Cinta Lama Saingan Tetap

Cinta Lama Saingan Tetap
Rahasia yang Terbuka


__ADS_3

"Ardan ngantar kamu pulang?" tanya papa yang ternyata menunggu di ruang tamu bersama mamanya.


"I.. iya pa," kata Wina gugup sambil mencium tangan kedua orang tuanya.


"Duduk sebentar, papa sama mama mau ngobrol," kata papa menahan langkah Wina yang ingin masuk ke kamarnya.


Dengan ragu Wina pun duduk di depan mama dan papanya.


"Kenapa kamu ngga nyuruh Ardan masuk. Mama sama papa udah lama ngga ngobrol lagi sama Ardan?" tanya mama kemudian tersenyum melihat Wina yang seperti menyembunyikan sesuatu.


"Tadi Ardan mau masuk, tapi Wina laramg," kata Wina jujur.


Papa tersenyum mendengarnya.


"Kenapa?"


Wina terdiam. Bingung dia mau menjawab.


"Oramg tua Ardan ngga setuju Ardan sama kamu?" tebak mama hati hati.


Sepasang mata Wina langsung panas dan mulai berkabut.


Papa menghela nafas mengerti.


Mama pun pindah di sebelah Wina dan memeluk anak gadisnya yang kini mulai menangis.


Mama menepuk pundak Wina pelan untuk menenangkan diri anaknya.


Tapi papa memberi isyarat agar membiarkan Wina menangis. Mama pun membiarkan sampai Wina berhenti menangis.


Sekarang Wina malah diam. Dia menarik diri dari pelukan mamanya.


Kedua orang tuanya kini saling pandang.


Wina akhirnya menatap mama.dan papanya bergantian.


"Ma, Pa, boleh ngga nikah tanpa restu ibu?"


"Maksud kamu?" tanya mama hati hati, dia ngga akan menghujat anaknya. Mama hanya akan menunggu sampai Wina mengutarakan isi hatinya. Pqpa pun menatap Wina lembut.


Wina menarik nafas pelan pelan.


"Mama Ardan sudah punya pilihan buat Ardan. Ardan juga bukan laki laki baik. Dia sempat tergoda dengan perempuan lain."


Sampai di sini, Wina merasa dadanya mulai sesak melihat keterkejutan kedua orang tuanya.


"Wina minta putus. Hampir sepuluh hari kita ngga ketemu, sampai pesta ultah neneknya dokter Eri. Neneknya Eri pengen ngejodohin Wina dengan dokter Eri."


Mama dan papa masih terdiam dan menunggu kelanjutan omongan Wina.


"Wina dan dokter Eri baru aja kenal. Dokter Eri sepertinya punya kekasih, dan belum direstui neneknya. Jadi Wina ngaku punya pacar."

__ADS_1


Wima menatap kembali mama dan papanya yang juga memandangnya.


"Di pesta itu, nenek Eri ngomong gini, Ma. Ada ngga pacar Wina. Tentu saja ada. Ardan juga datang dengan keluarganya. Ardan akhirnya mengaku kalo Wina pacarnya."


Mama menghela nafas.


"Sekarang kamu udah balikan? Makanya kemarin malam sama tadi kamu diantar Ardan?" tanya Mama akhirnya.


"Iya," jawab Wina pelan.


Papa menghembuskan nafas kasar.


"Kamu yakin Ardan ngga mengkhianati kamu lagi?" tanya papa datar. Beliau menghembuskan nafas kasar. Hati kecilnya ngga terima anaknya disakiti. Bukan hanya orang tuanya, bahkan anaknya juga.


Wina ngga menjawab. Walaupun Ardan terlihat sudah menyesal, tapi tetap saja ada keraguan dalam hati Wina. Belum lagi restu mamanya Ardan yang belum juga turun.


Papa menghembuskan nafas kasar.


"Besok suruh Ardan temui papa," titah papa ngga bisa dibantah.


"Iya Pa," kata Wina patuh.


"Sekarang kamu mandi dulu ya, nanti kita makan bareng," kata mama lembut.


"Iya, Ma," ucap Wina sambil bangkit dari duduknya.


Dengan langkah perlahan Wina pun memasuki kamarnya.


"Mungkin begini perasaan papa kamu dulu waktu kamu memilih menikah dengan anak berandalan seperti aku," kata papa getir.


Mama malah terkekeh.


"Anak kita dapat karna karena perbuatan kamu dulu di waktu muda."


"Kamu jangan ngomong sembarangan," omel papa kesal karena mama terus saja tertawa..Seakan mengejek dirinya.


"Aku sempat baca profil si Ardan. Memang banyak perempuan cantik di sampingnya. Aku jadi takut, apakah Wina bisa tahan," kata papa sambil menggusar rambutnya.


Mama akhirnya menghentikan tawanya. Dia menatap suaminya dengan wajah meledek.


"Jangan terlalu kamu pikirkan. Yang penting, besok kamu marahin aja si Ardan. Seperti dulu kamu dimarahin papaku," kata mama Wima kemudian terkekeh lagi.


"Kamu ini," tukas papa sambil mentowel pipi istrinya gemas.


"Kira kira papa kamu udah maafin kita belum ya? Setelah kita nikah, papa kamu langsung pergi gitu aja. Kita juga menghilang dari mereka semua," ucap papa Wina lagi.


"Aku ngga mau kehilangan Wina. Kita sudah pernah berbuat salah."


Mama akhirnya terdiam. Mengingat kejadian belasan tahun yang lalu.


"Kamu ngga pernah hubungin papa kamu?"

__ADS_1


"Nggak. Mungkin juga sakitku ini karena dosa, sudah menyakiti hati mereka."


Mama terdiam. Mama teringat papa mertuanya yang sangat menyayanginya. Beda dengan papanya, yang sangat membenci suaminya.


"Lusa kita coba ke rumah papaku, ya. Setelah itu kita ke rumah papamu. Kalo cuma harta yang dipandang mamanya Ardan, orang tua kita juga ngga kurang kaya dari mereka."


"Apa ngga apa apa? Apa kita masih diterima?" tanya mama ngga terlalu berharap.


Dia ingat, papamya sudah memberikan ultimatum. Jika dia tetap memilih suami berandalannya, papanya ngga akan mengakuinya sebagai anak lagi.


Kalo papa suaminya memang sudah mengusir suaminya karena sudah ngga peduli lagi dengan kelakuannya yang melampaui batas. Tapi sebelum mengusir suaminya, papa mertuanya memberikan sejumlah uang untuk hidup mereka pada dirinya.


Setelah menikah, mereka pindah ke kota yang sangat jauh dari kota keluarga mereka.


Memulai hidup lebih baik..Dan syukurlah, suami berandalannya benar benar berubah ke.arah yang lebih baik.


Mungkin sakit kanker yang diderita suaminya, karena kebiasaan mudanya yang selalu begadang, minum minuman keras dan mengkonsumsi shabu.


"Aku harus minta maaf sama papa aku dan papa kamu," kata papa sambil menggenggam tangan istrinya.


Mama hanya menganggukkan kepalanya.


Mereka memang harus meminta maaf dan mengenalkan Wina juga, batin mama sambil memejamkan mata.


*


*


*


"Apa? Kamu ngga bohong?" tanya mama Ardan terkejut mendengar laporan Tiara.


Kebetulan tadi saat Tiara datang, mama Ardan tinggal sendiri, karena Papa Ardan sedang pergi ke kantin.


Tiara pun langsung bercerita kalo Ardan dan Wina keluar dari kamar apatemen Ardan


Tapi Tiara ngga menceritakan bagian Ardan dan Wina berciuman.


Itu sama saja dengan melukai harga dirinya sendiri. Dari situlah Tiara sudah jelas melihat, siapa yang dicintai Ardan.


"Kamu boleh pulang, tante mau tidur," usir mama Ardan halus.


"Eh, iya tante," kata Tiara cukup kaget sampai akhirnya melangkah meninggalkan kamar perawatan Mama Ardan dengan agak kesal karena sadar telah telah di usir.


Mama Ardan mengambil hpnya ketika Tiara sudah menutup pintu.


Beliau pun menekan beberapa angka. Wajahnya terlihat dingin begitu telponnya tersambung.


"Berdy, awasi gadis yang tante akan kirim fotonya. Kalo ada kesempatan, buat dia seakan jadi korban tabrak lari."


Tanpa menunggu jawaban, mama Ardan memutuskan telponnya. Kemudian beliau pun mengirimkan foto Wina bersama Ardan ke keponakannya. Keponakannya yang baru saja dia keluarkan dari penjara.

__ADS_1


"Kamu yang memaksa mama, Ardan," geram Mama Ardan sinis.


__ADS_2