto menawarkan diri.
"Tentu tidak. Malah dengan senang hati aku persilakan."
"Biar anaknu bonyok sekalian, aku juga akan ikut menghajarnya," tambah Kalandra penuh semangat.
Suasana pun berubah menjadi penuh tawa.
Wina melirik Ardan dengan tatapan horor. Teringat akan kegatalan Ardan dulu.
Awas aja kalo ngulang lagi, ancamnya dalan hati.
Seakan tau yang diucapkan Wina dalam hatinya, membuat Ardan tergelak sambil menyatukan kedua telapak tangannya di atas kepalanya.
Nggak Wina. Ngga ngulang lagi, batinnya senang melihat Wina tertawa juga karena gaya konyolnya.
*
*
*
"Ma, aku minta restu mama. aku akan menikah dengan Wina," kata Ardan ketika mengunjunginya setelah pulang dari rumah Wina.
Papanya pun ikut dan memperhatikan wanita yang dulu dan masih sangat dicintainya.
Mama Ardan yang selalu cantik dengan tampilannya yang elegan, kini tanpak sangat sederhana. Walau begitu kecantikannya masih tetap terlihat.
Beliau hanya diam membisu di bangku taman dengan sweater abu abunya. Hampir tiap malam Ardan dan papanya mengunjunginya. Tapi wanita itu tetap diam membisu.
Tapi tanpa setau mereka, ada sinar aneh di mata mama Ardan begitu mendengar nama Wina disebut Ardan. Gadis yang sangat dibencinya.
Mama Ardan tiba tiba berdiri, membuat keduanya terkejut.
"Jangan sebut nama itu," ucapnya dingin sambil melihat ke langit.
Ardan dan papanya kaget melihat reaksi yang ditunjukkan mam Aardan setelah sekian lama bagai patung, tanpa suara dan tanpa keinginan.
"Mama, Ardan kangen dengar suara mama," seru Ardan bahagia dan terharu sambil memeluk mamanya dari belakang.
Dia seolah ngga mendengar yang mamanya katakan. Empat bulan lamanya mamanya mengunci suaranya. Hatinya benar benar rindu.
Walau dada papanya berdesir hangat, tapi kata kata istrinya membuat beliau bergeming. Kebencian sepertinya sudah mengakar dalam hatinya.
Tapi akhirnya dia melamgkah mendekati keduanya dan memeluk mereka erat. Dia terlalu mencintai keduanya. Selama setahun dihabiskan waktu hanya untuk bekerja dan bekerja. Sama seperti Ardan. Mereka jadi robot yang sudah mati perasaannya.
Sepasang mata mama Ardan basah. Beliaupun balas merangkul dan terisak.
__ADS_1
Ardan dan papanya pun merasakan hal yang sama. Mata mereka pun basah.