
Mereka baru saja sampai di parkiran bank tempat mereka bekerja. Sepanjang perjalanan tadi ngga ada yang bicara. Semuanya sibuk dengan pikiran masing masing.
Adhi, Dewi dan Sita merasa gemas melihat Ardan yang putus asa dan menyerah dengan keadaan.
Mengapa Ardan tidak berusaha mencari Wina. Dia sangat kaya raya, pasti dia gampang aja ngubek ngubek Amerika.
Ardan bisa bayar puluhan orang untuk mengecek tiap rumah sakit untuk tau keberadaan Wina.
Yang agak mengganjal di pikiran mereka, mengapa keluarga Wina sepertinya marah dengan Ardan. Bahkan keluarga Wina lebih memilih dokter Eri.
Sebenarnya apa yang terjadi. Mereka marah karena Wima kecelakaan? Memang Ardan ceroboh banget, membiarkan Wina nyeberang sendirian.
Walaupun pada akhirnya Ardan yang menyelamatkan Wina. Tapi tetap aja Wina terluka parah. Apa karena itu mereka marah?
Gaga terlihat paling pusing. Dia yang tau secara detil masalah Ardan. Tapi ngga bisa berbuat apa apa. Melihat Ardan yang sangat hancur membuat hati Gaga ikut merasakan penderitaannya.
Ketika Dewi akan melangkah bersama Sita, Dimas menahan tangannya.
"Maaf Pak Gaga, saya mau bicara sebentar dengan Dewi," kata Dimas sopan.
"Ya, silakan," kata Gaga sambil memberi kode pada Adhi dan Sita untuk ikut dengannya.
Dewi merasa canggung saat ditinggal berdua dengan Dimas. Tadi pun dia heran kenapa Dimas memaksa ikut mereka untuk melihat Wina ke rumah sakit. Mereka udah cukup lama ngga bersama. Di kantor pun Dewi selalu menghindari Dimas. Begitu juga Dimas.
"Aku ingin bicara serius," kata Dimas berusaha membuang rasa gugupnya.
"Ya," tukas Dewi dengan ngga menatap Dimas.
Jantungnya berdebar ngga menentu. Entah sampai kapan dia bisa melupakan Dimas.
Dimas menarik nafas panjang, kemudian menghembuskannya perlahan. Dia mematap dalam wajah Dewi yang masih ngga mau melihatnya.
Dimas yang masih menggenggam tangan Wina, mencoba menenangkan degup jantungnya.
"Bisakah kamu menungguku, Wi. Dua tahun aja. Lia dan Oto selesai kuliah tahun depan. Setelah itu aku harus pastikan mereka mendapat kerja yang layak dulu. Baru aku akan resign dari bank," kata Dimas setengah memohon.
Hati Dewi seakan disentil keras mendengar kata kata Dimas. Dimas masih memperjuangkan dirinya yang jelas jelas sering mengkhianatinya demi materi. Walaupun itu terpaksa dia lakukan.
__ADS_1
Dia tulang punggung keluarga. Kebahagiaan dan kecukupan materi buat mama dan adiknya adalah tanggung jawabnya.
Dewi merasa dia sudah sangat jahat terhadap Dimas dan keluarganya. Demi dirinya Dimas mau melepaskan posisinya yang strategis. Padahal Dimas sama seperti dirimya yang menjadi pemberi nafkah untuk keluarga. Dewi sudah merasa menjadi orang yang sangat kejam.
"Dewi," panggil Dimas karena Dewi masih saja diam.
Akhirnya Dewi mengangkat kepalanya. Dia pun menatap Dimas dalam.
Dimas tampan, baik, tanggung jawab. Dewi sudah membuktikn sendiri ketika mereka masih bersama. Masalah mereka cuma satu. Salah satu harus resign kalo nanti mereka menikah. Padahal posisi mereka sudah sangat nyaman dengan gaji fantastik.
Tapi apa mungkin dia bisa mencari laki laki seperti Dimas, yang mau menerima keadaannya keluarganya?
Laki laki kaya raya adalah incarannya. Apa mereka mau menerimanya dan keluarganya dengan tulus. Dewi pun belum terlalu mengenal dokter Ilham yang menjadi targetnya. Jika dokter Ilham tau keadaannnya dan keluarganya, apa dia masih bisa diterima dengan baik?
"Wi," panggil Dimas lagi. Hatinya ketar ketir karena kediaman Dewi yang sangat lama. Dia bagai tersangka yang sedang menunggu putusan hakim, dibebaskan atau dihukum mati.
"Kamu ngga usah resign. Aku aja. Nanti aku akan nyari kerjaan lain," kata Dewi akhirnya.
Dimas antara senang dan sedih mendengar kata kata Dewi. Biasanya pada topik ini Dewi selalu menolak dan tetap bersikeras meminta berpisah.
"Kamu mau terima aku lagi, Wi?" tanyanya ngga yakin.
"Iya," jawab Dewi yakin.
Dimas menggenggam kedua tangannya erat erat. Matamya penuh binar menatap gadis pujaannya.
"Aku janji, aku ngga akan menelantarkan kamu dan keluarga kamu," kata Dimas sungguh sungguh.
"Aku percaya," kata Dewi membuat hati Dimas terasa ringan. Segala beban beratnya sudah pergi.
Keduanya saling bertatapan dengan lembut.
"Kita balik ke kantor ya. Ngga enak sama pak Gaga," kata Dimas sambil menarik tangan Dewi agar ikut dengannya berjalan memasuki loby bank mereka.
Dewi ngga menjawab. Tapi bibirnya tersenyum membayangkan apa apa saja yang harus dia lakukan setelah dua tahun kemudian.
Mungkin setelah dia resign dan mendapat pekerjaan ngga se wooww di sini gajinya, dia harus mengurangi belanja tas tas kw nya. Make up nya juga harus diirit. Mungkin dari sekarang dia harus merinci segala hal yang membuatnya selama ini 'sedikit' boros.
__ADS_1
*
*
*
Ardan dan keluarga benar benar kaget setelah mengetahui fakta sebenarnya tentang Wina.
Akhirnya Oma Rahayu jad merilis informasi menghebohkan beberapa hari kemudian.
Dokter Eri bertunangan dengan kekasihnya yang ternyata seorang model yang tinggal di New York. Pesta pertunangan dilakukan terbatas hanya untuk dua keluarga konglomerat itu saja.
Oma Rahayu berjanji akan menggelar resepsi besar besaran jika Wina sudah sembuh.
Dan yang mengagetkan ternyata Wina cucu dari Opa Megantara dan Opa Hadikusuma. Secara ngga langsung juga cucu Oma Rahayu.
Pantas saja ketiga orang tua itu sangat bersikeras memenjarakan mamanya. Sama sekali ngga peduli dengan permohonan maaf keluarga besar mama dan keluarga papanya, juga menolak permintaan agar mamanya ngga ditahan di penjara.
Mamanya pun setelah tau informasi mengejutkan itu jadi sering melamun dan menyalahkan dirinya sendiri karena telah membuang berlian yang sebenarnya.
Keluarga Dina dan keluarga Tiara mental dibandingkan keluarga Wina dalam hal kekayaan. Kalah telak.
Ardan bingung dengan papanya yang sama sekali ngga ada keinginan untuk pulang menemui mamanya.
Papanya malah betah menenaninya dan mengurus perusahaannya di Jerman. Mungkin papanya sudah terlalu kecewa dengan perbuatan mamanya.
Begitu juga dengan dirinya. Saat melihat mamanya histeris sewaktu di bawa oleh polisi, Ardan pun belum bertemu dengan mamanya lagi karena keadaannya yang belum.membaik. Sampai berangkat ke Jerman, Ardan pun belum menjenguk mamanya.
Apalagi kini setelah tau kalo mamanya lah dalang dari tabrakan yang dia dan Wina alami, ada rasa enggan untuk menemui wanita yang sudah melahirkannya.
Bagaimana caranya nanti Ardan meminta maaf pada Wina, pada orang tuanya dan pada keluarga besar Wina. Masih bisakah dia melanjutkan hubungan mereka.
Ardan membuang kasar nafasnya, untuk meringankan sesak di dadanya.
Kepalanya rasanya mau pecah membayangkan kemungkinan kemungkinan buruk yang akan menghalangi hubungannya dengan Wina.
Perbuatan mamanya tambah menambah deret hambatannya untuk bersama Wina. Sekarang saja keluarga besar Wina sudah berhasil membuat mamanya mendekam di penjara.
__ADS_1
Ardan hanya bisa memandang foto foto kebersamaan mereka di folder hpnya. Hanya itu penyemangatnya setiap hari selama dia menjalani terapinya.