Cinta Lama Saingan Tetap

Cinta Lama Saingan Tetap
Upik Abu jadi Putri


__ADS_3

"Malah melamun. Hey, Wina," seru dokter Eri ganti menggoyangkan tangannya di wajah Wina.


"Eh," kagetnya sambil menatap dokter Eri dengan kesal.


Wina merasa aneh dengan sikap dokter Eri yang sok akrab dengannya. Sekarang dokter aneh itu malah tersenyum mengejeknya.


"Ayam tetangga saya tadi mati abis seharian melamun," kata dokter Eri berusaha melucu.


"Ngga update banget, sih, dok. Cari yang baru dong becandanya," sindir Wina membuat Eri tergelak gelak.


"Kurang kerjaan banget tetangga dokter yabg suoer kaya itu piara ayam," tambahnya judes.


Tapi Eri ngga marah, malah tanbah tergelak. Dia suka melihat Wina dalam mood juteknya dari pada tadi melihatnya bersedih.


Lagi punya masalah ya sama pacar?


Akhirnya mereka sampai juga di hotel bintang lima yang sangat mewah dan megah.


Baru Wina paham mengapa nenek gayung mendandaninya seperti ini. Ternyata dress mahalnya masih terlihat seperti baju yang dibeli di pasar kaki lima.


"Ayo, saatnya cinderella beraksi," kata Eri sambil membukakan pintu mobilnya.


Wina ngga sadar kalo dokter Eri sudah keluar dari mobilnya, karena dari tadi fokus Wina hanya mengagumi desain mewah hotel ini.


Pantasan nenek gayung itu mengatainya norak, sungut Wina dalam hati.


Hei, apa katanya? Cinderella? Memangnya aku upik abu?


Wina keluar dari mobil sambil menatap jengkel pada wajah yang masih mengembangkan senyum jahilnya.


Pasti dia mau mengataiku norak juga seperti neneknya. Ucapin kalo berani, aku langsung pulang, Wina bermonolog dalam hati.


Mobil mewah Eri berhenti di depan pintu masuk hotel. Petugas parkir berjas yang akan membawa mobilnya ke basemen.


Benar benar tamu kehormatan. Baru sekali ini Wina mendapatkan pelayanan begini.


"Ayo," kata Eri sambil menggamit lengannya dan masuk ke dalam hotel yang sudah di dekor dengan sangat mewah dan megah ini.


Wina ngga memprotes. Dia diam saja sambil mengikuti langkah dokter Eri.


Wina memperhatikan tamu tamu yang masuk berbarengan dengannya. Penampilan mereka pun sangat mewah. Begitupun tamu tamu yang ada di dalam. Semuanya berpenampilan sangat wah dengan sepatu dan tas limited edition. Begitu juga dengan gaun dan jas yang mereka kenakan.


Wina teringat akan kedua teman kantornya, Dewi dan Sita yang begitu bangga dengan tas tas dan sepatu sepatu kw mereka. Andai saja mereka ada di sini, pasti mereka akan langsung terhempas ke dalam palung laut mariana di Samudera Pasifik.


"Wina, Lo berubah dari upik abu jadi cinderela," sapa Gaga tergelak. Di sampingnya ada dokter Lia yang penampilannya ngga kalah mewahnya dari Gaga.


"Apa, sih," sentak Wina kesal.

__ADS_1


Ngga nyangka Gaga dan calon istrinya hadir juga di pesta mewah ini. Memangnya ini pesta apa? Batin Wina di penuhi tanda tanya.


Gaga yang terkejut melihat kehadiran Wina, langsung menghampirimya bersama Lia. Mereka meninggalkan kedua orang tuanya yang sedang duduk mengobrol di meja yang sama


"Kalian ada hubungan?" tanya dokter Lia mencoba menebak. Sama seperti Gaga, dia pun kaget melihat Wina yang digandeng Eri.


"Ya," sahut Eri sambil melirik nakal pada Wina.


"Nggak," tegas Wina sambil melototkan matanya pada dokter Eri.


Wina langsung merasa pusing, pasti Gaga akan membenarkan ucapan mama Ardan kalo dia memang memiliki sasaran untuk mendekati pria pria kaya.


Gaga menatap Wina yang resah. Sepertinya ngga nyaman berada dalam situasi ini. Tapi batinnya tersenyum, target Lo fantastis Win.


"Tuh papaku," kata Gaga sambil menunjukkan keberadaan papanya dengan dagunya.


Pak Endi melambaikan tangannya sambil tersenyum lebar begitu Wina menatapnya. Wina mengangguk dan tersenyum kikuk.


"Nenek kamu mana? Cepatlah, aku mau pulang," desak Wina tambah ngga nyaman.


"Nenek?" tanya Gaga dan dokter Lia bersamaan.


"Wina diundang khusus oma," jelas Eri masih dengan wajah jahilnya melihat ketaktenangan Wina.


"Kok, kamu bisa kenal Oma Rahayu?" kaget Gaga. Begitu juga Lia.


Padahal Oma Rahayu sangat judes dan sombong. Juga pilih pilih dalam bergaul.


"Panjang ceritanya. Malah jadi nyesal," kata Wina mengeluh. Dia ngga suka situasi ini. Wina yakin, Ardan dan keluarganya pasti ada di salah satu meja di ruangan ini


Apakah Ardan sudah melihatnya?


Entah mengapa, ketiga orang di depannya bisa tertawa berbarengan mendengar keluhannya.


Mereka sendiri sudah pernah mendapatkan omelan judes dan perlakuan sombong dari Oma dokter Eri.


"Arah jam tiga. Dia lagi shock liatin kamu," kata Gaga berbisk. Posisinya yang di sebelah Wina memudahkannya memberikan info.


Wina pun memutar kepalanya ke arah yang dimaksud Gaga.


Pantas Wina merasa ngga nyaman. Ardan yang duduk bersama orang tuanya dan juga bersama Dina dan orang tuanya sedang menatap tajam padanya. Begitu juga papa, mama Ardan dan Dina. Ketiganya benar benar ngga percaya melihat kehadiran Wina dengan penampilan super mewahnya laksana putri konglomerat.


Wina mengalihkan pandangannya sebelun ketahuan oleh dokter Eri dan dokter Lia.


"Hei, beraninya datang terlambat," seru Oma Rahayu mengagetkan keempatnya.


"Hai Oma," ucap Eri ringan dengan memamerkan senyum manisnya.

__ADS_1


"Hemmm, kamu berhasil ya," dengus Oma sambil memperhatikan penampilan Wina dari atas ke bawah. Wina sampai menahan nafasnya.


Gaga dan dokter Lia menatapnya cemas.


"Ternyata kamu bisa jadi sangat cantik seperti bidadari dengan dandanan mewah begini," puji Oma Rahayu kagum.


Wina ngga merasa tersanjung dengan kata kata Oma Rahayu. Justru dia merasa ngeredek. Apalagi dilihatnya ketiga orang didekatnya menahan senyumnya.


"Selamat ulang tahun ya Nek. Semoga selalu sehat dan bahagia," kata Wina tulus dengan ucapannya.


Sampai akhir hayat, tambah Wina dalam hati masih dongkol.


"Kamu kira aku ngga bahagia," nyolot Oma Rahayu sambil menatap Wina marah.


Ketiganya saling pandang. Si Oma udah mengeluarkan tajinya.


"Bukan nek. Itu do'a Wina," kata Wina sabar.


"Heemmm,,,, Aamiin," katanya dingin.


Malaikat, mana malaikat, batin Wina memanggil.


"Nek, saya pulang ya. Dokter saya naek taksi aja," kata Wina pamit.


Ketiga kembali menatap Wina bengong.


Sungguh berani dirimu Wina.


"Enak saja mau pulang. Oma udah keluar uang banyak untuk mendandanimu. Kamu akan aku pamerkan," kata Oma Rahayu tegas.


Wina langsung menutup mulutnya karena hampir berkata yang tidak sopan pada nenek gayung ini.


Eri hanya memijat keningnya bingung.


Gaga dan dokter Lia juga sampai terperangah saking kagetnya.


"Ayuh, kukenalkan sebagai tunangan Eri," kata Oma Rosita lagi sambil menarik tangannya.


Gaga dan dokter Lita makin bengong. Eri juga tambah intens memijat keningnya.


"Nek, saya udah punya pacar," tolaknya sambil menahan kakinya agar ngga gerak mengikuti tarikan tangan Oma Rahayu.


"Putusin aja pacarnu. Ngga ada yang lebih kaya, lebih keren dari cucuku," kata Oma Rosita membujuk.


Gaga akhirnya bisa menarik sudut bibirnya. Menatap kagum pada Wina yang bisa menjinakkan Oma Rahayu.


Dokter Lia juga jadi ikut tersenyum mendengar kata kata Oma Rahayu yang mempromosikan cucunya seakan takut kalah saing dengan pacar Wina.

__ADS_1


Padahal di rumah sakit aja banyak dokter, perawat, bidan, pasien bahkan keluarga pasien yang tergila gila.dengan dokter Eri.


Siapa pacar kamu Wina, sampai segitunya nolak dokter Eri, tawa dokter Lia dalam hati.


__ADS_2