Cinta Lama Saingan Tetap

Cinta Lama Saingan Tetap
Tentang Ardan


__ADS_3

"Ga, beneran kamu ngga tau dimana Ardan?" tanya Wina ketika mereka sudah duduk nyantai di kafe. Mereka pun sudah menghabiskan makanan mereka.


Ketiganya menatap Gaga sama seperti Wina. Ketiganya pun belum pernah bertemu Ardan sejak setahun yang lalu di rumah sakit.


Hanya kabar karena mama Ardan yang dipenjara yang mereka ketahui, karena begitu viral. Tapi ngga ada yang tau karena kasus apa. Pengadilannya pun tertutup.


"Katanya dulu dia ke Jerman, berobat," cetus Adhi.


"Kamu tau juga?" tanya Wina agak heran.


"Kita nyusul kamu ke bandara, tapi pesawat kamu udah take off," jelas Sita.


"Setelah pesawat kamu terbang, Ardan juga terbang ke Jerman," lanjut Sita lagi.


"Kamu tau Win, Ardan sempat nangis loh," cicit Dewi.


Dada Wina berdesir.


"Waktu tau kamu mau di bawa berobat ke Amerika, kita jemput Ardan di rumah sakit. Waktu itu Ardan masih pake kruk," tambah Sita lagi.


"Dimas juga ikut," timpal Adhi kemudian tertawa membuat Dewi melotot.


"Iya, kamu tau nggak, Win. Hari itu juga mereka baikan," tawa Sita yang dilanjut tawa Adi dan Gaga.


Wina pun ikut tertawa senang mendengarnya. Suasana yang tegang pun mencair.


"Oya,,,, seru dong," respon Wina antusias setelah reda tawanya.


"Kamu balikan sama Dimas lagi?" tanya Wina kepo. Lupa sudah niatnya untuk menanyakan tentang Ardan.


"Iya," jawab Dewi malu malu membuat keempatnya malah tertawa senang.


"Oh iya, kamu sama dokter Shafa gimana, Dhi?" tanya Wina kini pada Adhi. Kangen rasanya mendengar kabar teman teman dekatnya. Setahun mereka tanpa kabar berita.


"Aku masih kalah sama si bos," canda Adhi kemudian membuat mereka kembali tergelak.


"Kalo kamu sama siapa jadinya, Ta?"


"Ngga sama siapa siapa, Win. Yah, masih nyari nyari lah," sahut Sita ringan.


"Ooo,,, maaf, kirain kamu sama dokter Ilham atau menejer Tedi," kata Wina agak menyesal, merasa ngga enak.


Tapi Sita malah tertawa.


"Santai aja, Win. Aku sekarang mau nyari yang pake hati. Sama seperti Dewi," ucap Sita jujur.


"Resiko dipecat," ejek Adhi membuat senyum mereka jadi lebar.


"Santai, sekarang ada Wina yang jadi bos juga. Kalo si bos mecat, kan, ada Wina yang siap nampung," tangkis Sita enteng membuat Gaga melirik ngga senang.

__ADS_1


"Aku, sih, siap nampung kapan aja," kata Wina sengaja mengompori.


"Ngga ada yang boleh pindah pindah," katanya galak.


Keempatnya tertawa lagi, tepatnya mentertawakan Gaga yang misuh misuh karena kesal.


Dalam tawanya Wina menatap keempat temannya dengan perasaaan bahagia.


Ternyata Ardan mencarinya di bandara, batinnya senang.


*


*


*


Grup perusahaan Pamungkas Perkasa jadi saingan kita?" Wina terkejut. Hatinya merasa senang, berarti Ardan berhasil membangun perusahaan keluarganya lagi.


Nadhira menatap Wina serius.


"Itu punya manntan pacarmu, ya?" tanya Nadhira. Dia sudah setengah tahun ini di minta Opa Megantara mengurus perusahaan Textile. Selama ini Nadhira bersama orang tuanya tinggal di Bangkok.


Wina diminta Opa Megantara membantu Nadhira.


Kemampuan analisisnya membuat Opa Megantara memberikan jabatan sebagai wakil CEO. Sedangkan Nadhira adalah CEO nya. Wina ngga mempermasalahkannya.


Beberapa bulan setelah sembuh,Wina membantu perusahaan Opa Hadikusuma di Amerika.


"Iya. Perusahaan Ardan di Jerman sangat berkembang. Bahkan sudah menancapkan kukunya di negara negara Eropa," jelas Nadhira.


Jerman? Wina mengingat kata kata mama dan teman temannya kalo Ardan berobat di Jerman.


Bahkan Gaga dan dokter Eri pun ngga mau memberitahukan kabar tentang Ardan ketika dia terus bertanya membuat Wina putus asa.


Tapi kata kata Nadhira membuatnya bersemangat. Akhirnya dia mendapatkan informasi penting.


"Aku sempat beberapa kali bertemu. Tapi orangnya dingin, kaku banget. Kok, bisa kamu sama dia?" tanya Nadhira sambil melirik sepupunya.


Apa benar mereka pernah pacaran? batin Nadhira sangsi.


Dalam hati Nadhira bergetar juga ketika bertenu Ardan beberapa kali. Sangat tampan dan berkelas. Tapi sama sekali ngga terdengar suaranya kecuali asistennya yang selalu saja menjawab segala pertanyaan.


Sepupunya memang cantik, tapi ngga terlalu wow untuk seorang Ardan. Nadhira kemudian berprasangka baik, tante dan omnya lebih menilih hidup jadi orang biasa. Tentunya Wina juga berpenampilan biasa aja.


Tapi kenapa bisa ya, Ardan jatuh cinta pada Wina yang biasa biasa saja, batinnya agak iri.


Tiba tiba ada ide menarik untuk memastikan hubungan keduanya. Opanya mengirim Wina padanya pasti juga punya maksud tertentu. Bukankah opanya tau kalo perusahaan textilenya dengan Ardan selalu bersaing. Pasti Opanya tau kalo akan terjadi interaksi antara Wina dan Ardan.


"Kita akan meetimg di kantor dinas setelah jam makan siang dengan perusahaan Ardan. Ayo, siap siap," kata Nadhira membuat Wina bergeming.

__ADS_1


Secepat ini? batinnya antara senang dan gugup bertemu Ardannya.


"Ayo, malah bengong," kata Nadhira menyadarkannya dari lamunan.


"Oke," ucapnya dengan hati senang campur takut akan reaksi Ardan kalo mereka bertemu.


Tapi pesan yang masuk di hpnya membuat Wina jadi kesal dengan sikap opanya.


Opanya akan mengenalkannya dengan salah satu anak sahabat yang menjadi rekan bisnisnya.


Kenapa bukan sepupunya yang lain saja? protesnya dalam hati kesal.


"Opa mau menjodohkanmu?" tebak Nadhira ketika melihat wajah kesal sepupunya.


"Sepertinya begitu," jawabnya malas. Padahal mereka tau, di hatinya hanya ada Ardan. Dia ngga peduli dengan perbuatan jahat mama Ardan. Yang terpenting baginya adalah perasaan cinta Ardan untuknya.


Apa karena itu dia diminta pulang? Karena mereka akan menjodohkannya dengan laki laki lain selain Ardan?


Cukup sudah selama setengah tahun Wina merasa takut dan trauma berat atas perbuatan mama Ardan. Sekarang dia harus menunjukkan ketenangannya kalo mereka bertemu nantinya.


"Opa sangat memperhatikanmu," ucap Nadhira hati hati.


Wina ngga menyahut, dia masih memandamg berkas di tangannya.


"Beliau sedang berusaha menjadi opa yang baik," kata Nadhira lagi.


"Iya, " ucap Wina pelan. Kedua opanya bahkan Oma Rahayu sangat berlebihan perhatian pada Wina.


Bahkan mereka memaksanya memakai barang barang branded. Wina sama sekali nggak menyukainya. Untung teman temannya tetap memperlakukannya seperti dulu. Dia akan sedih jika teman teman dekatnya menjaga jarak dengannya setelah statusnya terungkap.


"Kalo Ardan melupakanmu, bolehkah aku berusaha menarik perhatian Ardan. He is perfect," kata Nadhira sambil balas menatap Wina lekat.


Kalo memang sepupunya sudah berakhir hubungannya, ngga ada salahnya dia mencoba menarik perhatian laki laki yang sangat berkualitas itu.


"Dis memang perfect. Tapi dia juga playboy," kecammya datar.


"Oya? Tapi dia sangat dingin dan pekerja keras," kata Nadhira tanpa bermaksud memanasi hati Wina.


"Dulu memang banyak pacarnya. Tapi setelah dia sembuh dari kecelakaan hebat yang menimpanya, dia ngga pernah berdekatan dengan satu perempuan pun," celoteh Nadhira lagi.


Wina ngga menjawab, dalam hatinya dia sangat berharap Ardan masih memikirkannya sampai sekarang.


Tapi hatinya heran juga. Gimana hubungan Ardan dengan Dina dan Tiara. Sejujurnya hatinya masih sangat membenci nama terakhir itu.


"Kita makan siang di kafe dekat kantor dinas, biar ngga kena macet," kata Nadhira memutuskan.


Wina mengangguk setuju dan mengikuti langkah kaki sepupunya.


Sepupunya memang sangat cantik dan terawat. Wina jadi memperhatikan karena tadi secara terang terangan Nadhira mengatakan tertarik dengan Ardan.

__ADS_1


Memang Ardan seperti magnet bagi lawan jenisnya. Akan terjadi saling tarik menarik. Wina sudah sangat paham.


__ADS_2