Cinta Lama Saingan Tetap

Cinta Lama Saingan Tetap
Hilang


__ADS_3

Ardan benar benar menghilang. Sudah dua hari ini. Papanya pun sudah mengerahkan orng orang untukmencari anaknya tapi belum juga berhasil.


Sementara urusan perusahaan terpaksa papa ambil alih semuanya membuat laki laki paruh baya itu jadi.sibuk luar biasa.


Mama Ardan pun sama bingungnya. Beliau sudah meminta orang orang mengawasi Wina, apakah sedang bersama Ardan. Tapi nihil.


Akhirnya mama Ardan datang ke bank Wina.


Begitu sampai di parkiran, hatinya panas melihat Wina yang sedang tertawa dengan seorang laki laki tampan di samping sebuah mobil ngga jauh darinya.


Dasar murahan! umpat mama Ardan dalam hati penuh benci.


Dengan langkah anggunnya dia menghampiri kedua oramg tersebut.


"Selera kamu lebih bagus dari dua kunti itu," kata Gaga sambil membukakan pintu mobil untuk Wina.


Gaga hanya ingin menghibur Wina yang sudah dua hari ini murung dengan mata pandanya.


Papanya sudah menceritakan putusnya hubungannya dengan Ardan. Tapi Gaga merahasiakan dari Dewi, Sita dan Adhi.


"Aku ngga pernah beli barang bermerk, Ga. Walau kw, Dewi dan Sita cukup ngerti," kata Wina yang disambut kekehan Gaga.


Wina pun ikut tertawa. Dibanding dirinya, kedua temannya cukup ngerti fashion.


"Tapi pilihan mereka itu lho. Ngga berkelas," kekeh Gaga lagi membuat Wina juga semakin tertawa.


"Bisa ya kamu tertawa setelah menyakiti anak saya," sinis mama Ardan yang kini sudah berdiri di depannya dan Gaga.


Keduanya reflek menghentikan tawa. Kalo Gaga menatap mama Ardan heran, tapi Wina cukup terkejut dengan pernyataan wanita anggun itu tentang Ardan.


Ngga ada ujan, ngga ada angin, maki maki orang sembarangan, omel Gaga dalam hati.


"Ada apa Tante? Saya ngga ngerti," tanya Wina bingung.


"Dimana kamu sembunyikan Ardan!" bentak Mama Ardan tambah membuat Wina menatapnya heran.


"Kami sudah berpisah dan tidak pernah bertemu lagi," kata Wina mencoba menjelaskan.


Mama Ardan menatapnya sinis dan penuh amarah.


"Kenapa Ardan harus mengenal kamu," serunya marah sambil tangan kanannya melayang ke pipi Wina.


Tapi Gaga cepat menahan tangan itu sebelum mampir ke pipi Wina.


"Apa yang tante mau lakukan?" sentak Gaga kemudian menghempaskan tangan mama Ardan hingga membuatnya sangat terkejut.


"Maaf tante," katà Gaga lembut. Dia merasa cukup bersalah melihat wanita paruh baya di depannya yang terlihat shock akibat sikapnya tadi.


Apalagi wanita ini sebaya dengan ibunya.


"Ini siapa? Pacar baru kamu? Kamu spesialis gaet laki laki kaya ya," sinis mama Ardan setelah keterkejutannya hilang.

__ADS_1


Wina sakit hati mendengarnya.


"Ga, kita pergi," kata Wina sambil masuk ke dalam mobil yang sedari tadi telah dibuka dan ditahan Gaga dengan satu tangnnya.


"Oke," kata Gaga sambil menutup pintu mobil dan berjalan meninggalkan mama Ardan yang masih berdiri dengan angkuh.


Gaga melirik Wina yang hanya menunduk, kemudian melirik mama Ardan yang masih berdiri menatap mobilnya sengan sombong.


Setelah menghela nafas panjang, Gaga menjalankan mobilnya.


Gaga mulai mengerti kalo mama Ardan tidak menyukai Wina. Mungkin karena keluarga Wina ngga sekaya keluarga Ardan.


Melihat kemarahan mama Ardan tadi, Gaga yakin, kalo Ardan lebih memilih Wina.


"Kamu ngga apa apa?" tanya Gaga tanpa mau melihat Wina yang menatap ke luar jendela mobilnya.


"Makasih udah nolongin tadi," kata Wina pelan.


Kalo Gaga ngga menahan tangan mama Ardan, mungkin sekarang pipinya udah ada cap lima jari.


Ardan kemana?


Wina jadi khawatir juga.


Apa blokir hpnya ku buka aja?


Wina terus menatap kontak hp Ardan. Ada fotonya bersama Ardan di sana.


Wina menatap sedih. Matanya mulai basah. Dia ngga mau hidup dalam kebencian orang lain padanya.


Wina ngga menjawab.


Dia ingin membuka blokir kontak Ardan. Tapi tetap saja ada keengganan dalam dirinya.


Mengingat Ardan yang berciuman dengan gadis lain, membuat hati Wina kembali berdarah.


Wina menghapus air matanya yang menetes bagitu saja.


Gaga menatapnya kasihan. Rencananya ingin menghibur Wina malah jadi berantakan gara gara kedatangan mama Ardan.


"Kita ngopi dulu ya," kata Gaga menawarkan untuk menenangkan Wina.


"Ga, boleh antarkan aku pulang aja?" pinta Wina pelan.


"Oke," kata Gaga mengerti.


"Maaf ya," kata Wina ngga enak.


"Santai Win. Kayak sama siapa aja," kata Gaga kemudian tertawa.


Wina tersenyum tipis.

__ADS_1


Thank's, Ga.


*****


"Udah lama dia di sini?" tanya Gaga ketika melihat Ardan yang masih menikmati minuman kerasnya di meja bar.


Seorang bartender melayaninya dengan menuangkan minuman beralkohol tinggi jika gelasnya kosong.


Ada tiga botol yang sudah kosong. Ini adalah botol ke empat.


Sepertinya Ardan masih sadar.


"Sejam yang lalu," kata salah satu pegawai club.


Sejam udah abis tiga botol? Gila, maki Gaga dalam hati.


Gaga yang niatnya menemui temannya malah melihat Ardan, jadi melupakan tujuan awalnya.


Dia duduk di samping Ardan.


"Masih ingat gue?" tanya Gaga menyapa.


Ardan menoleh sebentar sebelum menghabiskan minumannya.


"Temannya Wina?" tebaknya ngga acuh.


Gaga tertawa kecil.


"Betul."


Gaga pun minta minuman yang sama seperti yang diminum Ardan.


Dia pun meneguk setengah gelas ukuran kecil.


Ardan meliriknya sambil menyeringai.


"Jangan mengejekku," tukas Gaga tenang.


Ardan ngga menjawab, malah meneruskan menikmati minumannya.


"Tadi mama Lo marah marah sama Wina. Bahkan nampar, untung gue cepat tahan tangannya," tukas Gaga pura pura ngga acuh.


Ardan menoleh sampai menghentikan minumnya. Dia terkejut.


"Mama gue?"


"Iya, mama Lo," tandas Gaga.


Ardan memejamkan mata menahan rasa kesalnya.


"Semakin lama Lo ngga pulang ke rumah Lo, Wina bisa jadi sasaran marah mama Lo lagi."

__ADS_1


Ardan terdiam. Dia sengaja menjauh dari keluarganya. Ngga nyangka Wina yang jadi kena omelan mamanya. Bahkan tamparan?


Mama benar benar keterlaluan.


__ADS_2