
"Kapan aku dan keluarga ku bisa ke rumah kamu?" tanya Ardan ketika Wina sudah masuk ke dalam mobilnya.
Wina menatap Ardan ngga percaya.
Ga salah dengar kah?
"Kan aku udah bilang mau serius sama kamu," ucap Ardan sambil menjalankan mobilnya pelan.
"Tapi mama kamu belum bisa nerima aku, Dan," kata Wina sambil menunduk.
"Jangan kamu pikirkan. Restu mama pelan pelan akan kita dapatkan," kata Ardan yakin. Papanya sudah berjanji akan menolongnya membujuk mamanya.
"Tapi keluargaku bukan keluarga kaya seperti keluarga kamu," kata Wina ngga percaya diri.
"Emang kenapa?" tanya Ardan sambil menatapnya karena mobil sudah berhenti di lampu merah.
"Kamu ngga pa pa?" tanya Wina agak resah.
Ardan meraih tangannya dan menggenggamnya.
"Aku hanya ingin menikah dengan kamu. Keluarga kita memang beda background. Waktu nanti yang membuat kita dan keluarga akan saling menerima satu sama lain. Semua butuh proses, sayang," kata Ardan lembut lalu menjalankan lagi mobilnya karena udah lampu hijau.
Wina menatap tangannya yang masih di genggam Ardan. Terasa hangat sampai ke hatinya.
Selama ini Wina sudah mencoba melupakan Ardan. Menghilang selama bertahun tahun, tapi tetap saja hatinya bergetar saat pertemuan mereka di acara reuni.
__ADS_1
Ketika itu Wina dan Ardan yang saling bertatapan cukup lama sampai Wina yang memutuskan pandangannya. Dia pun langsung bergabung dengan teman teman dekatnya.
Tapi saat akan pulang, Ardan langsung mencegatnya dan menarik tangannya menjauh dari teman temannya.
"Bisa kita bicara sebentar Win," kata Ardan waktu itu.
Lina dan Tuti menatapnya yang terlihat resah.
"Aku pinjam Wina dulu ya," kata Ardan langsung menarik Wina.
"Kita mau kemana?" tanya Wina kaget karena Ardan terus menarik tangannya agar mengikutinya.
"Ke mobilku," kata Ardan sambil terus melangkah menuju ke mobilnya di parkiran.
Begitu sampai di depan mobilnya, Ardan langsung membukakan pintu mobil untuk Wina.
Begitu Ardan masuk ke dalam mobilnya, Laki laki itu menatapnya dalam.
"Apa kabar?" tanyanya lembut.
"Baik," jawab Wina pelan. Dia juga balas menatap Ardan.
"Kamu kemana aja, susah banget ditemui," kata Ardan agak gusar
"Ngga kemana mana," sanggah Wina sambil memalingkan pandangannya. Jantungnya susah dikontrol debarannya.
__ADS_1
"Wina, aku masih cinta sama kamu. Sumpah, aku selalu mikirin kamu," kata Ardan serius dan agak gugup.
Selalu begitu kalo dengan Wina. Sedangkan bersama pacar pacarnya dulu, semuanya lancar lamcar aja.
Ngga ada di kamusnya seorang Ardan gugup memghadapi para perempuan mana pun. Di dalam maupun di luar negeri.
Semua perempuan itu selalu dengan mudah menyerah padanya. tidak ada tantangan untuk mendapatkannya.
"Kita mulai dari awal ya," kata Ardan lagi. Dia meraih tangan Wina kemudian mengecupnya lama.
"I love you so much, Wina. In my heart, is only you," ucap Ardan sambil menggenggam tangan yang barusan dikecupnya.
Jantung Wina terasa mau melompat keluar dari balik dadanya. Dalam hatinya juga hanya ada Ardan. Dari dulu hingga sekarang.
"Aku mau serius sama kamu. Aku mau nikah dengan kamu," ucap Ardan sangat lembut.
"Trust me," bujuk Ardan terus karena Wina masih diam.
"Are you serious? Can I trust you?" tanya Wina akhirnya. Dulu waktu mereka masih SMA, Ardan bermain hati. Tidak setia padanya. Apalagi sekarang, Ardan sudah menjadi pria sukses. Ketampanannya pun jangan ditanya. Sangat menghipnotis. Teman temannya di reuni tadi pun sangat terpesona padanya.
"Dulu kita masih terlalu muda Win. Kamu tau, aku selalu memikirkanmu. Aku selalu mengingatmu. Saat melihatmu sekarang, hatiku rasanya lega. Sangat lega Wina," kata Ardan berusaha meyakinkannya.
Wina sudah mulai goyah. Siapa perempuan yang tahan di rayu seperti ini, oleh laki laki yang sangat tampan dan sukses lagi.
"Beri aku satu kesempatan ya Wina. Aku akan membuat kamu yakin dan percaya kalo aku akan membuat kamu bahagia."
__ADS_1
Tanpa sadar Wina menganggukkan kepalanya membuat Ardan tersenyum hangat. Dia kembali mengecup punggung tangan Wina membuat hati Wina bergetar hebat.
"Terima kasih sayang. Aku antar kamu pulang," kata Ardan kemudian menjalankan mobilnya sambil terus menggenggam tangannya.