Cinta Lama Saingan Tetap

Cinta Lama Saingan Tetap
Sangat Jahat


__ADS_3

"Maksud Bapak?" tanya Ardan tercekat. Kerongkongannya seperti tercekik.


Ngga mungkin mamanya, kan, bantahnya ngga percaya.


"Supir truk udah tertangkap. Dia sudah mengaku kalo mama anda yang menyuruhnya," jelas polisi itu lagi.


"Ngga kan, Ma. Bukan mama kan?" seru Ardan lemah. Hatinya serasa hilang, dilempar sangat jauh.


Mama hanya bisa menangis sambil memeluk suaminya.


"Aku akan telpon pengacara," kata papa Ardan datar.


"Pa," tangis mama kembali keras, apalagi dua polwan mencekal tangannya yang memeluk suaminya.


Papa Ardan pun melepas pelukan istrinya.


"Pa, jangan biarkan mama di bawa ke kantor polisi. Ardan, mama ngga salah!" jeritnya lagi membuatnya menjadi perhatian orang orang di rumah sakit.


Ardan memejamkan matanya. Sakit hatinya melihat mamanya diperlakukan begitu. Walaupun mamanya melakukan kejahatan, ngga perlu sampai begini juga. Apalagi wanita yang sudah melahirkannya menderita penyakit jantung.


"Papa akan temani mama," pamit papa Ardan tang mengerti.apa yang dipikirkan anak tunggalnya.


"Ya, Pa," sahutnya lemah sambil membuka matanya menatap kepergian wajah lelah papanya.


Kini Ardan mengerti mengapa keluarga Wina menerima perjodohan Wina dengan dokter Eri. Mamanya sudah melakukan kejahatan yang luar biasa.Ngga mungkin termaafkan. Lagian mana ada orang tua yang melepas anak satu satunya pada besannya yang akan membunuh anaknya.


Terjawab sudah mengapa truk itu mengerem. Supirnya mengenali dirinya sebagai anak dari yang membayarnya.


Tapi kenapa bisa supir itu mengenalnya?


Pikiran Ardan masih diliputi tanda tanya.


Ardan menarik nafas pamjang. Dadanya masih terasa sangat sesak.


Untunglah dia segera mendekati Wina, kalo tidak Winanya pasti ngga akan tertolong.


Ardan sekaramg udah yakin, tertutup sudah jalannya bersama Wina.


Papa yang ikut melangkah di belakang kursi roda mama menampilkan ekspresi dinginnya. Dia mulai mengerti. Kenapa Wina dipindahkan malam itu tiba tiba. Dan calon besannya pun ngga pamit padanya.


Pasti mereka sudah tau kalo istrinya berencana akan membunuh putri tunggalnya. Betapa kejam hati istrinya. Bisa bisanya menyuruh keponakannya untuk membunuh.


Papa pun sudah menghubungi keluarga istrinya. Abang dan adiknya akan menunggu di kantor polisi dengan pengacara keluarga mereka.


Papa Ardan sama sekali ngga tersentuh dengan tangisan wanita paruh baya yang masih sangat cantik itu.


Yang papa pikirkan, apa hubungan Oma Rahayu dengan keluarga Wina sudah sangat dekat?


Bisa bahaya kalo Oma Rahayu tau, istrinya yang merencanakan kecelakaan Wina. Oma Rahayu pasti ngga akan melepaskan istrinya.

__ADS_1


Papa menatap sekilas istrinya yamg masih menangis. Beliau benar benar ngga mempedulikan tatapan ingin tau orang orang di sekitarnya.


Istrinya dari dulu selalu menghalalkan segala cara agar tujuannya tercapai. Menyingkirkan impian orang orang terdekatnya pun pernah. Papa Ardan selalu bisa memaafkan.


Tapi kalo membunuh? Terlalu amat sangat kejam. Hatinya pun rasanya mulai membatu. Mengapa istrinya benar benar setega itu?


Ardan yang keras kepala akhirnya memaksa mamanya melakukan hal di luar kewajaran.


Papa memejamkan matànya setelah istrinya masuk ke dalam mobil polisi. Beliau pun mengetikkan pesan buat Ardan.


Papa nemenin mama kamu ke kantor polisi


Ada keengganan dalam hatinya meninggalkan Ardan yang pasti sedang hancur hatinya.


Papa menghampiri mobilnya bermaksud akan menyusul mobil polisi yang membawa istrinya dengan langkah lunglai.


"Hei," sapa papa Gaga sambil menepuk pundak papa Ardan.


Papa Ardan mengembangkan senyum yang agak dipaksakan.


"Aku temanin," kata papa Gaga sambil mengambil kunci mobil dari tangan papa Ardan.


"Terimakasih," ucap papa Ardan dengan perasaan hampa.


Papa lalu menjalankan mobilnya setelah papa Ardan duduk di sampingnya sambil memejamkan mata.


"Siapa yang melaporkan istrimu?" tanya papa Gaga pelan.


"Oma Rahayu memang sangat menyukai Wina."


"Ya"


Mereka berdua tentu ingat betapa Oma Rahayu sangat menyukai Wina.


"Katanya minggu depan Oma Rahayu akan membuat pesta pertunangan cucunya dokter Eri. Juga akan mengenalkan adik dari Argoseto," kata papa Gaga sambil melirik temannya yang hanya memejamkan mata.


"Iya. Kamu tau siapa yang ditunangkan dengan dokter Eri?" tanya papa Ardan sambil membuka matanya.


"Aku ngga tau. Ngga mungkin Wina, kan. Anak itu masih belum sadar," kata papa Gaga mencoba menggali isi hati sahabatnya.


"Mungkin saja kan. Sekarang aja aku udah ngga punya muka buat ketemu dengan Wina dan keluarganya. Aku malu atas perbuatan istriku," ucap papa Ardan dengan suara berat. Setelah itu beliau menghela nafas panjang.


Papa Gaga juga ikut menarik nafas panjang..Beliau tiba tiba teringat Ardan yang baru saja sadar dan sudah mendapat tekanan berat.


"Ardan gimana?" tanya papa Gaga ingin tau kondisi Ardan, walaupun beliau sudah bisa menebaknya dari raut kusut sahabatnya.


"Ardan merasa hancur."


Sudah kuduga, batin papa Gaga kasian.

__ADS_1


"Yang aku takutkan, Oma Rahayu tidak mau mencabut tuntutannya," kata papa Ardan setelah terdiam sebentar.


"Aku tidak membelanya," sela papa Ardan cepat, jangan sampai teman dekatnya salah paham.


"Memang istriku sangat keterlaluan. Tapi kalo mamanya sampai dihukum, pasti Ardan akan sangat sedih," lanjut papa Ardan lagi.


Papa Gaga membenarkan dalam hatinya. Sejahat apa pun, Karin adalah wanita yang sudah melahirkan Ardan.


"Karin menyuruh sepupu Ardan untuk menabrakkan trruk pada Wiina. Seakan akan kecelakaan biasa bukan karena kelalaian," jelas papa Ardan dengan suara bergetar karena emosi.


Beliau menarik nafas panjang lagi.


"Kejam sekali," lanjut papa Ardan dengan bibir bergetar.


Papa Ardan membuang nafasnya kasar. Kepalanya benar benar pusing sekarang. Gara gara masalah ini, tensinya bisa naik drastis.


*


*


*


"Ardan, kenapa tante dibawa polisi?" tanya Dina dengan nafas memburu.


Begitu melihat mama Ardan dibawa polisi pergi, Dina berlari menuju ruangan Ardan. Makanya nafasnya agak tersengal.


"Ardan," panggil Dina lagi karena Ardan belum jugabmenjawab kata katanya. Atdan terlihat melamun.


"Oh eh......, maaf ya," ucap Ardan terkejut melihat kehadiran Dina.


Dina tersenyum maklum. Pasti hatinya sangat terguncang sekarang. Dina berharap bisa mendapatkan sedikit saja hati Ardan. Apa lagi momen sekarang sangat pas.


"Mengapa Tante Karin dibawa polisi?" tanya Dina pelan.


"Entahlah," dusta Ardan sambil menutup mata.


"Papamu mengikuti mobil polisi," tambah Dina lagi.


"Ya," ucapnya singkat. Ardan sudah membaca pesan yang dikirimkan papanya.


Saat ini perasaannya sangat ngga menentu. Keadaan Wina membuat Ardan juga belum tenang. Walau tadi dokter Burhan mengatakan kalo Wina belum sadar malah tambah membuatnya khawatir.


Ardan juga ingin memastikan benar atau engganya Wina tunangan sama dokter Eri. Apalagi setelah ketahuan rencana jahat mamanya.


Ardan memejamkan kembali matanya,menghirup nafas pelan untuk meredakam sesak di dadanya.


Dia pun sebenarnya ingin sendiri dulu, menenangkan perasaannya.


"Kamu istirahatlah," kata Dina mengalah.

__ADS_1


"Ya," sahut Ardan sambil memejamkan matanya.


Dina menatap sedih pada wajah tampan Ardan yang terlihat penuh beban pikiran.


__ADS_2